Terlanjur Cinta

Terlanjur Cinta
130 Perkara Dasi


__ADS_3

Pulang larut malam membuat Erlyen tak bisa memejamkan mata sampai subuh,Insomnia menyerang Erlyen sehingga ia tak bisa memejamkan matanya.


"Huft,sudah subuh mata ini tak bisa terpejam sedikitpun."Gumam Erlyen pada dirinya sendiri.


Akhirnya Erlyen mencoba untuk bermeditasi bahkan sebelumnya ia sudah berdoa tetapi tetap saja apa yang ia lakukan tidak membuat dirinya cepat mengantuk.


Karena insomnia yang melanda akhirnya ia pun berniat memakan sesuatu di dapur agar ia bisa mengantuk dan cepat tidur. Hari sudah menjelang subuh ia pun masih belum juga tidur dengan langkah gontai ia pun keluar dari kamarnya dan melangkah menuruni tangga menuju ke arah dapur,suasana dalam ruangan itu tetap terang benderang karena Erlyen takut dengan kegelapan sehingga Leonard tak membolehkan para maid mematikan lampu dalam rumah.


Ketika tiba di dapur dibukanya kulkas dan ternyata jus yang ia buat sore tadi sebelum berangkat ke party masih tersimpan rapi dan tutupnya masih tersegel rapi.


Diraihnya drinking jar itu dan membuka tutup botolnya dan langsung ia minum jusnya sampai habis.


"Hmm,cukup memenuhi syarat gizi malam ini,"ucapnya sambil mengelus perutnya yang rata itu.


Setelah mencuci drinking jar tadi ia pun masih merapikan peralatan dapur yang di rasa belum tepat pada tempatnya.


Tanpa ia sadari seseorang menatapnya dari jauh sambil tersenyum.


"Ya Tuhan aku sayangbsekali wanitaa ini,aku ingin memilikinya seutuhnya,aku ingin menjaganya dan melindunginya,"bisik Leonard dalam relung hati yang paling dalam.


CEO tampan itu masih saja menatap ke arah Erlyen yang sangat asyik merapikan paralatan dapur itu.


Akhirnya karena sudah selesai merapikan ia pun membalikkan badannya dan melangkah ke arah lantai dua tetapi kakinya terhenti saat ia melihat sepasang kaki berbulu lebat di hadapannya. Iaa pun tertawa dan melihat ke atas dan ia langsung berhambur memeluk erat pemilik kaki tegas itu.


"Leo,sejak kapan kamu disini menatapku?"Tanya Erlyen sambil mengeratkan pelukannya.


"Lyen,aku baru saja datang untuk mengambil teko dan mengisi air tetapi aku masih menyaksikan makhluk Tuhan yang sangat sempurna di hadapanku yang menahanku untuk berhenti melangkah sejenak."Ucap Leonard dan ia pun melabuhkan sebuah kecupan penuh kasih saayang pada puncak kepala Erlyen.


"Leo,aku ambilkan teko dan airnya ya?"Ucap Erlyen melepaskan pelukannya dan meraih teko dari tangan milik pria netra biru itu.


Leonard hanya tersenyum sambil memandang langkah wanita itu.


Setelah menuang air ke dalam teko ia pun kembali mendapati Leonard dan mereka berdua pun beranjak ke arah lantai dua dimana letak.kamar mereka berdampingan.


"Erlyen pun masuk ke dalam kamar Leonard dan meletakkan teko di atas meja kecil di tepi ranjang Leonard dan ia pun berniat untuk keluar dari kamar itu tetapi dengan cekatan Leonard menahan langkah kaki Erlyen.


"Lyen,aku mencintaimu dengan sangat tulus aku tak ingin pisah darimu sedetik pun,dan mulai detik ini kamu sudah aku anggap belahan jiwaku,aku tak ingin ada kata pisah diantara kita sudah cukup perjalanan cinta kita Lyen,aku tak butuh apapun darimu,aku hanya ingin kita hidup bersama selamanya."Jujur Leonard dengan suara sedikit berbisik dan ia tetap melingkarkan tangannya di pinggang ramping Erlyen.

__ADS_1


"Leo,aku tahu kamu sangat mencintaiku tapi aku harap suatu saat nanti ketika kamu sudah tidak mencintaiku lagi jangan pernah membuatku sedih ataupun sakit hati karena aku akan sangat rapuh dan kecewa dengan perbuatanmu."Ucap Erlyen sedikit terbata.


"Jauhkan semua pikiran itu sayang karena aku tak pernah berpikir sampai ke sana,ini tulus dari hatiku aku akan selalu menjaga,mencintaj dan melindungimu sampai akhir hayatku."Ucap Leonard lagi.


"Leo,terima kasih untuk ungkapan perasaan darimu,aku sangat bersyukur telah menjadi bagian dari hidupmu."Jawab Erlyen lagi.


"Yuk,aku antar ke kamarmu!"Ujar Leonard sambil tetap menggenggam erat tangan wanitanya ke luar dari kamarnya dan pergi ke kamar di sebelahnya lagi yaitu kamarnya Erlyen.


