The Lazybones Get Dimensional Grup Chat ?

The Lazybones Get Dimensional Grup Chat ?
Chapter 48


__ADS_3

Ruang Guru.


Beberapa hari telah berlalu setelah masa UAS berakhir, terlihat kalau Dazai saat ini sedang berada dikantor bersama Karasuma.


"Ha.. aku tidak menyangka kalau mereka akan benar benar datang kerumahku ketika aku dapat libur tambahan dari pemerintah" gumam Dazai yang saat ini sedang duduk dikantor dengan nada lelah.


"Aku rasa pemerintah benar benar berlebihan mengenai ini, sekali lagi aku minta maaf soal mereka" ujar Karasuma yang menyesal ketika mendengar ini.


"Ha.. entah kenapa aku sudah terbiasa dengan ini" gumam Dazai yang merasa terbiasa dengan tingkahnya Karasuma.


"Jadi.. dari yang aku dengar sebelumnya kalau kalian semua akan mencoba membunuh Koro-Sensei ketika sedang berlibur begitu ?" ucap Dazai sambil menatap kearah Karasuma.


"Ahh.. itu benar dan ini adalah rencana yang kami buat untuk membunuhnya" balas Karasuma sambil memberikan setumpuk kertas padanya.


Dazai yang melihat ini segera mengambilnya dan mulai melihat nya, tentu seiring Dazai melihat ini hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Memang ini adalah rencana skala besar yang belum pernah ada, dan dengan rencana ini kemungkinan 99% akan berhasil bila kalian menggunakan seluruh kelemahannya" gumam Dazai sambil meletakkan tumpukan kertas itu dimejanya.


"Benarkah !?" teriak Karasuma yang terkejut ketika mendengar ini.


"Hmm.. namun apa kau tidak menyadari kenapa aku bilang 99% rencana ini akan berhasil, lalu yang 1% nya ?" tanya Dazai dengan senyum gelapnya.


"Yang berarti kita akan gagal begitu ?" gumam Karasuma dengan serius ketika mendengar ini darinya.


"Benar.. meskipun rencana ini berhasil sekalipun namun saat ini kalian semua terjebak di 1% ini, itu disebabkan karena kalian masih belum meneliti Koro-Sensei dengan benar" lanjut Dazai sambil menunjukkan 1 jarinya pada Karasuma.


Tentu Karasuma yang mendengar ini seketika terdiam sambil melihat rencana mereka semua, apa rencana ini akan gagal lagi.


Namun ketika memikirkan itu tiba tiba saja dia merasakan sentuhan dipundaknya dan mulai melihat kearah Dazai yang saat ini tersenyum kearahnya.


"Sudahlah jangan dipikirkan soal itu, biarkan mereka melakukan rencana ini meskipun itu gagal" ucap Dazai dengan senyum diwajahnya.


"Seperti kata pepatah, kegagalan merupakan pengalaman yang terbaik" lanjut Dazai yang mulai meninggalkannya.


"Meskipun mereka semua gagal tapi mereka mendapatkan pengalaman dari rencana ini bukankah begitu, Karasuma-Sensei ?" ujar Dazai dengan senyum diwajahnya lalu mulai pergi meninggalkannya.


Tentu Karasuma yang mendengar ini hanya bisa tersenyum sambil mengikutinya dari belakang, ia benar benar kagum dengan kepintarannya Dazai bahkan ia sampai memikirkan perasaan murid murid mereka.


***


Terlihat kalau dilapangan semua murid sedang berlatih tembakan mereka dengan gaya menembak mereka masing masing.


Disisi lain Irina saat ini sedang memakai jaket hitamnya dan mulai berdiri di sebelah gurunya yang tidak lain adalah Lovro Mantan Pembunuh yang sekarang menjadi instruktur untuk melatih pembunuh bayaran yang baru.


"Jadi.. dia disini yahh.. Irina ?" tanya Lovro yang penampilannya terlihat seram dengan jubah miliknya.


