Terlanjur Cinta

Terlanjur Cinta
Rencana Naik Gunung


__ADS_3

Pagi ini sungguh indah,Erlyen sedang berolahraga di dekat rumahnya alias rumah Leonard.


Ia sempat berpikir untuk menunda pertunangannya dengan Leonard tetapi di satu sisi ia sudah mulai merasakan gejolak asmara dalam dada kepada pria bermata biru itu.


Ia seakan telah mendapat kekuatan baru dalam hidupnya dimana ia telah mendapatkan sandaran yang mampu menopangnya dalam keadaan sangat terpuruk sekalipun.


Ia juga merasa banyak orang menyayanginya termasuk kedua orang tuanya dan juga saudara laki lakinya yang sangat menyayanginya....


Adrian sangat menyayanginya dan tak mau ada orang menyakiti adik sematawayangnya itu.


Ketika sedang berolahraga tiba tiba ia mendengar ada yang memanggilnya dengan suara agak serak.


Sudah pasti itu Ditta sahabatnya karena hanya Ditta yang bersuara serak serak basah.


"Lyen...!! Erlyen...!!" Seru suara itu lagi.


"Iya bentar aku pelan pelan aja...!! Aku capek banget nih habis joging di seputaran kompleks ini." Erlyen menjawab sambil menyeka keringat di dahinya.


Ditta berjalan mendekati Erlyen yang sementara menatapnya.


"Ada apa Ditt?"


"Gak ada apa apa untungnya aku bertemu denganmu disini,aku mau bilang Kakakmu berniat mengajak kita untuk naik gunung."Ucap Dittaa lagi.


"Lha sekarang?" Erlyen melongo sambil menyeka lahi keringat di dahinya.


"Coba aku bilang Leo dulu ya semoga saja Leo mau."


"Ya aku tunggu informasi selanjutnya Lyen,aku pamit dulu!"Ucap Ditta sambil tersenyum.


"Iya bye bye sayangku hati hati di jalan kalau terantuk sebut nama aku biar gak terasa sakitnya." Ucap Erlyen sambil tertawa terkekeh.


"Hahaha kamu bisa aja! Ok bye sampai jumpa!"Ditta melambaikan tangannya pada Erlyen dan menghilang di balik mobil sport mewah itu.


*****


Akhirnya ia pun kembali ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamar mandi.


Setelah selesai mandi ia pun beranjak ke dapur hendak sarapan.


Tapi ia berniat untuk menemui Leonard dulu untuk membicarakan soal rencana naik gunung yang di bilang Ditta tadi.


"Tok...tok...tok...!!" Ia mengetuk pintu kamar Leonard.


Dan ternyata pintu kamarnya tidak di kunci sehingga ia pun langsung celingak celinguk mencari pemilik kamar itu.


"Leo...?? Leo....??" Tetap tak ada jawaban.


Akhirnya ia memutuskan untuk mendatangi ruang kerja Leonard si pria bermata biru yang telah banyak menolongnya keluar dari masalahnya selama ini.


Ketika ia mengetuk pintu ruangan itu tetap tak ada sahutan.


"Dimana sih nih orang?"Ujarnya pada dirinya sendiri dan akhirnya ia mendorong pintu itu dan apa yang ia lihat? Apa guys kira kira? Ternyata oh ternyata Leonard sementara tertidur dengan sangat pulasnya di atas kasur lantai yang di bentangnya di atas lantai ruangan itu.


Benar benar kecapaian banget ya kamu Leo?


Akhirnya ia pun menyelimuti Leo dan mengelus rahang tegas milik pria bermata biru itu sambil tersenyum daan berbisik kata kata romansa di telinga pria itu.


"Terima kasih sayang sudah melindungi dan menyayangiku sejauh ini,aku harap semua ini gak pernah berakhir hingga selama lamanya Amin." Erlyen membisikkan kalimat itu dengan penuh rasa kasih sayang.


Si empunya mimpi mengira kalau ia sedang bermimpi di peluk Cinderella sehingga ia pun semakin mengeratkan pelukannya pada bantal guling di dalam dekapannya itu sampai sebuah kecupan hangat mendarat di keningnya baru ia tersadar dari mimpi indahnya.


Ia lun mengerjapkan matanya sambil melihat siapa gerangan yang sudah mengecupnya sepagi ini.


