
"I.. Ini.." gumam Asuna yang tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
Terlihat kalau kedua lengannya Tanaka memiliki beberapa goresan pedang disana baik yang besar maupun kecil disana, tentu Asuna yang melihat ini pun terkejut bukan main.
"Apa yang terjadi pada tanganmu Tanaka-Kun ? kenapa kau tidak memberitahukan aku soal ini !?" ucap Asuna dengan panik sambil menyentuh lukanya Tanaka.
"Apa itu termasuk tangan kananmu juga ?" tanya Tanaka yang melihat tangan kanannya Asuna masih diperban saat ini.
Asuna yang mendengar ini segera memegang tangan kanannya sambil menggertakkan giginya, Tanaka yang melihat ini hanya bisa tersenyum dengan lembut sambil mengusap wajahnya Asuna.
"Tidak apa apa.. anggap saja ini tidak pernah terjadi mengerti ?" tanya Tanaka yang masih mengusap wajahnya Asuna yang terlihat sedih itu dengan lembut.
Sedangkan Asuna yang merasakan ini langsung memegang tangannya Tanaka sambil tersenyum kearahnya.
"Hmm.. maaf sudah membuatmu khawatir, Tanaka-Kun.." balas Asuna yang mengeratkan pegangan tangannya.
Tanaka yang mendengar ini hanya bisa menganggukkan kepalanya saja dan membiarkan dirinya bersama dengan Asuna lebih lama lagi karena ia sangat menyukai suasananya saat ini.
Ketika suasana antara mereka menjadi sunyi seperti ini tiba tiba saja Tanaka dan Asuna mulai menatap satu sama lain hingga secara perlahan wajah mereka mulai mendekat hingga beberapa centi.
Tepat ketika mereka berdua akan berciuman lagi tiba tiba saja ponsel Tanaka mulai berdering, tentu mereka yang mendengar ini mulai melihat kearah ponselnya Tanaka.
Langsung saja Tanaka mulai mengambil ponselnya dan terlihat sebuah telepon dari adiknya Rino, tentu Tanaka yang melihat ini mulai menoleh kearah Asuna.
"Ha.. angkat saja Tanaka-Kun.." gumam Asuna dengan nada lelah namun ia langsung memeluk Tanaka dengan begitu manjanya.
Tanaka yang melihat ini hanya bisa tersenyum sambil mengelus punggungnya Asuna dengan lembut, langsung saja Tanaka mulai mengangkat teleponnya Rino.
"Rino.. ada apa ?" tanya Tanaka dengan bingung.
"Onii-Chan.. hari ini klub ku mengadakan sebuah camping untuk turnamen yang akan datang 1 bulan lagi" balas Rino.
"Ehh ? berapa lama ?" tanya Tanaka dengan penasaran mengenai ini.
"Aku pergi cuma seminggu, jadi jaga dirimu dirumah oke ?" balas Rino dengan nada serius.
"Ahh.. baiklah.." balas Tanaka sambil menguap.
"Hmm.. jangan lupa untuk memberi makan Onii-Chan ya Asuna-Nee, kalau begitu aku pergi dulu" lanjut Rino.
"Ehh !! Ri-"
TUUTTT...
"...."
Tentu Tanaka dan Asuna yang mendengar ini seketika terdiam karena Rino tahu kalau kakaknya sedang berada dirumah kekasihnya, langsung saja Tanaka mulai menyimpan ponselnya tepat diatas kasur.
"A.. Anu.. Ta.. Tanaka-Kun ?" tanya Asuna dengan gugup.
"Ya ?" balas Tanaka sambil menoleh kearah Asuna yang saat ini melihat kearahnya.
Tanaka dapat melihat kalau wajahnya Asuna saat ini sedang memerah ketika mendengar ucapan Rino sebelumnya, langsung saja ia mulai bertanya pada Tanaka dengan penuh harap.
"A.. Apa Ri.. Rino.. me.. merestui hubungan kita ?" tanya Asuna dengan suara kecil, terlihat ia sedang menunduk kebawah agar wajahnya tidak dilihat oleh Tanaka.
"Hmm.. dia tidak pernah memanggilmu seperti itu sebelumnya, yang berarti dia sudah mengizinkan hubungan kita berdua" balas Tanaka yang mulai memeluknya dengan lembut sambil mengelus kepalanya.
Asuna yang merasakan ini hanya bisa menganggukkan kepalanya dan juga ikut memeluk Tanaka dengan eratnya.
Dapat dilihat kalau suasana mereka saat ini cukup romantis apalagi ketika melihat senyuman mereka yang begitu tulusnya.
