Terlanjur Cinta

Terlanjur Cinta
# 53


__ADS_3

Keesokan harinya Mita berangkat kuliah seperti biasa, Dia membawa mobil nya karna hari ini Adit tidak ada kelas.


Adit pun mebawarkan agar di antar ke kampus oleh nya namun Mita menolak karna Dia masih kesal dengan nya.


Semalam Adit bersikeras tidak mau pulang, namun Mita terus membujuk nya Adit beralasan Mita tidak ada teman, Mita sendiri takut berada di rumah tanpa orang tuanya namun Dia juga takut kalo harus berdua saja dengan Adit.


Adit pun pulang jam 10 malam setelah makan malam bersama.


.


Mita pun berjalan menuju kelas sendiri, Dia belum punya teman dekat di sana sikap Mita yang pendiam membuatnya susah percaya dengan orang baru.


Hanya Angga saja yang membuat Mita nyaman untuk bercerita, Dia sama dengan nya tidak terlalu banyak bicara.


"Makasih ya untuk kemarin," ucap Mita kini sudah duduk di kursinya yang dekat dengan Angga.


"Sama-sama, bagaimana apa kamu sudah menyelesaikannya?" tanya Angga, tersenyum terlihat manis dengan lesun pipinya.


"Aku baru mengerjakannya separuh, bagaimana kalau kita mengerjakan nya bersama nanti siang apa kamu bisa?" tanya Mita.


Angga adalah anak yang berprestasi di Kampusnya namun Dia tidak sepopuler Adit dan kawan-kawannya.


"Aku sih tidak masalah, tapi gimana kalo pacar kamu marah? aku gak mau ya membuat Dia salah paham," ujarnya.


Mita pun terkekeh, karna tak biasanya Angga banyak bicara seperti itu.


"Tenang saja, nanti aku yang bicara padanya," ujar Mita dan Angga pun mengengguk.


Kelas pun di mulai, Dosen sudah masuk dan memulai mata kuliahnya, Mita dengan senang mengerjakan tugas yang di berikan Dosennya hingga tak terasa waktu pun berjalan cepat kelas pun selesai dan Dosen pun keluar kelas .

__ADS_1


"Lumayan untuk hari ini," guman Mita membereskan bukunya ke dalam tas.


"Kamu laper gak? Kita ke kantin gimana?" tanya Mita, mengajak Angga dan Dia pun mengangguk.


Mereka pun kini sudah berada di kantin, tak ada pembicaraan diantara mereka, hanya saat berdua saja Angga terasa asik karna kalo banyak orang Dia akan bersikap dingin dan cuek.


"Ayo pesan aku traktir," ucap Angga tersenyum.


"Wahh lagi banyak duit ya kamu mau nelaktir aku?" tanya Mita sambil tersenyum.


"Ah tidak begitu juga, aku cuma sedang berbaik hati saja membagi uang jajanku padamu," Mita pun tambah terkekeh.


"Bisa saja kamu," Jawab Mita.


Mereka pun memesan Bakso untuk makan siang mereka.


Di sebrang sana Lisa dan kawan- kawan nya terus memperhatikan Mita sambil mencibirnya.


"Iya, so cantik Dia tapi menurut gue Dia lebih cocok sama Angga sama-sama cupu, kalo sama Adit mah gak banget," ujar Sinta sahabatnya.


"Gimana kalo kita poto dan kirimkeun ke Adit, itu pasti bakalan seru," ucap Via dengan senyum jahat nya.


"Ide bagus, Ayo pake ponsel loe aja, kita lihat bagaimana reaksi Adit kalo liat loe kaya gini." ucap Lisa kegirangan, seolah mendapat celah agar bisa memisahkan mereka.


Setelah memotret kedekatan mereka Lisa segera mengirimkannya kepada Adit, namun Adit belum membukanya.


"Ah Sial belum di buka sama Adit, online beberapa jam yang lalu," ucap lisa kesal, dia sudah geram melihat kemesraan Adit dan Mita setiap hari, membuatnya mencari cara agar bisa membuat mereka berpisah.


"Udah nyantai aja, kita liat aja nanti apa yang akan terjadi dengan mereka," ucap Sinta tersenyum.

__ADS_1


"Loe bener, ayo cabut," ucap Lisa.


Setelah itu mereka pergi meninggalkan kantin .


.


Di sisi lain Adit sedang berada di rumah Sandy , Mereka kini duduk di balkon kamar Sandy, Dia tidak habis pikir dengan apa yang terjadi dengan sahabatnya itu.


"Sebenarnya loe itu kenapa sih jadi kaya gini? apa loe selama ini cuma pura-pura suka dengan Zahra?" selidik Adit, Dia penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Awalnya memang seperti itu, gue cuma ingin bikin perhitungan sama Dia karna selalu recokin gue saat banyak pacar, Namun semakin lama gue sadar kalo gue sayang sama Dia, walau pun manja tapi Dia selalu ngertiin gue," ujarnya.


"Terus apa maksud loe selingkuhin Dia? kalo loe cinta?" tanya Adit heran, apa yang kurang dari Zahra.


"Orang tua gue yang maksa gue pacaran dengan Sila, setelah keluarga gue bangkrut Bokap meminjam sejumlah uang ke Bokapnya Sila tanpa sepengetahuan gue, dan gue mau tak mau harus menuruti semua keinginan mereka, sifat Sila jauh lebih dewasa di banding Zahra yang manja, membuat gue nyaman dan menerima Sila menjadi pacar tanpa sepengetahuan Zahra,Dan semua yang gue tutupin akhirnya terbongkar karna Ifa yang mengetahuinya lebih awal," ucap Sandy panjang lebar.


"Gue gak nyalahin loe kalo masalah hati siapa yang bisa nebak, semua sudah terjadi loe harus bisa lupain Zahra mulai sekarang biarkan Dia bahagia dengan caranya dan itu bukan sama loe," ujar Adit.


"Gak bisa lah, gue mau balik lagi sama Dia apapun caranya gue nyesel udah nyakitin Dia, setelah satu minggu gue kehilangannya gue baru sadar kalo gue cinta banget sama Dia," ucap nya sendu.


Selama berpacaran Zahra yang selalu mengalah, walaupun Dia sangat manja namun saat bersama Sandy, Zahra selalu saja nurut dan tak banyak protes seolah Dia bucin.


"Cinta loe bilang? Terus gimana dengan wanita selingkuhan loe? loe tuh plin-plan tau gak, sebaiknya loe urusin aja selingkuhan loe itu." Adit pun mulai kesal dengan sahabatnya itu.


"Gue putusin lah, gue gak cinta sama Dia gue yakin Zahra masih cinta sama gue, dan gue berharap bisa secepatnya ketemu Dia, Loe bantu gue buat nemuin Zahra," ucap Sandy.


"Itu terserah loe gue gak ikut campur, dan gue gak bisa bantu apa-apa kan gue udah bilang kalo Zahra dah pindah rumah gue juga gak tau Dia pergi kemana," ucap Adit, Dia tidak tau harus bagaimana bukannya tidak mau membantu tapi Dia kasihan dengan Zahra yang terlanjur sakit hati.


"Loe tanya ke Mita dong, plis demi persahabatan kita Dit gue rela ngelakuin apa aja asal bisa balikan lagi sama Zahra," ujarnya.

__ADS_1


Adit pun tidak menjawab Dia tidak mau membuat Mita marah karna membantu Sandy.


Setelah lama berbincang Adit pun pergi Ke bengkel milik nya yang tak jauh dari sana.


__ADS_2