
Saat ini Tanaka dan Asuna sedang berjalan menuju taman untuk mencari Nomura dan yang lainnya, namun mereka berdua belum melihat yang lainnya dari tadi.
"Nee.. Tanaka-Kun, bukankah sekolah ini menjadi sepi semenjak pengumuman libur itu diumumkan, bukan ?" tanya Asuna yang curiga dengan keadaannya saat ini.
"Dan lagi sekarang hujannya cukup deras kali ini" lanjut Asuna yang memegang payung dan berteduh dibawahnya bersama Tanaka.
"Ahh.. kau benar.. dari tadi aku tidak melihat mereka disini maupun dilorong sebelumnya" balas Tanaka sambil menguap dan mulai menggunakan Kenbunshoku Haki miliknya.
Ia dapat merasakan kalau para wanita saat ini sedang berdiam diri diasrama mereka begitu juga dengan prianya. melihat ini tentu saja terkejut bukan main.
Disisi lain Asuna yang melihat raut wajah Tanaka yang terkejut mulai bertanya padanya.
"Apa terjadi sesuatu Tanaka-Kun ?" tanya Asuna.
"Ahh.. sepertinya para gadis memang ada diasrama mereka begitu juga dengan prianya" balas Tanaka yang tiba tiba menghentikan langkahnya.
"Hmm ? ada apa lagi Tanaka-Kun ?" tanya Asuna yang melihat Tanaka terdiam ditempat ikut menghentikan langkahnya.
"Nomura sepertinya sedang bertarung dengan seorang gadis berambut hitam panjang, dan yang lainnya juga ada disana saat ini.." balas Tanaka yang merasakan kehadiran mereka disana.
Tentu hal ini membuat Asuna terkejut bukan main dan segera menarik tangannya Tanaka dengan paksa.
"Kalau begitu tunggu apa lagi !? ayo kita kesana !?" teriak Asuna yang mulai berlari sambil membawa Tanaka dengan teknik pernafasannya.
"Tu- Asuna !! tunggu !? memangnya kau tahu dimana mereka !?" teriak Tanaka yang tiba tiba dibawa oleh Asuna.
Asuna yang mendengar ini mulai berhenti dan melepas genggamannya hingga membuat Tanaka terlempar kearah pohon.
Untungnya Tanaka segera membalikkan badannya dan menggunakan kakinya sebagai penahan agar dirinya tidak tertabrak karena kecerobohannya Asuna yang tiba tiba melemparnya.
Namun tetap dirinya kebasahan karena hujan ditambah air yang menahan diatas daun itu mulai mengguyurnya.
"Ta.. Tanaka-Kun !?" teriak Asuna yang kaget ketika melihat ini.
"Ha.. bisa bisanya aku dibawa seperti itu.. apalagi kau menggunakan teknik pernafasan untuk menarikku.." gumam Tanaka yang menghela nafas ketika merasakan pengalaman ini padanya.
"Ma.. Maafkan aku.." gumam Asuna yang malu atas sikapnya dan mulai mendekatinya.
"Ha.. entah kenapa aku merasa nostalgia ketika melihat sikap cerobohmu itu.." balas Tanaka yang menggaruk kepalanya yang basah itu.
Tentu Asuna yang mendengar ini semakin malu karena Tanaka tiba tiba membahas itu didepannya, apalagi ia pernah melakukan hal seperti ini ketika mereka duduk dibangku SD sebelumnya.
Tanaka yang melihat ini hanya membiarkannya saja walau ia ingin sekali menjahilinya lagi, namun ia memilih untuk mengajaknya pergi ke lokasi yang lainnya saat ini.
"Kalau begitu.. kita pergi saja dari sini, bagaimana ?" tanya Tanaka yang tersenyum ketika melihat ini.
"Ba.. Baiklah.." sahut Asuna yang mulai kembali disisinya Tanaka.
Langsung saja mereka berjalan dengan santainya ketika menuju lokasi Nomura dan yang lainnya hingga hujan semakin reda ketika mereka akan tiba disana.
Tepat ketika mereka tiba terlihat kalau hujan mulai berhenti dan pertarungan yang Tanaka maksud sudah selesai.
Terlihat kalau Amo gadis yang dimaksud Tanaka terbaring dengan bagian terbuka karena sebuah tebasan.
Sedangkan Nomura terluka ditubuhnya dan hanya memakai kemeja putih yang terbuka dengan lukanya saat ini, bukan hanya Nomura saja.
