
" Ini lezat sekali Steve, cobalah kau pasti akan menyesal karena tidak memakan cupcake ini ". Serunya tanpa melihat Steve.
" Jangan kampungan cupcake seperti itu sudah sering aku makan karena mama sering membuatnya untukku, dan lagi pula toko kue ini pun punya mama juga Jessy ". Serunya yang menyandarkan tubuhnya dikursi.
" Apa ! Kau bilang apa tadi, toko kue ini milik mama ?'. Tanya Jessy mengulang ucapan Steve.
Steve menganggukan kepalanya menandakan ucapannya benar, lalu Jessy mengalihkan pandangannya kearah ibu mertuanya yang duduk dihadapannya itu.
" Benar toko kue ini milik mama ?". Tanyanya kepada Nancy.
Nancy tersenyum kepada menantunya tersebut dan menganggukan kepalanya. " Iya sayang, benar yang dikatakan oleh Steve. Kau suka dengan cupcakenya ? Khususmu mama akan berikan kue yang kau mau Jessy ". Sahut Nancy yang masih tersenyum kepada Jessy.
" Tidak usah ma, nanti Jessy terlihat gemukan kalau memakan banyak yang manis-manis ". Steve menimpali perkataan mamanya itu seraya memberikan tatapan tidak setuju.
" Memangnya kenapa kalau aku gemukan ? Kau malu ! ". Terdengar suara protes Jessy yang tidak senang akan ucapan Steve.
" Bukan maksudku seperti itu Jessy tapi untuk kesehatanmu dan bayi yang kandung saat ini ". Suara Steve melunak menjelaskan maksud dari ucapannya itu.
" Tidak apa-apa Steve, Jessy juga saat ini lagi mengidam dan itu harus terpenuhi ". Sahut Mama Nancy.
" Mama saja bilang tidak apa-apa ". Ucap Jessy sambil mencebikan bibirnya.
Steve mendengus kesal dan terpaksa mengiyakan kemauan Jessy. " Ya sudah makanlah, tapi jangan terlalu banyak nanti perutmu sakit ". Imbuhnya setuju.
__ADS_1
Jessy mengulas senyuman setelah mendengar ucapan Steve, begitu juga dengan mama Nancy mendapat persetujuan Steve dia segera memberi kode kepada karyawannya untuk membawa berbagai macam kue yang masih hangat untuk diberikan kepada Jessy.
***
Malam harinya saat selesai mandi Jessy merasakan seluruh badannya terasa pegal. Dengan mengenakan baju piyamanya yang bermotif bunga matahari, dia mendaratkan tubuhnya diatas tempat tidur disamping Steve yang sedang membaca email masuk melalui laptopnya. Dengan ragu dia meminta tolong kepada
suaminya itu untuk memijat tubuhnya yang pegal karena kelelahan.
" Hmm .. Steve ".
" Iya ". Jawabnya yang masih menatap layar laptopnya.
" Apa kau sibuk ?". Tanya Jessy.
" Apa boleh aku minta tolong ? Badanku terasa lelah sekali, bisakah kau memijat tubuhku sebentar ?". Pintanya penuh harap agar Steve mau memijat dirinya.
" Tunggulah sebentar. Aku selesaikan ini dulu setelah itu aku memijat tubuhmu ". Jawabnya yang mengusap kepala Jessy lalu kembali menghadap laptopnya.
Jessy mengangguk setuju kemudian dia merebahkan tubuhnya sembari menunggu Steve selesai, dia mengecek ponselnya barangkali ada pesan masuk untuknya. Tapi semakin lama dirinya menatap layar ponselnya matanya terasa berat karena mengantuk, mulutnya pun menguap beberapa kali sampai matanya berair.
Tak lama matanya pun terpejam, dia tertidur saat menunggu Steve yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Setelah selesai mengecek email yang masuk, Steve pun menaruh laptopnya diatas nakas samping tempat tidurnya. Ketika dirinya membalikkan badan menghadap Jessy, ternyata wanita yang sedang mengandung anaknya itu sudah tidur dengan lelap. Sebuah senyuman kecil diwajahnya karena melihat istrinya itu tidur, wajahnya yang cantik membuat Steve mencium dahi Jessy dengan pelan agar tidak terbangun.
Lalu Steve memulai pijatannya tepatnya dibagian kaki Jessy, dia memijatnya pelan agar tidak menyakiti kaki istrinya itu. Sementara Steve memijat, Jessy menggeliat karena ada seseorang yang sedang menganggu kakinya.
__ADS_1
" Steve ". Jessy memguap satu kali lalu mengucek matanya sebentar. " Sedang apa kau dengan kakiku ?".Tanyanya kemudian
" Aku sedang memijat kakimu Jessy, tidurlah lagi ". Perintahnya sambil tersenyum.
" Aku pikir kau lupa, tapi terima kasih ya ". Ujarnya yang membalas senyum Steve.
" Aku hanya memintamu tunggu sebentar saja, aku tidak lupa sama apa yang aku ucapkan ". Tuturnya masih memijat kaki Jessy.
" Iya maafkan aku karena ketiduran, aku lelah sekali ".
" Kalau lelah tidurlah lagi ". Sekali lagi Steve memberi perintah agar Jessy istirahat.
tiba-tiba raut wajah Jessy berubah karena mengingat sesuatu entah dia sedang bermimpi atau itu nyata. Dia seperti mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Steve, kalimat yang selama ini dia harapkan. Tapi diragu dan malu jika bertanya dengan Steve takutnya suaminya itu berpikiran yang aneh tentangnya.
" Jessy ". Tegur Steve yang melihat Jessy sedang melamun.
" Hmm ya ".
" Apa yang kau lamunkan ". Tanyanya dengan mengerutkan keningnya.
" Ti-tidak. Aku tidak sedang melamun ". Bantahnya. " Pijatanmu sungguh enak Steve, aku tidur dulu ya dan jangan berhenti sebelum aku tertidur ". Perintah Jessy kepada Steve.
Berani sekali dia menyuruhku jangan berhenti, kalau saja tidak sedang hamil. Gumamnya.
__ADS_1