The Lazybones Get Dimensional Grup Chat ?

The Lazybones Get Dimensional Grup Chat ?
Chapter 32


__ADS_3

Asuna POV.


"Asuna.. aku menyukaimu" ujar Tanaka dengan wajah seriusnya.


"Ehh.." tentu aku yang mendengar ini terkejut dengan apa yang Tanaka ucapkan sebelumnya.


Namun tiba tiba saja Tanaka mulai menikamku dengan pisau berwarna hitamnya, tentu aku yang merasakan ini mulai melihat kearah Tanaka.


"Ta.. Tanaka-Kun kenapa ?" tanyaku sambil menatap kearah Tanaka dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang dia lakukan terhadapku.


"Maaf.." gumam Tanaka dengan raut wajah sedih.


'Kenapa.. Kenapa.. Kenapa kau menunjukkan raut wajah sedih itu padaku Tanaka-Kun kenapa.. padahal aku mempercayaimu'


Namun sebelum aku mengeluarkan kata kataku tiba tiba saja tubuhku mulai diselimuti oleh sesuatu hingga seluruh pandanganku menjadi gelap.


'Apa.. ini.. apa aku mati setelah mendengar pengakuannya Tanaka-Kun..'


'Kenapa dia melakukan hal ini jika dia menyukaiku..'


'Kenapa..'


***


Ketika sedang memikirkan itu tiba tiba saja aku membuka mataku dan mulai melihat sekelilingku yang saat ini gelap tidak ada cahaya sama sekali.


Tentu melihat ruangan gelap ini aku mulai bangun dari tidurku dengan panik ketika melihat aku tidak bersama Tanaka saat ini.


Namun ketika aku bangun tiba tiba saja aku menyadari kalau luka yang Tanaka berikan padaku sudah hilang atau tidak pernah terjadi sebelumnya.


Melihat ini langsung saja aku mencoba untuk menyentuh bekas tusukan pisau yang Tanaka berikan padaku, namun aku tidak merasakan apapun ketika menyentuhnya.


"Tidak ada.. kenapa.. dan dimana ini.." gumamku sambil berdiri melihat seluruh ruangan yang isinya hanya ruangan gelap seperti malam bahkan lebih gelap dari malam itu sendiri.


"Tanaka-Kun.. siapa kau sebenarnya ? dan kenapa kau menikamku jika kau menyukaiku ? kenapa ?" tanyaku pada diri sendiri ketika mengingat kejadian itu.


Namun ketika aku sedang berbicara sendiri tiba tiba saja aku mendengar suara seseorang dari belakang ku.


"Hahaha.. rasakan itu dasar sampah !!" tawa sesorang yang membuatku langsung menoleh kebelakang.


Tiba tiba saja suasana gelap yang aku rasakan mulai berubah menjadi sebuah kota kecil dan beberapa rumah yang terlihat sudah tua saat ini.


Ketika aku menoleh kebelakang terlihat kalau ada beberapa anak kecil berumur 7 sampai 8 tahun sedang melemparkan batu kepada anak kecil berambut putih disana.


"Hahaha.. lihat si albino bahkan memakan sampah dari pendeta berikan padanya" sahut anak itu yang mulai melempar beberapa batu kepadanya anak berambut putih.


Bahkan anak anak yang lain yang ikut melemparkan batu itu kearah anak berambut putih itu, baik itu laki laki maupun perempuan mereka tetap melemparinya.


Disisi lain anak berambut putih itu hanya menghiraukan batu batu itu dan memakan buah buah busuk itu dengan lahapnya tanpa mementingkan rasanya.


Terlihat kalau penampilan anak berambut putih itu seperti anak yang tidak diurus dengan baik terlihat dari baju compang campingnya dan juga rambut putih panjang yang tidak pernah terawat itu.


Mungkin jika dilihat kalau anak itu sekitar umur 6 tahun saat ini.


"Hahaha.. mati saja sampah !!"


"Kau tidak pantas hidup !! dasar albino !!"


"Kau hanya pengganggu dimata kami pergilah !!"


"Benar !! pergilah kau hanya hama disini !!"


Tentu aku yang melihat ini tidak tahan dan segera menangkap salah satu lengan anak kecil yang ingin melempar baru itu pada anak berambut putih itu.


Namun apa yang terjadi membuatku terkejut karena sebelum aku menyentuh tangan anak itu tiba tiba saja tanganku mulai menembus tangan anak itu.

__ADS_1


"Apa.." ucapku yang tidak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini dan mulai menutup mulutku ketika melihat ini.


Langsung saja aku mulai melakukannya lagi dan kejadian tadi terulang lagi, melihat ini aku mulai melihat kearah tanganku.


"Apa semua ini hanyalah ilusi ?" tanyaku yang kembali melihat anak anak itu masih melempar batu kearahnya.


Tepat ketika aku melihat hal ini tiba tiba saja aku mendengar suara perempuan sedang berbicara dengan orang lain.