"Ahh.. sekarang dia sedang mengobrol dengan Karasuma" balas Irina yang mulai melihat kearah gedung sekolah.


Namun ketika Irina sedang menoleh kebetulan ia melihat Karasuma dan Dazai yang sedang berjalan bersama sambil mengobrol saat ini.


"Ahh.. itu mereka" ucap Irina sambil menunjuk Karasuma dan Dazai saat ini.


Tentu Lovro yang mendengar ini mulai menoleh kearah Karasuma yang saat ini sedang berjalan bersama Dazai, langsung saja dia melihat kearah Dazai yang saat ini sedang berjalan sambil memasukkan kedua tangannya pada saku mantelnya.


Tepat ketika Karasuma dan Dazai berhenti ditangga untuk melihat Kelas E sedang berlatih langsung saja angin mulai berhembus hingga menerbangkan rumbaian mantelnya Dazai.


"Jadi dia yahh.." gumam Lovro yang melihat Dazai saat ini.


Lovro yang melihat ini mulai menganalisa Dazai apa benar kalau ia seorang pembunuh atau bukan, disisi lain Dazai yang merasakan tatapannya Lovro mulai tersenyum gelap padanya.


Melihat senyumnya Dazai tentu instingnya mulai berbunyi menyuruhnya untuk lari dari Dazai secepat mungkin jika tidak dia akan mati saat ini.


"Arara~ aku tidak menyangka kalau aku akan melihat orang lain disini" ucap Dazai yang sudah berdiri dibelakang Lovro saat ini.


Tentu Lovro yang mendengar ini mulai menjauhi Dazai secepat mungkin.


'Cepat !!' batin Lovro yang melihat Dazai sudah berada dibelakangnya.


Bukan hanya dia saja yang melihat ini bahkan Karasuma dan Irina yang melihat ini tidak bisa apa apa, bahkan para murid kelas E yang melihat ini pun tidak bisa melihat pergerakannya Dazai.


Disisi lain Dazai yang melihat Lovro menjauh hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, sambil melihat kearah mereka semua.


"Ada apa ini ? kenapa kalian berhenti bukankah kalian sedang berlatih ?" tanya Dazai dengan senyum diwajahnya.


"Ba.. Baik !!" teriak mereka yang mulai melanjutkan pelatihan mereka.


Tentu mereka yang mendengar ini mulai kembali berlatih sesuai ucapannya Dazai, disisi lain Lovro yang melihat ini mulai menenangkan dirinya.


"Jadi kau yang disebut oleh Irina, Dazai bukan ?" tanya Lovro yang mulai mendekatinya dan yang ingin melakukan jabat tangan dengannya.


"Yahh.. itu benar dan maaf sudah membuatmu terkejut dengan aksiku sebelumnya" balas Dazai yang mulai menjabat tangannya Lovro dengan senyum diwajahnya.


"Tidak apa apa.. meskipun kau seorang mantan pembunuh tapi aku tidak pernah mendengarmu" ujar Lovro yang mulai melepas tangannya, begitu juga dengan Dazai.


"Ahh.. soal itu aku hanya memanipulasi semua data milikku itu saja" balas Dazai.

__ADS_1


"Manipulasi ?" tanya Lovro yang sedikit penasaran mengenai ini.


"Yahh.. yang aku lakukan hanya menghapus semua rekam jejak pembunuhan yang aku lakukan dengan memanipulasi internet dan beberapa orang agar aku tidak ketahuan, itulah kenapa kau tidak pernah mendengar namaku, Lovro-San.." balas Dazai sambil tersenyum kearahnya.


Tentu Lovro yang mendengar ini terkejut apalagi ketika mendengar namanya dari mulut Dazai, langsung saja mereka berdua mulai tertawa hingga membuat para murid melihat kearah mereka lagi.


"Aku tidak menyangka kalau kau sangat berbahaya Dazai-Kun, lalu kenapa kau berhenti didunia itu ? dengan kemampuanmu itu aku yakin kau bisa melebihi 'dia' " tanya Lovro yang penasaran mengenai ini.