"Emmmm,Lyen sayang kamu rupanya?Aku pikir aku sedang bermimpi diciumi bidadari cantik eh ternyata benar benar bidadariku yang mengecup keningku ya?"Ucap Leonard sambil mencoba bangun dari tidurnya dan membuka matanya serta membuka kedua tangannya dan mendekap erat tubuh wanita kesayangannya itu.


"Hmm kamu sangat wangi,"ucap Leonard sambil menciumi puncak kepala Erlyen.


"Aku kan sudah mandi tadi sehabis joging."


"Pantasan saja kamu sangat wangi sayang!"


"Iya dong,Erlyen gitu loh!?"ucap Erlyen manja.


"Leo,aku mau bilang sesuatu!" Ujar Erlyen pada Pria itu.


"Mau bilang apa?Bilang aja aku pasti mendengarkan dan akan setuju kalau sesuai keinginanmu."Jawab Leonard sambil menyunggingkan senyum termanisnya.


"Pagi tadi saat aku sedang olahraga,aku bertemu Ditta dan dia mengajak kita untuk mendaki gunung,apa kamu setuju?"Tanya Erlyen penuh harap harap cemas karena ia melihat raut muka Leonard sedang mempertimbangkan sesuatu.


"Leo,jawab dong kan aku udah setuju tadi sam Ditta?"Ucapnya berbohong karena ia tahu Leonard bakal bilang ia sedang sibuk kerja demi masa depan mereka berdualah inilah itulah...


"Sabar aku telepon Angga dulu ya semoga beberapa hari kedepan tidak ada jadwal."Ucapnya sembari menelepon seseorang yang merupakan tangan kanannya itu.


Leonard terlihat bangun dari tidurnya dan melangkah ke balkon sambil menelepon Angga sang sekretaris setengah matang itu.


Terlihat dari raut wajahnya kalau semua akan baik baik saja dan berjalan sesuai rencana.


"Leonard tersenyum artinya jelas."


"Bagaimana Leo?"Tanya Erlyen tiba tiba dan memdekat ke arah Leonard.


"Baiklah tapi jangan berlama lama karena Tiga hari lagi saya akan berangkat ke Bali,apa kamu mau ikut?"Tanya Leonard pada Erlyen lagi.


"Mau dong!!"

__ADS_1


"Baiklah sekarang tolong infokan kembali kepada Kakak iparmu itu kalau kita jadi ikut mendaki gunung."Ujar Leonard sambil mengecup pipi wanita itu dengan penuh kasih sayang.


"Leo,kamu mandi aja dulu aku mau menelepon Ditta dan Kak Adrian semoga saja mereka sudah siap!"Ucap Erlyen sambil tersenyum dan menekan layar phone cellulernya dan mulai bercakap cakap dengan si sahabat alias Kakak iparnya itu.


Setelah mmenginfokan kembali pada Ditta,akhirnya mereka pun mulai sibuk menyiapkan barang barang yang akan mereka persiapkan dan barang barang yang akan mereka bawa ke puncak gunung.


"Tunggu di tempat biasa ya!" Begitu isi pesan dari Ditta pada Erlyen.


"Siap Nyai...hik hik hik!!" Balas Erlyen sambil tersenyum.


"Senyum senyum sendiri sayang?"Tiba tiba Leonard sudah berada di hadapannya sambil menyeka tetesan air yang jatuh dari rambutnya yang masih basah.


"Ayo mandi sana biar kita tidak terlambat?"


"Yeah aku kan sudah mandi tadi habis joging Leo?"


"Tetap saja kamu harus mandi lagi"Ujar Leo sambil mendorong pelan Erlyen agar keluar dari ruang kerjanya.


Leonard pun mengusir Erlyen keluar, dan Erlyen pun pergi keluar ruangan kerja Leonard dan pergi ke kamarnya.


Erlyen langsung menyiapkan semua perlengkapan dan peralatan yang akan mereka pakai di saat pendakian gunung nanti.


Setelah semua siap,ia pun pergi ke ruang makan untuk mengambil beberapa bahan penting yang bakal mereka gunakan saat pendakian nanti.


Setelah itu ia pun membuat naai goreng dan telur mata sapi untuk dirinya dan Leonard.


Selesai memasak ia pun memanggil Leonard untuk segera turun sarapan pagi.


