
Malam hari lebih tepatnya diasrama pria terlihat kalau Nomura dan Maskodera sedang makan dimeja, namun entah kenapa Nomura mulai menggigil ketika memakan makan malamnya.
"Ada apa ?" tanya Maskodera yang melihat tingkah Nomura saat ini.
"Tidak ada.. cuma perasaanku saja yang tidak enak" balas Nomura yang mulai melanjuti makannya.
"Ngomong ngomong.. dimana Tanaka ? aku tidak melihat dirinya dikamarnya" tanya Maskodera yang juga ikut memakan makanannya.
"Ahh.. katanya dia ingin jalan jalan sebelum tidur, mungkin karena hari ini dia mengalami hari yang berat karena kepopulerannya setelah festival itu" balas Nomura yang mengingat kejadian tadi siang dimana para gadis terus mengikuti mereka.
"Kemana ?" tanya Maskodera dengan penasaran.
"Entahlah.. aku juga tidak tahu.."
***
Asrama Perempuan, Kamar Asuna.
"Ha.. pada akhirnya dia tidak menyadari aku memakai ini" gumam Asuna yang sedang duduk sambil memegang klip rambutnya dengan raut wajah sedih.
"Tentu saja aku menyadarinya"
Terlihat seseorang sedang duduk disebelah kanannya Asuna sambil meminum kopi kaleng miliknya.
"Ha.. entah sejak kapan aku mulai terbiasa dengan kedatanganmu yang tiba tiba seperti ini, Tanaka-Kun.." balas Asuna yang menghela nafasnya dengan lelah sambil memijat keningnya.
Tentu orang yang berada disebelah Asuna tidak lain adalah Tanaka yang sedang berkunjung ke asramanya menggunakan teleportasi miliknya.
"Terima kasih.." ujar Tanaka dengan berbinar ketika melihat Asuna sudah terbiasa dengan tingkahnya.
"Dan juga kau terlihat cantik ketika tidak memakai clip rambut itu, sudah kuduga kalau tampil alami memang cocok untukmu" lanjut Tanaka yang mulai meminum kopinya.
Asuna yang mendengar ini membelakkan matanya ketika Tanaka mengatakan hal seperti itu padanya hingga rona merah muncul diwajahnya.
"Te.. Terima kasih.." gumam Asuna yang menoleh kearah lain karena tidak ingin ditatap oleh Tanaka saat ini.
Namun ketika Asuna sedang menghindari tatapannya Tanaka tiba tiba saja kepalanya ditarik oleh Tanaka hingga ia bersandar pada pundaknya Tanaka saat ini.
"Ahh.. santai saja.. lagipula kau adalah tunanganku" balas Tanaka dengan senyum penuh arti pada Asuna.
Sedangkan Asuna yang mendengar ini mulai terdiam dan segera memejamkan matanya dengan senyum diwajahnya.
Tanaka yang tidak mendengar jawaban Asuna hanya bisa tersenyum sambil mengelus kepalanya Asuna dengan tangan yang ia pakai untuk menariknya.
Merasakan ini tentu Asuna mulai menikmati usapan Tanaka yang begitu hangat baginya.
Tentu suasana mereka terlihat begitu romantis melihat betapa dekatnya Tanaka dan Asuna saat ini, apabila ada seseorang melihat mereka mungkin mereka akan mati karena cemburu melihat kemesraan mereka.
Namun ketika Asuna sedang menikmati momen ini tiba tiba saja ia mulai menyadari perkataan Tanaka yang ia katakan sebelumnya hingga membuat Asuna membuka kedua matanya.
"Tunangan ?" tanya Asuna dengan bingung.
"Hmm.. tunangan, aku sudah membicarakan ini pada kedua orang tuamu sebelum kesini, dan mereka menyetujuinya" balas Tanaka sambil menunjukkan pesan yang Tanaka dan ayahnya Asuna padanya.
Asuna yang mendengar ini mulai mengambil ponselnya Tanaka dan melihat isi pesan itu dan benar sesuai perkataannya Tanaka kalau ia mendapatkan izin dari ayah dan ibunya.
Ketika melihat ini tiba tiba saja ponselnya berdering hingga membuatnya mereka menoleh kearah ponselnya Asuna yang berada diatas meja.
Langsung saja Asuna mulai mengambilnya dan segera mengangkat teleponnya tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
"Halo ?" tanya Asuna pada penelepon itu dan segera menjauhi Tanaka ketika menelepon orang tersebut.
"Yahh.. Asuna, apa kau sudah mendengar beritanya ?" balas Ayahnya Asuna yang berada dibalik telepon itu.
Tentu Tanaka yang melihat ini hanya mengabaikannya saja dan melanjutkan minumnya hingga Asuna selesai menelepon ayahnya tersebut.
__ADS_1
Setelah Asuna selesai menelepon ayahnya, tentu ia mulai mematikan ponselnya dan segera menurunkan tangannya dari telinganya, terlihat kalau Asuna masih tetap berdiri disana tanpa bergerak sama sekali.
