
Keesokan hari nya, Mita sudah siap untuk ikut bekerja bakti di sana bersama para warga.
"Padahal mah gak usah bantu juga gak papa Neng," ucap salah satu warga.
"Tidak apa-apa kami malah senang, kapan lagi bisa bekerja seperti ini," jawabnya.
Sedangkan Lisa nampak manyun, Dia sungguh bosan berada di sana apalagi ikut kerja bakti bersama yang lain membuat nya ingin cepat sekali pulang.
"Ini sampah nya di bawa kemana pak?" tanya Angga menunjuk tong sampah yang ada di dekat pos ronda.
"Biasanya akan di angkut oleh pemuda untuk di bakar, setiap 3 hari sekali sampah akan di angkut ke tempat pembakaran menggunakan cator (becak motor)." ujar pa Rt menjelaskan.
"Oh kreatip sekali ya Pak pemuda di sini," ucap Angga bangga bisa berada di lingkungan seperti itu.
"Iya, di desa kami ini walau pun warga nya tak banyak tapi kami saling tolong menolong dan hidup rukun, setiap hari kami membayar 500 rupiah untuk kebutuhan desa kami kalo terdesak bisa memakai uang tersebut,"
"Hahhh 500 rupiah pak gak salah?" tanya Angga dan Mita pun mengakat bahu nya sambil mendengarkan percakapan mereka.
"Lumayan kan ada sekitar 100 rumah di sini kalo di kali kan sebulan berapa apalago di kali kan setahun, kadang kan kita gak tahu kalo nanti pas terdesak gak punya uang mau minjam ke siapa," ujarnya.
Angga pun menggangguk setuju, memang benar di sana mata pencaharian mereka hanya bertani dan bercocok tanam di lahan sendiri ada pun beberapa orang yang tanah nya luas akan mempekerjakan mereka.
"Jadi inspirasi buat kita pak uang 500 rupiah bisa jadi berharga kalo di kumpulkan berbulan-bulan apalagi dengan jumlah orang yang lumyan banyak," ucap Mita.
Dia baru tahu kalo di Desa ini Dia bisa belajar lebih baik lagi dalam mengelola keungan yang di berikan orang tuanya, apalagi Dia sudah tidak bekerja.
Memang Dia tak akan ke kurangan uang tapi jika punya tabungan Dia bisa berjaga-jaga takut nya ada hal yang tak terduga.
Setelah membersihkan rumput di pinggir jalan Bu Rt dan warga lain pun datang membawa nasi liwet dan makanan lain nya.
"Ayo makan dulu semua," ucap Bu Rt meletakan kastrol (tempat nasi liwet) di pos ronda.
Ada sekitar 5 kastol besar dan juga beberapa rantang lauknya, ada ikan asin, sambal, tempe goreng, ikan bakar dan juga lalaban mentah seperti terong, timun dan daun kemangi.
__ADS_1
"Ayo Teteh, Aa makan dulu udah siang nih?" ucap salah satu warga memanggil mereka.
Mereka pun mencuci tangan di air bersih yang berada di dekat pos ronda.
Pa Rt dan yang lain sudah mulai makan sedangkan Mita dan yang lain tampak malu, akhirnya Bu Rt pun mengajak mereka makan di teras rumah nya yang luas dan sudah di alasi tikar.
"Sok atuh Teteh Aa, Ibu teh sengaja bikin banyak buat kita semua, kalo kalian gak mau gabung sama yang lain kalian makan di sini saja ya," Makanan pun sudah di tata di sana satu Kastrol dan yang lainnya.
"Makasih banyak Bu sudah merepotkan, maaf kami gak bantu ibu masak," ucap Mita tak enak.
"Gak papa banyak warga yang bantu Ibu di sini, ayo ayo makan jangan malu-malu yah,"
Mereka pun makan dengan lahap, apalagi para laki-laki mereka sudah sangat lapar.
Lisa pun mau tak mau ikut makan bersama mereka karna tidak ada pilihan lain karna Dia juga sudah lapar.
"Gimana Mit enak gak makan rame-rame kaya gini?" tanya Vanya.
Mereka makan di atas daun pisang yang sengaja menjadi alas nasi liwet itu, mereka tak memakai piring.
"Iya aku baru dua kali makan kaya gini, kalo di rumah aku gak pernah," jawabnya. Dulu Dia pernah makan begitu saat berkunjung ke rumah nenek nya Zahra di Cianjur.
"Menurut gue makan kaya gini tuh lebih enak dari pada pake piring," ucap Intan. sedangkan Anggun hanya mengangguk.
Sedangkan Lisa nampak diam saja mereka sudah hapal sifat teman nya yang satu itu yang selalu saja kesal di ajak kemana pun dan kegiatan apapun.
Setelah selesai makan mereka pun membereskan semua nya sedangkan oara laki-laki ikut bekerja lagi hingga selesai.
"Eh ini di bawa kemana ya?" tanya Vanya,menunjuk perabotan bekas mereka makan dan gelas bekas minum.
"Bentar gue panggil dulu Bu Rt nya di sana," ucap Mita menunjuk ke gerombolan orang di depan pos ronda.
"Ya udah sana, kita tunggu di sini jangan lama Mit," ujar Intan dan Mita pun mengangguk.
__ADS_1
Mita pun berjalan ke arah mereka sambil menunduk, Dia berharap Bu Rt ada di antara mereka.
"Maaf apa ada bu Rt di sini?" tanya Mita.
"Lagi ke rumah bu Euis sebentar ada apa Neng?" tanya Pa Rt.
"Itu pak di depan rumah berantakan kami berniat membersihkan nya, tapi gak enak kalo gak ada Bu Rt nya,"
"Masuk aja gak ada apa-apa kok di rumah," ujar Pa Rt .
"Tapi Pak kami gak enak,"
"Ya sudah biar Deden yang antar ke rumah," ujar nya memanggil Deden agar mengantar nya masuk dalam ke rumah.
Mita pun berjalan bersama Deden menuju rumah Bu Rt.
"Maaf yah A merepotkan," ujar nya tak enak.
Mita sudah sering meminta bantuan kepada Deden, sehingga Deden pun sudah terbiasa dengan hal itu.
"Udah gak papa lagian kamu tuh udah kaya adik aku sendiri," ujarnya.
Memang benar Deden dulu mempunyai adik perempuan yang seumuran dengan Mita, namun adiknya itu meninggal terbawa arus sungai saat sedang berenang.
Saat mereka berjalan bersama Lisa menggunakan kesempatan itu untuk memotret dan memidio mereka.
"Gue yakin Adit pasti bakal marah liat ini, rasain loe Mita emang enak," batinnya tersenyum.
Mita pun masuk bersama Deden di bantu Vanya dan Intan membawa tempat nasi dan yang lain nya ke dapur sedangkan Anggun bertugas menyapu lantai dan mengepel nya.
Sedangkan Lisa hanya duduk saja di atas bangku kayu yang ada di sana sambil memperhatikan Anggun.
"Loe mau-mau nya sih di suruh sama mereka," ucap Lisa sambil bersidekap dada.
__ADS_1
"Emang nya kenapa, sama aja kan dari pada nyuci gelas di dapur," jawabnya.
Lisa pun diam saat mendengar jawaban dari Anggun, dari semua teman KKN nya yang satu rumah hanya Mita saja yang lumayan ramah sedangkan yang lain tampak malas bertegur sapa dengannya.