"Hmm yummy banget masakan kamu Sayang?"Puji Leonard membuat wajah Erlyen bersemu merah.


"Iya dong Erlyen kan koki profesional Leonard?"Erlyen menyebut nama Leonard lengkap membuat Leonard sangat gemas mendengar namanya lemgkap disebut Erlyen.


"Sebentar lagi kamu akan di panggil Nyonya Leonard Lyen."Ucap Leonard pada Erlyen.


"Iya iya aku tahu tidak lama lagi aku akan menyandang gelar Nyonya Meneer hehehe..."Ucap Erlyen diselingi tawa khasnya yang menunjukkan gigi gingsulnya yang cantik itu.


*****


Mereka telah berkumpul di tempat yang mereka janjikan dan disana ada beberapa pengawal bayangan dari Papa Jayadi dan juga dari Kak Adrian dan beberapa orang kepeercayaan Leonard.


"Kan kita aja sesuai rencana kok ini banyak orang ?"Ucapan Erlyen sampai terdengar di telinganya Adrian.


"Akhir akhir ini kamu sedang dalam incaran orang orang tak bertanggung jawab jadi Kakak khawatir keselamatan kamu adikku sayang."Ucap Adrian sambil tersenyum.


"Ya udahlah ikuti aja maunya kakakmu ya Lyen?"Sambung Ditta sambil memegang tangan sahabatnya itu.


"Iya baik aku manut!" Jawab Erlyen sambil tersenyum tipis walau hatinya sebenarnya menolak apa yang dibilang oleh Adrian dan Ditta tetapi apa boleh buat iaa tak berdaya.


Mereka pun bersiap siap pergi dengan beberapa buah mobil ke bawah kaki gunung yang dituju.


**(


Semuanyansudah mulai berjalan dan Erlyen terlihat sangat senang.


"Lyen kalau capek bilang ya aku akan menggendongmu!"Ucap Leonard pada Erlyen yang berjalan tepat di hadapannya.


"Iya Boss tenang saja aku adalah Erlyen wanita tangguh yang takkan terkalahkan,akan aku taklukan gunung ini dan siap menjadi pemenang dan viral di media sosial sampai penjuru dunia."Ucapnya sambil tersenyum san.melambaikan tangannya pada Leonard yang terlihat sangat tampan dengan baju kasual sepeeti itu.


"Sayang kalau capek kasih tahu kakak ya?"Ucap Adrian lagi.


"Kakak gendong aja permaisuri kakak ntar dia cemburu lagi ma aku kak?"Ucapan Erlyen membuat Ditta gemas dan ingin sekali mengetuk kepala sahabatnya itu.


Dan perjalanan mereka memakan waktu Dua jam lebih akhirnya mereka pun sampai di puncak dan ternyata di atas puncak itu tanahnya sangat datar dan luasnya seperti tanah lapang tempat orang orang bermain bola kaki,sangat lebar dan sangat indah dipandang.


Sambil menunggu Sunset mereka mempersiapkan beberapa buah tenda untul mereka pakai nanti malam.


Para pria membangun tenda dan para wanita membuat kopi dan mempersiapkan cemilan untuk mereka nikmati saat senja nanti.


Beberapa saat kemudian semuanya telah siap,tenda telah siap pakai dan air panas pun telah mendidih dan mereka pun duduk di kursi lipat yang di bawa oleh lara pengawal bayangan Kak Adrian.


Akhirnya yang ditunggu tunggu pun muncul di ufuk barat dan Adrian pun sudah menyiapkan Teleskop untuk bisa melihat matahari secara sempurna.


Ia sudah memasang lensa pelindung mata pada teleskopnya itu sehingga tidak berpengaruh pada mata mereka.


Ketika senja telah tiba sunsetnya sangat indah dipandang mata.


Erlyen memandang dengan takjub dan terlihat rona kebahagiaan di wajahnya.


Ditta pun demikian sangat bahagia dengan pemandangan yang disuguhkan alam semesta sore itu.


Adrian dan Leonarf sibuk bergantian memakai teleskop itu agar bisa menatap secara langsung matahari senja itu.


"Sangat indah!"Puji Erlyen sambil menagmbil beberapa foto dan ia juga meminta Ditta untuk mengabadikan dirinya dengan pose di balik sunset senja yang sangat indah itu.


