
Asuna POV.
Entah berapa lama aku disini tapi aku yakin kalau aku sudah disini selama 30 menit lebih sambil melihat seluruh ingatannya Rian.
Mulai dari pembunuhan pertama Rian lalu mengerjakan misi yang Ozaki berikan padanya sampai melakukan pelatihan tidak normal dari Ozaki.
Seperti menembak jarak jauh menggunakan pistol dengan jarak 50 meter lalu belajar beladiri hingga Rian muntah muntah lalu belajar baik itu dibidang politik, strategi dan lain sebagainya.
Jika Rian melakukan sebuah kesalahan dalam latihan maupun belajarnya, maka Ozaki akan memukulnya menggunakan cambuk tanpa memperdulikan kondisinya.
Semua itu ia lakukan tanpa henti, namun tetap Rian masih diberi makan sebelum tidur dan jumlahnya porsinya sangat lah kecil, hanya pisang dan air saja.
Tentu aku yang melihat ini hanya bisa terdiam sambil menatap Rian dengan tatapan kasihan, meskipun Rian disiksa melakukan latihan itu namun ia tetap menjalankan perintah Ozaki.
Selama ingatan itu berjalan terlihat kalau Rian mulai terbiasa dengan pelatihan neraka yang diberikan oleh Ozaki padanya.
Tentu Ozaki yang melihat ini merasa bangga dengan kerja kerasnya Rian selama ini, bahkan perlu waktu 5 tahun untuk Rian melakukan semua itu sambil menjalankan misinya.
Bahkan diumurnya yang masih muda atau lebih tepatnya 14 tahun, Rian telah mendapatkan banyak julukan selama hidupnya, mulai dari Pemimpin Kejam, Si Datar, Sang Penembak Jitu, Si Licik Strategi dan masih banyak lagi.
Namun Rian lebih dikenal sebagai Fox Sang Assassin, tentu aku yang melihat kehidupannya yang telah membunuh banyak manusia hanya demi bertahan hidup hanya bisa terdiam.
Bahkan selama Rian mengerjakan misinya ia selalu menggunakan topengnya, makanya ia dipanggil Fox oleh dunianya bahkan aku tidak bisa apa apa ketika melihat ini.
Tepat ketika melihat seluruh ingatannya tiba tiba saja ingatan itu mulai berganti menjadi ruangan gelap yang terasa familiar ini.
"Ini !? ruangan yang itu !?" ucapku yang terkejut ketika melihat ruangan ini, benar saja ruangan ini adalah tempat dimana Ozaki membunuh kakek itu tepat dihadapannya Rian waktu itu.
Namun kali ini berbeda karena kali ini dilantai terlihat kalau Ozaki terbaring disana dengan darah yang terus mengalir ditubuhnya, dijendela pun terlihat ada lubang bekas tembakan disana.
"Rian.." ucap Ozaki yang membisikkan namanya pada Rian dengan suara kecil.
"SENSEII !!" teriak Rian yang saat ini mulai berlari kearahnya dengan panik.
Melihat ini langsung saja ia mendekati Ozaki dan mulai mengangkat kepalanya secara perlahan.
"SENSEII !!" teriak Rian dengan panik ketika melihat darah dimulutnya Ozaki.
"Rian.. ada yang ingin aku sampaikan padamu.." ucap wanita itu dengan suara kecil.
"BERTAHAN LAH SENSEI !! AKU AKAN MEMBAWAMU KERUMAH SAKIT TERDEKAT !!" teriak Rian yang tambah khawatir ketika melihat darahnya terus keluar dari tubuhnya.
"Dengarkan aku.." ucap Ozaki sambil memegang wajahnya Rian dengan tatapan serius.
Tentu Rian yang mendengar ini seketika membelakkan kedua matanya dan memilih untuk diam ketika mendengar ucapannya apalagi wajah seriusnya.
"Jalan apapun yang kau pilih.. baik itu sisi buruk.. maupun sisi baik.. aku ingin kau memilih jalan itu sesuai kata hatimu.. Rian dan lindungi lah.. anak anak yatim piatu itu.." lanjut Ozaki dengan suara kecil namun dapat didengar oleh Rian.
"Aku ingin kau.. hidup bahagia dan melupakanku.. Rian.." lanjut Ozaki yang mulai menitikkan air matanya sambil mengusap wajahnya Rian dengan lembut.
"Sensei.." gumam Rian yang melihat Ozaki menangis disaat kematiannya akan datang.
"Aku.. ingin kau.. hidup bahagia.. selama sisa hidupmu.. Ri.. an.." lanjut Ozaki yang matanya mulai menutup secara perlahan.
