
Setelah Steve memastikan kepergian Kimberly dari rumahnya, dia melanjutkan lagi langkah kakinya menuju kamarnya dilantai atas. Sampai didepan kamarnya, dia langsung membuka pintu dan mendapati Jessy sedang tidur dengan posisi memiringkan tubuhnya menghadap jendela. Steve mengira Jessy benaran tidur tapi sebenarnya tidak, Jessy hanya pura-pura tidur agar tidak memperlihatkan matanya yang sehabis menangis.
Steve menutupi badan Jessy dengan Selimut karena sekarang ini musim gugur di Sydney. Kemudian Steve mengecup puncak kepala Jessy dan kembali keluar dari kamar. Jessy yang mendengar pintu kamar tertutup lagi langsung membuka kedua matanya. Pikiran dan hatinya kacau karena melihat apa yang terjadi diteras rumahnya. Jujur saja Jessy takut jika Steve akan kembali dengan Kimberly dan meninggalkannya bahkan mengusirnya dari rumah.
Karena tidak mau larut dalam kesedihan, Jessy beranjak dari tempat tidur untuk masuk kedalam kamar mandi. Ia membasuh wajahnya dengan air dan setelah itu menatap wajahnya dipantulan cermin.
Kimberly sudah datang, apakah aku masih punya kesempatan untuk mendapatkan cintanya Steve ? Kenapa nasibku malang sekali ya Tuhan. Aku juga ingin bahagia seperti orang lain tapi apa sekarang ! Wanita yang dicintai Steve sudah kembali.
Entah berapa lama Jessy melamun didalam kamar mandi, tiba-tiba ia dikagetkan oleh suara ketokan dipintu kamar mandi.
Sambil mengetok pintu terdengar suara Steve dari luar memanggil dirinya. " Jess .. Jessy apa kau didalam sana ". Ucapnya yang sedikit nyaring.
Jessy tidak menjawab suara itu tapi langsung membuka pintu kamar mandi. Tampak Steve terkejut karena melihat Jessy dengan raut wajah tidak seperti biasanya. " Ada apa ?". Tanyanya dengan nada datar kepada Steve.
" Tidak apa-apa, aku hanya ingin memastikan jika kau didalam sana. Jess, bersiaplah tadi papa Leo menelepon meminta kita untuk datang kerumah ". Ujarnya yang melihat keanehan kepada Jessy.
" Oke ". Jawabnya singkat.
***
__ADS_1
Dalam perjalanan mereka berdua menuju rumah orangtua Jessy, Steve sesekali menoleh sekilas kearah Jessy yang masih diam tidak berbicara sama sekali kepada Steve.
" Jessy .. apa kau sedang memikirkan sesuatu ?". Steve sedang berusaha mencari tahu atas perubahan sikap Jessy kepadanya.
Jessy hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan dari Steve. Steve pun menyerah, dia membiarkan Jessy dengan diamnya dan dia kembali memfokuskan menyetir mobilnya.
Sekitar 45 menit mobil yang ditumpangi Steve dan Jessy sudah sampai dirumah orangtua Jessy. Mereka berdua segera keluar dari dalam mobil dan menuju pintu rumah. Tanpa memencet bel rumah, Jessy langsung membuka pintu tersebut dan masuk kedalam.
" Pa .. ma ... " Teriaknya diruangan itu untuk memanggil kedua orangtuanya.
Papa mama Jessy yang sudah diteriaki oleh Jessy menghampiri mereka dua. Mereka menyambut kedatangan anak dan menantunya dengan senang. Papa Leo memeluk Steve sebentar lalu menyuruhnya untuk duduk. Sedangkan Jessy dibawa oleh mamanya menuju ruang dapur. Jessy melihat banyak makanan dimeja makan dan ia merasa heran kenapa bisa banyak makanan disana, dia tidak tahu jika hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan orangtuanya yang ke 28 tahun.
" Ma .. kenapa banyak sekali makanan disana ". Tanyanya yang heran.
" Hmm ... ". Jessy tampak berpikir berusaha mengingat ini hari apa, tanggal dan bulan berapa. Sekitar 3 menit dia mengingat-ingat tetiba matanya membulat setelah tahu ini hari apa.
" Ma .. mama .. maafkan aku, aku benaran lupa kalau hari ini ulangtahun pernikahan papa dan mama ". Ucapnya meminta maaf kepada mama Olive.
" Tidak apa-apa sayang, mama tahu kau sibuk .. oya nanti mertuamu juga akan datang kesini ". Mama Olive membelai pipi Jessy dengan lembut.
__ADS_1
" Tapi ma .. maaf ya kali ini Jessy tidak memberikan mama papa hadiah, maafkan Jessy ma ".
" Sudahlah nak, mama papa tidak mau kado berupa barang apapun tapi .... kado yang kami inginkan adalah CUCU ". Goda mama Olive kepada Jessy.
Jessy pun membelalakan matanya saat Mama Olive menginginkan cucu. Itu sama saja artinya anak dari Jessy dan Steve, namun Jessy memilih tidak menjawab lagi dan berlalu meninggalkan Mama Olive yang sedang sibuk menata hidangan dimeja makan.
Sementara ia berjalan menuju ketempat papa dan Steve berada, Jessy pun memikirkan kembali apa yang disampaikan oleh mamanya tadi barusan. Kenapa tiba-tiba menginginkan cucu sih, kak Alex juga belum resmi menikah, kalau sudah resmi tadi kan bisa minta kepada kak Alex saja. Ucapnya dalam hati. Ketika Jessy sampai diruang keluarga, ternyata disana sudah ada mertuanya Papa Brian dan Mama Lea.
" Ma .. pa .. " Sapanya kepada kedua mertuanya itu dengan sopan dan ramah.
" Ah Jessy, sini nak ". Balas Nancy kepada menantunya itu lalu memeluk Jessy.
" Apa kabar ma ? Maaf Jessy jarang datang kerumah kalian ". Tanyanya melepas pelukan Mama Lea.
" Baik nak, kami berdua sangat baik .. bagaimana apa kau sudah ada tanda-tanda hamil nak ". Tutur Nancy menebar senyumannya.
Sekali lagi Jessy membelalakan matanya karena kaget mendengar yang diucapkan oleh mama mertuanya itu. Kenapa mereka berbicara soal anak hari ini .. aduh aku harus jawab apa ya, ayo Steve bantu aku jawab pertanyaan ini .. bantu aku .. bantu aku. Gumamnya.
Steve melihat Jessy yang kikuk dengan pertanyaan dari mamanya itu sudah tahu pasti jika Jessy kebinggungan akan menjawab apa. " Hmm .. Ma .. kalian tenang saja, doakan agar Jessy segera hamil ". Jawabn Steve dengan santai.
__ADS_1
" Kami selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua, dan terutama segera dikaruniai anak mengingat usia pernikahan kalian sudah memasuki 6 bulan. Jangan terlalu dipikirkan nak, jika belum waktunya Tuhan memberikan anak kami tidak akan memaksa kalian ". Ujar papa Brian yang tersenyum kepada kedua anaknya itu.
" Terima kasih pa ". Steve dan Jessy jawab bersamaan.