
Keesokkan harinya terlihat kalau Tanaka dan Ohta sedang mengerjakan tugas bahasa Inggris dari guru mereka.
Dikarenakan beliau sedang sakit, sehingga diadakanlah belajar mandiri hari ini.
Saat ini Tanaka dan Ohta sedang duduk berhadapan sambil mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru mereka, namun tiba tiba saja Tanaka berhenti mengerjakan tugasnya.
"Hmm ? ada apa Tanaka ? tiba tiba kau berhenti seperti itu ?" tanya Ohta yang melihat Tanaka menghentikan tugasnya.
"Tidak apa apa.. hanya lapar saja" balas Tanaka sambil mengambil roti dilokernya.
"Setidaknya kerjakan dulu tugasmu.." ucap Ohta yang sedikit canggung ketika melihat Tanaka terlalu santai saat ini.
"Tugas ? ahh.. aku sudah menyelesaikannya kok, jadi tenang saja.." balas Tanaka yang juga mengeluarkan teh kotaknya.
"Ehh !! sudah selesai !! cepatnya !!" sahut Ohta yang terkejut ketika mendengar ini.
Sedangkan Tanaka yang mendengar ini hanya mengabaikan perkataannya saja dan mulai mengambil sedotannya yang tertempel dibelakang teh tersebut.
Langsung saja Tanaka mulai menusuknya tepat di bagian yang mudah untuk memasukan sedotan itu kedalam teh kotak itu.
Namun bukannya masuk justru sedotan itu justru bengkok karena tumpul, langsung saja Tanaka mulai memutar balikkan sedotan itu dengan satunya lagi.
Dan hasilnya juga sama seperti yang pertama gagal total, Tanaka yang melihat ini seketika terdiam karena sedotannya tidak bisa untuk menusuk teh kotaknya.
"Ha.."
Langsung saja Tanaka mulai terbaring dengan lesu diatas meja tersebut sambil menghela nafas lelah, Ohta yang melihat kejenakaannya segera mengambil guntingnya untuk Tanaka.
"Mau menggunakan gunting ?" tanya Ohta sambil memberikan guntingnya pada Tanaka.
"Ahh.. terima kasih banyak" balas Tanaka yang mulai mengambilnya dan segera menusuknya menggunakan gunting.
Setelah terbuka langsung saja Tanaka mulai memasukkan sedotannya kedalam kotak itu dan segera meminum tehnya dengan segar.
"Ahh.. segarnya" gumam Tanaka dengan perasaan senang, terlihat kalau tingkahnya Tanaka sama persis seperti kakek tua.
"Hmm.. syukurlah kalau kau senang"
***
Setelah jam pelajaran telah berlalu langsung saja mereka berdua mulai pergi ke kantin, namun sebelum Tanaka dan Ohta pergi tiba tiba saja Miyano mulai memanggil Tanaka.
"Master !!" teriak Miyano.
Tentu Tanaka dan Ohta yang mendengar ini segera menoleh kearah Miyano yang saat ini sedang berlari kearahnya bersama Shiraishi dan Echizen saat ini.
"Ahh.. Miyano-San, Shiraishi-San, Echizen-San" balas Tanaka dengan lesu ketika melihat mereka bertiga kesini.
"Master !! kenapa setiap kali aku mengirim pesan kau tidak pernah membalasnya !?" ujar Miyano yang sedikit kesal tanpa meninggalkan kesan cerianya.
"Iya itu benar !! berani beraninya kau membuat Miyano menunggu sialan !!" balas Echizen yang langsung menarik kerahnya Tanaka.
"Wahh !! Ecchan tenanglah !!" teriak Miyano yang terkejut ketika melihat pemandangan ini.
"Echizen-San, tenangkan dirimu terlebih dahulu !! aku yakin Tanaka memiliki alasan sendiri mengenai ini !!" balas Shiraishi yang panik ketika melihat ini, begitu juga dengan Ohta.
"Hmph.." balas Echizen yang langsung melepas kerahnya dengan kesal.
Sedangkan Tanaka yang melihat ini langsung menghela nafas lega karena tarikannya cukup kuat, melihat ini langsung saja Ohta mulai bertanya pada Tanaka.
"Jadi.. kenapa kau tidak membalasnya Tanaka ?" tanya Ohta dengan penasaran.
"Habisnya, aku lelah ketika membaca pesannya" balas Tanaka dengan wajah lesunya.
"Meski begitu, setidaknya kau balas singkat saja bisa kan ?" ujar Echizen yang sedikit kesal ketika mendengar ini.
"Itu benar.. mungkin saja itu hal yang penting" balas Shiraishi yang setuju dengan ucapannya Echizen, sedangkan Ohta hanya menganggukkan kepalanya saja.