__ADS_1
Tentu Rian yang melihat Ozaki meninggal tepat dihadapannya hanya bisa terdiam sambil menangkap tangannya yang hampir jatuh kelantai penuh darah itu.
Tepat ketika Rian menyentuh tangannya Ozaki tiba tiba saja Rian mulai menangis untuk pertama kali, terlihat air mata terus mengalir diwajahnya.
Bahkan perban yang ada dimatanya pun mulai basah dan lepas dengan sendirinya, menampilkan wajah tampan yang sedang menangisi orang yang telah mengurusnya selama ini.
"UWAAAAAHHHH !!"
Tentu aku yang melihat ini ikut menangis dengan masa lalunya Tana- tidak Rian-Kun.
Kenapa ia harus tersiksa didunia yang keji itu, yang Rian inginkan hanyalah satu yaitu kebahagian bersama keluarganya hanya itu saja.
Meskipun Ozaki sangat kejam dalam mengajar Rian, namun ia tetap memiliki hati seorang malaikat ketika melihat ingatannya Rian.
Pernah suatu hari Ozaki mengajak Rian untuk pergi kesuatu tempat dan tempat itu adalah rumah panti asuhan, awalnya Rian enggan untuk datang panti asuhan itu.
Kerena panti asuhan itu merupakan tempat Rian dibesarkan sebelumnya, namun tetap saja Ozaki mengajaknya untuk bertemu dengan anak anak dipanti asuhan itu mendengar ini ia hanya menurutinya.
Dan selama mereka berdua disana mereka hanya menghabiskan waktu untuk bermain dan bercanda bersama mereka hingga mereka lupa akan waktu.
Dan hal itu terus dilakukan selama masa masa cutinya Ozaki dan Rian, tentu Ozaki tidak lupa memberikan sumbangan pada panti asuhan itu bahkan Ozaki pun mengajari Rian cara untuk berekspresi ketika bersama anak anak.
Tentu selama masa masa itu ekspresi Rian mulai melunak hingga ia bisa menunjukkan senyum diwajahnya, dan semua itu berkat Ozaki yang mengajarinya.
Didalam hatinya Rian ia mulai merasakan kekaguman pada Ozaki atau lebih tepatnya gurunya meskipun ia sangat kejam dalam mengajar, namun Ozaki masih memiliki kebaikan dihatinya.
Bahkan aku yang melihat Rian menangis setelah kehilangan orang yang membesarkannya selama ini pun ikut menangis sampai terduduk disebelah Rian walau itu hanya ingatan.
Tepat ketika aku diperlihatkan ingatan itu tiba tiba saja semuanya kembali menjadi gelap seperti sebelumnya aku tiba kemari.
***
Setelah cukup lama aku menangis tiba tiba saja ruangan gelap itu mulai berubah kembali dimana saat ini Rian sedang berada didepan kuburan Ozaki.
Tentu aku yang melihat ini segera menghapus air mataku dan mulai berdiri disebelahnya Rian sambil melihat kuburannya Ozaki.
Terlihat kalau umur Rian yang satu ini mungkin sekitar 23 tahun karena dia terlihat lebih dewasa saat ini.
Terlihat kalau penampilannya saat ini masih sama, ia masih memakai jas rumbai dan kaos berwarna merah ia juga masih menggunakan perban dikedua tangannya.
"Sensei.. selamat ulang tahun.. dan maaf karena telat mengunjungimu.. hari ini aku benar benar sibuk dengan pekerjaanku" sahut Rian yang mulai meletakkan bunga diatas kuburan itu dengan nada sedih dan mulai berdoa untuknya.
Tentu aku yang melihat ini ikut berdoa untuknya semoga ia tenang di surga nantinya, tepat ketika aku dan Rian sedang berdoa untuknya tiba tiba saja ada yang menelepon Rian.
Rian yang mendengar ini segera mengangkatnya dan mulai membalasnya, aku yang melihat ini hanya bisa mendengar pembicaraan Rian saja.
"Ha.. baiklah baiklah aku akan kesana" balas Rian dengan nada malas segera mematikan ponselnya.
Tepat ketika Rian mematikan ponselnya lagi lagi aku dipindahkan kembali keruangan gelap sebelumnya.
"Aku dikembalikan lagi kesini.. lalu bagaimana dengan kehidupan sehari harinya Ri-" namun sebelum aku menyelesaikan kata kataku tiba tiba saja aku mendengar suara Rian.
"Ha ? dimana ini ?" ucap Rian sambil melihat sekelilingnya.
__ADS_1
Tentu aku yang melihat Rian berada diruang gelap ini terkejut dan langsung saja memanggilnya.
