
“Bell.”
Gadis bernama Bellamina San Gabriella berdehem pelan, dia menatap teman dekatnya. Dia memperlihatkan sebuah postingan foto milik Dean pada Bella, terlihat hanya sepasang tangan antara Dean dengan seorang gadis, Tata. Tiada kalimat apapun menyertainya, Bella menggigit bibir bawahnya. Dia mendecak tanpa suara, “Si Dean udah punya pacar, lo tahu? Tapi kok cuman tangan aja yang di posting? Pemalu? Atau gimana? Cantik enggak? Melebihi lo maksud gue.”
“Gue enggak tahu,” kata Bella mengerti arah pembicaraan temannya. Tangannya sedikit mengepal, jari telunjuk mengetuk permukaan meja menciptakan melodi tak beraturan. Bella mengatur emosionalnya, dia tersenyum manis kemudian mengedikkan bahunya tak acuh.
Bella menyadari suatu hal yang dapat dimanfaatkan dengan baik, “Lo masih ada kelas, ‘kan? Gue balik duluan, dah!”
Temannya hanya menganggukkan kepalanya sambil melambaikan tangannya kecil pada Bella. Di lain tempat, Dean mengamati komentar pada postingan terbarunya hal yang sama dilakukan oleh Tata. Gadis itu terkekeh pelan, itu hanyalah sebuah foto dengan objek sepasang tangan mereka yang memperlihatkan gelang bermotif pada pergelangan tangannya. Mereka mendapatkan benda tersebut setelah bermain penembakan benda di sebuah kios tempat mereka berkencan. Terlihat cantik dimata Tata sehingga dia meminta Dean untuk mengarahkan peluru kayu itu pada sepasang gelang.
Kening Tata mengernyit membaca nama asing dalam sebagian komentar, dia mengerjapkan matanya ketika mengetahui komentar yang memiliki nama tersebut telah menghilang. Dia menatap Dean, hendak mempertanyakan perihal sesuatu namun dia memilih diam. Mungkin Dean belum dapat menjelaskan kepadanya, ada kalanya privasi seseorang tertutup dan tersimpan sempurna seberapa erat ikatan hubungan.
“Dia pacar baru lo, De?”
Dean menghentikan langkahnya ketika mendengar suara familiar, “Ngapain lo?” Dean bertanya dengan nada dingin tersirat. Dia Bellamina San Gabriella, mantan kekasih Dean. Gadis itu mengulurkan tangannya pada Tata, “Bella, salam kenal pacar baru Dean.”
Tata tersenyum ramah, “Aku Tata, salam kenal Bella.”
Bella beralih pada Dean, “Pajak jadiannya mana?”
“Sok kenal.”
Tata tersenyum canggung melihat interaksi keduanya, “Pacar baru Dean, gimana kalian bisa jadian?”
“Tata.”
“Pacar baru Dean, siapa yang suka duluan?”
Tata sedikit terusik dengan penyebutan Bella, “Keduanya, mungkin?”
“Wah, gila. Bisa-bisanya suka sama yang beda keyakinan.”
__ADS_1
Tata terdiam, denyutan dalam dadanya terasa menyakitkan. Dean mencebik sementara Bella tersenyum penuh arti, Bella mengetahui perbedaan itu ketika melihat Tata mengenakan hijabnya. Dean menarik lembut bahu Tata, “Urusan gue bukan lo.”
Tata meleraikan mereka, “Sama-sama masa lalu, jangan berantem. Bella ada apa kesini?” Gadis itu bertanya lembut, “Ketemu Dean aja, sih. Gue penasaran secantik apa yang baru.”
Tata memperhatikan Dean, tangannya terulur sedikit menarik kemeja kekasihnya. Melihat hubungan mantan kekasihnya terbatas sentuhan, Bella terkekeh pelan.
“Tahan lo hubungan kayak gini? Dulu lo bisa sentuh sepuasnya.”
Kalimat Bella memprovokasi Dean, “Gila,” kata Dean kemudian menggenggam lembut tangan Tata dan mengajak gadisnya melanjutkan langkah mereka meninggalkan Bella. Dean menyembunyikan keberadaan Tata di belakang punggungnya ketika Bella mengejar langkah mereka dan berhenti di hadapan Dean. Bella memiringkan tubuhnya melihat tubuh mungil Tata dari balik punggung kokoh Dean, “Dilihat pacar baru Dean punya wajah mirip sama gue.”
Mendengar itu, Tata memperhatikan seksama garis paras cantik Bella. Surai hitam dengan pewarnaan coklat pada setengah bagian surainya, bulu mata yang indah, warna eyeshadow yang terlihat natural, bibir lembut dengan kombinasi lipgloss, Tata mengalihkan perhatiannya.
