
"Tidak ada bantahan, Jessy. Ini adalah hadiah untuk kalian berdua dariku dan juga Papa. Jangan khawatir tentang perkembangan atau apa pun perusahaan disana, aku sudah menepatkan orang-orang terbaik disana dan kau hanya mengontrolnya saja. Aku yakin kau bisa melakukannya, karena aku tahu potensimu dalam bekerja, Sayang."
"Terima kasih. Terima kasih, Steve. Aku bangga memiliki suami sepertimu, kau begitu percaya kepadaku untuk menanggani sebuah perusahaan. Kelak Nico sudah dewasa, ia akan menjadi sepertimu."
"Aku akan melakukan apa pun untuk kalian berdua, karena kalian adalah yang paling berharga dalam hidupku." Imbuh Steve yang memegang tangan Jessy.
Mereka berdua pun melanjutkan sarapannya hingga selesai. Dan setelah itu, Steve mengantar Jessy pulang kerumah sebelum dirinya berangkat ke perusahaan.
Dalam perjalanan pulang, Jessy meminta izin kepada Steve untuk membawa Nico jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Ia tidak mau Nico berdiam dan bermain dirumah saja, untuk itu ia meminta izin kepada Steve membawa Nico jalan-jalan.
"Hm. Steve. Aku ingin membawa Nico jalan-jalan mall, apa boleh ?."
"Tentu saja boleh. Nico berhak keluar dan menikmati dunia luar. Tapi Paman James akan mengikutimu, hanya untuk berjaga-jaga saja."
"Baiklah. Terima kasih."
***
Tiba dirumah, Jessy disambut oleh putranya itu dengan sebuah senyuman. Nico duduk di teras rumah sambil diberi makan oleh Bibi Lusy.
"Selamat pagi, Sayang." Jessy mencium pipi gembul Nico dengan gemasnya.
Nico hanya tertawa geli saat Jessy menciumnya, bahkan karena tertawa makanan dalam mulut Nico pun keluar.
"Kau sudah mandi, Sayang. Maaf ya, Mama pergi meninggalkanmu. Kau menangis tadi ?."
"Tidak. Nico bangun tanpa menangis. Dia sempat mencari Nona dan Tuan sebentar." Jawab Bibi Lusy.
"Pintar sekali. Sini biar Mama yang menyuapimu." Jessy mengambil ahli piring berisi makanan Nico dari tangan Bibi Lusy lalu menyuapi anaknya. Sedangkan Bibi Lusy pamit masuk ke dalam untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sementara Jessy memberi makan kepada Nico, Bibi Ana datang menghampirinya sedang asyik duduk di teras rumah.
__ADS_1
"Nona. Maaf kalau saya menganggu." Ucap Bi Ana sopan.
"Tidak apa-apa Bi. Ada apa memangnya ?."
"Nona. Apa boleh anak saya tinggal sementara dirumah ini ? Anak perempuan saya sudah selesai kuliah dan akan mencari pekerjaan di kota ini. Kami belum memiliki rumah sendiri, jadi untuk sementara waktu apa boleh dia tinggal disini sampai kami menemukan rumah yang murah dan bagus untuk di tempati." Suara Bibi Ana terdengar gugup dan gemetar.
Jessy tersenyum kepada Bibi Ana. " Bi, jangan sungkan begitu. Tidak apa kalau dia tinggal disini sementara waktu. Apa anak Bibi sudah memasukkan lamarannya di berbagai tempat ?."
"Sudah Nona. Besok Lusa dia akan dipanggil untuk wawancara, jadi kemungkinan besok pagi ia akan datang kesini."
"Oh, baguslah. Semoga anak Bibi diterima bekerja ya." Ucap Jessy tulus lalu melanjutkan memberi makan kepada Nico.
Bibi Ana merasa lega saat mendapat izin dari majikannya itu, ketika ia hendak masuk ke dalam rumah, Jessy memanggilnya.
"Oh ya, Bi. Tolong siapkan keperluan Nico ya. Aku akan mengajaknya jalan-jalan sebentar lagi."
"Baik, Nona." Bibi Ana pun melanjutkan langkahnya dan menuju kamar Nico untuk mempersiapkan keperluan anak majikannya itu.
