
"Oi !! Tanaka !! kemana saja kamu selama ini !? cepat bantu kami membereskan semua ini !!" teriak Echizen yang melihat Tanaka saat ini.
"Astaga, Onii-Chan !! lihat dirimu !! apa yang terjadi padamu !? kenapa kau berantakan seperti itu !?" teriak Rino yang marah melihat penampilan Tanaka saat ini.
"Maaf soal semua daging yang kau bawa Tanaka, mereka semua sudah habis oleh kita" ujar Shimura dengan senyum puas.
"Itu benar, kau sudah pergi selama 1 jam kau tahu.." lanjut Katou yang juga ikut senang saat ini.
"1 jam.." gumam Tanaka ketika mendengar ini.
"Ya, 1 jam apa kau tidak menyadarinya, Master ?" tanya Miyano yang membereskan piring piring bekas makan mereka semua dibantu oleh Shiraishi saat ini.
"He.. hehe.."
"HAHAHAHA !!"
"...1 Jam..."
Tentu mereka yang mendengar ini mulai menatap Tanaka dengan khawatir terutama Asuna dan Ritsu yang merasa kalau Tanaka sedang tidak baik baik saja saat ini.
Bahkan mereka melihat Tanaka memasang senyum diwajahnya dengan sangat terpaksa, bahkan Tanaka terlihat menutup wajahnya dengan tangannya saat ini.
"Uhh.. seekor anjing mencoba menggigitku ditaman sebelah"
"APA !? KENAPA KAU TIDAK MENELEPONKU !! TANAKA !!" teriak Ohta yang langsung menghampirinya dengan khawatir.
"Tapi syukurlah kalau Master tidak apa apa.." gumam Miyano yang menghela nafas lega.
Namun ketika Ohta menghampirinya tiba tiba saja hujan mulai turun membuat mereka semua terkejut dan mulai melihat keatas.
"Aneh.. padahal hari ini tidak mendung.." ucap Kanzaki yang melihat air hujan turun saat ini.
"Kau benar.." balas Yada yang juga sepemikiran dengannya.
"Sebaiknya kita segera pulang sebelum hujannya semakin besar" saran Shiraishi pada mereka.
Mereka yang mendengar ini hanya menganggukkan kepala mereka ketika mereka mendengar sarannya Shiraishi, langsung saja mereka segera membereskan semua peralatan barbequenya dengan cepat.
Sedangkan Tanaka sendiri saat ini masih berdiri disana dan tidak melakukan apa apa yang mana tingkahnya saat ini membuat Asuna dan Ritsu semakin khawatir padanya.
***
Beberapa menit kemudian terlihat kalau mereka semua saat ini sedang berada dikediamannya Tanaka untuk berteduh.
Karena hanya tempat ini lah yang cukup dekat dengan taman tempat mereka barbeque sebelumnya.
Terlihat disana mereka sedang menyelimuti diri mereka dengan selimut yang dibawakan oleh Sakuya ketika melihat mereka kehujanan.
Disisi lain terlihat Tanaka sedang duduk dikursi makan sendirian melihat teman temannya berinteraksi satu sama lain dengan begitu tenangnya tanpa menyadari keanehannya Tanaka kecuali Asuna dan Ritsu.
Tiba tiba saja Rino menghampirinya sambil menunjukkan mantel yang dipakai oleh Tanaka sebelumnya.
"Onii-Chan.. lihat mantelmu ini, ini sudah yang ke 2 kalinya rusak seperti ini.."
"Apa kau tidak apa apa soal mantelmu ini ?"
"Pasti harganya mahal bukan ?"
Tentu Tanaka yang mendengar ini hanya menatapnya lalu mulai menghela nafas dan segera menjawab pertanyaannya.
"Tidak, aku membelinya dengan harga diskon yang cukup menarik ditoko terdekat"
"Kau bisa membuangnya atau membakarnya pun juga tidak apa apa"
Mendengar jawaban ini Rino hanya menghela nafas dan segera menilap mantel itu.
"Baiklah aku akan menyimpannya, siapa tahu aku bisa mencari tukang jahit disekitar sini.."
Setelah mengatakan itu langsung saja Rino pergi ke kamarnya untuk menyimpan mantel tersebut, sedangkan Tanaka menghela nafas lelah ketika melihat sikapnya.
Ketika pembicaraan mereka selesai tiba tiba saja Asuna dan Ritsu datang dengan secangkir coklat panas ditangan mereka.
"Yuki-Kun / Yuki-Senpai.."
