Terlambat Mencintaimu

Terlambat Mencintaimu
Malam Di Kota Paris


__ADS_3

Malam harinya Steve dan Jessy menikmati makan malam didalam kamar, makanan yang sudah tertata dengan rapi diatas meja itu menjadi sasaran lezat yang masuk kedalam mulut keduanya. Sambil memakan hidangan diatas meja tersebut, Steve ingin mengajak Jessy jalan-jalan keluar menikmati suasana malam di kota Paris, itu pun jika Jessy tidak merasa lelah.


"Jessy. Selesai makan apa kau mau kita jalan-jalan keluar ?." Tanyanya yang tidak melihat kearah Jessy.


Jessy masih mengunyah makanan di dalam mulutnya lalu mengambil gelas yang berisi air untuk segera diteguknya. "Boleh. Tapi apa kau tidak lelah, Steve ? ". Jessy menaruh kembali gelas yang dipegangnya ke atas meja dekat dengan piringnya.


"Tidak. Rasa lelah ku sudah hilang saat tidur tadi. Baiklah, cepat habiskan makananmu biar kita keluar lebih awal." Perintah Steve sambil tersenyum kepada wanita yang duduk didepannya itu.


***


Sambil bergandengan tangan, Steve dan Jessy keluar dari hotel tempat mereka menginap. Kedua sengaja tidak memesan mobil untuk digunakan karena ingin menikmati suasana malam di kota Paris dengan berjalan kaki saja. Terlebih lagi letak Menara Eiffel tidak jauh dari hotel yang mereka tempati itu, sambil berjalan kaki mereka bisa melihat-lihat disekeliling wilayah itu dengan puas.


Selain mereka ada juga beberapa pasangan lainnya yang berjalan kaki, baik itu anak-anak muda maupun orangtua. Memang menelurusi jalanan di kota Paris tidak akan membuat bosan bagi siapapun yang melakukannya terrmasuk Steve dan Jessy. Steve tetap setia menggenggam tangan Jessy agar wanita itu tidak pergi jauh darinya sedangkan bagi Jessy dirinya merasa nyaman dan aman berada di samping suaminya itu.


"Apa kau lelah ? Kalau lelah kita bisa beristirahat disitu sebentar." Tunjuk Steve pada sebuah kursi agak panjang yang terbuat dari besi dan belum ada orang yang duduk disana.


Jessy tersenyum kepada Steve lalu menganggukan kepalanya tanda menyetujui ajakan Steve. Bukan karena lelah berjalan tapi hanya sekedar ingin duduk sambil melihat orang lain berlalu lalang dibawah cahaya lampu penerangan yang menurut Jessy sangat indah malam ini.


Steve pun menuntut Jessy menuju kursi yang dimaksudkannya tadi, dan setelah itu keduanya pun duduk berdampingan. Walau malam ini agak dingin tapi tidak mengurungka niat mereka untuk jalan-jalan, dengan menggunakan mantel tebal setidaknya bisa menghangatkan tubuh keduanya.

__ADS_1


Sembari duduk dikursi tersebut, tanpa sengaja mata Jessy menangkap sebuah booth kecil yang menjual kentang goreng. Pikirnya lebih bagus sambil duduk seperti ini akan lebih baik jika sambil memakan camilan seperti kentang goreng. Tanpa berpikir panjang, Jessy pun hendak berdiri ingin menuju booth tersebut tapi tiba-tiba tangan Steve menahan dirinya.


"Kau mau kemana ?."Steve memiringkan kepalanya agar bisa menatap istrinya itu.


"Aku ingin membeli kentang goreng disitu, tunggulah sebentar disini."


"Biar aku saja yang pergi kesana. Kau tunggulah disini." Tanpa persetujuan dari Jessy, Steve langsung beranjak berdiri dan berjalan mendekati booth kentang goreng.