***
Nico begitu senang saat melihat orang-orang berlalu lalang di tempat itu. Bahkan saat melewati sebuah toko khusus mainan anak-anak, Nico menunjuk-menunjuk kearah tersebut agar mamanya membawa masuk kedalam toko itu.
"Kau mau mainan, Nak ? Ayo kita ke dalam." Jessy mendorong kereta troller yang diduduki oleh Nico. Sebenarnya Nico sudah bisa jalan tapi Jessy tidak mau dibuat repot kalau nanti Nico dibebaskan jalan di tempat luas ini.
Mereka berdua masuk ke dalam toko mainan tersebut dan melihat-lihat mainan apa yang disukai dan dipilih oleh Nico. Sedangkan Paman James menunggu diluar sesekali ia melihat majikannya itu untuk memantau.
Sekarang Nico diturunkan dari kereta troller, agar Nico bebas memilih apa saja mainan yang dia inginkan. Jessy dengan setia mendampingi Nico, agar tidak merusak barang-barang ditempat itu.
Nico mengambil sebuah mainan kereta api lengkap dengan rel nya. Ia dengan semangat memberikan mainan itu kepada Jessy lalu ia mengambil lagi mainan jenis mobil-mobilan polisi. Dia sepertinya tahu apa saja mainan yang tidak ada di rumahnya.
Dan kemudian Nico berjalan menuju ke sebuah mainan mobil yang cukup besar, bahkan bisa ia tumpangi mobil mainan tersebut.
__ADS_1
"Ma-ma-ma-ma." Seru Nico sambil menarik tangan Jessy agar mengikuti arah langkah kakinya.
"Iya sayang. Mama mengikutimu. Kau menginginkan mobil besar ini ?." Jessy menundukkan tubuhnya agar bisa sejajar dengan Nico.
Nico hanya tertawa kesenangan saja, dan itu tandanya ia memang menginginkan mobil ini. Jessy pun memanggil salah satu karyawan toko mainan tersebut.
"Nona. Aku ingin membeli mobil ini. Tolong bawakan ya." Ucap Jessy sopan kepada karyawan wanita itu.
"Baik, Nona."
"Tidak boleh." Terdengar suara yang bersamaan dengan jawaban karyawan tersebut, namun suara ini terdengar tidak senang.
Jessy dan karyawan itu sama-sama menoleh kearah suara. Jessy hanya menampilkan senyuman kepada orang tersebut tapi tidak dibalas baik olehnya.
"Maaf. Kenapa tidak boleh ? Saya ingin membelinya untuk anak saya." Tutur Jessy yang sopan kepada seorang wanita yang terlihat sedikit lebih tua darinya.
"Kalau aku bilang tidak boleh, ya tidak boleh." Jawab wanita itu ketus.
"Maaf, Nona. Nona ini sudah terlebih dulu mengambil barang ini dari anda." Pungkas karyawan itu.
"Berani sekali kau ! Aku ingin membeli mobilan itu jadi berikan kepadaku."Lagi-lagi suaranya ketus bahkan yang ini sedikit lebih nyaring.
"Nona. Saya yang lebih dulu membelinya, kenapa anda mau mengambilnya ? Bukankah itu tidak sopan ?." Kali ini Jessy berbicara sedikit lantang.
"Memangnya kau siapa ? Apa kau tidak tahu, aku ini siapa ? Pokoknya aku ingin mobil ini. Cepat bawakan." Perintahnya marah kepada karyawan itu.
"Sekali lagi, tidak bisa Nona. Mobil ini sudah dibeli oleh ..." Omongan karyawan wanita itu terhentikan karena tiba-tiba saja sebuah tamparan keras mendarat mengenai pipinya.
Plak. Tamparan dari wanita itu cukup keras dan mengakibatkan pipi i wanita itu terlihat merah.
"Hei." Suara nyaring Jessy terdengar jelas kepada wanita yang masih dipenuhi amarah itu. "Kau kasar sekali. Minta maaf kepadanya. Cepat." Perintah Jessy.
__ADS_1
"Siapa kau berani memberiku perintah ? Ini adalah akibatnya jika tidak menuruti omonganku. Ini, karena kau sudah membelinya, aku akan membayar berlipat kali ganda." Wanita itu melempar uang diwajah Jessy.
Mendengar keributan, Paman James pun segera masuk ke dalam dan melihat kejadian tersebut. Ia terlihat marah majikannya diperlakuan kasar oleh orang lain.