Terlanjur Cinta

Terlanjur Cinta
129 Party


__ADS_3

☆☆☆☆☆☆♡♡♡♡♡♡♡☆☆☆☆☆•••••°°°°°°○○○○●


Pagi telah daatang,rembulan malam pun telah pergi ke peraduannya,aku dan Leonard masih saja bersembunyi di balik selimut masing masing masih menginginkan pagi belum datang.


Leonard sendiri masih mendengkur dengan sangat lembutnya di kamarnya sendiri.


Erlyen pun demikian,masih bersembunyi di alam mimpi yang indah dikamarnya.


Walaupun mereka tinggal bersama tetapi mereka tidak sekamar karena Erlyen belum mau membuka diri dan membuka hati sepenuhnya untuk pria bernetra biru bernama Leonard Frederick Horowitz itu.


Pria blasteran Indo Norwegia itu sangatlah tampan dan sangat menghargai wanita apalagi wanita yang telah membuatnya jatuh cinta sejak masa kecil mereka dulu.


°•°•°•°•°°•○□♡□♡□♡♡□◇◇◇♤●●●●○○○◇◇◇♧◇


Pintu kamar Leonard di gedor beberapa kali,tapi tak ada sahutan sama sekali dari sang empunya kamar itu.


"Leo!! Ayo bangun Leo katanya mau ikut party rekanmu."Seru Erlyen sambil menggedor lagi pintu Leonard.


"Hmm,iya sabar sayang aku masih ngantuk banget,lima menit lagi ya? Please...!!"Sahut Leonard sambil memelas dan seketika ia kembali menarik selimut dan tertidur lagi.


Erlyen pun kembali ke kamarnya dan melakukan rutinitas paginya.


Mandi dan mempersiapjan diri untuk mengikuti acara yang akan diadakan oleh kolega Leonard yaang sudah di rencanakan beberapa minggu lalu.


Selesai berdandan Erlyen pun menuju kamar Leonard lagi dan mengetuk pintu kamar itu dan ternyata Leonard sudah selesai mandi dan sementara bersiap siap juga.


"Leo!" Seru Erlyen lagi sambil mengetuk pintu kamar itu.


"Iya bentar nih sudah hampir selesai!" Sahut Leonard sambil membetulkan ikatan dasinya.


Selesai bersiap Leonard pun membuka pintu kamarnya dan melihat Erlyen yang sudah sangat cantik di hadapannya itu.


"Sayang,maaf ya kamu menunggu lama,aku baru selesai siap,tak apa apa kan menungguku?"Tanya Leonard sambil mencubit hidung mancung Erlyen.


"Iya tidak apa apa walaupun kaki ku sudah pegal banget menunggu seorang pangeran."Jawab Erlyen sambil tersenyum tipis.


Sunggingan bibirnya itu membuat mata Leonard terpana ia tak pernah bosan melihat wanita dihadapannya itu tersenyum dan apapun mengenai Erlyen yang sudah Leonard klaim sebagai wanitanya itu selaly terlihat indah dan menarik di matanya seorang Leonard.


"Sayang,kamu sangat cantik hari ini!"


"Ah,biasa saja Leo pujianmu membuatku melambung tinggi ke atas awan."Ucap Erlyen tersipu malu.


"Iya benar aku tak membohongi apa yang aku lihat."Jawab Leonard lagi.


Lagi asyik bercerita,tiba tiba mereka dikagetkan oleh suara seorang pria berseragam satpam masuk ke dalam rumah.


"Permisi Tuan muda dan Nona Muda,mobilnya sudah siap!"Ucap Pak Jimmy yang sudah Sepuluh tahun bekerja di rumah Leonard dan tentunya sudah Leonard percaya pada Pak Jimmy.


"Baik Pak Jimmy kita berangkat sekarang!


"Ayo sayang!"Leonard menggandeng tangan Erlyen dan mereka pun berjalan menuruni tangga menuju ke arah garasi mobil dimana sebuah mobil sport telah terparkir dengan sempurna di hadapan mereka.


"Tuan,hari ini saya mau ke Desa untuk mensurvei proyek yang belum selesai itu Tuan,apa Tuan ada pesanan?"Ucap Pak Jimmy pada Leonard.


