
Keesokan harinya terlihat kalau cuaca hari ini terlihat cerah diluar sana, saat ini Tanaka sedang dikamar Nomura dan Maskodera sedang membicarakan sesuatu.
"Jadi begitu.. kau terjebak skandal yang cukup merepotkan yahh.. Nomura.." gumam Tanaka yang sedang duduk dikursi malas yang ada dikamar mereka.
Sedangkan Nomura sedang tidur diatas kasurnya dengan tangannya untuk menahan kepalanya, lalu Maskodera yang saat ini sedang duduk dimeja belajarnya sambil mengobrol dengan mereka.
"Yahh.. ini memang merepotkan, namun pada akhirnya aku bisa mengatasi masalah ini dengan mudah.." balas Nomura dengan nada lelah.
"Mahh.. sepertinya bukan kamu saja yang terkena masalah kemarin.. aku juga mengalaminya ketika pulang bersama Asuna kemarin.." ujar Tanaka yang memejamkan matanya sambil bersandar saat ini.
"Masalah ? masalah seperti apa sampai sampai orang pemalas sepertimu terkena masalah kemarin ?" tanya Maskodera yang mulai melihat kearah Tanaka dengan penasaran.
"Ahh.. itu.. kemarin aku disergap oleh lima gadis yang menggunakan topeng sambil membawa tongkat bambu ?" tanya Tanaka yang mencoba mengingat ingat kejadian kemarin.
"Jika bukan karena Asuna mungkin aku sudah diculik oleh mereka" lanjut Tanaka sambil berbohong mengenai kejadian itu.
Tentu hal ini membuat Nomura dan Maskodera yang mendengar ini terkejut, namun sebelum Nomura mulai bertanya padanya tiba tiba saja pintu kamar ini terbuka.
"To.. Tolong kami !?"
"A.. Ada monster keluar dari kamar mandi !?"
Terlihat kalau yang menerobos masuk kedalam kamar itu adalah kedua pria yang bertingkah seperti banci dengan handuk ditubuh mereka yang menutupi seluruh tubuh mereka seperti perempuan setelah mandi.
Tentu Tanaka dan Nomura yang mendengar ini mulai menatap kedua orang itu dengan aneh, apalagi melihat tingkahnya yang benar benar seperti perempuan itu.
"Ada monster keluar dari kamar mandi ? palingan itu hanyalah halusinasi kalian saja, makanya dia mengintip kalian mandi" balas Nomura dengan nada malasnya.
"Bukan begitu maksudnya" balas Maskodera yang mendengar ini, sedangkan Tanaka hanya menguap saja ketika mendengar ini.
"Jangan bilang seperti, ayo ikuti kami !!" pintanya dengan wajah pucat.
"Itu monster kepala wanita dengan rambut terurai !!" lanjut pria yang ada disebelahnya.
"Cuma kepalanya, yahh.." gumam Maskodera yang mendengar ini.
"Kalau itu pasti menakutkan, mana mungkin monster begitu muncul dikamar mandi" balas Nomura yang mulai mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang.
"Aku rasa itu benar benar halusinasi kalian saja dehh.." gumam Tanaka dengan lesu.
"Mou.."
"Bisa gak sih ini dianggap serius !!"
***
Disisi lain terlihat kalau Asuna sedang bersiap siap untuk menjemput Tanaka yang berada diasramanya, ketika ia akan keluar kamarnya tiba tiba saja didepan pintu ia melihat Mary sedang menatapnya dengan khawatir.
"Mary-Chan ? kau terlihat khawatir pagi ini, apa terjadi sesuatu padamu ?" tanya Asuna yang melihat Mary saat ini.
__ADS_1
"Asuna-Chan.. apa kau mau membantuku mencari sesuatu ?" tanya Mary dengan wajah serius sambil memegang kedua pundaknya.
"Ba.. Baiklah.. lalu apa yang harus aku cari ?" tanya Asuna dengan gugup dan mulai serius ketika melihat wajah Mary yang serius saat ini.
"Sebuah Wig" balas Mary.
"Ha ? apa ? Wig ?" tanya Asuna yang tidak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini.
"Iya.. jika kau menemukannya segera kabari aku oke" balas Mary yang mulai pergi meninggalkan Asuna yang terdiam disana.
"...."
Asuna yang melihat Mary pergi begitu saja setelah ia meminta dirinya untuk mencarikan sebuah wig yang tidak jelas punya siapa itu.
"Wig ? punya siapa ? dari pada itu mungkin aku harus bertanya pada Tanaka-Kun.. siapa tahu ia mengetahui soal ini" gumam Asuna yang mulai pergi keasrama pria berada.
***
"Ha.. benar benar hari yang indah.." gumam Tanaka yang saat ini berada diatas atap asrama sekolah yang berbaring dikursi pantai sambil menikmati panasnya pagi hari ini.
"Entah kenapa aku tidak ingin pergi kemana mana hari ini dan memilih untuk tidur disini saja" lanjut Tanaka yang melihat awan awan yang bergerak karena terbawa oleh angin diatas sana.
Namun ketika ia sedang menikmati pemandangan ini tiba tiba saja ponselnya mulai berdering, merasakan ini tentu Tanaka langsung mengangkatnya tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
"Halo ?" tanya Tanaka.