Tanaka yang melihat ini langsung saja merogoh ponselnya dan segera membuka pesan milik Miyano, segera ia memberikan ponselnya pada Ohta tanpa bicara sama sekali.
Disisi lain Ohta yang melihat ini tentu tersentak dan mulai mengambil ponselnya Tanaka, langsung saja Ohta melihat pesannya Miyano begitu juga dengan mereka berdua.
Terlihat kalau pesannya Miyano untuk Tanaka sangat panjang sekali dalam sekali kirim.
Langsung saja Ohta mulai menggulir pesannya kebawah dan pesan itu terlihat masih belum mencapai akhirnya.
"...."
Mereka bertiga yang melihat ini seketika terdiam apalagi Ohta masih menggulirnya saat ini, langsung saja ia mulai memanggil Miyano.
"Nee.. Miyano.." ujar Ohta dengan canggung.
"Yahh.. ada apa ?" tanya Miyano dengan nada ceria seperti biasanya.
"Anu.. Miyano-San.. Aku rasa dengan pesan sepanjang ini.. Tanaka-Kun memang tidak akan membalasnya, begitu juga dengan kami" balas Shiraishi dengan canggung saat ini.
"EHH !? KENAPA !?" tanya Miyano yang terkejut ketika mendengar ini.
"Miyano.. jika pesannya sepanjang ini aku yakin kalau aku, Ohta dan Shiraishi-San akan memerlukan waktu 1 jam lebih untuk membacanya" balas Echizen yang melihat Ohta masih menggulir pesannya Miyano.
"!!!"
__ADS_1
Miyano yang mendengar ini tentu terkejut akan apa yang ia dengar dari teman temannya itu, langsung saja ia menoleh kearah Tanaka yang memastikan mengenai ini.
Sedangkan Tanaka yang melihat ini hanya menganggukkan kepalanya saja, melihat ini Miyano benar benar terkejut akan balasannya.
"Hmm.. itu benar Miyano-San.. Tanaka itu orangnya sangat simpel karena ia langsung keinti pembicaraan" balas Ohta yang mulai menenangkan Miyano saat ini.
"Makanya ia jarang sekali mengobrol dengan yang lainnya, karena tidak ada pembicaraan yang menarik baginya" lanjut Ohta yang akhirnya selesai menggulir pesannya.
"Kenapa kau tidak mencoba langsung keintinya saja ketika memberikan pesan padanya nanti, Miyano-San ?" saran Ohta pada Miyano.
Sedangkan mereka bertiga yang mendengar ini langsung menganggukkan kepala mereka yang setuju dengan ucapannya Ohta.
"Jadi begitu.." gumam Miyano yang mendengar sarannya Ohta.
"Baiklah !!" balas Miyano dengan senyum ceria diwajahnya.
"Hmm.. syukurlah kalau kau mengerti Miyano-San.." balas Tanaka dengan lesu, sedangkan Miyano yang mendengar ini mulai menganggukkan kepalanya dengan semangat.
"Ohh.. iya.. Tanaka-Kun, Ohta-Kun.. kalian berdua belum masuk klub kan ?" tanya Shiraishi yang penasaran mengenai ini.
"Iya.. memangnya kenapa ?" tanya Ohta yang bingung saat ini.
"Apa kalian tidak tertarik masuk kedalam klub ? aku saja masuk klub basket" tanya Echizen dengan penasaran kali ini.
"...."
Tanaka dan Ohta yang mendengar ini seketika terdiam membatu dan mulai menoleh kearah Echizen dengan tatapan tidak percaya.
"A.. Ada apa kalian berdua menatapku seperti itu ?" tanya Echizen dengan gugup ketika melihat tatapan mereka.
"Echizen-San.. apa kau sehat ?" tanya Tanaka dengan serius.
BUUGGHHH !!
"SIALAN !! JANGAN MAIN MAIN DENGANKU !!" teriak Echizen sambil memukul perut mereka berdua dengan kesal.
"Ughh.." geram mereka berdua yang kesakitan saat ini, walau Tanaka hanya berpura pura saat ini.
"ECHIZEN-SAN / ECCHAN !!" teriak Shiraishi dan Miyano yang terkejut ketika melihat ini.
Langsung saja mereka berdua mulai menenangkan Echizen.
Sedangkan Tanaka dan Ohta yang merasakan pukulannya mulai mengusap perut dan membalas pertanyaan mereka.
"Maaf maaf.. tapi aku memang tidak bisa, karena aku dan adikku sangat sibuk mengerjakan pekerjaan rumah kami" ujar Ohta sambil mengusap perutnya ketika dipukul oleh Echizen.