Saat ini pun Rin, Mary, Choka, Nono dan Inaba sedang melihat semua ini secara langsung.
Namun pandangan Tanaka saat ini sedang tertuju pada Mary dan Inaba yang sedang memegang lukanya.
"Mary-Chan !?" teriak Asuna yang khawatir melihat lukanya Mary dan segara berlari kearahnya.
"A.. Asuna !? Da.. Danna-Sama !?" balas Mary yang sedang menahan lukanya.
Baik itu Mary dan yang lainnya tentu terkejut melihat Tanaka dan Asuna baru datang, apalagi Inaba yang ikut tersentak ketika mendengar Mary memanggil Tanaka dengan sebutan Danna-Sama.
Asuna yang melihat ini langsung mengeluarkan perban yang sempat ia bawa ketika merasakan suasana hari ini begitu mencekam.
Langsung saja Asuna mulai mengangkat bajunya dan mulai membalut lukanya Mary.
"Tu.. Tunggu !! Asuna-Chan aku tidak apa ap-"
"Sudahlah diam biar aku balut lukamu dulu" potong Asuna yang melihat lukanya tidak terlalu dalam.
Mary yang mendengar ini hanya terdiam sambil tersenyum kearah Asuna, melihat tingkahnya ini membuat ia memikirkan masa lalunya.
Dimana ketika mereka waktu kecil Mary selalu terluka akibat kecerobohannya dan selalu disembuhkan oleh Asuna yang selalu bermain bersamanya.
'Kau benar benar tidak berubah.. Asuna-Chan..' batin Mary yang melihat ini.
Disisi lain Tanaka yang melihat ini hanya menghela nafas saja dan membiarkan Asuna bertindak sesuka hatinya walau ia senang ketika melihat ini.
__ADS_1
Langsung saja ia melihat kearah Inaba yang saat ini sedang berusaha untuk mengabaikannya.
'Dia..'
Melihat ini langsung saja Tanaka mulai menghampirinya dan mulai berdiri didepannya sambil menatap Inaba yang tingginya terlihat jauh saat ini.
Terlihat kalau suasana diantara mereka sangat berat apalagi ketika melihat tatapan Tanaka yang begitu kosong itu pada Inaba.
"O.. Oii.. Tanaka.." gumam Rin yang melihat ini dengan kedua matanya.
"Nono.." gumam Nono yang khawatir dengan Inaba yang terluka saat ini.
Bahkan Nomura dan Mary yang melihat Tanaka berdiri didepan Inaba tidak bisa berbuat apa apa saat ini.
"Oi.. Tanaka.. hati hati dengan gadis itu.. dia berbahaya.." bisik Nomura pada Tanaka hingga ia mendapatkan tatapan kosong dari Inaba yang membuatnya menggigil ketakutan.
Tanaka yang mendengar ini tentu hanya melihat Nomura lalu kembali ke Inaba yang sedang melihat Nomura dengan tatapan kosong miliknya.
"Tsukuyo Inaba.." gumam Tanaka yang menatap Inaba saat ini.
Sedangkan Inaba sendiri yang mendengar ini tubuhnya mulai bergetar hingga katana nya yang patah pun ikut bergetar saat ini.
Tentu hal ini membuat mereka terdiam ketika melihat Inaba yang ketakutan ketika berhadapan dengan Tanaka.
Melihat Inaba yang tubuhnya bergetar langsung saja Tanaka mulai mengulurkan tangannya pada Inaba.
Melihat ini tentu mereka berpikir kalau Tanaka akan melukai Inaba, bahkan Asuna sedikit tersentak melihat tingkah Tanaka.
Disisi lain Rin dan Nomura yang melihat ini berusaha untuk melindungi Inaba, begitu juga dengan Nono dan Choka.
Namun yang mereka pikirkan tidak sesuai dengan kenyataannya, bahwasanya Tanaka saat ini sedang menepuk kepalanya Inaba sambil mengelus kepalanya.
"Kau sudah tumbuh besar ya, Inaba-Chan.." ucap Tanaka dengan senyum diwajahnya.
"...."
Tentu mereka terdiam ketika mendengar ini apalagi ketika melihat Tanaka tersenyum untuk pertama kalinya, bahkan mereka kembali terkejut ketika melihat Inaba tiba tiba saja menangis sambil memeluk Tanaka.
"HUWAA !! TANAKA ONII-CHAN !! AKU TAKUT !!"
