
Mita bekerja keras membantu Bayu di kantor, Dia juga belajar dengan giat di kampus nya agar bisa mendapat nilai yang bagus, hari -harinya pun berlalu begitu cepat.
"Kenapa sih kamu tuh ngotot banget belain Dia?" tanya Bayu.
Saat ini ada satu berkas yang salah, dan itu membuat Bayu marah, Bu Dewi mengatakan kalo Melati yang mengarjakan tugas itu jadi Dia tidak tau apa-apa.
Mita gak terima kalo sahabat yang seperti kakaknya itu di tuduh tanpa bukti.
"Aku akan cari bukti kalo Mba Melati gak salah," ujar Mita.
"Oke saya kasih satu kesempatan kalo kamu tidak bisa membuktikan kita terpaksa memecat nya dari kantor ini," ucap Bayu.
Kali ini kepalanya seperti mau pecah dengan kesalahan itu, untung saja Mita bertindak cepat sehingga tidak merugikan perusahaan.
Mita yakin kalo bukan Melati yang mengerjakan itu semua karna Dia ikut membantu Melati kemarin saat bekerja.
Mita masuk ke ruang Cctv mengecek apa sebenarnya yang terjadi, Dia diam-diam memasang Cctv di ruang kerja Bu Dewi.
Sejak Bu Dewi memarahinya minggu lalu, Mita seolah curiga dengannya Dia ingin membuktikan kalo pirasatnya itu salah.
Namun apa yang di dapatkannya sekarang cukup mencengangkan, Dia menutup mulutnya agar tidak bersuara.
"Gimana Bu apa yang bisa saya bantu?" tanya petugas yang menjaga Cctv itu.
"Saya minta Bapa kirimkan rekaman Cctv ini ke pa Bayu,"
"Baiklah Bu nanti saya kirimkan," ucap nya.
Setelah keluar dari ruang itu, Mita tak sengaja mendengar pembicaraan dua orang di toilet.
"Kenapa sih gak dari dulu aja Bi Dewi bikin pelajaran sama s Cupu itu," ucap A.
"Iya aku juga mikirnya gitu, mungkin saat ini Si Melati sedang nangis -nangis mohon-mohon boar gak di pecat," ucap B sambil terbahak.
"Gue puas banget kalo Dia di pecat, so cari muka Dia udah Cupu malah gak tahu diri, loe tahu kan gue udah lama naksir sama Pa Rizal," Rizal adalah seorang menejer di sana, Dia sangat baik kepada Melati dan mereka sangat iri dengan itu.
"Gue ngerti ko, selain Pak Rizal ada Pak Hari yang mendekati nya, emang so kecakepan Dia punya wajah pas-pasan juga," lanjut si B.
Mita mengepalkan tangannya, ternyata bukan hanya Bu Dewi saja yang membenci
Melati tapi banyak juga karyawan lain nya.
__ADS_1
Mita pun masuk membuat mereka kaget dan segera pergi dari sana.
Mita menggeleng tak percaya Dia mengingat wajah mereka, Mereka satu Devisi dengan Melati harusnya mereka saling bekarja sama bukan malah menjatuhkan satu sama lain.
Mita pun masuk ke ruang kerjanya, Dia berharap bisa secepatnya menyelesaikan masalah ini, kasian Melati Dia pasti merasa bersalah.
16.30 Mita pun bersiap pulang, namun sebelum pulang Dia menyempatkan diri ke ruang kerja Melati.
"Mba gak papa kan?" tanya Mita, melihat wajah Melati sebab, mungkin habis menangis pikirnya.
"Gak papa ko, Mba cuma sedikit kurang enak badan," jawabnya.
"Kita kedokter kalo gitu, aku gak mau Mba kenapa-napa,"
"Mba gak papa ko, minum obat nanto juga sembuh sendiri gak perlu ke dokter,"
"Ya udah aku antar pulang ya," Melati pun mengangguk , Kini mereka sudah sampai di depan parkir.
Mereka pun segera masuk ke mobil dan Mita pun segera melajukannya.