Seulas senyuman diwajah Jessy saat melihat kepergian suaminya itu yang menggantikan dirinya untuk membeli camilan tersebut. Tak berhenti Jessy memperhatikan tiap gerak tubuh Steve yang berada tidak jauh darinya duduk. Begitu juga dengan Steve, dirinya melirik kearah tempat mereka duduk seperti mengawasi sang istri agar tidak diganggu oleh orang lain.


Namun tak lama Steve datang membawa 2 bungkus kentang goreng berukuran sedang ditangan kirinya sedangkan ditangan kanannya ada 2 gelas plastik yang berisi susu cokelat dan kopi yang dipesannya di booth itu juga. Jessy mengambil 2 gelas minuman panas tersebut dengan hati-hati dan menaruhnya di tengah mereka dua sedangkan Steve kemudian menyerahkan satu bungkus berisi kentang goreng kepada Jessy, lalu dirinya duduk.


Steve hanya membalas dengan senyuman juga lalu memasukan camilan kentang goreng ke dalam mulutnya. Steve pun memperhatikan raut wajah Jessy yang tampak senang itu, entah apa yang dipikirkan oleh istrinya sehingga tidak berhenti tersenyum.


"Kenapa tersenyum seperti itu?." Tanya Steve yang penasaran.


Jessy menghentikan aksi mengunyahnya setelah mendengar pertanyaan dari Steve. "Ada apa memangnya ? Apa aku tidak boleh tersenyum ?."


"Bukan itu maksudku. Aku perhatikan dari tadi wajahmu terlihat sangat senang."

__ADS_1


"Oh." Kembali Jessy tersenyum lagi sambil menyelipkan sulur anak rambutnya yang berhamburan karena terkena tiupan angin. "Aku senang karena kau, Steve." Lanjutnya yang menoleh kearah suaminya.


"Karena aku!." Steve dibuat gagal mengerti maksud dari ucapan Jessy barusan.


Jessy menganggukan kepalanya. " Iya, karena kau. Aku tidak menyangka saja bisa kesini bersama dengan orang yang aku cintai, kota ini memang dari dulu menjadi impianku untuk berkunjung terlebih bersama orang terkasih." Tuturnya sambil tersenyum kecil.


"Dan impianmu terkabulkan. Karena kau datang kesini bersama denganku, bukan." Balas Steve dengan memainkan kedua alisnya bermaksud menggoda Jessy.


Jessy tertawa kecil saat melihat Steve memainkan kedua alisnya, dan menepuk lengan Steve dengan pelan. Namun raut wajah berubah menjadi sendu karena mengingat kembali bagaimana perjuangan dirinya mendapatkan balasan cinta dari Steve. Jessy mengalihkan pandangannya kearah lain bermaksud menyembunyikan matanya yang tanpa terasa sudah dilapisi cairan bening.


"Apa kau juga bahagia, Steve?." Tanyanya tanpa melihat laki-laki tersebut.


Steve bisa merasakan bahwa Jessy dirundung kesedihan, bisa dilihat dari raut wajahnya yang tiba-tiba berubah. Kemudian dia meraih tangan Jessy dan menggenggamnya lembut, dan saat bersamaan airmata Jessy pun terjatuh.


Steve mengarahkan wajah Jessy agar melihat dirinya, walaupun Jessy menunduk tapi Steve tetap berusaha membuat wanita yang disampingnya itu menatap dirinya, dan usahanya pun berhasil.


"Jessy. Maafkan aku karena dulu mengabaikan perasaanmu, menyakiti hatimu bahkan membuat kau terluka. Aku berterima kasih sama papa karena tetap menikahkan ku dengan wanita baik seperti dirimu, Jessy. Aku menyesal karena terlambat mencintaimu. Kita akan memulai lagi semuanya dari awal, percayalah Jessy bahwa aku sangat mencintaimu dan tidak mau kehilangan dirimu lagi. "


Jessy dibuat terperangah atas penjelasan Steve barusan, walaupun ia sudah pernah mendengar kata-kata ini namun kali ini menurut Jessy sangat berbeda sekali. Dia pun tidak menyela perkataan Steve, ia tetap diam sambil menatap suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2