"O iya aku hampir lupa,tolong bilang ke bagian keuangan untuk memberikan gaji karyawan yang mengalami kecelakaan kemarin ya kasihan sekali keadaannya."Ucap Leonard pada Pak Jimmy.


"Beri dia gaji Dua kali lipat ya nanti sekalian untuk biaya rumah sakitnya perusahaan yang menanggung semua biaya pengobatannya.


"Baik Tuan muda siap laksanakan sesuai perintah."


Pak jimmy pun pergi membuka pintu pagar rumah dan mobil yang dikendarai Leonard dan Erlyen pun keluar dari rumah.


"Sayang,aku minta maaf tapi aku harus mengatakan hal ini untukmu!" Ucap Leonard tiba tiba seperti ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting.

__ADS_1


"Iya ada apa Leo?"Erlyen bertanya pada Leonard.


"Sayang aku ingin kita segera menikah karena aku sudah tak bisa menahan lebih lama lagi kamu tahu sendiri kan aku begitu sangat menginginkan kita segera menikah dan membangun rumah tangga kita."Ucap Leonard sambil sebelah tangannya mengusap kepala Erlyen dan sebelahnya lagi menyetir mobil.


"Ita baiklah nanti aku bicarakan dengan Papa dan Mama serta Bang Adrian dulu bagaimana baiknya."Ucap Erlyen sambil mengelus punggung tangan Pria netra biru itu.


"Baiklah sayang aku tunggu berita bahagianya ya?"Ucap Leonard sambil mengecup punggung tangan Erlyen dan kembali menyetir dengan kecepatan sedang.


°•~°•~°•~°•~


Sesampainya di hotel bintang Lima itu mereka berdua disambut dengan sangat hormat oleh orang orang disana.


Terlihat pesta itu sangatlah mewag dan meriah dimana banyak wanita muda dan pria muda kaya raya sedang mencari jodoh.


Di bagian paling depan mata Erlyen menangkap seraut wajah yang sepertinya ia pernah melihatnya tetapi ia lupa dimana ia melihat pria tampan itu.


Akhirnya Erlyen pun memilih diam dan berbaur dengan orang orang di arena pesta itu sambil mencari cari kali aja ada Adrian atau Ditta di pesta itu.


Setelah sekian menit matanya mencari cari akhirnya ia menemukan yang ia cari.


"Leo,aku ijin gabung sama Ditta di sana ya?"Ucap Erlyen sambil menatap ke arah Ditta yang sefang bercengkerama dengan beberapa orang wanita muda yang merupakan teman masa kuluah dan masa SMA mereka.


"Iya sayangku,jangan lamaa lama ya aku bisa mati kalau tak melihatmu disisiku!"Ucap Leonard sambil melepaskan tangan Erlyen.


"Iya Sayangku aku gak lama kok?"Balas Erlyen sambil melangkah pergi meninggalkan Leonard dan beberapa orang koleganya.


Erlyen tak tahu jika sejak tadi ia diperhatikan khusus oleh seorang pria tampan yang sudah jatuh cinta padanya saat pandangan pertama diawal mereka berjumpa beberapa bulan lalu.


Pria itu sungguh tak pernah melepaskan pandangan matanya pada Erlyen.


"Hai Kakak iparku?"Panggil Erlyen seraya merangkul pundak Ditta dan membuat Ditta kaget bukan main.


"Oh sayangku Lyen ternyata kamu disini juga ya?"Ucap Ditta sambil bercipika cipiki pipi Erlyen dan membuat mata pria di ujung sana tak pernah melepaskan pandangannya pada Erlyen.


"Lyen,tau gak kalau abangmu itu lagi ngambek?"Ucap Ditta sambil menunjukkan jarinya ke arah pria tampan berjas navy yang sedang berbicara dengan beberapa orang pria berjas lainnyaa itu.


"Hmm,aku ada ide!"Ucap Erlyen sambil berlalu dari hadapan Ditta dan berjalan menuju ke arah sang kakak.


Erlyen pun mendekati Adrian,dan tanpa sadar sepatunya terantuk tumpukan bunga di depannya sehingga ia pun nyaris jatuh untung saja ia langsung di tangkap oleh pria penuh misteri itu yang entah kapan sudah berada di belakang Erlyen.