Setelah matahari terbenam,mereka pun mengumpulkan kayu kering dan mulai menyalakan api unggun untuk memgusir nyamuk nyamuk dan binatang liar yang kemungkinan berkeliaran di sekitar tenda mereka.


Tenda milik Ditta dan Erlyen berada di tengah tengah tenda para pria agar apapun terjadi mereka tetap terlindung dari serangan binatang buas maupun hal hal yang tak diinginkan.


Diantara pengawal pengawal bayangannya Adrian ada yang membawa gitar sehingga mereka pun bernyanyi dan tertawa bersama hingga larut malam.


"Adek,sana tidurlah biar kakak dan Leo menjaga kalian!"Adrian menyuruh Erlyen untuk segera tidur agar besok pagi bisa bangun pagi pagi dan bisa menikmati Sunrise.


"Tapi Kak, Erlyen belum mengantuk..!!"Bantah Erlyen tapi tak digubris oleh sang Kakak.


Ia pun meminta Leonard mengantar Erlyen ke tenda agar bisa beristirahat.

__ADS_1


"Leo aku belum mengantuk,aku masih ingin duduk di situ sambil lihat bintang bintang di langit."Rengek Erlyen tapi tak di ijinkan oleh sang kekasih hatinya itu.


"Ini semua gara gara Kakakku,tapi gak apa apa aku akan segera tidur agar aku bisa bangun pagi dan bisa menikmati sunrise pagi nanti."Gumam Erlyen pada dirinya sendiri.


Leonard pun menyelimuti Erlyen dan membantunya membuka kipas angin portable yang ia bawa siang tadi.


Erlyen pun tidur dengan sangat nyenyaknya,ketika Leonard mendengar dengkuran halus dari wanita kesayangannya itu ia pun beranjak pergi setelah menutup kembali tirai tenda Erlyen dan Ditta.


Ditta sudah sangat mengantuk sehingga ia pun tertidur duluan sebelum Erlyen.


"Selamat tidur wanitaku!"Ucap Leonard dan ia pun melangkah pergi ke tempat dimana mereka duduk tadi.


"Bagaimana Leo,apa mereka sudah tidur?"Adrian bertanya pada Leonard.


"Iya sudah aman!"Jawab Leonard sambil kembali duduk bersila di dekat api unggun itu.


Para pengawal pun masih duduk bersama mereka sambil menghisap beberapa batang cerutu dan meminum kopi yang telag di seduh oleh Erlyen dan Ditta tadi.


Dalam tidurnya Erlyen ia bermimpi bertemu dengan Albert.


Dalam mimpi itu Albert terlihat meminta yolong pada Erlyen untul membebaskan dirinya dari belenggu yang sangat berat itu.


"Erlyen maafkan aku Erlyen aku telah berlaku kasar dan banyak salah padamu isteriku aku minta maaf fan mohon ampun atas segala yang pernah aku lakukan padamu."Sesal Albert sambil menangis.


"Maaf Tuan Albert aku bukan Erlyen yang dulu lagi yang mudah kau tipu dan kau injak injak harga diriku aku sudah hidup bahagia dan tak mau berbalik ke belakang lagi karena aku sudah menganggap kamu tak layak untukku,dan aku juga sudah lupa kalau dulu kita pernah bersama dalam sebuah rumah tangga,aku harap kamu juga lupakan masa lalu kita dan berbenah diri untuk menyambut masa depan yang lebih baik lagi."Jawaban Erlyen membuat Albert jatuh terduduk di atas tanah dan menangisi apa yang baru saja ia dengar dari Erlyen.


*****


Pukul 05.00 tepat Erlyen sudah bangun dari tidurnya dan ia pun menghidupkan api di tempat dimana api unggun semalam dan benar saja karena masih ada arang sehingga ia dengan mudah menghidupkan api lagi dan merebhs air untuk membuat sarapan pagi mereka.


Beberapa saat kemudian bau harum tekur ceplok sudah memenuhi semua tenda mereka dan yamg masih tidur langsung bangun.


Pagi yang cerah, walaupun belum terang karena matahari belum menunjukkan sinarnya tetapi remang remang cahayanya sudah hampir keluar.


