Terlanjur Cinta

Terlanjur Cinta
TC : Part 14 : Gangguan Hantu


__ADS_3

“Kenapa?”


Pertanyaan itu terlontar dari bibir Dean kala melihat perhatian Tata tertuju pada pohon mangga yang tumbuh di samping dinding pembatas bangunan kostnya. Sorot cahaya dari lampu menyala di lantai dua hanya mampu memperlihatkan sepertiga bagian pohon, selebihnya hanya kegelapan tak berujung yang dapat terlihat. Mereka mengalihkan perhatiannya ketika mendengar suara Lily. Gadis itu menunjukkan tindakan yang tidak dapat Dean lakukan selama berhubungan dengan Tata jika hanya sebatas menjalin kasih asmara. Lily menjulurkan lidahnya, mencemooh Dean sembari mempererat pelukannya.


Tubuh Lily tertarik, sontak dia melepaskan dekapannya. Rama mencebik, “Yang cemburu bukan cuman cowoknya Tata doang,” ucapnya menatap Lily dengan raut wajah amarahnya.


“Udah sering aku peluk, kurang?”


“Hm.”


Rama memeluk Lily dari belakang, kedua tangannya melingkar sempurna pada pinggang gadisnya. Tata hanya mengamati, sementara Dean memperhatikan Tata melalui sudut matanya. Menyadari atensi Dean tertuju padanya, Tata mengulurkan tangannya di hadapan Dean mencoba menghalangi indra penglihatan sang kekasih.


“Masih tahu batasan,” kata Tata, Dean menurunkan kedua bahunya lemas. Itu penolakan dari gadisnya, Dean cukup memahami. Meskipun sang gadis mengizinkan bahkan terkadang menyentuh tangannya maupun bagian tubuh lain, Tata hanya melakukannya sebatas tertentu saja. Lily mencoba memanaskan suasana antara Tata dan Dean, “Katanya kalau hubungannya enggak intim nanti diputusin, loh.”


Tata hendak mengucapkan kalimat serupa tentang hubungan intim yang dibicarakan Lily, seperti sedalam apapun hubungan yang dilakukan seandainya Tuhan menginginkan kita berpisah maka hanya penyesalan sebagai hadiah terakhir. Tata masih menyadari posisinya, dia dan Lily tidak jauh berbeda. Dia dengan dosanya menjadikan Dean sebagai sang kekasih serta menyentuh kulit laki-laki ketika menggenggam tangan Dean, sementara Lily melakukan hal yang sama dengan perbedaan tertentu.


“Selama masih ada rasa dan percaya kenapa harus ngelakuin? Lepas pelukannya, enggak mau masuk? Udah malem.”


Rama melepaskan pelukannya, “Enggak mau! Bucin dulu, ih.”


“Ly, dilihatin Abang Nasgor, tuh.”


Lily mengikuti arah pandangan Tata, terlihat Abang penjual nasi goreng dekat dengan mereka memperhatikannya. Lily menyapa riang, dia memekik sakit ketika Rama menekan ujung jemari cengkramannya di kepalanya. Rama memaksa pandangan Lily beralih pada pagar kost gadisnya. Suara dingin menyapa indra pendengaran Lily, dia mendecakkan lidahnya.

__ADS_1


Dean berjalan meninggalkan Rama yang masih senantiasa berada di tempat itu meskipun kedua gadis tersebut telah menghilang dari balik dinding lorong yang memisahkan kamar. Tangannya terulur mengusap lembut tengkuknya, ‘Lagi datang bulan, ya?’ pikirnya.


Hawa dingin menusuk kulit seolah mampu membekukan tulang dan menghancurkannya. Hembusan angin kecil membuat tubuhnya meremang, pusaran angin itu terasa seperti seseorang berada di belakangnya. Percikan air terdengar kala tangan terulur membuka jalur aliran air. Ketukan kecil berasal dari dinding kamarnya membuat perhatiannya beralih, "Lily lagi ngapain?" gumamnya sambil melanjutkan acara membasuh tubuhnya yang sedikit tertunda. Tidak ada perubahan suasana pada malam itu, hanya hawa dingin yang terasa berbeda. Tata menganggapnya seperti itu tanpa mengetahui wanita cantik berambut panjang menemani tidurnya.


Esoknya, sepanjang hari Tata menjalani kegiatannya dia merasakan sakit luar biasa pada area pencernaannya. Itu selalu dirasakan hampir seluruh kalangan wanita dalam kurun waktu tertentu setiap bulannya. Tata tidak melontarkan keluhan satu kata pun maupun melampiaskan ketidakstabilan emosionalnya pada orang lain, termasuk Lily, Dean, dan Azhar. Dia terlalu lelah sekedar menguras tenaganya untuk melakukannya. Tubuhnya terasa berat bahkan sakit, “Demam?” gumamnya sembari mengulurkan tangannya menyentuh dahinya.


