
Mereka berjalan mengitari pantai setelah mengisi perut nya, mereka akan melihat matahari terbenam di sana.
Mita dan Adit duduk di atas pasir, begitu juga yang lainnya ikut duduk tak jauh dari mereka.
Angin terasa menusuk kulit, karna Mita hanya memakai baju pendek, Adit pun tak kuasa melihat nya Dia memberikan kemeja putih nya agar di pakai oleh Mita.
"Pakailah aku tahu kamu kedinginan," Ujar Adit tersenyum sambil membantu Mita memakainya.
"Makasih banyak, maaf pasti kamu juga kedinginan," ucap Mita merasa bersalah.
"Sudah jangan pikirkan aku, kesehatan kamu lebih penting," jawabnya.
"Setelah ini kita mau kemana?" tanya Adit menatap lurus ke arah lautan.
"Istirahat aja ya, aku tahu kamu pasti cape kan, biar besok lagi kita jalan-jalannya," ucap Mita.
"Baiklah kalo begitu."
Setelah melihat itu mereka kembali ke kamar masing-masing tak lupa Adit mengantarkan Mita sampai ke depan kamar.
"Masuk gih, nanti kalo ada apa-apa hibungi aku," ujarnya dan Mita pun mengangguk.
Mita pun masuk ke dalam kamar, terlihat Zahra baru saja keluar dari kamar mandi.
"Dari mana loe jam segini baru pulang?" tanya Zahra sambil mengeringkan rambut nya dengan handuk.
"Cari angin, loe sih malah pules tidur nya jadi gak ikut," ujarnya.
"Oh gitu ya, loe udah makan belum gue laper nih," ucap Zahra.
Karna kecapean Dia tertidur pulas sampai lupa belum makan siang.
"Gue udah makan barusan sama Adit, loe ajak Aa aja pasti Dia mau," ucap Mita dan Zahra pun mengangguk.
Zahra pun menghubungi Yoga, dengan senang hati Yoga menganjak nya keluar untuk makan malam bersama.
"Apa katanya?" tanya Mita.
"Oke katanya, loe mau ikut gak?"
"Gak ah gue cape udah jalan barusan sama Adit, loe aja sana heppy-heppy sama Aa," ujarnya.
__ADS_1
"Baiklah," jawab Zahra segera bersiap, karana sudah jam 8 malam Dia harus cepat.
"Ya udah gue cabut ya loe hati-hati di kamar," serunya dan Mita pun hanya tersenyum melihat sahabatnya yang kembali ceria seperti dulu.
Mita pun segera membersihkan diri, Dia berniat menghampiri Ifa yang ada di kamar sebelahnya.
Setelah mandi dan rapi Dia keluar kamar, menghampiri kamar Ifa.
tok.. tok.. tok..
Suara ketukan terdengar, Pintu pun terbuka terlihat Melati yang membukanya.
"Malem Mba Mel," sapa nya.
"Malem juga, ayo masuk," ajaknya, dan Mita pun mengikutinya dari belakang.
"Mba Mel kok gak keluar?" tanya Mita.
"Lagi jagain temen kamu tuh kaya nya lagi sedih,"ucap nya melihat Ifa termenung di depan jendela kamar.
"Kenapa Dia?" tanya Mita heran, kenapa dengan Ifa padahal tadi baik-baik saja pikirnya.
"Gak tahu tadi setelah selesai telponan Dia malah jadi gitu, mau di tinggal cari makan aja takut kenapa-napa, " ucap Melati.
"Boleh Mba keluar sebentar biar Mba beli sendiri," ujar nya.
"Boleh silahkan, aku yang nungguin Ifa di sini," ujarnya.
Melati pun keluar kamar meninggalkan mereka.
"Loe kenapa sih?" tanya Mita menghampiri nya.
Ifa pun menoleh dan memeluk sahabatnya itu.
"Cerita sama gue apa yang terjadi?" tanya Mita seraya membawa Ifa duduk di sofa.