"Kalau aku tidak mau, sebab merepotkan bila aku masuk kedalam klub" balas Tanaka yang juga mengusap perutnya.
"Itu salah satunya.." balas Tanaka dengan berbinar.
"Itu bukan sesuatu yang bisa kau banggakan bangsat !!" teriak Echizen yang benar benar kesal saat ini.
"K.. Kalau begitu.. bagaimana jika kita melihat lihat klub disekolah ini satu persatu ? mungkin saja ada yang sesuai dengan seleramu" tanya Shiraishi yang memberikan saran pada mereka berdua.
"Melihat lihat ?"
***
Klub Komputer.
"Senpai !! akhirnya kau kesini juga !! aku merindukanmu !!" teriak Ritsu sambil memeluk Tanaka dengan manjanya terlihat kalau ia sedang menggosokan wajahnya pada dadanya Tanaka.
Disisi lain Shiraishi yang melihat tingkah Ritsu yang selalu menempel pada Tanaka merasa iri dengannya dan ingin bertukar posisi dengan Ritsu saat ini.
Sementara Miyano yang melihat ini hanya bisa melihat Tanaka dengan tatapan berbinar melihat betapa tenangnya Tanaka ketika menghadapi masalah seperti ini.
Sedangkan Ohta dan Echizen yang melihat ini langsung menggelengkan kepala mereka karena tingkahnya Ritsu yang selalu manja pada Tanaka.
"Ritsu.. kami kesini hanya ingin melihat lihat saja, bukan mengunjungimu.." balas Tanaka sambil menarik pipinya dengan raut wajah kesal.
"Sakit.. sakit.. sakit.. aku minta maaf Senpai !! itu sakit !!" teriak Ritsu yang kesakitan saat ini.
"Tanaka.. aku rasa kau berlebihan.." ujar Ohta yang melihat Ritsu kesakitan kali ini.
Tanaka yang mendengar ini langsung menghela nafas lelah dan mulai melepas cubitannya dari pipinya Ritsu, sedangkan Ritsu yang melihat ini langsung mengusap pipinya sambil mengembungkan pipinya.
"Mou.. Senpai.. kau tidak berperasaan pada Kohaimu yang cantik ini"
"Terima kasih.."
"Senpai.. setidaknya merasa bersalahlah pada kohaimu ini.."
Tentu saat ini Tanaka dan yang lainnya sedang mengunjungi klub komputer, namun siapa yang menyangka kalau Ritsu merupakan anggota klub ini.
Terlihat kalau didalam beberapa siswa dan siswi sedang menjalankan komputer disana, bahkan ada beberapa siswa dan siswi yang juga sedang merakit disana.
"Jadi.. Ritsu-San bisa beritahukan kami apa yang klub mu lakukan ?" tanya Shiraishi dengan penasaran walau wajahnya ada sedikit rona merah saat ini.
"Baiklah Senpai.. biar aku jelaskan kalau klub kami itu mengajarkan para siswa dan siswinya untuk mengetahui struktur komputernya baik itu hardware maupun softwarenya" jelas Ritsu dengan senyum diwajahnya.
"Bukan hanya itu saja yang klub kami ajarkan pada mereka, kami juga mengajarkan mereka membuat program, aplikasi, dan lain sebagainya supaya mereka mudah untuk mencari pekerjaan, begitu.." lanjut Ritsu dengan senyum bangganya dan berharap Tanaka akan memujinya.
__ADS_1
Tentu Ohta dan yang lainnya yang mendengar ini sedikit kagum dengan penjelasannya Ritsu yang cukup dimengerti oleh mereka.
Sedangkan Tanaka yang mendengar ini hanya menghela nafas lelah karena ia dari awal memang sudah memiliki bakat dalam komputer makanya dia memilih untuk pergi dari sini.
"Tidak tertarik, aku pergi" balas Tanaka dengan nada lelah dan segera meninggalkan mereka berempat disana.
"!!!"
Tentu mereka yang berempat yang melihat ini terkejut dengan ucapannya Tanaka dan mulai menyusulnya.
"Tanaka !! tunggu aku !!" teriak Ohta yang mulai mengejar Tanaka, begitu juga dengan yang lainnya.
"Master !!" teriak Miyano juga yang ikut menyusul mereka berempat namun sedikit telat karena perbedaan tinggi mereka.
"Tu- Se.. Senpai !?"
***
Klub Tenis.
"Ehh ? Tanaka-Kun, semuanya ? sedang apa kalian disini ?" tanya Saika yang saat ini sedang memakai baju olah raganya.
"Ahh.. aku dan yang lainnya sedang mengunjungi beberapa klub yang cocok untuk Tanaka, itu saja.." balas Ohta sambil menoleh kearah Tanaka saat ini.