Erlyen pun masuk ke dalam kamar mandi darurat yang telah disediakan oleh para pengawal bayangan dan ia segera mandi dan berganti pakaiannya,semalam tak sempat mandi karena terlalu dingin.


Pagi ini udaranya sangat segar dan membuat Erlyen harus secepatnya mengguyur dirinya dengan beberapa gayung air.


Selesai mandi ia pun membangunkan Ditta dan menyuruhnya mandi agar bisa terlihat segar saat sunrisenya datang.


Setelah mereka berdua selesai mandi fan berganti pakaian,mereka pun membuat beberapa kopi untuk para pengawal dan Adrian serta Leonard.


"Tidak sia sia kita membuat kamar mandi darurat semalam."Adrian membuka percakapannya dengan Leonard.


Erlyen dan Dittaa pergi berjalan jalan disekitar hutan itu dan mereka bersenda gurau sampai lupa kalau mereka sudah masuk ke dalam hutan belantara yang sangat rimbun itu.


"Lyen di mana kita?" Tanya Ditta sambil bergidik.


"Aku tak tahu Ditt,kan kita belum hafal hutan ini."Jawab Erlyen sambil bergidik.


Karena mereka tersesat dan tak tahu jalan pulang mereka pun terdiam di bawah pohon besar itu dan ternyata itu adalah pohon apel yang sudah sangat tua dan memiliki banyak buah yang ranum ranum.


Karena lapar akhirnya Erlyen pun menengadahkan tangannya ke langit dan meminta tolong.


"Wahai Tuhan dan alam semesta berilah kami sedikit buah segar ini untuk mengganjal perut kami yang kelaparan ini!!"Ucap Erlyen serius dan sambil menutup matanya.


"Kamu serius Lyen?"Bisik Ditta pada Erlyen.


"Iya aku yakin kita pasti bisa mendapatkan juah buahan itu."Jawab Erlyen lagi dengan sangat yakin.


Dan tiba tiba saja angin begitu kencang membuat pohon bergoyang dan apel apel ranum itu terjatuh dari pohon itu.


"Terima kasih Tuhan atas buah buahan ini,"ucap Erlyen bersyukur dan membuka tas keranjang yang ia bawa dalam tasnya itu dan memasukkan buah buahan yang terjatuh akibat tiupan angin tadi, sedangkan Ditta melongo dan terheran heran dengan kejadian itu.


Setelah penuh mereka pun memakan beberapa buah dan seakan ada petunjuk jalan mereka pun mengikuti arah tiupan angin.


****


Adrian dan Leonard pusing mencari cari keberadaan Erlyen dan Ditta.


Mereka sudah mencari ke segara tempat tak.juga mereka temui.


Leonard pun terduduk diatas rerumputan hijau itu sambil menggigit bibirnya.


"Kemana mereka?Apa yang terjadi sampai mereka pergi dan memghilang?Lyen sayangku dimana kamu?Aku tak mau kehilanganmu Lyen?"Bisik Leonard pelan pada dirinya sendiri.


*


Tiba tiba Erlyen melihat tanaman lamtoro yang ia patahkan pagi tadi sebagai tanda awal mereka menginjakkan kaki di hutan belantara itu.


"Dit,akhirnya kita menemukan jalan keluarnya,lihat ini pagi tadi aku mematahkan beberapa dahan untuk mengetahui kalau jalan ini yang kita lalui..." Ucap Erlyen sambil berjingkrak jingkrak dan akhirnya mereka berduapun berlari keluar dari hutan rimba nan rimbun itu menuju ke tenda mereka yang tak jauh dari temlat mereka itu.


Ketika sampai di tenda mereka tak tahu kalau orang orang pada sibuk mencari mereka dan terlihat Leonard dan Adrian sedang menggambar sesuatu seperti peta untuk mereka agar mereka bisa mencari Erlyen dan Ditta.


Tiba tiba Erlyen langsung menerobos dan memeluk Adrian dan Leonard.


"Dari mana saja kamu Dek?Sayang?Mana Ditta?"Banyak pertanyaan bertubi tubi dari Adrian dan Leonard membuat Erlyen dan Ditta hanya terisak isak penuh kebahagiaan.


****


To be continued


Bagaimana kelanjutannya?


Simak di episode berikutnya ya guys...

__ADS_1


Jangan lupa like,komentar dan vote atau kasih poin ya...??


__ADS_2