
"Aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi. Aku akan bekerja dengan baik dan melupakan perasaanku kepadamu."Ucap Lanny yang memeluk Juan.
Dalam diamnya Juan hanya membiarkan wanita yang sedang memeluknya itu berbicara, dirinya pun tidak menolak atas pelukan yang diberikan Lanny.
Ternyata ini isi hatinya. Selama ini tertekan karena harus mengesampingkan perasaannya. Tapi ... kenapa aku tidak suka ya saat dia ingin melupakan perasaannya. Saat kau bangun besok, mungkin kau lupa apa yang kau ucapkan tadi kepadaku, tapi mulai besok juga aku akan membuatmu tidak melupakan perasaanmu kepadaku.
Tak lama kemudian Lanny pun tertidur dalam sambil memeluk Juan. Laki-laki itu perlahan melepas tangan Lanny dari tubuhnya dan kembali membaringkan wanita itu dengan hati-hati.
Juan menarik nafasnya dan menghembusnya dengan sedikit kencang. Tatapannya tak berpindah sedikit pun dari wajah Lanny. Semakin lama ia menatap semakin pula rasa inginnya mencium wanita itu kuat.
"Astaga.Apa yang aku pikirkan !! Tidak seharusnya aku berlama-lama disini."Serunya sendiri sambil mengusap wajahnya agar pikirannya yang tadi segera hilang. "Dia ini !!! Kenapa aku jadi seperti ini ? Bukan kekasih ku tapi kenapa aku merasa seperti kesal saat melihatnya bersama pria lain ?." Gumamnya lagi.
***
Keesokan paginya Lanny terbangun karena mendengar suara ponselnya berdering. Ia mengucek kedua matanya agar penglihatannya kembali terang. Lalu ia mencari ponselnya yang sedari tadi berdering tanpa jeda sedikit pun.
__ADS_1
"Ribut sekali. Tidak bisa apa aku beristirahat sebentar saja." Gerutunya saat mendapatkan ponselnya. Dan tak lama kedua matanya terbuka lebar karena ada 10 panggilan tak terjawab dari Jessy. Dan ia pun melihat jam di layar ponselnya menunjukkan jam 10 pagi.
"Ya Tuhan. Aku kesiangan." Teriaknya dan beranjak berlari menuju kamar mandi dan secepatnya membersihkan dirinya.
Sedangkan dilain tempat, terlihat wajah Jessy yang cemberut karena berkali-kali menghubungi Lanny tidak dijawab oleh sahabatnya itu.
"Apa yang dilakukannya sampai tidak mengangkat ponselnya ?." Ucapnya sambil melempar benda pipih itu diatas kasur.
"Kenapa wajahmu seperti itu, Sayang ?." Tanya Steve yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Sayang. Aku pergi menemui Lanny di kamarnya, setelah itu aku akan menyusul mu di restorant." Jessy mengecup pipi suaminya itu lalu pergi meninggalkan kamarnya.
***
"Kau gila, tidak mengangkat panggilan dari ku, hah ?." Jessy masuk sambil marah-marah.
__ADS_1
"Ma-maafkan aku. Aku bangun kesiangan. Sebenarnya aku ingin menghubungimu tapi ada yang mengetuk pintu dan ternyata itu adalah kau."
"Separah itu kau mabuk, Lanny ? Aku mengkhawatirkan dirimu, kau tahu. Kau sudah sangat mabuk semalam dan kau kembali ke kamar mu dengan keadaan seperti itu. Kau tidak apa-apa ?."
"Aku tidak apa-apa. Hanya saja, aku merasa heran kenapa aku tiba-tiba ada di dalam kamar ? Seingat ku terakhir, aku bertemu seseorang di lain tempat." Lanny berpikir dan berusaha mengingat kejadian semalam.
"Kau benar-benar tidak ingat apa yang terjadi dengan dirimu semalam ? Kau yakin ?." Jessy menatap Lanny dengan penuh selidik.
"Be-benar. Aku tidak ingat apa-apa, Jessy."
"Termasuk tidak ingat siapa yang menggendongmu hingga sampai ke kamar ini ?."
" Menggendongku ?." Tanyanya ulang." Siapa Jessy ? Katakan siapa yang sudah membawa ku masuk ke dalam kamar ?." Kali ini Lanny berbicara sedikit berteriak dan memegang kedua lengan Jessy agar sahabatnya itu segera memberitahukan apa terjadi kepadanya.
"Pelan-pelan dong, Lanny." Jawab Jessy sambil tersenyum dan melepaskan tangan Lanny. " Kau penasaran siapa yang membawamu kesini ?." Goda Jessy lagi.
__ADS_1
" Cepat katakan, Nyonya Anderson." Pungkas Lanny yang mengguncang tubuh Jessy namun tidak membuat Jessy kesakitan.
Dengan wajah yang tersenyum usil Jessy mencondongkan tubuhnya ke arah Lanny yang sudah duduk diatas tempat tidur. "Pangeran Juan." Bisiknya lalu tertawa puas.