"Gue gak tahu harus senang apa sedih, Rey kan baru saja kembali dari Singapura Dia bilang kalo Dia mau bawa Mama nya sekalian berobat di sana," ucap Ifa sedih.
"Terus kenapa loe sedih harusnya loe seneng kan loe gak harus bolak balik ke rumah Rey jagain Mamanya, "
"Itu masalah nya Rey akan menetap di sana sambil mengembangkan bisnisnya,"
__ADS_1
"Ya bagus dong itu kan untuk masa depan kalian, harusnya loe sport Dia kasih Dia semangat bukan malah nangis kaya gini," ujarnya.
"Gimana sama gue Mit, gue gak sanggup kalo harus Ldr apalagi Mamanya Rey setuju kalo harus pindah ke sana, kenapa sih nasib percintaan gue harus kaya gini terus dulu Zaki sekarang Rey." ucap Ifa terisak.
"Loe tenang ya, kita kan bentar lagi lulus loe tinggal nunggu 1 tahun lagi nanti loe bisa ikut Rey ke sana, Loe yang sabar ya banyak ko yang hubungan LDR baik-baik aja, bahlan ada yang sampai bertahun-tahun,"
"Gue gak tahu harus gimana, gue malah kesal sama Rey kaya nya Dia benaran udah gak sayang sama gue atau mungkin Dia punya cewek baru di sana,"
"Loe jangan berpikir macem-macem sama Dia loe harus yakin kalo jodoh gak akan kemana," ujarnya.
Semenjak Rey pulang pergi ke Singapura hubungannya dengan Rey semakin renggang, banyak sekali pertengkaran di antara mereka.
Termasuk tadi pagi sebelum berangkat, Ifa jadi banyak diam tidak seperti biasa nya yang bawel dan ceria.
Tak lama kemudian pintu kamar pun di ketuk ternyata Melati sudahk kembali dengan membawa makanan dan minuman di tangannya.
"Masih sedih ya, ayo makan Mba beli makanan banyak buat kamu, kamu pasti laper kan dari tadi belum makan," ucapnya meletakan makanan di meja.
"Wangi banget Mba bawa apa?" tanya Mita yang malah ikut heboh.
"Ini maaf agak lama aku cari makanan yang halal agak jauh kalo dari sini," Melati membeli Nasi, Ayam betutu, sate lilit, udang bumbu juga saur tiram, udang tepung dan juga sup ikan.
"Ini bagus buat kamu Fa, sepertinya kami butuh yang hangat untuk menghangatkan badan," ucap Melati.
Ifa yang tadi diam pun menoleh, perut nya yang sejak tadi keroncongan semakin meronta ingin di isi.
"Ayo Fot makan gue tahu loe laper kan jangan malu-malu ayo makan biasanya jiga malu-maluin loe, eh liat nih kesukaan loe fot," ujar nya terkekeh dan Melati pun ikut tersenyum melihat Mita munjuk Udang.
"Ah sialan emang loe dasar teman laknut," ujar Ifa.
Namun dalam hati nya menghangat ternyata Mita dan Melati sama-sama perhatian padanya.
"Ayo makan aku sengaja beli banyak, sedih juga kan butuh tenaga," ucap nya.
"Ahh Mba Mel bisa aja," jawab Ifa ikut tersenyum.
Mereka pun makan dengan lahap sambil sesekali tertawa melihat ke konyolah Mita, jika biasanya Dia bersikap manis dan anggun lain jika bersama sahabat bar-barnya Dia akan menjadi sosok yang berbeda 180 derajat.
Dan itu membuat Melati semakin bahagia bisa berada di antara mereka, bisa menjadi dekat dengan anak-anak baik seperti mereka.
"Eh ko gue baru inget, Zahra kemana ko gak ikut sama loe?" tanya Ifa.
__ADS_1
Kini mereka duduk berbincang di balkon kamar yang mengarah langsung ke lautan luas.