Hal ini tentu membuat mereka terdiam melihat sikapnya Inaba berubah 180° dari sebelumnya.
Disisi lain Tanaka hanya bisa tersenyum sambil mengelus punggungnya Inaba supaya dirinya tenang kembali.
Disisi lain mereka yang melihat ini hanya bisa menghela nafas lega kalau Tanaka tidak melakukan apa apa padanya.
Asuna sendiri yang melihat ini pun juga sama, namun entah kenapa Asuna merasa kalau ada sesuatu yang salah disini.
'Sejak kapan Tanaka-Kun punya adik baru ?'
***
Keesokan harinya terlihat kalau Inaba saat ini sedang duduk di atas kasurnya dengan Tanaka yang berada disisinya.
"Onii-Chan.. kemana saja kau selama ini ? bahkan kau tidak pernah mengunjungiku meskipun kau sudah tahu aku bersekolah disini" tanya Inaba yang sedang berada diatas kasurnya sambil memakan buburnya ketika dirinya disuapi oleh Tanaka.
"Maaf.. aku lupa.." balas Tanaka yang merasa bersalah saat ini.
"Seperti biasa Onii-Chan selalu lupa ketika sudah berada diduniamu sendiri" gumam Inaba yang kesal sambil mengembungkan pipinya.
Tentu yang Inaba maksud adalah kebiasaan buruk Tanaka.
"Ahahaha.." tawa Tanaka dengan canggung ketika mendengar ini.
Dulu semenjak Tanaka berumur 7 tahun ia pernah diajak oleh kakeknya mengunjungi kediaman Tsukuyo bersama Rino.
Kediaman Tsukuyo, merupakan salah satu kediaman yang tidak terlalu mencolok namun memiliki pengaruh besar pada dunia ini.
Keluarga mereka sangatlah berpengaruh pada tiap era baik itu ekonomi maupun politik.
Keluarga ini juga merupakan salah satu tempat yang mendirikan sekolah seni pedang yang cukup dikenal oleh beberapa orang.
Yaitu Sekolah Yakumaru Jigen dan teknik berpedang mereka dinamakan 'Unyou' yang berarti pedang tak terlihat.
Teknik berpedang sekolah mereka sangatlah mengandalkan kecepatan serangan super mereka yang dinamakan 'Kotsu' .
Meskipun sekolah mereka terkenal namun hanya beberapa orang saja yang berhasil menguasai beberapa teknik berpedang mereka.
Dan Inaba adalah salah satunya, kebanyakan dari mereka hanya bisa menguasai 1 teknik saja karena pelatihan mereka cukup berat.
Ketika Tanaka dan Rino berkunjung kekediaman kakek mereka untuk menginap karena orang tua mereka pergi bisnis diluar kota.
__ADS_1
Pernah Tanaka diam diam pergi dari pengawasan kakeknya dan juga Rino untuk pergi ke tempat pelatihan sekolah ini.
Namun ketika ia sedang mengintip pelatihan mereka justru tidak ada siapapun disana dan hanya melihat gadis kecil berambut putih dan seorang maid berambut merah.
Gadis kecil itu mulai mengayunkan pedang kayunya dengan tatapan kosongnya, terlihat kalau ia mengeluarkan keringat ketika mengayunkan pedang kayunya.
Tentu Tanaka yang melihat ini hanya menghela nafas saja karena ia tidak dapat melihat teknik berpedang sekolah ini.
Namun ketika ia akan pergi tiba tiba saja Inaba mulai memanggilnya karena ia dapat mendengar suara Tanaka.
Tentu Tanaka yang melihat ini hanya masuk saja tanpa memperdulikan tatapan maid yang melihat Tanaka sudah ada disana tanpa sepengetahuannya.
Saat itu lah pertama kalinya mereka bertemu, awalnya pembicaraan mereka hanya soal pedang sekolah ini.
Namun seiringnya Tanaka sering mengunjungi Inaba hingga mereka berdua mulai akrab satu sama lain hingga banyak sekali topik yang mereka bicarakan.
Bahkan pernah suatu hari Inaba bertanya tentang pemandangan yang dilihat oleh Tanaka.
Mendengar ini tentu Tanaka tahu kalau Inaba sebenarnya buta karena ia menceritakan tentang matanya pada Tanaka walau ia sebenarnya sudah tahu dari awal pertemuan mereka.
