Terlanjur Cinta

Terlanjur Cinta
#78


__ADS_3

Mereka pun di sambut ramah oleh warga desa.


Malam hari nya Mita terpaksa memasak untuk mereka untung saja tadi bu Rt memberikan beberapa bahan makanan dan sayuran untuk di masak.


Mau beli pun di sana susah karna tidak ada yang jualan di sore hari.


"Ya Tuhan makanan apa ini, apa mereka kira kita ini kambing di berikan daun-daun kaya gini," ucap Lisa.


"Udahlah Lisa loe gak usah protes kalo loe gak suka gak usah makan, mending loe cari sana makanan yang cocok di lidah loe," ucap Intan.


Sedangkan Mita dan Vanya hanya diam saja, malas sekali jika harus berdebat malu juga sama tetangga rumah.


Setelah selesai masak Mita membawanya ke depan, di bantu Intan dan Anggun.


"Ayo makan dulu kalian pasti laperkan," ucap Mita.


Ada ikan goreng, sambal, lalaban dan juga oseng kangkung, memang bagi lidah orang kaya itu tidak enak atau aneh tapi bagi Mita yang suka menurut nya itu sepesial sekali.


"Wahh ini pasti enak bisa nambah gue," ucap Adi.


Mereka pun makan dengan lahap, Lisa yang tadi ogah-ogahan pun dengan terpaksa ikut makan.


"Ternyata makanan seperti ini lebih enak dari makanan yang gue makan tiap hari." Batin Lisa.


Setelah selesai makan Mita memberesakan bekas makan mereka di bantu Vanya dan Andi.


"Makasih Mita udah masakin buat kita," ucap Andi.


"Iya sama-sama tapi besok gantian ya masak nya," canda Mita dan Andi pun tersenyum.


Mita dan Andi kini berteman biasa, karna Andi tahu kalo Mita sudah bertunangan, Andi malah meminta Mita mendekatkannya dengan Vanya teman satu kelas Mita.


Mita pun kembali bergabung bersama yang lain.


"Mana Andi sama Vanya?" tanya Intan.


"Masih di belakang, besok gantian ya yang masak sama cuci piring nya kasian tahu berat mengeret air nya," ucap Mita.


Memang benar di sana kamar mandi nya ada di luar rumah dan air nya pun masih harus di eret dari dalam sumur.


"Disini tuh kaya nya belum ada pompa air deh, gue tanya sama pak Rt juga cuma ada satu atau dua orang yang udah pake kalo yang lain masih manual kaya gitu," ucap Angga.


"Iya cape banget kalo gini, tiap mandi harus ngeret dulu mana gak ada bathtub, gak betah rasanya gue pengen cepet pulang." keluh Lisa membuat mereka tertawa.

__ADS_1


"Kok malah ketawa sih, gue tuh gak bisa mandi pake alat kaya gitu mana gak ada shower nya lagi," gerutunya kesal.


Mita yang sejak tadi diam pun kini angkat bicara.


"Lisa kamu udah dewasa kan gak usah kaya anak kecil deh kita juga sama kaya loe, tapi mau gimana lagi ini adalah tugas," ucap Mita.


Malam harinya Mita tidak bisa tidur karna banyak nyamuk, meskipun sudah memakai obat nyamuk tapi tetap saja banyak.


Sedangkan yang lain sudah terlelap, mungkin karna kelelahan beres-beres rumah.


Maklum rumah tersebut lama tak terpakai, waktu pun terus maju kini sudah jam 11 malam.


"Kenapa loe pasti gak bisa tidur juga kan?" tanya Lisa.


Kini mereka tidur satu kamar, di rumah tersebut terdapat 3 kamar dan para wanita memilih satu kamar untuk semua, kamar tersebut lumayan luas.


"Loe juga kan, tidur sana," ucap Mita memunggungi nya.


"Gue gak bisa tidur, kasur nya gak empuk," ujar Lisa kesal.


Kenapa sih harus di Desa yang seperti ini, mana sinyal susah lagi.