"Tanaka-Kun.. mari tidur.." ajak Asuna yang masih memeluk Tanaka saat ini.
"Ahh.. tentu saja" balas Tanaka sambil mengecup keningnya Asuna.
__ADS_1
Tentu Asuna yang merasakan ini hanya bisa menerimanya dengan senang hati dan mulai tidur bersamanya, terlihat kalau Asuna saat ini sedang tidur diatas bidang dadanya Tanaka dengan senyum manjanya.
Melihat ini tentu saja Tanaka tidak bisa untuk tidak tersenyum melihat tingkah kekasihnya, langsung saja Tanaka mulai mengusapnya rambutnya sambil bercanda dengan Asuna.
"Calon istriku mengikuti langkahku sebagai orang lesu, ahh.. aku terharu melihat ini.." gumam Tanaka sambil mengusap air mata bahagianya
"TA.. TANAKA-KUN !?" teriak Asuna dengan malu.
Tentu Tanaka yang melihat keimutan Asuna sudah tidak dan langsung menindihnya dari atas sambil mengunci kedua lengannya dengan tangannya Tanaka.
"Ta.. Tanaka-Kun !?"
"Maaf Asuna aku sudah tidak tahan lagi.."
"Tu.. Tunggu du- Ahh~"
***
Disisi lain Ritsu, Kanzaki dan Yada saat ini sedang berada dihunian mereka dengan uang yang mereka bawa, meskipun ini pelajaran untuk sma namun tetap saja ini mudah bagi mereka.
Tentu itu karena mereka dulunya adalah anak kuliahan yang berarti ilmu mereka sangat berbeda dengan anak sma, apalagi Kanzaki dan Yada juga ikut mengambil jurusan matematika disana.
Sedangkan Ritsu dari awal ia memang sebuah A.I, namun setelah Tanaka datang dan memberikan tubuh padanya ia dapat mengerjakan sesuatu layaknya manusia meskipun pikirannya sangat maju dibandingkan yang lainnya.
"Ahh.. akhirnya selesai juga.." gumam Ritsu dengan senyum lega diwajahnya.
"Sepertinya kau sudah terbiasa dengan tubuhmu yang baru ya, Ritsu" balas Kanzaki yang juga sudah menyelesaikan tugasnya.
"Hm.. kau benar benar hidup layaknya manusia, Ritsu" balas Yada yang langsung membereskan bukunya setelah selesai.
"Hehehe.. meskipun aku memiliki tubuh ini, namun tetap saja tubuh ini adalah tubuh familiarnya Tanaka-Senpai" balas Ritsu sambil memegang dadanya.
"Familiar ?" tanya Kanzaki dan Yada yang kebingungan ketika mendengar ini.
"Hmm.. Slime yang waktu itu membawa diriku itu loh.." balas Ritsu dengan senyum polos diwajahnya.
"Eghh.. mengingat kejadian itu aku merasa ingin memukulnya lagi" gumam Yada yang menutup wajahnya dengan kesal.
"Sama.." balas Kanzaki sambil tertawa canggung.
"Tunggu.. jika Ritsu memakai tubuh familiarnya Tanaka-Senpai berarti Senpai itu adalah mastermu, kan ?" tanya Yada yang menyimpulkan keadaannya Ritsu saat ini.
"Hmm.. itu benar, Tanaka-Senpai adalah Masterku dan juga salah satu tunangannya" balas Ritsu dengan bangga sambil melipat kedua tangannya dengan begitu sombongnya.
"Aku rasa bukan hanya ka-"
"Ahhh~"
Tepat sebelum Kanzaki menyelesaikan perkataannya tiba tiba saja mereka mendengar suara yang terasa familiar bagi mereka bertiga.
"K.. Kalian dengar itu ?" tanya Yada yang mendengar suara tadi.
"Hmm.." balas mereka berdua yang menganggukkan kepalanya dengan setuju akan perkataannya Yada.
"Tu.. Tunggu dulu Tana- Ahhh~"
Mereka yang mendengar ini tentu seketika terdiam bahkan wajah mereka saat ini sedang memerah, langsung saja mereka mulai menempelkan telinga mereka pada tembok didekat kasurnya Ritsu.
"Ta.. Tanaka-Kun.. aku mohon.. biarkan aku.."
"Maaf Asuna.. tahan lah sebentar lagi"
"TU- JANGAN DISAN- AHHHH~"
Tentu mereka yang bertiga yang mendengar ini semakin memerah terlihat kalau wajah mereka bertiga kembali memerah sampai memenuhi wajah mereka.