Pohon, awan, air, rumput, bunga, kupu kupu, burung semua yang Tanaka lihat langsung ia beritahukan pada Inaba secara detil.
Seiiring Inaba mendengar semua yang dikatakan oleh Tanaka tentu ia merasa bahagia walau hanya mendengar saja.
Dan dari situlah Tanaka dan Inaba mulai akrab hingga sekarang walau mereka jarang jarang berkomunikasi melalui via telepon.
Karena lebih baik bila mereka bertemu secara langsung.
Disisi lain Maid yang sedang mengawasi percakapan Tanaka dan Inaba yang begitu akrab hanya bisa memandang mereka dari kejauhan dengan perasaan kesal.
Tanaka yang merasakan ini tentu merasa tidak nyaman dan mulai berbicara tanpa menatap maid tersebut.
"Oii.. maid barbar.. bisakah kau tidak menatap kami dengan mata ikan matimu itu ?"
"Ha ? apa yang kau bicarakan tiba tiba dasar koala pemalas ?" tanya Maid itu yang kesal ketika disebut barbar oleh Tanaka.
Terlihat kalau urat muncul dikeningnya ketika berbicara pada Tanaka, ia adalah maid yang selalu menjaga Inaba ketika ia kecil namanya adakah Maria Rose, walau dirinya sering dipanggil Eva oleh Inaba.
"Tentu saja soal tatapanmu itu, merasakan tatapanmu saja sudah membuatku tidak tahan apalagi melihatmu disini" balas Tanaka yang kembali menyuapi Inaba yang sedang mengabaikan pertengkaran mereka.
Tentu Eva tidak bisa menahan amarahnya dan mulai membentak Tanaka sambil menarik kerah bajunya sambil menatap Tanaka dengan tajamnya.
"HA !! KAU PIKIR KAMU SIAPA YANG HANYA BISA BERSEMBUNYI DIBALIK NAMA KELUARGA TSUKUYO !!"
"KAU HANYA SEONGGOK SAMPAH TAK BERGUNA YANG MENUMPANG NAMA KELUARGAMU SAJA !!"
Mendengar ini tentu Tanaka kesal dan menatap Maid Barbar itu dengan tajam meskipun begitu Tanaka tidak tersinggung sama sekali dengan ucapannya.
Terlihat kalau mereka berdua sedang beradu tatapan saat ini seakan akan mereka mencoba untuk mengintimidasi lawan bicara mereka.
Disisi lain Inaba yang mendengar percakapan mereka hanya bisa menghela nafas saja melihat mereka berdua tidak berubah sama sekali.
"Ha.. mengecewakan.."
***
Kamar Asuna.
"Yahh.. siapa yang menyangka kalau akhirnya kita berdua bisa kembali kesekolah kita yang lama" ucap Tanaka yang sedang tiduran diatas dikasurnya Asuna dengan malasnya.
"Ha.. setidaknya kau harus memberi kabar dulu pada mereka dan jangan asal menggunakan teleportasi milikmu itu" balas Asuna yang menghela nafas lelah ketika mendengar ini.
Ketika Tanaka sudah selesai berpamitan dengan Inaba dan Maid itu yang bernama Eve, langsung saja dia mulai mengunjungi Asuna yang sudah beres mengemas barangnya.
Tanpa menunggu perkataannya Asuna, langsung saja Tanaka memegang lengannya dan juga barang bawaannya lalu segera berteleportasi ke kamarnya Asuna tanpa berpamitan dengan yang lainnya.
"Santai saja.. lagipula aku hanya memiliki 1 teman saja disana yaitu Nomura, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu" balas Tanaka yang mulai memejamkan matanya.
"Aku tahu kalau kau hanya memiliki 1 teman disana, tapi apa kau sudah berpamitan pada Mary-Chan ?" tanya Asuna sambil menatapnya dengan tatapan datar.
"...."
Mendengar ini tentu Tanaka mulai berkeringat dingin, apalagi ketika merasakan tatapan Asuna yang sangat tajam itu.
"Kau lupa, kan ?" tanya Asuna dengan datar.
Tentu Tanaka tidak menjawabnya dan hanya berbalik menghadap kearah yang berlawanan dari tatapan matanya Asuna.
Melihat tingkahnya Tanaka, langsung saja Asuna mulai mencubit pipinya sambil menariknya agar dapat melihat mata kosongnya.
"Sudah kuduga kalau kau bajingan tidak tahu malu"
__ADS_1
"Mwa.. Mwaafkwan awku.."