
"Sayang ko kamu sedih gitu wajahnya, apa kamu tidak senang kami mempercepat pertunangan kalian?" Tanya Mamanya.
"Enggak ko Ma, Mita seneng ko makasih banyak buat semuanya," jawab Mita tersenyum.
"Ya sudah kalo gitu kamu siap-siap nanti siang kita ke butik terus kita perawatan ke Salon nya om Jo," ucapnya dan Mita oun mengangguk.
Mereka pun berangkat ke butik, mencari gaun untuk acara nanti malam yang akan di gelar di salah satu gedung .
Bu Fatma memilihkan salah satu gaun yang cocok untuk anak gadisnya itu.
"Cobalah kamu pasti cantik memakai ini," ujarnya menyerahkan gaun berwarna putih tulang selutut lengan pendek.
Mita pun masuk ke dalam kamar ganti dan mencoba memakai nya.
"Bagaimana Ma?" tanya Mita memakai baju itu.
"Sempura, kamu sangat cantik sayang," ujar Mamanya mengacungkan jempolnya.
Mita pun segera menggantinya kembali, dengan baju semula.
.
Di sisi lain Adit sedang berada di toko perhiasaan bersama Bundanya.
"Emang Bunda tau ukuran jari tangan Mita?" tanya Adit.
"Ini ukurannya," ujar Bunda menyerahkan cicin berwarna putih.
"Punya siapa itu?" tanya Adit.
"Punya Mita lah, Bunda sengaja meminjam nya dari Mamanya agar tidak kebesaran," ujarnya.
"Bunda hebat bagus juga ide nya," ujarnya memperhatikan cincin itu yang terdapat sebuah inisial P & p di dalam nya.
"apa arti inisial ini ya ko P nya ada dua, apa jangan jangan ini pemberian mantan nya Mita," batinnya.
"Kenapa ko di liatin terus?" Tanya Bunda.
"Bun apa cincin ini mahal?" Bunda pun terkekeh melihat kepolosan anaknya itu.
"Coba kamu tanya pelayan itu," ujar Bunda yang sedang memilih cincin.
"Ka maaf mau tanya apa ini cincin mas putih asli?" tanya Adit sedikit malu namun Dia benar-benar penasaran.
"Kalo di jual bisa dapat 100 juta kak, ini mas putih asli berlapis berlian dan juga sangat mahal lagi kalo ada suratnya," ucap pelayan itu memeriksa dengan jeli, membuat Adit menganga tak percaya.
Sedangkan Bunda tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.
"Bagai mana apa kau sudah tau harganya?" tanya Bunda meledek .
__ADS_1
"Adit juga bisa kok bun beliin 10 yang kaya gini," ujarnya.
"Sombong kamu, kerja dulu yang bener bantu Ayah di kantor jangan keluyuran terus," ucap Bunda dan Adit hanya cengengesan.
"Udah Bun yang ini aja, mita suka nya yang simple ko," ujarnya dan Bunda pun menyerahkan cincin itu pada pelayan.
Cincin yang terlihat sederhana namun berharga pantastis itu Adit pilihkan untuk Mita.
Setelah membayar mereka pun segera pergi dari sana.
"Ya sudah Bun udah selesai kan, Adit ada keperluan dulu sebentar," ujar Adit.
"Udah kaya nya langsung anter Bunda pulang aja, nanti kamu bisa keluar kalo sudah sampai di rumah," ucapnya.
"Oke," Mereka pun mengendarai mobilnya dan segera pulang.
.
Di tempat lain Pa Ali sedang berdiskusi dengan orang suruhannya yang sedang mencari tau kasus Mita yang bergulir lama.
"Apa kamu yakin gadis itu tidak bersalah?" tanya Pa Ali.
"Sepertinya gadis itu hanya di suruh Pak, saat kami temui Gadis itu sangat ketakutan," ujarnya.
"Baik Pak kami akan berusaha lebih keras," ujarnya.
Pa Ali pun memijat kepalanya karna masih belum menemukan siapa pelaku yang mengunci anaknya itu.
"Hallo Mah, ada apa?" Tanya Pa Ali setelah mengangkat ponselnya yang berdering.