"Asuna ? apa itu ayah mertua ? bagaimana kabarnya " tanya Tanaka yang mulai mengintip isi kaleng kopinya ketika kopinya sudah habis tak tersisa.
Asuna sendiri yang mendengar ini tentu tidak menjawabnya dan mulai berjalan pada Tanaka dan mulai duduk dipangkuannya Tanaka sambil menghadap kearahnya.
Tentu Tanaka yang merasakan ini mulai menoleh kearah Asuna yang sedang menatap Tanaka dengan penuh cinta, jika dilihat lebih dekat ia akan melihat setetes air mata mengalir disana.
Belum juga Tanaka mengeluarkan kata katanya ia tiba tiba saja dicium oleh Asuna hingga ia terkejut ketika merasakan ini dan mulai menikmati ciumannya.
Namun Tanaka kembali terkejut ketika Asuna menggigit bibirnya dan mulai memasukkan lidahnya kedalam mulutnya dan mulai memainkan lidahnya Tanaka.
Merasakan ini Tanaka hanya bisa menerimanya dan mulai melanjuti ciumannya dengan Asuna sambil menuntunnya ketika merasakan ciuman Asuna yang masih kaku itu.
Mereka melakukan sesi ciuman itu hingga 5 menit lamanya, langsung saja mereka mulai melepas ciuman mereka dan mulai menatap satu sama lain dengan mata penuh cinta.
"Nee.. Tanaka-Kun.. ambil aku.." bisik Asuna yang tidak bisa menahan dirinya lagi ketika sesi ciuman sebelumnya.
"Asuna.." gumam Tanaka yang melihat Asuna mulai termakan oleh nafsunya saat ini.
"Maaf.. tapi kita sedang di asrama jadi sebaiknya kita melakukannya lain kali saja.." balas Tanaka yang mulai mencium pipinya Asuna yang saat ini dialiri air mata sebelumnya.
Walau Tanaka sempat tergoda namun ia memilih untuk menahan dirinya, karena mereka berada ditempat yang tidak diuntungkan.
"Mou.." balas Asuna yang mengembungkan pipinya ketika mendengar ini.
"Setelah mendengar ini kau jadi berani yahh.. dasar mesum.." ucap Tanaka yang mulai menepak pantatnya Asuna dengan keras.
PLAAKK !!
"Ahh~~" desah Asuna yang wajah memerah ketika merasakan tepakan tangannya Tanaka.
Tentu Asuna yang secara tidak sengaja mengeluarkan suara seperti itu mulai menutup mulutnya dengan malu dan mulai melihat kearah Tanaka dengan tatapan kosong saat ini.
"A.. Aku tidak menyangka kalau kau itu.. Ma.. Masokis.. Asuna.."
***
Keesokan harinya terlihat kalau Tanaka dan Asuna sedang berjalan menuju asrama mereka setelah jam jam pelajaran mereka yang begitu panjang.
Namun siapa yang menyangka kalau seharian ini mereka tidak melihat Nomura, Mary dan Rin hingga sore ini, tentu hal ini membuat mereka merasa ada yang aneh disini.
"Nee.. Tanaka-Kun, apa kau tidak sadar kalau kita dari tadi tidak melihat Mary-Chan dan yang lainnya ?" tanya Asuna yang berjalan tepat disebelah Tanaka.
"Ahh.. kau benar aku tidak melihat mereka hingga saat ini.." sahut Tanaka yang juga berjalan bersamanya sambil melihat sekitar.
"Namun.. semenjak kemarin.. aku juga merasa ada beberapa orang yang sedang mengawasi kita hingga saat ini" gumam Tanaka yang melihat sekitarnya.
Dari awal Tanaka sudah mengetahui kalau orang yang sedang mengawasinya adalah perempuan, namun sepertinya mereka mengawasi dirinya pasti memiliki niat tersembunyi.
"Ahh.. aku juga merasakannya.." gumam Asuna yang mengeluarkan tongkat rapiernya.
Tentu mereka yang sedang mengawasi Tanaka dan Asuna mulai keluar sambil membawa tongkat bambu pendek ditangan mereka.
Terlihat kalau ada 3 orang didepan mereka dan 2 lagi dibelakang sedang menggunakan topeng, terlihat kalau mereka sedang menggumamkan sesuatu.
"Ten.. sou.. metsu.."
"Ten.. sou.. metsu.."
Terlihat kalau salah satu dari mereka mulai menembakkan sebuah jarum dari tongkat itu pada Asuna, melihat ini langsung saja Asuna mulai menangkisnya menggunakan tongkat rapiernya.
TAKK !!
"Jarum ? dan sepertinya itu beracun.. walau itu berfungsi untuk melumpuhkan musuh saja.." gumam Tanaka yang melihat jarum itu melesat pada Asuna.
__ADS_1
SHIIINGG ~~ !!
"Tanaka-Kun.. aku serahkan yang dibelakang padamu.." ujar Asuna yang mulai berjalan kearah mereka bertiga sambil mengeluarkan rapiernya.
"Ahh.." balas Tanaka yang langsung menggunakan Haki miliknya dan mulai melihat kearah 2 orang yang ada dibelakangnya saat ini.