"Ahh.. soal itu, aku hanya ingin memenuhi janjiku pada guruku itu saja" balas Dazai dengan senyum sedihnya.


Tentu saja suasana diantara mereka berdua menjadi sunyi dan canggung, langsung saja Lovro meminta maaf pada Dazai mengenai ini.


"Maafkan aku.." gumam Lovro dengan nada menyesal.


"Tidak apa apa.. itu wajar bila seseorang ingin tahu" balas Dazai sambil mengangkat kedua bahunya dengan santainya.


"Lovro-San ada yang ingin kutanyakan padamu" sahut Nagisa yang mulai berjalan kearah mereka berdua.


Tentu Dazai dan Lovro yang mendengar ini mulai melihat kearah Nagisa, disisi lain Lovro yang melihat Nagisa mulai terkejut namun masih mempertahankan sikapnya.


"Ada apa ?" tanya Lovro dengan nada beratnya.


"Seperti apa pembunuh paling hebat menurut anda ?" tanya Nagisa yang penasaran soal ini.


"Apa kau tertarik dengan dunia pembunuh ?" tanya Lovro yang sedang menilai bakatnya Nagisa dalam penglihatannya.


"Ahh.. itu.. bukan begitu.." balas Nagisa tanpa melihatnya.


"Hmm.. sebelumnya aku ingin memberitahukanmu kalau 'dia' adalah pembunuh terhebat yang aku ketahui" ucap Lovro dengan nada berat seperti biasanya.


"Namun setelah melihat secara langsung aku yakin kalau Dazai-Kun adalah orangnya" lanjut Lovro yang melihat kearah Dazai yang saat ini sedang tersenyum kearah Nagisa.


Tentu Nagisa yang mendengar ini mulai menoleh kearahnya, begitu juga dengan yang lainnya setelah mendengar ini dari mulutnya Lovro.


"Yahh.. aku tidak menyangka kalau kau menilaiku secara berlebihan seperti itu, Lovro-San" sahut Dazai sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


"Tidak.. itu adalah kenyataannya" gumam Lovro sambil tersenyum ketika melihat tingkahnya Dazai.


"Mahh.. yang lebih penting lagi kenapa kau tidak mengajarkan salah satu teknik rahasia pembunuh pada Nagisa" sahut Dazai sambil menepuk pundaknya Nagisa.


"Teknik rahasia ?" tanya Nagisa yang merasakan sentuhan dipundaknya.


"Hmm.. sepertinya kau juga menyadarinya yahh.. kau tidak bisa membuatku untuk berhenti terkejut mengenai aksimu, Dazai-Kun" sahut Lovro yang benar benar kagum dengan aksinya Dazai.


"Kalau itu entahlah" balas Dazai dengan santainya.


Tentu Nagisa yang melihat ini mulai melihat kearah Dazai, melihat ini Dazai hanya menganggukkan kepalanya saja lalu mendorongnya untuk mengikuti Lovro.


Melihat ini langsung saja Nagisa mulai mengikutinya, melihat Nagisa sudah pergi Dazai hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Apa ini tidak apa apa ?" tanya Karasuma yang mulai mendekatinya.


"Tidak apa apa.. aku yakin itu tidak berbahaya kok" balas Dazai dengan senyum misteriusnya.


Tentu baik Karasuma dan Irina yang melihat ini hanya membiarkannya saja, namun tiba tiba saja Hayami datang kearah Dazai dan menanyakan sesuatu padanya.


"Dazai-Sensei.." panggil Hayami dengan penasaran saat ini.


"Ya ? Hayami-San ?" tanya Dazai yang melihat Hayami datang padanya, begitu juga dengan Chiba.


"Bisakah kau mengajari kami teknik menembakmu yang waktu itu ?" tanya Hayami dengan serius.


"Hmm.. " gumam Chiba yang setuju dengan perkataan Hanami.


"Hmm.. baiklah.. tapi kalau yang itu aku rasa kalian tidak bisa, tapi aku bisa mengajarkan ini pada kalian" balas Dazai dengan senyum diwajahnya.


