Terlanjur Cinta

Terlanjur Cinta
#52


__ADS_3

Adit pun diam , Dia duduk di ruang tamu menunggu Mita yang sedang mengambilkan minum untuknya.


Hari sudah mulai gelap, Di luar hujan tak kunjung reda, pembantu Mita tidak ada di rumah sudah satu minggu ini pulang kampung karna anak nya sakit jadi Mita yang harus repor repot.


"Kenapa sih dari tadi diem aja?" tanya Mita, seraya meletakan air minum dan juga makanan di atas meja.


"Aku butuh penjelasan kamu, ada hubungan apa kamu dengan laki laki itu? apa dulu kalian pernah pacaran dan belum putus?" ucapnya dingin, membuat Mita bergetar Dia tidak tau harus bagaimana menjelaskan nya toh Dia dan Tama hanya berteman itu saja.


"Bukan ihh, Aku dan Kak Tama dulu berteman kami sangat dekat dan sering bermain bersama, semenjak aku pindah ke sini waktu itu aku kelas 3 atau kelas 4 sd kalo gak salah, aku sering di ajak Mama kepanti Asuhan dan bertemu dengan kak Tama, kami berteman baik sampai Dia lulus SMA dan kami tidak pernah bertemu lagi," ucap Mita, sungguh Dia sangat takut salah bicara.


"Kamu gak bohongkan?" Selidiknya Dia tidak ingin sesuatu terjadi dengan hubungan mereka.


"Kamu gak percaya sama aku, aku udah lama gak ketemu sama Dia jadi mana mungkin aku bohong sama kamu," Jawabnya.


Adit pun mengingat perkataan Tama tadi tentang sebuah cincin. "Mana tangan kamu?" Dan Mita pun mengulurkan kedua tangan nya tanpa curiga.


"Apaan sih?" Mita pun heran kenapa dengan Adit.


"Lepas cincin itu, aku gak mau ada cincin lain di jari kamu," ujarnya menunjuk jari tengah Mita yang memakai cincin putih.


Adit baru ingat saat membeli cincin pertunangan Bundanya meminjam cincin itu kalo tidak salah di dalam nya terdapat inisial PP yang berarti ParaMita dan Pratama .


Mita pun langsung melepasnya dan meletakan nya dimeja.


"Kenapa sih, ada yang salah ya bukanya dari dulu aku pakai juga kamu gak masalah?" tanya nya belum paham.

__ADS_1


"Udah berapa lama kamu pake tu cincin?" selidiknya, sungguh Adit tidak tahu kalo itu pemberian dari laki-laki lain.


"Udah lama banget dari aku SMP dulu ini agak longgar sampe2 aku cuma tenggantungnya di kalung aku waktu itu ,hingga aku tumbuh dewasa baru ini cukup di jari tanganku," jawabnya.


"Kamu tahu gak itu cincin harganya? mungkin saja itu sangat berharga bagi Tama, mana mungkin cuma anggap- adik ngasih cincin ratusan juta," ucap Adit.


"Ya enggak lah, mana aku tahu selama ini aku sangat anti dengan perhiasaan apapun , aku cuma menghargai saja pemberian orang, dulu saat aku kecil Mama selalu bilang kalo aku harus menghargai pemberian orang lain, aku cuma pakai aja gak tau kalo ini berharga," jawab nya panjang lebar.


"Apa kamu tahu arti dari pemberian ini, Tama pasti menginginkan mu jadi wanita nya suatu saat karna kamu sudah menerima ini," ujarnya sedangkan Mita yang tak mengerti hanya diam saja.


"Mungkin saja dulu Tama melamar mu dengan cincin ini, dan kamu lupa karna waktu itu kamu masih kecil," ujarnya.


"Enggak lah, gak mungkin kaya gitu lagian Dia cuma anggap aku adik dari dulu," kilah nya namun Mita juga baru sadar tentang hal itu.