__ADS_1
Mendengar ini sontak Tanaka mulai menengok kearah mereka yang sedang menatap dirinya dengan tatapan khawatir.
'Sepertinya aku tidak bisa menyembunyikan yang aku rasakan pada mereka berdua..'
***
Dikamar Tanaka terlihat kalau Asuna dan Ritsu sedang menunggu Tanaka untuk mengatakan sesuatu pada mereka, melihat ini ia segera bertanya pada mereka.
"Ada apa ?"
" 'Ada apa ?' itukah kalimat pertamamu setelah kau terlihat begitu ketakutan sebelumnya, Yuki-Kun.." ujar Asuna yang menatap Tanaka dengan khawatir.
"Itu.."
"Senpai.. aku tidak tahu apa yang terjadi disana, tapi aku lega kalau kau baik baik saja" balas Ritsu dengan khawatir bercampur lega saat ini.
Tentu Tanaka yang mendengar ini seketika terdiam akan perkataan yang Ritsu lontarkan padanya.
"...."
"Banyak sekali hal gila terjadi disana.. itu.. seperti neraka.."
"Sama seperti yang kita alami disini"
Langsung saja ia menatap Ritsu dengan tatapan kosong sambil menggunakan Telekinesis miliknya dan segera mencekik Ritsu hingga melayang, bahkan Telekinesis milik Tanaka saat ini berbeda dari sebelumnya.
Dimana sebelumnya tangannya akan mengeluarkan aura biru, namun tidak ketika ia menggunakan telekinesis miliknya saat ini.
"!!!"
"!!!"
Tentu Asuna dan Ritsu yang melihat tingkah Tanaka terkejut, Ritsu sendiri yang melihat ini tidak bisa bergerak dan hanya bisa menahan rasa sakit yang Tanaka berikan padanya.
"Yuki-Kun !! hentikan !!"
"Ughh.. Se..Senpai.."
"Aku tidak akan berbohong padamu, Ritsu.. aku seolah bertingkah seperti orang bodoh ketika bersamamu.."
"Semua yang kita lakukan membuatku merasa muak dan juga aneh.."
"Aku merasa kalau semua yang aku lakukan sudah dalam kendali dirimu"
Terlihat air mata mulai menitik dari matanya Tanaka yang terlihat kedua matanya mulai bersinar biru, yang membuat mereka benar benar terkejut ketika melihat ini.
"Setelah apa yang terjadi disana, aku.."
"Aku.."
Tepat sebelum Tanaka melanjutkan perkataannya tiba tiba saja ia mulai menghilangkan Telekinesisnya.
Yang membuat Ritsu terjatuh dan mulai menatap Tanaka dengan khawatir, terlihat kalau ia sedang memegang lehernya yang sakit saat ini, sedangkan Tanaka sendiri langsung memegang kepalanya dengan bingung.
"A.. Aku.. tidak bisa mengingatnya.."
"Kenapa.."
Merasakan ini Tanaka benar benar memegang kepalanya dengan kedua tangannya bahkan kedua bola matanya saat ini mulai bersinar mengubah seluruh iris matanya menjadi berwarna biru langit yang terang saat itu juga.
"Kenapa ini terjadi padaku.."
"Aku mohon.. katakan kalau semua ini.. hanyalah mimpi.."
Tentu Asuna yang melihat ini tidak bisa menahannya lagi dan mulai memeluknya bahkan Asuna sampai menangis melihat Tanaka tidak mengerti perasaan dirinya sendiri saat ini, Tanaka yang merasakan ini mulai memeluk balik Asuna.
'Aku seharusnya ikut bersamanya..' batin Ritsu dengan menyesal ketika melihat keadaan Tanaka saat ini.
Mentalnya benar benar sudah hancur setelah pertemuan Tanaka dengan pria misterius tersebut, tidak punya pilihan lain Ritsu segera mengeluarkan tentakel miliknya dan mulai menyentuh bagian lehernya Tanaka.
Bertepatan ketika menyentuhnya tiba tiba saja Tanaka mulai menutup matanya dan segera tertidur dipelukannya Asuna.
"Maafkan aku.. Yuki-Senpai.."
__ADS_1
Langsung saja Asuna dan Ritsu mulai mengangkat Tanaka keatas kasurnya dan segera menidurinya disana.
"Asuna-Senpai.. aku akan memberitahukan mereka soal Tanaka yang sudah tidur.."
"Aku mohon jaga dia sebentar.." ujar Ritsu sambil menatap Asuna.