Sesampainya di kamar Erlyen, ia pun menggendong Erlyen dan merebahkan di atas kasut empuknya dan menyelimuti Erlyen dan tak lupa mengecup kening Erlyen dan ia pun mematikan lampu kamar dan menyalakan laampu tidur untuk Erlyen.


"Selamat tidur sayang,"ucap Leonard lagi dan ia pun pamit ke luar dari kamar Erlyen dan menutup kembali pintu kamar itu.


Ketikaa hendak menutup matanya tiba tiba saja dering ponselnya terdengar nyaring.


Dengan segera ia meraih ponselnya dan melihat ada sebuah nomor ponsel baru yang tertera di sana,ia pun langsung mematikan ponsel itu dan membuat senyap sehingga ia tak memdengar suara ponselnya itu lagi.


°☆•°☆•°☆•°☆••☆°•☆°


Pagi telah tiba,Erlyen sudah bangun dan menyiapkan keperluan Leonard,walaupun mereka belum sah sebagai suami istri tetapi semua keperluan pakaian Leonard Erlyen yang menyiapkannya.


Ia pun pergi ke kamarnya dan mengambil sesuatu dari dalam kotak yang terletak dalam lemarinya.


Ia pun berjalan ke arah tempat penyimpanan pakaian Leonard dan meletakkannya di atas pakaian yang telah ia sediakan tadi.


Setelah menyiapkan keperluan Leonard ia pun kembali ke kamarnya dan mulai melakukan rutinitas paginya.


Mandi,dan bersiap siap untuk berangkat ke kantor bersama sang pria kekasih hatinya.


**


Selesai mandi,Leonard masuk ke tempat ganti pakaian untuk mengganti pakaiannya.


Ia pun memakai pakaian yang telah disiapkan oleh Erlyen.


Setelah lengkap ia pun mengambil dasi navy pilihan Erlyen tadi dan memasukkan kembali ke dalam sebuah kotak emas dan ia pun menyimpan kembali ke dalam lemari.


Ia merasa kalau dasi pemberian Erlyen,jangan sampai rusak cukup dipajang saja dan dilihat saja,dan ia pun mengambil dasi lain di dalam lemari dasi dan mengenakannya di lehernya.

__ADS_1


"Yang ini baru keren!"Ucapnya dalam hati.


Setelah siap ia pun keluar dari kamar dan menuju ke ruang makan untuk sarapan.


Ketika sampai di ruang makan ia melihat Erlyen sudah menunggunya disana,namun ia melihat raut wajah tidak nyaman dari wajah sang wanita.


"Sayang,apa aku kurang tampan hari ini?"Tanyanya sambil menarik kursi di hadapannya dan mendudukiny.


"Tidak,kamu sangat tampan!"Jawab Erlyen sambil menatap ke arah lain.


"Tapi,aku merasa ada sesuatu yang kurang dari penampilanku hari ini!"Ucapnya lagi sambil terheran heran dengan penampakan wajah wanitanya.


"Apa sih yang kurang dari penampilanmu Leo?"Jawab Erlyen sedikit ketus.


"Aku merasa penyemangat hidupku lagi gak baik baik saja!"Tambahnya lagi.


"Aku tak apa apa kok,otakmu aja yang lagi gak bagus!"Erlyen menatap Leonard tanpa senyuman indahnya.


"Apa salahku sayang?Tolong ingatin aku biar aku gak lupa?"Ucap Leonard lagi.


"Aku pikir kamu gak mencintaiku lagi,"jawab Erlyen dengan mata berkaca kaca.


"Loh kok nangis?"Ucap Leonard sambil berdiri dan menghampiri Erlyen.


"Apa yang membuatmu menangis sayang?"Ucap Leonard lagi sambil mencoba meraih pundak wanitanya tetapi dengan lembut tangannya di hempas.


"Sayang maafkan aku kalau aku punya salah,kan kita hanyalah manusia biasa yang pastinya punya banyak salah.''Ucap Leonard lagi.


Akhirnya Erlyen pun menjawab begini"Kalau kamu benar2 mencintaiku,kenapa kamu tak memakai dasi yang aku siapkan,kamu tahu gak kalau aku sangat ingin melihatmu pakai dasi navy itu."Ucap Erlyen sambil memonyongkan bibirnya.


Mendengar penuturan dari sang kekasih Leonard langsung tertawa karena ia tak sadar hanya perkara dasi Erlyen bisa se marah dan se ngambek itu.


"Sayang,bukannya aku tak.mau memakainya tetapi aku hanya ingin dasi itu tetap awet dan tetap tersimpan di hatiku,aku andaikan dasi itu ibarat kasih sayangku yang sangat tulus dan dalam untukmu,aku hanya ingin dasi itu berada di dalam kotak emas itu,aku sendiri yang menatapnya jangan ada orang lain yang ikut menikmati keindahan warnanya itu."Jawaban Leonard membuat mata Erlyen membulat.


"Tapi Leo,dasi itu aku beli untuk kamu pakai bukan untuk di simpan.''


"Tidak sayang aku akan memakainya saat ulang tahunmu atau saat kita nikah nanti."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu aku menurut apa katamu!"Ucap Erlyen lagi dan langsung bergelayut manja di lengan Leonard.


__ADS_2