"Ohh.. Ohta kah.. aku baik baik saja disini, Asuna selalu memberikan bekal lebih untukku ketika istirahat, dan sepertinya dia baik baik saja" balas Tanaka yang mendengar pertanyaannya Ohta yang begitu banyak.
"Syukurlah kalau begitu, kalau tidak salah besok seharusnya kau pulang bukan ? disini Kanzaki-San dan Yada-San selalu menanyakan keadaanmu sampai sampai mereka berdua terus memaksaku untuk meneleponmu" ujar Ohta yang menjelaskan keadaannya saat ini.
'Apa yang terjadi pada mereka selama aku dan Asuna pergi..' batin Tanaka yang berkeringat dingin ketika mendengar ini.
'Semoga saja mereka tidak membuat masalah baru nantinya, terutama gadis "itu" ' batin Tanaka yang berdoa untuk kebaikan dirinya nanti.
"Ohta-Senpai !! jangan mengatakan hal yang tidak tidak pada Tanaka-Senpai !!" teriak Yada yang suaranya berada dibalik ponselnya Tanaka.
"Ma.. Mahh.. Yada-San.. sabar.. sabar.." ucap Kanzaki yang mencoba menenangkan Yada disana.
"Kau dengar itu bukan, Tanaka ?" tanya Ohta.
"A.. Ahh.. aku mendengarnya dengan jelas.." balas Tanaka dengan gugup ketika mendengar ini.
Semenjak kejadian dimana Tanaka dan Asuna mendapatkan surat dari wali kelasnya untuk menjadi murid pertukaran disana.
Tanaka dan orang orang yang mengetahui ini mulai menjaga rahasia surat ini pada yang lainnya terutama para kohainya yang liar.
Jika Kanzaki dan Yada mengetahui ini mereka pasti akan meminta Ritsu untuk membatalkan pertukaran murid ini.
Sudah dipastikan kalau Ritsu mendengar ini maka dia akan langsung meretas keamanan sekolah ini maupun sekolah itu dengan menambahkan dirinya sebagai perwakilan sekolah ini.
__ADS_1
Tanaka tahu kalau Ritsu ikut soal ini dia pasti akan membuat keributan disini nantinya, memikirkan itu tentu Tanaka hanya bisa memijat keningnya saja.
"Tanaka-Senpai !! jika kau pulang nanti kau harus memberitahukan semuanya pada kami menger-"
Namun sebelum Yada menyelesaikan perkataannya tiba tiba saja Tanaka mulai mematikan teleponnya dan mulai menikmati sinar mataharinya.
"Benar benar merepotkan.." gumam Tanaka dengan lesu.
'Senpai.. kenapa kau merahasiakan ini dariku ?' tanya Ritsu yang menggunakan telepatinya untuk menghubunginya.
'Hmm ? tentu saja untuk menghindari masalah yang kau buat nanti disini' balas Tanaka yang tidak terlalu dengan jawabannya, walau saat ini ia terlihat berkeringat dingin ketika mendengar suaranya.
'Mou.. dasar Senpai bodoh..' balas Ritsu.
'Jika tidak ada yang ingin kau bicarakan, maka aku permisi dulu.. ada yang lebih penting disini' ujar Tanaka yang mulai menutup matanya.
'Bilang saja kalau kau ingin tidur Senpai.. kalau begitu aku pergi dulu, jangan lupa oleh olehnya ya' balas Ritsu yang suaranya mulai menghilang secara perlahan.
Tentu Tanaka yang mendengar ini hanya bisa menghela nafas lega dan mulai memejamkan matanya.
Namun baru saja ia memejamkan matanya tiba tiba saja cuaca menjadi mendung hingga membuat dirinya membuka matanya kembali.
"...."
"Yang benar saja.." gumam Tanaka yang melihat ini secara langsung.
"Tanaka-Kun !?" teriak Asuna yang datang dari belakang, tentu Tanaka yang mendengar ini mulai menoleh kearahnya secara terbalik.
"Ahh.. Asuna, kahh.." balas Tanaka dengan singkat.
"Apa yang kau lakukan disini ? bentar lagi sekolah akan dimulai lohh.." ujar Asuna yang melihat Tanaka sedang bermalasan saat ini.
"Apa yang kau bicarakan ? hari ini sekolah diliburkan" balas Tanaka yang mulai berdiri sambil melipat kembali kursi pantai tersebut.
"Libur ? tunggu dulu.. darimana kau tahu kalau hari ini sekolah diliburkan ?" tanya Asuna yang mulai curiga kalau Tanaka membuat alasan untuk membolos sekolah hari ini.
"Darimana ? tentu saja karena aku meretas kamera CCTV mereka" balas Tanaka sambil menunjukkan rekaman kepala sekolah mengatakan pada para staff untuk belajar mandiri.
"...."
Terlihat kalau Asuna saat ini membuka mulutnya dengan begitu lebarnya.
Tentu ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini Tanaka yang ia tahu sebagai seorang yang selalu lesu memiliki bakat meretas.
Meskipun ia tahu kalau Tanaka memiliki bakat soal komputer, namun ia tidak mengetahui kalau Tanaka juga mengetahui soal programming.
"Tanaka-Kun.. aku rasa perkataan Ohta dan yang lainnya benar soal bakatmu yang terbuang secara percuma itu jika kau melakukan aktivitas seperti ini terus.."
"...."
__ADS_1