"Ehh !! Tanaka-Kun ingin masuk klub !!" teriak Saika yang terkejut ketika mendengar ini.
"Aku sudah menduga reaksinya seperti itu, namun kali ini tidak.. karena tujuanku hanya ingin melihat lihat saja"
Tanaka yang membalas perkataan Saika dengan nada lesu sambil melihat kearah para siswa dan siswi sedang bermain tenis saat ini.
"Ohh.. syukurlah.." balas Saika sambil menghela nafas lega.
Terlihat kalau Tanaka dan juga yang lainnya sedang berada dilapang tenis untuk melihat kegiatan siswa diklub tenis saat ini, dan kebetulan ada Saika disana.
"Tanaka-Senpai / Senpai !!"
Ketika Tanaka sedang melihat lihat klub tenis ini tiba tiba saja Kanzaki dan Yada mulai menghampiri mereka.
Terlihat kalau mereka menggunakan baju olahraga pendek yang memang dikhususkan untuk bermain tenis.
Dan mereka berdua pun sama sama memakai baju olahraga berwarna putih dengan pola pink sambil membawa raket milik mereka berdua.
Tentu Kanzaki dan Yada sangatlah populer dikalangan para gadis apalagi para pria maupun kakak kelas mereka.
Bahkan pernah ada salah satu dari mereka mendapatkan surat cinta dari teman dikelas mereka juga kakak kelas mereka dan hasilnya bisa diketahui kalau mereka menolaknya.
"Ohh.. Kanzaki-San, Yada-San.. jadi kalian berdua masuk klub ini yahh.." balas Ohta yang melihat mereka kesini.
"Benar.. lalu ada apa kalian ramai ramai datang kemari ?" tanya Kanzaki dengan bingung ketika melihat mereka semua kemari.
Sedangkan Yada yang melihat Miyano langsung memeluknya karena ia terlihat lucu walaupun Miyano adalah kakak kelasnya.
"Kyaaa !! Miyano-Senpai !! kau terlihat imut hari ini !!" teriak Yada yang mulai memeluk Miyano.
"Ahh.. Yada-San itu geli tahu.." balas Miyano dengan nada ceria seperti biasanya.
Sedangkan Tanaka yang melihat ini hanya mengabaikan mereka berdua dan mulai membalas pertanyaannya Kanzaki.
"Sebenarnya kami cuma mau lihat lihat saja.."
"He.. kalau begitu.. Tanaka-Senpai, bagaimana jika kau mencoba bertanding denganku saja ?" saran Kanzaki padanya.
"Bertanding !!" teriak mereka yang terkejut ketika Kanzaki menyarankan ini pada Tanaka, kecuali Yada yang masih memeluk Miyano.
"Ha.. baiklah.." balas Tanaka sambil menghela nafas lelah.
"Ehhh !!" teriak mereka yang kembali terkejut kali ini.
"Syukurlah kalau kau menerimanya Tanaka-Senpai, kalau begitu ini.." balas Yada yang sudah selesai memeluk Miyano dan segera memberikan raketnya pada Tanaka.
Tentu Tanaka yang melihat ini langsung mengambilnya, namun sebelum ia bergerak tiba tiba saja Ohta dan Saika mulai menyentuh pundaknya Tanaka dengan tatapan serius.
"Tanaka.. apa kau yakin soal ini ?" tanya Ohta yang benar benar serius kali ini.
"Benar.. jangan memaksakan dirimu Tanaka-Kun, lagipula kenapa kau tidak menolak permintaan Kanzaki saja ?" tanya Saika sambil menoleh kearah Kanzaki yang saat ini sudah menjauh.
Tanaka yang mendengar ini mulai menoleh kearah mereka dengan serius dan segera menjawabnya setelah Kanzaki dan Yada sudah menjauh dari mereka.
"Ohta.. Saika.. akan aku beritahu ini pada kalian, jika kalian menolak permintaannya Kanzaki maka dia akan memaksaku untuk bermain game di area ding dong secara terus menerus" balas Tanaka dengan wajah serius.
"Area ding dong ?" tanya mereka berdua dengan bingung.
"Hmm.. jika ia kalah maka dia akan terus memaksaku untuk bermain dengannya sampai kita lupa waktu, bahkan kita berdua pernah main sampai tokonya akan ditutup ketika dia selalu kalah dariku" jelas Tanaka mengenai ini pada mereka
"Jika pemilik toko tidak mengusir kami mungkin kami akan terus bermain sampai besok tanpa tidur sama sekali"
"...."
"Tanaka-Kun / Tanaka berjuanglah.."
"Ahh.. doakan aku.. teman teman.."
__ADS_1