"Apa Mba bakal di pecat ya?" ujarnya membuat Mita menoleh.
Melati sangat cemas sekali bagaimana nasib nya nanti kalo di pecat, zaman sekarang susah sekali cari kerja gimana dengan adiknya yang masih sekolah pasti membutuhkan biaya banyak.
"Tapi gimana caranya, itu pasti gak semudah yang kita bayangkan Mit, apalagi yang kita lawan orang yang berkuasa," ucap nya Sendu.
Bu Dewi sudah 5 tahun bekerja di sana lebih lama dari Melati. pasti Bos nya akan lebih parcaya pada Dewi di bandingkan dengannya yang baru 3 tahun bekerja.
"mba gak tau aja kalo aku juga orang kaya, Mba tenang aja semua akan baik baik saja, aku akan segera menyelesaikan nya." batinnya.
"Gak usah sedih semua akan baik -baik saja,"
Setelah berapa lama mereka pun sampai di kontrakan Melati yang tak begitu besar, hanya 10 mereka sampai di sana, biasanya Melati akan jalan kaki saat berangkat bekarja itu demi mengirit .
"Ayo mampir dulu," ajak Melati.
"Nanti deh kapan-kapan aku mau langsung pulang," jawab Mita.
"Ya udah kamu hati-hati ya, jangan ngebut," Jawabnya Mita pun mengangguk.
Melati pun melambaikan tangan melihat mobil pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Mita sampai di rumah nya jam 5 lebih, Dia bergegas masuk dan segera membersihkan diri karna hari ini Dia ada janji akan makan malam bersama Adit dan keluarganya.
"Ya Tuhan kenapa aku gugup begini, padahal udah sering aku makan bareng mereka." Gumannya.
Jam 7.30 malam Adit sudah berada di depan rumahnya, dengan senyum nya yang cerah.
"Malam sayang kamu cantik banget, calon siapa sih?" Tanya Adit mengerlingkan matanya.
"Apaan sih," Jawab Mita wajahnya merona.
"kamu udah siap," Mita pun mengangguk sambil tersenyum.
Adit pun memperhatikan Mita yang nampak semakin cantik .
" Ayo, Bunda pasti udah nunggu kita," Ujarnya.
Mita menyambut uluran tangan Adit dengan senyum bahagia, karna sudah beberapa hari mereka sibuk dan jarang bertemu.
Mereka pun segera naik mobil, tak lupa Adit memakaikan sabuk pemangaman padanya.
Mobil pun melesat meninggalkan kediamana Mita.
"Loh ini bukan jalan ke rumah kamu," Ucao Mita heran melihat Adit berbelok.
"Kita kan mau makan malam sayang, kamu lupa?"
"Eh.. bukannya makan malam nya di rumah Bunda?"
Apa Mita yang lupa atau salah dengar saat calon mertuanya mengatakan mengajaknya makan malam bersama.
"Kita makan di luar, kali-kali lah bosen makan di rumah terus kita cari suasana baru," Ucapnya menautkan jari tangannya dengan tangan Mita sambil sesekali menciuminya.
"Apa dandanan ku ada yang kurang? ko aku jadi gugup gini ya," Ujarnya membuat Adit terkekeh.
"Kamu itu kenapa sih sayang, biasanya juga Pd kalo kemana-mana, kamu tenang aja kamu cantik dimana pun, bahkan sebenarnya aku gak rela liat wajah cantik kamu di lihat banyak orang,"
Mita pun melotot tak percaya mendengar Adit yang menggombalinya.
"Kamu belajar gombal dari mana sih sayang, aku jadi ngeri dengarnya?"
Biasanya Adit akan cuek apapun itu, namun setelah Mita dekat dengan Angga ,Dia menjadi over propektip membuat Mita heran.
__ADS_1
"Aku gak gombal itu kenyataannya sayang." Ujarnya.
Mereka pun akhirnya sampai di Restoran berbintang terlihat mobil orang tuannya sudah terparkir di sana.