Tentu mereka yang melihat tatapan tajam dari Tanaka mulai kehilangan kesadaran mereka dan terjatuh pingsan karena Haki miliknya.
"Beres.." gumam Tanaka yang melihat kedua gadis itu terjatuh saat ini.
Disisi lain Asuna yang sedang berjalan kearah mereka dengan santainya, tentu mereka bertiga yang melihat ini mulai waspada karena lawan mereka memegang senjata saat ini.
Namun ketika mereka sedang mewaspadai Asuna tiba tiba saja mereka mendengar suaranya tepat dibelakang mereka.
"Teknik Pernafasan Cahaya.." gumam Asuna yang berjalan disana sambil memasukkan rapiernya secara perlahan.
Tentu mereka bertiga yang melihat ini mulai menyerang Asuna yang sedang berdiam diri disana.
"Bentuk Pertama : Tebasan Cahaya" lanjut Asuna yang sudah memasukkan rapiernya pada sarungnya.
Terlihat ada sebuah sobekan muncul dibaju mereka, tentu sobekan itu merupakan serangan super cepat yang sudah Asuna kembangkan.
Mereka yang merasakan serangan Asuna mulai terjatuh pingsan, Tanaka yang melihat Asuna sudah menyelesaikan urusannya mulai berbicara padanya.
"Kau tidak membunuh mereka, kan ?" tanya Tanaka dengan nada bercanda, walau ia sedikit gemetar ketika melihat teknik pedangnya Asuna.
"Tentu saja tidak.. lagipula aku menggunakan bagian tumpulnya ketika menyerang mereka" balas Asuna yang langsung menoleh kearah Tanaka.
Terlihat kalau ia juga sudah selesai dengan kedua gadis itu tanpa kekerasan sama sekali, melihat ini langsung saja ia mulai mendekatinya.
"Namun tetap saja teknik pernafasanmu itu sangat mengerikan bagi mereka, Asuna.." gumam Tanaka yang melihat ketiga gadis itu terjatuh pingsan disana karena serangannya Asuna.
"Ha.. kau tahu.. hanya serangan itu saja yang bisa aku berikan pada mereka" balas Asuna yang menghela nafasnya dengan lelah ketika memikirkan teknik pernafasannya tanpa membunuh mereka.
"Mahh.. yang penting kita menyelesaikan masalah ini.. tapi.. aku merasa akan terjadi sesuatu disekolah ini nantinya" ujar Tanaka yang melihat para gadis terbaring diatas tanah saat ini.
"Ahh.. kau benar.." balas Asuna yang setuju dengan Tanaka.
"Kalau begitu ayo kita jalan jalan saja disekolah ini" ajak Tanaka yang mulai berjalan menuju arah yang berlawanan dari asramanya.
"Lalu bagaimana dengan mereka ?" tanya Asuna yang melihat kelima gadis itu saat ini.
"Biarkan saja.. lagipula 'dia' akan datang membawa mereka berlima kesini.. atau tidak.. siapa yang peduli" balas Tanaka yang masih meneruskan langkah kakinya.
Asuna yang melihat ini mulai menyusulnya dan meninggalkan kelima gadis itu disana, karena ia tahu kalau perkataannya Tanaka pasti akan terjadi nantinya.
Disisi lain ketika Tanaka dan Asuna sudah pergi dari sana terlihat ada seorang gadis yang sedang bersembunyi dibalik pohon tidak jauh dari lokasi penyerangan yang dialami oleh Tanaka dan Asuna sebelumnya.
Ia mulai keluar dan melihat kelima gadis itu yang terbaring kehilangan kesadaran mereka, tentu gadis itu tidak lain adalah Kirukiru Amou, Sang Permaisuri sekolah ini.
Langsung saja ia mendekati salah satu gadis yang sebelumnya ditebas oleh Asuna dan melihat luka yang dialami gadis itu.
Meskipun tidak ada darah disana namun ia dapat melihat luka tebasan yang terpampang ditubuh gadis itu tidak cukup dalam.
Seolah olah ia sudah tahu kalau Asuna sedang menahan dirinya untuk tidak membunuh melihat tebasan yang ia keluarkan sangat presisi.
"Serangan itu.. tatapan itu.." gumam Amo yang saat ini masih mengobservasi luka gadis itu, lalu melihat kearah Tanaka dan Asuna pergi sebelumnya.
"Siapa mereka sebenarnya ?" lanjutnya sambil mengepal tangannya ketika melihat semua ini.
Tentu bukan Amou saja yang sedang berada disana, jauh dari lokasi Amou saat ini terlihat gadis berambut putih panjang yang dikepang itu sedang berdiri sambil bersandar pada pilar sekolah sambil mengeratkan pegangan pedangnya.
Tentu gadis itu adalah Tsukuyo Inaba yang sedang mengawasi Amou atas perintah kepala sekolah itu sendiri.
Mendengar perkataannya Amou, Inaba hanya tersenyum dan mulai pergi dari sana dengan perasaan bahagia mendengar gadis itu mulai merasakan perasaan khawatir pada murid pertukaran itu.
__ADS_1
"Jadi dia datang yahh.."