Bella sangat cantik.
“Dia lebih cantik daripada lo.”
Bella tersenyum penuh makna, kedua tangannya dia sembunyikan dari balik tubuhnya. Bella menepi, memberikan ruang perjalanan Dean dan Tata yang tertunda karena dirinya. Bella memperhatikan mantan kekasihnya bersama sang pendamping barunya, tangan meraih ponsel kamera tiga miliknya. Bella mengetikkan sebuah kalimat kepada beberapa temannya, dia tersenyum kecil. Bella beralih melihat seseorang yang seolah berbicara kepadanya, itu hanyalah sekelompok pemuda yang hanya tertarik dengan kecantikannya. Bella mengedikkan bahunya tak acuh kemudian berjalan memasuki mobilnya dan mengendarai menuju kediamannya.
“Kenapa ragu?”
Dean mengeratkan genggaman tangannya mendengar kalimat Tata, “Jangan dengerin cewek itu.”
Tata menganggukkan kepalanya memahami maksud Dean, “Mau nemenin belanja?”
“Iya.”
Bella merebahkan tubuhnya, matanya memandang langit kamar. Pikirannya mengulas kenangan hubungan antara dirinya bersama Dean. Bella meraih pnselnya ketika merasakan getaran, bibirnya mengulas senyuman melihat temannya memenuhi ruang obrolan grup chat. Dia terkekeh pelan, seringai kecil terlukis dari balik benda pipih miliknya.
“Gimana, ya?” gumamnya sembari memejamkan kedua matanya. Binar netra kembali terlihat, “Gimana cara mereka saling suka?”
Bella tidak memahaminya.
__ADS_1
Genggaman pada ponsel mengerat seolah mampu menghancurkan benda pada tersebut. Suara benda terjatuh terdengar, layar kaca ponselnya retak. Bella melemparkan ponselnya, dia merusak benda mahal itu sebagai pelampiasan emosionalnya. Bella beranjak dari kamarnya menuju ruang kerja Ayahnya, dia hendak meminta ponsel baru kepada beliau.
Genggaman itu tidak hanya dilakukan Bella, melainkan Dean juga melakukannya ketika melihat instastory suatu aplikasi dari teman-temannya. Mereka memiliki persamaan topik, hubungan berbeda agama. Dia mendecak, Dean mengetahui dalang dari balik sindiran teman-temannya itu.
Dia tidak memahami Bella, Dean memijat pangkal hidungnya. Jarinya membuka informasi kontak, dia membatalkan pemblokiran nomor telepon Bella. Dean mencoba menghubungi Bella namun hanya suara operator kartu seluler terdengar serta dering memanggil. Bella tidak mungkin melakukan pemblokiran kepadanya, Dean mengetahuinya. Dean beralih pada kontak temannya, dia membaca kalimat dari temannya melalui pemberitahuan layar. Dia membuka ruang obrolan, jarinya mengetikkan kalimat.
[Gue tahu, tapi lebih milih cewek gue sekarang daripada Bella.]
Beberapa temannya mencoba menelpon dirinya, mereka mengusik ketenangan Dean. Dean hendak menonaktifkan ponselnya tetapi layar memperlihatkan Tata mengirimkan foto kepadanya. Itu foto yang mereka lakukan di sebuah stand photobooth di tempat wahana permainan sebelumnya. Dean melukiskan senyumannya, mereka terlihat menikmati kisah mereka.
[Bagus.]
Dean mengetikkan kata tersebut kepada Tata, tangannya beralih menyentuh ikon panggilan pada kontak Tata. Suara syahdu gadisnya mengalun lembut, Dean melupakan kekesalannya. Dia mengabaikan getaran lain pada ponselnya, Dean memilih menikmati suasana antara dirinya bersama Tata. Dean mendengar suara Tata mengatakan mencari hijab bergo, Dean berdehem tanpa suara melihat pengalihan telepon suara menjadi video.
Tata melambaikan tangannya di kamera ponsel ketika melihat wajah Dean, “Kangen?”
“Enggak.”
“Ngapain video?”
Tata mematikan kamera.
Dean terkekeh membaca kalimat itu, “Muka cantiknya mana?”
Tata kembali mengaktifkan kameranya, “Kangen, ya?”
Dean mengedikkan bahunya, “Enggak.”
Dean mematikan kamera.
Tata tersenyum, “Kenapa?”
__ADS_1
“Biar tahu kalau aku enggak kangen.”
Mereka hanya saling merindukan, itu saja.