"Ha.. kenapa pendeta itu mau mengurus anak ini sih.. jelas jelas dia hanya akan tersiksa oleh anak anak lain" ucap seseorang sister yang menatap kearah anak berambut putih itu dengan tatapan kasihan.


"Ha.. entahlah aku juga tidak tahu soal itu" balas sister yang saat ini sedang mengobrol dengannya.


Tentu Asuna yang melihat ini seketika terdiam dengan apa yang ia lihat saat ini, ia tidak percaya kalau para sister atau biarawati itu hanya menontonnya saja tanpa membantunya sama sekali.


"Kenapa.. kenapa mereka tidak menolongnya.." ucapku yang tidak percaya ketika melihat ini.


Namun ketika melihat ini tiba tiba saja adegan lain mulai berganti dimana anak berambut putih itu sedang memakan daging tikus utuh terlihat ada sebuah pisau dengan bercak darah disebelahnya.


"Urrgghh..." melihat ini aku hanya bisa muntah ketika melihat apa yang anak berambut putih itu makan saat ini.


"Aku tidak tahan melihat ini.. siapapun tolong.. tolong anak itu.. aku mohon.." gumamku yang melihat betapa malangnya nasib anak itu.


Tepat ketika aku mengatakan itu tiba tiba saja seorang wanita berumur 22 tahun dengan pakaian jas rumbainya datang kearah anak kecil itu sambil membawa kantong kertas ditangannya.


"Oii.. bocah minggir, kau menghalangi jalanku" ucap wanita itu dengan kasarnya sambil menatap kearah anak kecil itu.


Sedangkan anak rambut putih itu hanya menghiraukannya saja sambil melanjuti makan daging tikusnya, tentu wanita yang melihat ini mulai merasa tidak nyaman dan mulai menendang daging yang sedang dimakan anak kecil itu.


"Menjijikkan.. setidaknya makanlah roti atau buah" balasnya dengan sarkas sambil mengambil sesuatu dikantongnya.


Namun sebelum wanita itu mengeluarkan sesuatu tiba tiba saja anak rambut putih itu mulai mengambil pisau itu dan mulai menyerang wanita itu.


Tentu wanita yang melihat ini segera menghindarinya dengan tatapan terkejut ketika melihat anak kecil itu memegang pisau saat ini.


"Woo.. pisau itu berbahaya kau ta-" namun sebelum menyelesaikan perkataannya tiba tiba saja anak itu kembali menyerang wanita itu secara bertubi tubi.


"ARGGGHHH !!" rintih anak kecil itu yang saat ini sedang kesakitan karena ditendang saat ini.


Setelah ia batuk beberapa kali tiba tiba saja ia mulai menatap wanita itu dengan mata tajamnya, disisi lain wanita itu yang melihat ini mulai tersenyum menyeringai padanya.


"Bocah !? aku menyukai tatapanmu jadilah anakku !?" ucap wanita itu dengan nada senang.


***


"Uhuk.. uhuk.. apa itu ? dan siapa anak kecil itu ?"


Aku yang segera berdiri sambil mengelap bekas muntahan yang aku keluarkan sebelumnya.


Namun anehnya isi muntahan yang aku keluarkan sebelumnya tidak pernah ada dilantai yang aku pijaki saat ini.


"Apa yang sebenarnya terjadi disini ?" ucapku sambil melihat seluruh ruangan ini yang mulai berubah menjadi gelap lagi.


Ketika aku sedang melihat ini tiba tiba saja aku mengingat tentang perkataan Tanaka yang akan memberitahukan semua rahasia yang ia pegang.


"Tanaka-Kun.. rahasianya.. apa jangan jangan ini adalah ingatannya !?" ucapku yang mulai terkejut ketika mengingat perkataanya Tanaka sebelumnya.


Ketika aku terkejut dengan apa yang terjadi seblumnya tiba tiba saja ruangan gelap itu mulai berganti kembali menjadi sebuah kamar dengan isi buku diseluruh ruangan tersebut.


"Apa ini.. perpustakaan ?" ucapku yang mulai terkejut kembali melihat buku buku ini.


"Rian.. dimana kau ?!" teriak seorang wanita yang saat ini sedang memanggil seseorang diperpustakaan ini.


Tentu aku yang mendengar suara ini mulai menoleh kalau suara itu memang suara wanita yang ia lihat sebelumnya, terlihat kalau wanita itu sedang menggunakan jas lab nya.


Ketika aku melihat wanita itu tiba tiba saja suara hentakan kaki mulai terdengar dan menampilkan anak berumur 9 tahun dengan rambut berwarna putih.

__ADS_1


Terlihat kalau lengan kanannya saat ini diperban oleh gips, terutama matanya kanannya yang juga ikut diperban saat ini.


Bahkan baju bekas yang ia gunakan sebelumnya sudah berganti dengan baju setelan jas, namun jasnya tidak ia pakai melainkan ia gunakan seperti sebuah jubah.


