
Jessy membuka gagang pintu kamarnya, dan melihat Steve sedang duduk diatas tempat tidur sambil memainkan laptopnya. Ia pun menghampiri Steve yang sibuk akan email-email masuk mengenai perusahaannya.
"Kau sedang apa, Steve ?."
"Barusan Juan menelepon untuk mengecek email yang dikirimnya." Jawab Steve tanpa melihat Jessy karena fokus kepada layar laptopnya.
Jessy tidak menjawab lagi dan membiarkan Steve bekerja dengan laptopnya. Dirinya pun ikut naik keatas tempat tidur dan duduk disamping Steve, sambil memainkan ponselnya tanpa mengganggu suaminya itu.
Hening .....
"Masih belum selesai urusanmu ?." Tanyanya membuyarkan suasana hening diantara mereka berdua.
"Sudah." Steve menutup laptopnya dan menaruh benda tersebut diatas nakas samping tempat tidurnya.
"Ayo, turun. Aku sudah lapar karena kelamaan menunggumu." Jessy mencebik bibirnya tiba-tiba merasa kesal terhadap Steve.
"Kenapa raut wajahmu begitu ? Kau marah ?."
"Tidak."
"Bohong."
"Aku tidak bohong, Steve."
__ADS_1
"Lalu ?." Steve menaikkan salah satu alisnya untuk memastikan kenapa tiba-tiba istrinya itu seperti marah kepadanya.
"Ah. Sudahlah. Aku lapar, mau makan." Jawabnya lagi lalu beranjak meninggalkan Steve yang masih duduk diatas tempat tidur.
"Jessy. Katakan aku salah apa ?." Serunya yang kemudian mengikuti istrinya tersebut.
Jessy tetap saja melangkahkan kakinya tanpa menjawab pertanyaan Steve. Saat tangannya ingin membuka pintu kamar, tiba-tiba tubuhnya ditarik oleh Steve dan membuatnya bersandar dinding.
"Katakan, kau kenapa ?." Kali ini Steve bertanya dengan suara rendah.
"Aku kesal karena kau mengabaikanku tadi. Kau lebih memilih melihat laptopmu daripada aku." Tuturnya kesal.
Steve tersenyum kecil setelah mendengar alasan dari istrinya terlebih melihat wajah Jessy yang cemberut semakin membuat Steve gemas terhadap istrinya itu.
Sedangkan Jessy pun tidak bisa menolak mendapat serangan lembut dari Steve. Baginya sentuhan bibir Steve membuat dirinya lupa akan segalanya termasuk rasa kesalnya saat ini.
***
Keduanya pun menikmati makan malam bersama, disela-sela makan pun Jessy menyampaikan keinginannya, besok ia ingin sekali jalan-jalan berdua dengan Steve.
Ia mau menghabiskan waktu dengan suami tercintanya itu tanpa diganggu oleh orang lain. Entah kenapa keinginannya itu harus dilaksanakan dan tidak boleh ditunda, mendengar permintaan dari Jessy kepadanya mau tak mau Steve mengiyakan ajakan Jessy.
Di pikir juga, ia juga jarang jalan-jalan bersama Jessy diwaktu libur. Dan setelah selesai makan malam, keduanya pun masuk kembali ke kamar mereka.
__ADS_1
"Jessy." Steve menghentikan langkah Jessy yang hendak menaiki tempat tidur.
"Ya."
Tiba-tiba Steve mendekatkan wajahnya kedepan wajah Jessy. "Aku lapar." Ucapnya menggoda Jessy.
"Lapar ! Bukankah kita barusan selesai makan malam, kenapa kau lapar lagi ?." Jessy mengerutkan keningnya merasa heran kenapa Steve lapar lagi.
Namun maksud Steve dengan kata LAPAR bukanlah soal ingin makan lagi melainkan ada maksud yang lain. "Aku bukan ingin makan yang itu."
"Lalu. Kau ingin makan yang mana ?." Tanyanya yang tidak mengerti maksud ucapan Steve.
Steve menarik salah satu sudut bibirnya, dan mendekatkan mulutnya ke daun telinga Jessy. Ada rasa geli yang Jessy rasakan akibat hembusan nafas yang dikeluarkan oleh Steve.
"Aku ingin memakan dirimu saat ini." Bisiknya pelan lalu membuat Jessy merinding.
"Ma-maksudmu, apa?."
"Kau masih tidak mengerti ? Baiklah. Daripada aku menjelaskannya lebih baik aku langsung melakukannya saja agar kau paham."
Tanpa menunggu persetujuan dari Jessy, Steve langsung mencium bibir Jessy dengan lembut dan kemudian menuntun tubuh Jessy keatas tempat tidur.
Walaupun tadi sore mereka sudah melakukan pergumulan, dan malam ini lagi Steve menerjang tubuh Jessy lagi. Kegilaan Steve akan tubuh istrinya membuatnya ketagihan menyentuh seluruh miliknya itu, dan Jessy pun harus melayani suaminya kapan pun Steve menginginkan dirinya.
__ADS_1