Erlyen pun menutup mata karena ia mengira ia sudah berada di alam lain.


"Nona,anda baik baik saja?"Ucap pria itu sambil melepaskan pelukannya dan membantu Erlyen berdiri.


"Iya ba..ba..baik saja maaf sebelumnya sudah membuatmu repot."Ucap Erlyen terbata.


"Nggak apa apa kok santai aja,aku gak keberatan kalau menolong wanita secantik anda!"Ucap pria itu spontan tanpa rasa malu.


Adrian yang asyik ngobrol pun menyudahi obrolannya dan mendekati sang adik dan langsung mengelus kepala Erlyen sambil tersenyum.


"Ade kenapa bisa seperti ini?Ade sama siapa ke sini Dek? Kok gak bilang bilang kakak?"Tanya Adrian sambil merapikan poni rambut Erlyen yang membuat pria di hadapan Erlyen terpukau dengan spontanitas sentuhan yang diberikan oleh Adrian pada wanita di hadapannya itu.


"Terima kasih ya Tuan sudah menyelamatkan adikku! Permisi !! " Ucap Adrian sambil menggandeng tangan Erlyen dan berlalu dari hadapan pria itu yang masih terperangah melihat kejadian yang barusan terjadi.


Erlyen pun melambaikan tangan pada pria itu sambil berkata"Makasih ya Pak?"Ucapan Erlyen disambut hangat oleh pria itu dengan sebuah anggukan dan lambaian tangan pula.


Kejadian itu dilihat oleh Leonard dengan tatapan mata yang tak berkedip sedikitpun.


Karena Elryen sudah dalam genggaman Adrian akhirnya Leonard mengalah dan tak jadi emosi meski rasa itu sudah sampai di ubun ubun ia tetap menghadapi dengan kepala yang dingin karena semuanya hanya sebuah masalah yang datang tiba tiba tanpa ada yang tahu.


Adrian pun membawa Erlyen ke arah Leonard.


"Broo,nih ade kenapa kamu biarkan dia pergi sendirian?Untung aja ada yang menolongnya kalau nggak mungkin sudah jatuh terjerembab dan apa yang akan terjadi tadi?"Ucap Adrian sambil menatap pria netra biru di hadapannya itu.

__ADS_1


"Iya maaf tadi aku masih berbincang bincang dengan kolegaku dan Lyen minta ijin mau samperin Ditta kakak iparnya itu."Ucap Leonard menunjuk ke arah Ditta yang terlihat pura pura tak melihat ke arah mereka.


"Kak,tolong panggilkan kakak iparku."Ucap Erlyen memelas dan sedikit mengerucutkan bibirnya dan menimbulkan rasa iba pada Adrian.


Adrian pun memanggil Ditta dan mereka berempat pun mendapatkan tempat duduk di barisan depan,dan tanpa sepengetahuan Erlyen,Ditta dan Leonard serta Adrian,pria misterius itu sudah duduk di samping Erlyen dari samping kiri karena di kanan ada Leonard dan juga Adrian serta Ditta.


"Hai," Sapa Pria itu membuka percakapan membuat Erlyen kaget karena tiba tiba ia di ajak berbicara oleh pria asing tadi yang telah menolongnya.


"Hai juga,terima kasih ya atas pertolongan anda tadi."Ucap Erlyen sambil mengeratkan pelukannya dipinggang Leonard.


Leonard sendiri sedang asyik berbicara dengan Adrian.


"Apa aku boleh meminta nomor kontakmu?"Ucap pria itu sambil menatap tajam ke arah Erlyen.


"Maaf aku gak bisa kasih nomkr kontakku kepada orang asing!"Jawab Erlyen dan ia pun berganti posisi dengan Leonard.


Erlyen pindah ke bagian tengah kursi dimana Adrian dan Leonard sedang asyik bercerita.


"Lyen sayang ada apa?"Tanya Leonard sambil menatap wajah wanitanya dengan sangat dalam,ia tahu kalau Erlyen sedang risih dengan keadaannya saat ini.


