Terlanjur Cinta

Terlanjur Cinta
#41


__ADS_3

Setelah kepergian Anisa, Yoga pun melanjutkan kembali perjalanannya ke Asrama.


"Dari mana saja kau?" ujar Tama teman sekamarnya.


"Dari rumah menengok adikku Dia kesepian karna orang tuaku sedang keluar kota," jawabnya, Yoga pun masuk k dalam kamar mandi setelah itu Dia pun ikut merebahkan tubuhnya di kasur.


"Apakah adikmu sudah punya pacar? kenalkanlah padaku siapa tau jodohku," ucap Tama terkekeh.


"Tanya kan saja padanya sendiri aku tidak tau," Jawabnya asal.


Yoga masih memikirkan Anisa, semoga saja besok atau lusa bisa bertemu lagi dengannya.


"Apa kau ada masalah? kenapa kau diam saja," tanya Tama.


"Tidak, aku hanya sedikit lelah," jawabnya, Dia pun memiringkan tubuhnya ke tembok, Dia tidur di bawah dan Tama tidur di kasur atas, karna ranjang nya tingkat dua.


Kamar yang di huni 4 orang itu tampak sepi ,karna sudah pada tidur.


Yoga pun tak bisa tidur, Dia terus saja mengingat Anisa.


Dia pun duduk kembali dan memainkan ponselnya, Dia menatap poto mereka berdua saat SMA yang masih tersimpan dalam ponselnya .


Anisa Citra Letari adalah anak yang lugu dan pintar, sedangkan Yoga termasuk anak yang nakal saat SMA dulu, karna sering bertemu mereka pun dekat dan berpacaran di akhir sekolah.


Di sisi lain Anisa baru saja sampai di rumahnya, Dia membeli rumah dengan kerja keras nya belakangan ini, Dia menjadi seorang Dokter umum di rumasakit terdekat.


"Ya Tuhan kenapa harus bertemu lagi dengannya, sungguh aku tak sanggup Tuhan," Isaknya.


Sebelum Kakeknya meninggal Beliau sudah mewanti-wanti agar Anisa secepatnya menikah dengan laki-laki yang di pilihkannya.


Anisa pun membersihkan diri dan tertidur di atas kasur empuknya.


.


Pagi hari seperti biasa Mita akan berangkat ke kampus namun ada yang berbeda pagi ini, Adit sudah ada di depan rumahnya menjemput Mita.


"Pagi sayang," ujarnya tersenyum.


"Pagi juga, kamu tumben pagi-pagi udah kesini? "

__ADS_1


"kebetulan aja aku lagi pengen jemput, kamu masuk kuliah pagi kan?" Mita pun mengengguk.


"Baiklah ayo berangkat," Adit pun menyerahkan helm nya kepada Mita.


"Gak sarapan dulu?" Mita pun membenarkan helm nya.


"Udah nanti cari sampe jalan aja ya,"


Mita pun naik di jok belakang motor Adit mereka pun meninggalkan kediaman Mita.


Saat melewati tukang bubur ayam Adit pun menghentikan motornya.


"Ayo kita sarapan dulu, kamu pasti laperkan," ucap Adit melepas helmnya dan juga helm Mita terus Dia menggandeng tangan Mita mengajaknya duduk.


Adit pun segera memesan dua mangkok bubur ayam .


"Apa semalam kakak kamu nginep di rumah?"


"Tidak, Aa pulang lagi ke Asrama," jawabnya.


Mereka menyantap bubur ayam itu sampai habis.


Perjalanan pun tak sampai 10 menuju kampus nya Mita.


"Masuk gih, aku juga langsung pamit ada kelas soalnya, nanti aku jemput kamu jangan kemana-mana yah," ucap Adit, Mita pun mengangguk dan melambaikan tangannya.


Setelah kepergian Adit Mita pun berjalan, saat akan masuk kelas, ada yang memanggil namanya.


"Eh Mit loe di suruh ke Gerung belakang sama Pak. Anwar," ujar salah satu siswa.


"Ngapain?" tanya Mita.


"Gak tau tuh bukan loe doang ko tadi juga banyak yang di suruh ke sana," ujarnya.


"Udah Loe tinggal jalan aja, ruangannya di Ujung sana,"


"Tapi... "


"Gak ada tapi -tapian loe gak mau kan kena hukuman dari Dosen kiler itu, tau sendiri lah gimana seramnya Dia kalo lagi marah,"

__ADS_1


Mita pun akhirnya mengangguk dan berbelok menuju Gedung yang berada di ujung.


Mita pun akhirnya sampai di sana dengan hati was-was.


"Bener gak sih ini ruangannya ko sepi ya, apa sudah pada masuk semua," ujarnya.


Mita pun memberanikan diri membuka ruangan tersebut dan masuk perlahan.


Namun saat Mita masuk, ruangan menjadi gelap dan pintu tertutup dari luar.


"Ahh... apa itu? ko jadi gelap gini, apa jangan-jangan gue salah masuk ruangan," Mita pun berteriak meminta tolong.


"Tolong siapa pun di luar gua takut," teriaknya histeris, Mita sangat pobia gelap.


Mita pun terus berteriak namun tidak ada satu orang pun di sana, Dia pun meraba ponsel nya di dalam tas, namun nihil.


"Sial, di saat seperti ini ponsel malah tertinggal, Ya Tuhan berikan pertolongan untukku," gumannya sambil menangis.


"Aku gak bisa nafas tolong... tolong aku," suara Mita pun hampir habis Dia duduk di bawah pintu menunggu keajaban datang.


Di sisi lain Adit baru saja sampai di halaman parkir.


"Hay Dit kamu baru datang," ujar Lisa yang juga baru datang bersama geng nya, yaitu Sinta dan Via.


"Hmm... " jawab Adit malas.


"Jangan jutek gitu dong sama gue, bukanya loe bilang mau berteman iya gak guys?"


"Iya Dit, loe harus back -baik sama Lisa jangan cuek gitu," timpal Sinta.


"Ayo Vi kita ke kelas duluan biarin Lisa sama Adit," ujar Sinta menarik tangan Via meninggalkan mereka.


"Apa mau Loe? Gue kan dah bilang jangan ganggu gue lagi paham gak loe?" ujar Adit kesal.


"Bukannya loe bilang mau jadi temen gue, ko jadi berubah gini sih? inget Dit loe berhutang nyawa sama gue," ucap nya mengingatkan.


Lisa pun tersenyum sinis, sedangkan Adit semakin kesal dan meninggalkannya.


"Loe liat aja nanti, pasti loe jadi milik gue Dit," guman Lisa.

__ADS_1


__ADS_2