Tentu mereka berdua sempat kecewa ketika Dazai tidak bisa mengajarkan teknik itu pada mereka, namun itu hanya sementara karena Dazai akan memberitahukan cara lain pada mereka.


Langsung saja Dazai mulai mengambil pistol milik Hayami dan mulai menembak kearah atas dengan sudut 73°kedepan.


Tentu mereka yang melihat ini awalnya hanya terdiam karena tidak terjadi apa apa, namun tiba tiba saja target Koro-Sensei yang jaraknya sekitar 200 meter itu mulai lepas dari talinya dan mulai terjatuh ketanah.


Tentu mereka yang melihat ini seketika terdiam dengan apa yang mereka lihat saat ini, langsung saja mereka melihat kearah Dazai dengan tatapan tidak percaya.


"Aku akan mengajarkan ini pada kalian, tentu bukan hanya itu saja bahkan senapan jarak jauh pun akan aku ajarkan pada kalian" sahut Dazai sambil memberikan pistolnya pada Hayami.


Tentu Hayami yang melihat ini mulai menerima pistolnya.


"Jadi jangan mengendorkan latihan kalian mengerti ?" lanjut Dazai sambil tersenyum menyeringai kearah mereka.


Tentu mereka yang mendengar ini hanya menganggukkan kepala mereka saja, walau sedikit enggan ketika melihat senyumnya Dazai.


"Ahh.. Lovro-San akan aku beri satu saran untukmu dimasa depan nanti" sahut Dazai yang mulai melihat kearah Lovro saat ini.


"Ya ?" balas Lovro dengan bingung

__ADS_1


"Hati hati dengan jarinya 'dia'" sahut Dazai dengan senyum diwajahnya.


***


Beberapa hari telah berlalu dan saat ini Dazai dan yang lainnya sedang berada di kapal pesiar sambil melihat pemandangan laut.


Disisi lain Koro-Sensei saat ini sedang mabuk kendaraan, terlihat kalau ia sedang menyandarkan diri pada tiang penahan bersama Dazai yang saat ini sedang bersandar dengannya.


"Sepertinya kau mabuk kendaraan yahh.. Koro-Sensei"


Terlihat kalau Dazai yang saat ini sedang menggunakan celana pendek putih dengan baju hawai berwarna kuning dan kacamata hitam dikepalanya.


"Ha.. benar.. Dazai-Sensei.. aku merasa.. kalau isi kepalaku akan keluar bila disini terus" balas Koro-Sensei dengan wajah birunya.


"Ahh.. Koro-Sensei ayo bangun !! pulaunya sudah kelihatan lohh !!" sahut Kurahashi dengan semangatnya sambil menebas Koro-Sensei walau ia masih dapat menghindarnya ketika sedang mabuk.


"Enam jam dari tokyo" sahut Sugino dengan semangat.


"Tempat untuk membunuh Koro-Sensei" lanjut Maehara dengan senyum diwajahnya.


"Terletak dipulau itu !!" teriak mereka yang melihat pulau saat ini.


"Hee.. Resor Hotel Pulau Fukuma, kahh.." gumam Dazai yang bersandar bersama Koro-Sensei ketika melihat pulau itu.


"Ahh.. disitulah kita akan membunuhnya" balas Karasuma sambil menebas Koro-Sensei yang sedang mabuk saat ini walau itu percuma.


"Kalau begitu.. semoga beruntung soal itu" ujar Dazai yang mulai berdiri lalu pergi ke dek yang lumayan sepi untuk berjemur.


"Ahh.. doakan kami" balas Karasuma yang melihat Dazai pergi saat ini.


"Eto.. Karasuma-Sensei, apa Dazai-Sensei tidak akan ikut membantu kita ?" tanya Kurahashi yang melihat Dazai pergi.


"Tidak.. biarkan saja dia, lagipula kalian sudah mendapatkan ajaran langsung darinya, bukan ?" tanya Karasuma yang melihat Kurahashi dan yang lainnya.