"Dia.. anak kecil yang sebelumnya" gumamku yang melihat anak kecil itu yang tidak lain adalah Rian dari wanita itu bicarakan sebelumnya.


"Sensei.." ucapnya dengan wajah datar dan mata kosong.


Tentu aku yang mendengar suaranya terkejut walau terkesan datar dan hampa, meskipun begitu tapi suaranya tetaplah lembut dan enak didengar kapanpun ia berbicara.


"Sepertinya kau tidak berubah sama sekali selain wajahmu saja Rian.. dan berapa kali aku bilang padamu panggil aku Ozaki-Sensei" ucap wanita itu sambil menepuk keningnya ketika melihat tingkah Rian saat ini.


"Baiklah.. Sensei.." balas Rian dengan wajah datarnya.


"Ha.. sudahlah ikuti aku dan bawa ini" sahut Ozaki yang memberikan kopernya pada Rian.


Sedangkan Rian yang melihat ini mulai mengangkatnya menggunakan tangan kirinya dan mulai mengikuti Ozaki dibelakangnya.


Aku yang melihat ini mulai mengikuti mereka berdua menuju suatu tempat, terlihat disepanjang jalan aku mulai melihat beberapa furniture seperti lukisan, vas, dan lain lainnya disana.


Setelah cukup lama mereka berdua berjalan langsung saja mereka mulai masuk kedalam sebuah ruangan tepat dihadapan mereka saat ini.


Tentu aku yang melihat ini mulai mengikuti mereka masuk, terlihat ada sebuah kasur besar didalam sana, bahkan ada seorang kakek tua berbaring diatas kasur.


Terlihat kalau tubuh Kakek tua itu sudah mengering namun masih terdengar suara nafas disana.


"Ini.. dikamar ? dan sepertinya itu adalah gerhana bulan, kalau tidak salah namanya Super Blood Moon bukan ?" gumamku yang mulai berjalan kearah jendela sambil melihat kearah bulan merah saat ini.


"Hari ini merupakan malam yang indah bukankah begitu, Rian ?" tanya Ozaki yang ikut melihat bulan saat ini.


Terlihat kalau Ozaki mulai berjalan kearahku hingga ia menembus diriku, tentu aku yang melihat ini mulai terkejut sambil memegang tubuhku lalu mulai melihat kearah Ozaki.


"Sudah kuduga.. kalau ini hanya sebuah ilusi, meskipun begitu tetap saja ini sangat sulit untuk dibedakannya" lanjutku sambil melihat ruangan ini terutama interaksi mereka yang begitu nyata ini.


"Ahh.." balas Rian yang masih mempertahankan wajah datarnya.


Entah kenapa aku yang melihat ini merasa kalau kehidupannya Rian belum berubah sama sekali, setelah ia berumur 9 tahun dan bertemu Ozaki saat ini.


"Baiklah.. persiapannya sudah selesai, Rian.. hari ini adalah hari dimana kau akan menjalankan misimu" ucap Ozaki yang mulai berjalan kearah kakek itu.


'Misi ?' batinku ketika mendengar perkataannya Ozaki pada Rian.


"Namun sebelum itu.."


Terlihat Ozaki yang mulai berhenti didekat kakek itu dan langsung mengeluarkan pisau bedah dibalik lengan bajunya.


Setelah itu langsung saja ia mulai mengarahkan pisau bedah itu ketenggorokan kakek itu yang saat ini terlihat seperti tertidur disana, langsung saja Ozaki mulai menggorok tenggorokannya.


"Ehh ?"


Tentu aku yang melihat ini seketika terdiam dengan apa yang aku lihat saat ini.


Baru saja aku melihat Ozaki membunuh kakek tua itu tanpa merasa bersalah sama sekali, apalagi ia membunuh tepat dihadapannya Rian saat ini.


CRAAATT !!


Terlihat darah mulai keluar dari tenggorokan kakek itu hingga darahnya itu mulai menempel di dinding secara terus menerus hingga memenuhi sebagian dinding itu.


Tentu aku yang melihat ini dengan jelas mulai ketakutan, bahkan aku tidak bisa untuk berhenti menangis ketika melihat ini, air mata terus membasuhi wajahku sambil menatap Ozaki dengan penuh ketakutan.


Merasa kakiku mulai lemas langsung saja aku kehilangan keseimbangan dan mulai terduduk dilantai ketika melihat pembunuhan terjadi tepat dihadapanku.


"Aku ingin kau menjadi saksi kematian ayahku.. mengerti ?" balasnya Ozaki dengan nada berat sambil tersenyum layaknya iblis.


Terlihat ada beberapa bercak darah diwajahnya ketika ia tersenyum, tentu aku yang melihat ini mulai ketakutan padanya apalagi ketika melihat senyumnya.

__ADS_1


Rian sendiri yang melihat ini justru masih mempertahankan wajah datarnya dan juga mata kosongnya ketika melihat pembunuhan terjadi tepat dihadapannya.


__ADS_2