__ADS_1
Bahkan terlihat kalau Kanzaki saat ini mau pingsan karena mendengar suara Asuna, sedangkan Ritsu saat ini sedang menahan darahnya keluar ketika membayangkan apa yang terjadi disana.
"AAHHH~ JANGAN~ TANAKA-KUN"
"AHHHHH~ AHHHHH~ AHHHHH~ "
"AHHHHH~ BERHENTI.. AKU.. SUDAH MENCAPAI PUNCAKN- AHHHH~"
Tentu mereka yang mendengar ini sudah tidak tahan lagi dan segera pergi keluar dari kamar mereka dan mulai menerobos masuk huniannya Asuna.
Setelah Yada dan yang lainnya sampai didepan kamarnya Asuna langsung saja Yada mulai menerobos masuk kedalam sedangkan Ritsu dan Kanzaki hanya mengintip dari luar.
"OII !! KALIAN BERDUA APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN HA !?" teriak Yada dengan wajah memerah dicampur kesal saat ini.
Tepat ketika ia melihat kedalam dapat dilihat kalau Tanaka saat ini sedang memijat punggungnya Asuna yang saat ini sedang terbaring diatas kasur saat ini.
"Ahh.." gumam Tanaka yang melihat seseorang menerobos masuk kedalam kamarnya Asuna.
"Ahh.. akhirnya kau berhenti ju-" gumam Asuna yang langsung menoleh kearah Yada dan juga yang lainnya.
"YA.. YADA-SAN !? SEMUANYA !?" teriak Asuna dengan malu dan bangun dari tidurnya.
Sedangkan Tanaka yang belum siap tiba tiba saja terjatuh karena Asuna menggunakan sedikit kekuatannya.
Langsung saja Asuna mulai bertanya pada mereka dan menghiraukan Tanaka yang terjatuh dari kasurnya.
"Se.. Sedang apa kalian kemari !?"
"...."
Tentu mereka yang mendengar ini hanya menghiraukannya sambil menatap Tanaka yang saat ini sedang mengelus kepalanya.
"Tanaka-Senpai.. kau mesum.." ujar Yada dengan tatapan jijik ketika melihat Tanaka.
"Ha ? darimananya yang mesum ? aku hanya memijat punggungnya saja" balas Tanaka yang mulai berdiri dari tempat ia terjatuh sebelumnya.
"Tu.. Tunggu.. ja.. jangan jangan kalian mendengar suaraku bocor sa.. sampai sebelah, kan ?" tanya Asuna yang panik dengan wajah memerah.
"Hmm.." balas mereka yang menganggukkan kepala ketika mendengar perkataannya Asuna.
Tentu Asuna yang mendengar ini langsung menutupi wajahnya yang memerah saat ini.
"Aku tidak menyangka kalau suara Asuna terdengar mesum hanya karena dipijat olehku" gumam Tanaka sambil mengelus dagunya.
"TANAKA-KUN !!" teriak Asuna yang semakin malu ketika mendengar ini, tentu Yada yang mendengar perkataannya mulai meneriaki Tanaka dengan penuh kesal.
"DASAR MESUM !!"
***
Keesokan harinya terlihat kalau saat ini Tanaka dan Ohta sedang berdiri sambil memandang pemandangan yang ada diluar jendela ketika baru istirahat.
Terlihat kalau hari ini awannya sedang mendung, bukan itu saja bahkan air hujan terus membasahi semua bangunan termasuk tanaman juga.
Namun saat ini pandangan Ohta tidak fokus dengan apa yang ada diluar melainkan ia sedang melihat Tanaka yang saat ini wajahnya sedang diperban tepat dibagian mata kanannya.
"Ha.. kenapa selalu dimata kanan coba.." gumam Tanaka sambil menghela nafas lelah saat ini.
"Tanaka.. mungkin ini telat, tapi.. apa yang terjadi dengan matamu ?" tanya Ohta yang khawatir dengan matanya.
"Ha.. hanya kesalahpahaman antara Senpai dan Kohai itu saja" balas Tanaka yang masih menghela nafas apalagi ketika mengingat kejadian kemarin.
Tentu luka yang Tanaka dapatkan itu karena Yada memukulnya karena ia membuat kesalahpahaman ketika mereka bertiga sedang belajar, Ohta yang mendengar ini ingin memberinya kata kata semangat padanya.
Namun sebelum Ohta menenangkan Tanaka tiba tiba wali kelas mereka masuk meskipun jam pelajaran berikutnya belum dimulai sama sekali.
__ADS_1
"Tanaka.. bisakah kau pergi ke kantor ? ada yang ingin aku bicarakan denganmu sebentar.."
"...."