"Benar !!" teriak mereka pada Karasuma dengan semangat.


"Jadi jangan kecewakan dia mengerti !!" balas Karasuma sambil tersenyum ketika melihat ini, begitu juga Irina.


"MENGERTI !!" teriak mereka dengan penuh semangat.


Disisi lain Dazai yang mendengar ini hanya tersenyum sambil menatap langit biru saat ini dengan tenangnya.


'Apa yang mereka lakukan disana yahh..' batin Dazai yang memikirkan Asuna dan yang lainnya saat ini.


***


Kimetsu no Yaiba World.


Terlihat kalau dimansion kupu kupu ada seorang gadis berambut coklat sedang duduk sila sambil menarik nafas panjang dan membuangnya secara perlahan.


"Asuna-San.. waktunya makan malam" sahut gadis berambut hitam dengan bola mata berwarna biru memanggil nama Asuna.


"Baiklah Aoi-Chan.." balas Asuna dengan senyum diwajahnya.


Langsung saja mereka berdua pergi ke meja makan untuk makan malam bersama, terlihat kalau ada Lala juga disana melihat ini langsung saja Kanae mulai memanggilnya.


"Asuna-San !! bagaimana kalau kita makan dulu ? kau terlihat kelelahan" tanya Kanae dengan senyum diwajahnya ketika melihat Asuna datang.


"Baiklah.." balas Asuna yang mulai duduk disana dengan senyum diwajahnya.


Setelah Asuna duduk langsung saja mereka mulai makan bersama dengan bahagia disana, setelah makan langsung saja Asuna, Kanae dan Lala mulai mengobrol mengenai misi mereka.


"Jadi.. apa kau sudah selesai membuat 'itu' Lala-San ?" tanya Kanae dengan penasaran.


"Yahh.. kita berhasil, semua itu berkat adikmu Shinobu dia benar benar berbakat setelah aku memberi tahukan langkah langkahnya" balas Lala dengan ceria sambil memakan cemilan pemberian Tanaka.


"Ha.. syukurlah kalau mimpi buruk didunia ini akan segera berakhir" gumam Kanae sambil menghela nafas dengan leganya.


"Terima kasih Lala-San, Asuna-San sudah datang kemari" lanjut Kanae yang segera membungkukkan badannya pada mereka.


"Ahh.. Kanae-San kau tidak perlu membungkukkan badanmu pada kami, justru akulah yang harusnya berterima kasih padamu karena telah mengajarkanku teknik pernafasan itu padaku" balas Asuna dengan panik ketika melihat ini.


"Benar.. lagipula kita adalah teman jadi sudah sewajarnya kita saling membantu, bukan ?" lanjut Lala dengan senyum diwajahnya.


Kanae yang mendengar ini menganggukkan kepalanya ketika melihat ia memiliki 2 teman yang hebat seperti mereka.


"Benar.. tapi aku tidak menyangka kalau Asuna-San memiliki bakat dalam teknik pernafasan, padahal baru 1 bulan yang lalu kalian kemari" sahut Kanae yang melihat bakatnya Asuna.


"Ahh.. kalau itu mungkin karena aku dari dulu sudah dilatih bermain anggar ketika aku berumur 8 tahun" balas Asuna yang mencoba untuk merendahkan dirinya pada Kanae.


"Meskipun begitu kau tetap saja berbakat Asuna-San, bahkan dengan bantuan Lala-San kemampuan bertarung kita semakin tajam" lanjut Kanae dengan senyum diwajahnya.


"Ahahaha.. itu bukan apa apa" balas Lala sambil memakan kuenya dengan bahagia.


"Jadi.. ini sudah waktunya bukan untukmu pergi melakukan ujian itu Asuna-San ?" tanya Kanae dengan tatapan serius namun masih mempertahankan senyumnya.

__ADS_1


"Hmm.." balas Asuna sambil menganggukkan kepalanya.


"Semoga kau beruntung disana, Asuna-San"


__ADS_2