"Hmm.. baiklah" balas Asuna.
Langsung saja Ritsu mulai keluar dari kamarnya Tanaka, namun ia tiba tiba saja berhenti dan segera menatap Tanaka dengan raut wajah sedih dan menyesal.
Segera ia meninggalkan Tanaka dan Asuna berdua disana, Asuna sendiri yang melihat Ritsu keluar dengan perasaan bersalah mulai menatap Tanaka yang tertidur dengan air mata yang keluar saat ini.
"Yuki-Kun.."
***
Supreme Realm.
Saat ini terlihat kalau Tanaka sedang berdiri tepat dihadapan Kami-Sama, Irene, Lucy, dan Aeris.
Namun yang membuat Tanaka terkejut saat ini adalah wanita yang ada didepannya saat ini, tentu tidak lain adalah Ozaki Koyou atau Dewi Fortune.
"Se.. Sensei.."
"Lama tidak berjumpa, Yuki-Kun.." balas Fortune dengan raut wajah serius.
"A.. Apa yang terjadi disini ?" tanya Tanaka yang tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Kau.. masih hidup.. bagaimana bisa ?"
"Kita sudah tidak punya waktu lagi, aku akan mengirim ke salah satu Universe ku.." balas Fortune yang masih mempertahankan wajah seriusnya, begitu juga yang lainnya.
"Tunggu.. setidaknya jelaskan apa yang terjadi disini.." ujar Tanaka yang tidak mengerti soal apa yang terjadi disini.
"Jiwamu saat ini sedang tidak stabil, jadi aku akan segera mengirim jiwamu di salah satu Universe yang kubuat untuk mengembalikan jiwamu yang rusak karena kejadian sebelumnya"
"Tugasmu disana hanya satu, yaitu membuat kenangan terindah didunia itu"
"Tentu aku akan menyegel semua kekuatanmu dan juga ingatanmu sampai kau benar benar pulih"
"Tenang saja aku akan memberikan bonus untukmu diuniverse sana"
"Aku tidak menyangka kalau pertemuanmu dengan 'Dia' menyebabkan 'The Splinter Soul' yang mana Universe yang aku buat khusus untukmu harusnya diberikan sebelum waktunya tiba.."
"A.. Apa ?" tanya Tanaka dengan bingung.
"Maafkan aku.. Yuki-Kun.."
Langsung saja Fortune mulai berjalan kedepan Tanaka dan mulai menyentuh keningnya, yang seketika tubuhnya Tanaka mulai bersinar dan menghilang dari sana.
"F.. Fortune-Sama.. apa benar kalau Tanaka-Kun.. bertemu dengan 'Dia' ?" tanya Lucy dengan wajah khawatir.
"Hmm.. tapi tenang saja.. dia tidak akan apa apa.. hanya saja pertemuannya dengan 'Dia' terlalu cepat.. seperti yang diramalkan.." balas Fortune yang kemudian mengeluarkan sebuah portal disebelahnya dan kemudian menarik sesuatu didalam sana.
Terlihat kalau ia saat ini sedang menarik seorang pria yang sebelumnya berbicara dengan Lucy, Pria itu tidak lain adalah Dewa Permainan, Cain.
Ketika ia ditarik oleh seseorang langsung saja ia mulai melihat siapa yang menariknya, Cain tidak menyangka kalau yang orang yang menariknya tidak lain adalah Ibunya sendiri.
"I.. Ib- ma.. maksudku Fortune-Sama !!"
"Jadi, Cain-Kun.. bisa ceritakan apa yang terjadi disini ?" tanya Fortune dengan senyum diwajahnya yang terlihat mengerikan dimata Cain.
"Tu.. Tunggu !! aku bisa jelaskan !!" balas Cain dengan panik.
"Sebaiknya kau menjelaskan semua yang terjadi sebelum aku mengirimmu kembali ke 'White Room' " ancam Fortune yang masih mempertahankan senyumannya saat ini.
"AKU JELASKAN !! AKAN AKU JELASKAN !!ASALKAN JANGAN KIRIM AKU KE 'WHITE ROOM' LAGI !! AKU MOHON !!" teriak Cain yang bersujud didepan Fortune sambil memohon padanya.
"MAMAAA !!"
Disisi lain Kami-Sama, Irene, Lucy, dan Aeris yang melihat ini hanya bisa menatap Cain dengan tatapan kasihan sambil mengeluarkan keringat dingin ketika melihat sikapnya Fortune.
'Seram..'
__ADS_1