Terlambat Mencintaimu

Terlambat Mencintaimu
Kesalahan Elisa


__ADS_3

"Tuan. Aku memasak makanan ini special untuk Tuan seorang. Silahkan dicoba." Elisa menyodorkan semangkuk sup kearah Steve dengan wajah berseri-seri.


Steve masih fokus memperhatikan ponsel pintarnya tanpa melihat atau pun mendengar apa yang dikatakan oleh Elisa kepadanya.


Elisa menatap lekat wajah Steve, rasanya ia begitu puas menatap lama-lama wajah laki-laki itu. Tatapannya dipenuhi oleh Steve seutuhnya.


Namun Steve merasa ada yang aneh di dekatnya lalu melihat siapa yang berdiri disampingnya itu. Steve menatap datar dan dingin wanita yang berdiri disampingnya.


"Ada apa !." Tegur Steve tidak suka dengan kehadiran Elisa.


Elisa kaget dan gelagapan karena aksinya tadi kepergok oleh Steve. " Ma-maaf, Tuan. Ta-tadi saya menawarkan ini." Elisa kembali mendekatkan mangkuk berisi sup itu kepada Steve. "Saya memasak khusus untuk anda Tuan. Mari silahkan dicoba ?." Elisa tanpa sadar mengangkat sendok dalam mangkuk tersebut bermaksud menyuapi Steve.


Steve tambah disuka oleh kelakuan Elisa yang menurutnya terlalu lancang dan tidak sopan. Bahkan mood Steve yang tadinya bagus berubah jelek karena kehadiran Elisa.


"Bibi Ana." Teriaknya memanggil salah satu pembantunya. Bahkan kali ini suara Steve terdengar seperti marah.

__ADS_1


Dan saat bersamaan juga Jessy yang menggendong Nico hendak menuruni tangga mendengar teriakan dari suaminya itu.


"Steve." Gumamnya karena baru kali ini Jessy mendengar suara teriakan Steve di dalam rumah bahkan kali ini suaranya terdengar seperti marah. Cepat-cepat ia menuruni anak tangga untuk melihat apa yang terjadi, ia melangkah dengan hati-hati karena sambil menggendong Nico.


Sedangkan Bibi Ana yang namanya di panggil oleh Steve segera berlari menuju kearah suara. Hatinya was-was karena baru kali ini ia mendengar suara teriakan dari majikannya itu.


Bibi Ana datang dan melihat Elisa juga ada disitu bahkan Bibi Ana juga melihat raut wajah Steve berubah dan menunjukkan kemarahan. Bibi Ana hanya diam saja saat tiba di ruang makan walaupun dalam hatinya jangan ketakutan.


"Bi. Apa benar dia putri Bibi ?." Tanya Steve begitu melihat Bibi Ana sampai di dekatnya.


"I-iya, Tuan." Bibi Ana terlihat gugup dan takut karena ia bisa merasakan aura kemarahan yang dipancarkan oleh Steve.


Elisa yang diberikan tatapan tajam dan mematikan oleh Steve langsung tertunduk. Ia telah melakukan kesalahan karena terlalu terpesona kepada majikan Ibu nya.


"Ma-maaf, Tuan. Apa yang sudah Elisa lakukan kepada Tuan ?."

__ADS_1


"Dia sudah berani-beraninya mendekatiku bahkan Bibi tahu apa yang ia lakukan kepadaku tadi ? Dia ingin menyuapi ku. Apa yang ada dalam pikirannya ? Sungguh tidak sopan sekali." Ucap Steve yang begitu marah.


"Ada apa ini ? Kenapa pagi-pagi sudah ribut sekali ?." Seru Jessy yang sampai diruang makan dan berjalan mendekati orang-orang tersebut.


"Kau mengenali wanita ini, Jessy ?." Tanya Steve sambil menunjuk kearah Elisa.


Jessy menganggukan kepalanya tanda mengenal wanita yang dimaksudkan oleh suaminya itu. "Dia Elisa anak Bibi Ana. Ada apa Steve ?."


Elisa sedikit terkejut saat mendengar ucapan Jessy yang menurutnya tidak sopan memanggil Steve hanya sebutan nama saja. Tanpa sadar ia pun mengangkat bicara bermaksud menegur Jessy. "Jessy. Kenapa kau tidak sopan sekali ? Hanya memanggilnya dengan menyebut namanya saja ?."


"Diam." Bentak Steve. "Kau yang tidak punya sopan santun sama sekali. Kau sudah berani mendekatiku dan bahkan menganggap istriku sebagai teman mu ?."


Elisa benar-benar terkejut kali ini, kedua bola matanya membulat sempurna. Mendengar penuturan Steve yang menyatakan Jessy adalah istrinya. "Apa !! Jadi, Jessy yang aku pikir anak Bibi Lusy ternyata istri dari Tuan Steve." Batinnya.


"Kecilkan suaramu Steve. Kau membuat Nico takut. Apa yang terjadi dan kenapa kau pagi ini sangat marah sekali ?."

__ADS_1


"Bi. Bawa dia pergi dari hadapanku." Perintah Steve kepada Bibi Ana agar membawa Elisa pergi menjauh darinya.


"Aku tidak mengerti apa yang terjadi disini. Aku bertanya kepadamu dari tadi dan kau belum menjawabnya." Kesal Jessy. Ia pun mendudukkan Nico di kursi khusus anaknya itu sambil memberikan biskuit untuk di makan Nico.


__ADS_2