"Papa jam berapa pulang nya? bagaimana dengan persiapan gedung dan lain-lain?" Tanya Istrinya di sebrang sana.
"Mama tenang saja semua sudah beres, Papa mungkin pulang agak sorean, bagaimana keadaan Mita apa masih suka melamun?" Tanya Pa Ali.
"Mita baik-baik saja sekarang kami sedng perawatan di Salon Jo," Jawabnya.
"Ya sudah kalo begitu Papa lanjut kerja dulu, kalian bersenang-senang lah," Ujarnya lantas mematikan ponselnya dan melanjutkan kembali pekerjaannya.
Mita bersama Mamanya telah selesai makan siang dan kini berada di salon untuk perawatan tubuh dan juga wajahnya agar terlihat Fres nanti malam.
Mita yang sudah mempunyai wajah putih tidak perlu banyak di permak sedikit polesan saja Dia sudah sangat cantik.
Tiga jam berlalu Mita dan Mamanya pun selesai mereka langsung ke gedung yang di pesan oleh suaminya, Mita menunggu di kamar yang sudah sekalian di pesan.
"Apa Papa juga langsung nyusul kemari Ma?" tanya Mita.
"Iya nanti Papa langsung kemari, Mama sudah siapkan baju nya juga baju buat kakak kamu," ucapnya menunjuk paperbag yang ada di sana.
__ADS_1
Mita pun hanya bisa diam saja, Dia akan di bantu oleh Ami merias wajahnya karna tadi di salon hanya perawatan saja.
"Papa ko baru datang?" tanya Bu Fatma melihat suaminya baru datang sedikit kesal karna waktu nya sudah hampir di mulai sedangkan Mita sudah cantik dengan gaun itu.
"Maaf tadi macet jadi Papa sedikit terlambat, putri kecil Papa sangat cantik sekali apa kalian sudah siap?" Mita pun mengangguk.
"Papa Mandi dulu sana Mama sudah siapin semuanya," Papa pun bergegas mandi dan bersiap.
Tak lama kemudia Yoga pun datang kesana, karna Papanya sudah memberi tahu tempat nya.
"Ma.. " Ucap Yoga.
"Eh sudah sampai A, cepat juga ya ayo duduk dulu temani adik kamu," ucap Mamanya melirik Mita yang sedang duduk di sofa mengotak atik ponsel barunya.
"Sayang kamu lagi apa serius amat?" tanya Yoga.
Mita pun segera berdiri dan memeluk Kakak kesayangan nya itu.
"Kapan datang , Mita kangen banget sama Aa," ucap nya melepaskan pelukan.
"Iya Aa juga kangen sama kamu, maaf Aa baru ada waktu sekarang waktu kamu masuk rumasakit Aa lagi tugas di lampung, bagai mana kabarmu sekarang?" ujarnya.
"Ga Papa ko A, Mita baik-baik saja cuma sedikit syok aja," jawabnya.
Mereka pun duduk bersandar di Sofa, menyandarkan tubuhnya.
"Kamu ko kaya sedih gitu?" bisik Yoga.
"Aku gak tau meski gimana A, harus bahagia atau pun sedih Aku gak cinta sama Dia," ucapnya pelan.
"Maksud kamu apa dek?" tanya Yoga mendongkahkan kepalanya.
"Udah lupain aja, semua sudah terlambat Aa jangan pikirkan kata-kata ku barusan, " ujar Mita.
"Tapi... "
"Ayo kita keluar semua sudah siap, dari pihak laki-laki juga sudah datang," ucap Pa Ali.
Yoga pun mengurungkan niatnya bertanya lebih dalam, mereka berjalan ke lantai dasar dimana acara di selenggarakan.
Mita duduk bersama kedua orang tuanya juga kakaknya ada Ifa dan Zahra juga di sana.
"Gimana perasaan loe Mit?" tanya Ifa sedikit berbisik.
"Lumayan gugup," sambil meremas baju nya.
"Kamu tenang saja semua akan berjalan lacar," ucap Ifa tersenyum lebar namun Mita hanya tersenyum tipis.
__ADS_1