"RIAN !?' teriakku padanya segera menghampirinya, namun lagi lagi tubuhku hanya menembus tubuhnya Rian saja
Tentu aku yang melihat ini terkejut bukan main, aku kira Rian atau Tanaka benar benar ada disini, namun siapa yang menyangka kalau ini juga adalah ingatannya.
"Sial ini gelap sekali, tapi setidaknya aku masih membawa peralat-"
Namun sebelum Rian memeriksa peralatannya tiba tiba saja ia terkejut karena semua persenjataan telah menghilang ketika ia berada diruangan ini.
"YANG BENAR SAJA !!" teriaknya dengan panik mencoba untuk memeriksa setiap saku celananya.
Ketika Rian sedang memeriksa seluruh sakunya langsung saja ia mengeluarkan barang yang ada disakunya atau lebih tepatnya smartphone miliknya.
"Ha.. syukurlah kalau smartphone ku masih ada.. karena tidak ada siapa siapa disini, mungkin aku akan menonton Fate/Kaleid Liner Prism Ilya the movie nya saja" gumam Rian sambil menghela nafas leganya.
"Lagi pula tidak akan ada yang terjadi disini, bukan ?" lanjutnya dan mulai duduk diruangan gelap itu sambil menonton anime yang ada di smartphonenya saat ini.
"...."
Bahkan aku yang melihat ini hanya bisa terdiam kalau Rian sebenarnya adalah seorang otaku selama hidupnya, entah kenapa melihat tingkahnya aku merasa beban ku hilang dalam sekejap.
Melihat ini aku hanya menghela nafas saja dan mulai ikut menonton anime diponsel miliknya, bahkan aku tidak menyangka kalau anime yang kutonton diponselnya Rian lebih menarik dari pada diduniaku saat ini walau itu Mahou Shoujo.
Namun setelah kami selesai menonton Anime diponselnya tiba tiba saja ruangan berganti menjadi warna putih tentu aku dan Rian yang melihat ini terkejut.
Disisi lain Rian yang melihat ini mulai berdiri dan dengan sigapnya ia mengambil ancang ancang bertarung yang diajarkan Ozaki padanya.
"Ahh.. akhirnya kami menemukanmu Rian-Kun" ucap seseorang yang memanggil nama Rian.
Tentu aku yang mendengar ini mulai menoleh kebelakang dan melihat ada tiga orang asing dimataku, namun aku tidak bisa melihat wajah mereka.
"Siapa mereka ? apa mereka adalah dewa atau dewi ?" tanyaku yang melihat ini secara langsung.
Langsung saja aku mengikuti percakapan Rian dan juga mereka bertiga, dan benar saja kedua gadis itu adalah seorang dewi dan kakek itu adalah Kami-Sama.
Tentu aku yang melihat ini terkejut bukan main karena dapat melihat pencipta umat manusia dan yang lainnya tepat dihadapannya.
Bahkan aku bertambah terkejut ketika mendengar kalau Rian terbunuh tanpa sengaja karena Dewi Cahaya adalah penggemar beratnya ? kenapa ?
Tentu aku mulai mendengar kembali cerita Kami-Sama tentang bagaimana Dewi Cahaya itu mengawasinya, lalu bagaimana Rian dapat mengubah takdirnya, sampai ia diberi kompensasi atas kesalahan putrinya.
Tentu aku yang mendengar ini kembali terkejut hingga tidak bisa mengeluarkan kata kata dari mulutku mengenai ini.
"Mengubah takdir ? jadi selama ini Ria- tidak Tanaka-Kun seharusnya sudah lama mati bukan ? apa semua itu karena tekadnya untuk bertahan hidup ?" gumamku yang mulai berasumsi mengenai percakapan mereka.
Tepat ketika aku memikirkan ini tiba tiba saja Kami-Sama mulai mereinkarnasikan Rian ke tubuh seorang anak kecil yang aku kenal.
Tentu saja orang itu adalah Tanaka aku yang melihat ini tentu saja merasa shock dengan semua ingatan yang aku lihat selama ini.
"Benar saja kalau Rian itu adalah Tanaka-Kun, setelah melihat ini apa yang harus aku lakukan ketika bertemu dengannya" ucapku dengan lelah dan panik ketika melihat semua ingatan itu.
Tepat setelah aku mengatakan itu tiba tiba saja pandanganku mulai gelap hingga aku terpaksa menutup mataku.
__ADS_1
Setelah itu langsung saja aku membuka mataku dan mulai melihat Tanaka yang saat ini masih berdiri tepat dihadapanku.
"Ta.. Tanaka-Kun ?"