"Udah paksain dari pada besok mata loe kaya panda," ucap Mita memejamkan matanya berusaha terlelap.


.


Di tempat lain Adit juga sama, Dia masih sibuk mencari sinyal dari tadi sinyal nya kurang bagus.


"Sial," gumannya.


"Kenapa loe?" tanya Sandi. Kini mereka duduk di ruang tamu yang hanya ada karpet saja untuk duduk tak ada kursi atau yang lain.


Rumah dari salah satu warga itu sengaja di sewa mereka, kalo Mita dan yang lain cuma menempati saja tanpa harus sewa berbeda dengan Adit dan kawan-kawan.


"Gila sinyal susah banget sih dari tadi gue telpon Mita gak masuk-masuk," ujar nya.


Tentu saja di tempat Mita juga susah sinyal, mana bisa mereka komunikasi.


"Sabar besok aja loe temuin Dia,bukannya besok ada pertemuan di bale desa," ucap Sandy.


"Tahu lah gue pusing kalo kaya gini, loe kenapa belum tidur?" tanya Adit.


"Gak tahu gue belum ngantuk," ujarnya melirik teman-temannya yang sudah pada pulas.

__ADS_1


Mereka tidur di ruang tamu, karna kamar tidur hanya ada 2 itu pun di tempati oleh para wanita yang berjumlah 7 orang.


Sedangkan para laki-laki yang berjumlah 5 orang diantara nya Adit, Vito dan Sandy dan dua lainnya dari fakultas lain.


"Loe bisa gak tidur di tenpat begini mana gak ada kasur nya lagi," ujar Sandy.


"Gue mah kalo udah ngantuk tinggal tidur aja dimana juga, loe inget gak waktu kita ke rumah nenek nya Zahra kita juga tidur begini," ujar Adit.


Dan Sandy pun mengingat hanya Vito dan Rey tidur di kasur, itu pun Vito merengek tidak mau tidur di bawah jadi Adit yang akan tidur di kasur pun mengalah.


"Tumben Dia bisa tidur," ucap Sandy, melirik Vito sudah terlelap dengan selimut yang menutupi sebagian wajahnya.


"Mungkin karna lelah, ayo kita juga harus tidur takut nya besok ngantuk," ajak Adit.


Mereka pun akhirnya merebahkan diri nya, dengan masing-masing selimut karna cuaca malam sangat dingin.


Keesokan harinya jam 5 pagi sudah ramai para warga berbicara, rumah yang menghadap langsung ke jalan itu membuat para warga bebas berlalu lalang.


Adit yang sangat peka pun bangun karna memdengar berisik di luar.


"Sebenarnya ada apa sih pagi-pagi udah berisik aja," gumannya.


Adit pun membuka sedikit pintu, ternyata mereka sedang berbelanja makanan yang di jual pagi hari.


Mungkin kalo terlalu siang tidak akan kebagian pikir Adit, mengingat di tempat ini susah mencari orang yang berjualan makanan.


Adit pun keluar rumah dan bergabung bersama mereka.


"Pagi bu sedang apa?" sapa Adit ramah sambil membenarkan jaket nya, pagi hari ternyata makin dingin.


"Eh si Aa, kenapa sudah bangun ini masih pagi A," ucap salah satu warga.


"Saya sudah biasa bu bangun pagi, apalagi di sini udara nya sangat sejuk sekali," jawab nya sambil tersenyum.


"Ada yang bisa di bantu A?" tanya yang lain.


"Ahh tidak ada bu, saya hanya sedang mencari sarapan untuk teman-teman saya," ujar nya.


"Ohh di sana ada yang jualan Surabi sama bubur ayam, coba aja Aa tanya kan apa masih ada soalnya kalo menjelang siang akan habis, maklum A mereka siang kan suka ke ladang," ujar yang lain.


Adit pun mengangguk, meninggalkan ibu-ibu yang sedang mengerumuni pedagang sayur keliling.


Pedagang sayur di sana masih menggunankan gerobak dorong.

__ADS_1


__ADS_2