Suhu tubuhnya normal, tiada panas dirasakan kala kulit saling bersentuhan. Tata menyandarkan tubuhnya pada dinding kantin kampus, menunggu kedatangan Lily dan Azhar yang membeli makanan untuk dirinya. Azhar membawa dua piring makanan, di sampingnya Lily membawa tiga gelas minuman berbeda. Segelas teh hangat terletak di hadapannya, “Terima kasih.”


“Lo kalau sakit mending tidur aja, sih. Ngapa maksa kuliah coba?”


“Quiz Pak Doddy.”


Lily tertegun, “Gila, lo! Buat apa ikut quiz kalau tugas lo semua sama keatifan lo di kelas udah pasti dapet point grade A?”


Lily mencebik, “Ambis tapi toxic.”


Lily hendak melanjutkan racaunya tetapi Azhar membungkam mulutnya dengan cara memberikan satu buah mentimun belum terpotong itu hingga Lily hampir tersedak. Lily memukul bahu Azhar, “Bukan ambis toxic, tapi perencanaan. Selagi pembelajaran berkembang semakin susah, belum tentu Tata bisa pelajaran Pak Dody di materi sekarang sampai akhir. Ada kalanya Tata bingung, ‘kan.”


“Dih, ngebela.”


“Enggak usah cerewet, lo. Rama bosen dengernya diputusin, gimana?”


Azhar membiarkan Lily mengguncang tubuhnya sebagai tanggapan dari pertanyaannya. Suara manja Lily terdengar menyebalkan bagi Azhar, Tata hanya diam sembari meminum teh hangat. Itu sedikit membantu stimulun tubuhnya. Tata menghentikan konsumsi teh tersebut ketika mendengar suara tawa riang dari seorang wanita, dia mengalihkan pandangannya kemudian mengedarkan netranya pada seluruh kantin kampus.

__ADS_1


Tata melihat kedua temannya tidak terganggu dengan suara tawa yang didengarnya, hembusan angin kecil pada tengkuknya terasa. Tata merasa takut, batinnya membaca ayat kursi sembari mencoba menenangkan dirinya. Kedua tangannya mengepal erat, keringat dingin mengalir dari pelipis membentuk aliran sungai kecil.


Tawa terdengar, “Ly, coba ketawa.”


Azhar dan Lily mengernyit bingung mendengar permintaan Tata yang terkesan absurd, Tata tertawa canggung. Dia hanya mencoba mengalihkan pikirannya, mencoba mengabaikan suara tawa yang tak dia kenali dengan menggantinya melalui suara tawa Lily. Tetapi ketika Lily tertawa, suara wanita lain semakin keras nan menggema di telinganya. Tata menundukkan wajahnya, kening menempel pada meja. Lily dan Azhar saling menatap satu sama lain, keduanya mengalihkan pandangan masing-masing ketika Lily mencebik dan Azhar mengedikkan bahunya tak acuh pada Lily.


Azhar memperhatikan Tata, rasanya dia ingin tangannya mengusap lembut kepala Tata namun dia tidak ingin hubungan baik dengan Tata hancur. Dia terlalu memikirkannya, pandangannya beralih pada Dean. Kekasih Tata baru saja menyelesaikan kelas teori, tangannya terulur menepuk pelan pundak Tata. Dean sedikit melakukan pukulan pada kening Tata menggunakan jarinya, tangan Dean beralih melakukan gerakan tertentu pada area belakang tubuh Tata. Terlihat Dean hanya menggerakkan tangan membentuk pola acak di udara hampa.


“Kamu baru pertama kali PMS disini?”


Tata mengangguk, “Perkenalan aja itu.”


Tata memandang Dean penuh tanda tanya dalam kepalanya, “Apa?”


“Ada wanita ngikutin kamu, dia suka sama baunya.”


Wajah Lily dan Tata memucat, “Jadi maksud lo ada setan suka sama Tata? Dia cuman ikut Tata, ‘kan? Gue enggak, ‘kan? Aduh gimana? Ketemu ustadz buat ruqyah? Eh, tunggu, kenapa lo bosa tahu? Lo anak perusahaan indihouse?”


“Yang bener itu anak indie pergi ke gunung buat ngopi, indie go to mountain for ngopieh mas.”


Dean mengabaikan Azhar dan Lily, dia memilih duduk di dekat Tata.


“Memang suka usil mereka.”

__ADS_1


__ADS_2