"Jaga adikku baik baik broo,aku gak mau tahu kalau ada apa apa dengannya,kamu orang pertama yang aku cari."Ucap Adrian sambil menatap wajah Leonard dan Leonard pun balas menatapnya ia tahu di balin sorot tajam mata Adrian tersimpan sesuatu isyarat yang ia sudah paham.


"Iya tenang saja aku tahu maksud kamu...!!" Jawab Leonard pada Adrian.


*******


"Pusing kepalaku kenapa wajah wanita itu tak bisa aku hapus dari ingatanku?"Ucap Reagan sambil melepas kacamatanya dan kembali bersandar di kursi malasnya itu.


"Aku yakin aku bisa mendapatkan cinta wanita itu apapun caranya karena hanya wanita itu yang mampu membuat detak jantungku tak beraturan ketika aku memandangnya,aku heran dengan diriku sendiri kenapa baru saat ini aku merasa jatuh cinta lagi setelah sekian lama isteriku lergi dari sisiku untuk selama lamanya?Kenapa wajah wanita itu sangat familiar dan mampu membuatku berhalusinasi?"Ucap Pria yang bernama Reagan itu pada dirinya sendiri.


"Apakah aku salah jika aku mencintai milik orang lain?" Kembali ia menatap wajahnya di depan cermin di dekat kursi malasnya itu.


"Bagaimana nungkin orang yang sudah meninggal hidup lagi dalam diri wanita lain?Kirana kenapa kamu kembali menghantui aku Kiran?"Gumam Reagan pada dirinya sendiri.


Ia masih memikirkan wanita yang sangat ia cintai yaitu Kirana Putri yang meninggal karena kecelakaan tunggal ketika mereka pulang dari pulau bali setelah berbulan madu disana.


Wanita yang sangat ia cintai dan yang telah membuatnya sukses menjadi pria kaya sekarang telah tiada karena kecelakaan maut itu sehingga ia pun kehilangan wanita yang ia cintai dan yang telah membuatnya menjadi kaya raya seperti sekarang ini.


"Kiran,kenapa wajahmu mirip sekali dengan wanita yang aku temui kemarin di pesta kolega bisnisku?" Kembali Reagan memegang kepalanya yang sangat sakit bila memikirkan semua masa lalu yang ia lalui.


Reagan berharap ia bisa bertemu lagi dengan Erlyen dan berfoto bersamanya agar rasa rindunya pada Isterinya terobati.


Tetapi ia tahu untuk meminta foto bersama Erlyen butuh kerja keras karena ia melihat Leonard yang merupakan rival bisnisnya itu sangat dingin kalau berpapasan.


Apalagi setelah kecelakaan yang menimpa karyawan perusahaan yang sengaja Reagan ciptakan untuk menghancurkan proyek yang dimenangkan oleh perusahaan Leonard itu membuat Leonard seakan akan membenci sekali dengan Reagan.


******


Sepulang dari pesta itu Erlyen pun menyempatkan diri untuk bertemu sang putri kecilnya yang sekarang sudah berusia dua tahun.


Ia sangat merindukan putri kecilnya penyemangat hidupnya itu ia kembalikan kepada sang mama karena mama Elaine pun sangat menyayangi cucunya itu.


"Mam,Erlyen pamit ya minggu depan Erlyen kesini lagi jenguk mama dan Papa serta Kirana."Ucap Erlyen sambil mengecup pipi sang anak dan mengecup pipi ibunya kemudian ia kembali ke halaman depan dan masuk ke dalam mobilnya dan mobil itu pun keluar dari pintu pagar yang tinggi menjulang itu perlahan lahan dan hilang dari pandangan mata Mama Elaine dan Kirana.


Sesampainya di halaman rumah Leonard ia disambut dengan tatapan mata merah oleh Leonard.


Leonard sangat khawatir dengan Erlyen sampai ia tak bisa memejamkan matanya sedikitpun karena Erlyen pergi tanpa pamit padanya membuatnya sangat khawatir.


"Dari mana saja kamu Lyen?"Ucap Leonard dengan suara agak keras.


Erlyen tak tahu kalau Leonard sedang emosi pada dirinya.


"Dari rumah mama,jenguk Kirana Leo aku kan sudah lama tak menjenguknya."Jawab Erlyen sambil melepaskan sepatunya.

__ADS_1


*******


__ADS_2