"benar juga kenapa aku baru kepikiran sekarang, aku benar benar bodoh mana ada kakak yang seperhatian itu sampe ngasih cincin berharga fantastis gini, Eh Adit ko tau kalo ini cincin mahal?" batinnya.


Adit semakin was was saja memikirkannya, Dia sangat ingat harga cincin itu jutaan rupiah dan itu sebanding dengan kekeyaan orang tua Mita, sedangkan dirinya merasa rendah karna Ayah nya tak sekaya mereka.


" Baiklah aku akan mengbalikannya saat bertemu lagi nanti, kamu jangan salah paham lagi ya," Mita bertekad akan segera mengembalikannya Dia juga merasa tidak berhak menyimpannya lagi karna sudah ada cincin di jari manis nya tidak mungkin ada dua cincin di jari nya dengan laki-laki yang berbeda.


"Kamu gak marah sama aku? karna harus lepas cincin itu?" tanya Adit memperhatikan Mita yang masih berpikir, takut nya Mita marah padanya.


"Kenapa harus marah, kamu benar gak baik aku memakai ini apalagi kita sudah bertunangan, maafkan aku jujur aku baru menyadari nya , dan untuk yang tadi aku benar-benar minta maaf," ujarnya Mita sangat menyesal karna sudah memeluk. laki laki lain.


Adit tersenyum tipis sehingga Mita tidak bisa melihatnya, Dia sangat bahagia ternyata Mita mengerti apa yang diiginkannya.

__ADS_1


"Terimakasih kamu sudah mengerti aku, jujur aku takut kamu ninggalin aku dan pergi bersama Tama, aku cemburu kamu di peluk oleh nya, aku takut kamu tergoda dengan tampang ny yang bule," ujarnya.


Sedangkan Mita terkekeh mendengarnya, Dia sangat senang ternyata Adit cemburu melihatnya dengan laki-laki lain itu tandanya kalo Adit menyayanginya, sejak lama Mita mencintai Adit dalam diam dan akhirnya cintanya terbalas.


"Ko kamu ketawa sih sayang?" ujarnya, Adit pun gemas sekali melihat Mita terkekeh, Dia pun mendekat dan mencium Pipi Kiri Mita.


Mita pun berhenti tertawa dan menoleh ke samping, tanpa Dia sadari Adit mendekatkan wajahnya dan mencium bibirnya berawal dengan kecupan lembut kini semakin lama semakin dalam.


Adit pun terus ******* dan menghisap nya lembut membuat Mita terlena, tangannya pun tak diam, Dia mengelus punggung Mita pelan dan tangan satu nya menahan tengkuk Mita.


"Maaf," ujar Adit melepaskan ciumannya, Dia benar-benar khilap untung saja Dia bisa menahan dan tak melakukan hal lebih.


Mita sendiri terlihat salah tingkah ,Dia merasa malu dengan apa yang baru saja di lakukannya.


Wajahnya merah seperti kepiting rebus, Dia hanya bisa menunduk dan sesekali memegang bibirnya yang masih basah dan menggigit nya pelan.


"Kamu marah, ko diem aja?" selidiknya.


"Enggak kok," jawabnya masih menunduk namun Adit penasaran, Dia pun berjongkok dan memeperhatikan wajah cantik Mita dari bawah.


"Apaan ih sayang kamu ko liatin aku kaya gitu?" tanya Mita menatap Adit heran, sedangkan Adit hanya tersenyum.


"Kamu cantik kalo lagi gini, pipi kamu bikin gemes, udah jangan godain aku kaya gitu aku benar-benar takut khilap dan jangan pernah menggigit bibirmu seperti itu di depan orang lain," Ujarnya, jujur saja bibir Mita yang merah alami membuat nya ketagihan apalagi melijat dan mengigitnya.


"Ih apaan sih gak jelas, udah pulang sana udah malam takut nya Bunda nyariin," ujarnya.

__ADS_1


Namun Adit hanya diam saja Dia tak bergeming sama sekali.


__ADS_2