
"Ha.. siapa yang menyangka kalau yang dikatakan oleh Asuna waktu itu adalah sebuah kebenaran, aku benar benar datang kesini sendirian" gumam Tanaka sambil menuruni bis yang ia naiki.
Terlihat kalau Tanaka saat ini sedang memakai seragam sekolah miliknya, hanya saja ia saat ini sedang menggunakan jas khasnya yang berwarna hitamnya dipadu dengan perban yang masih mengelilingi kedua tangannya.
Tentu Tanaka menggunakan mantel karena ia sudah mendapatkan izin dari guru yang ada di Asrama Aichi atau mungkin tidak, entahlah siapa yang tahu.
Sekarang ini Tanaka sedang berjalan menuju Asrama Aichi, terlihat ia berjalan dengan sangat lambatnya karena bosan tidak ada yang menemaninya dikala bosan.
Bahkan ia berpikir kalau keberadaan mereka benar benar mengubah hidupnya yang terasa bosan menjadi sedikit menyenangkan dari biasanya.
"Ha.. aku masih berpikir.. siapa perwakilan yang belajar disana, ya ?" gumam Tanaka sambil menghela nafas dengan lelah.
Jika Tanaka mengetahui siapa yang akan menjadi perwakilan murid di Akademi Aichi mungkin dia akan langsung menatap mereka berdua dengan datar namun aneh.
Sebab perwakilan yang Asrama Aichi kirimkan pada sekolahnya Tanaka adalah 2 orang banci atau disengaja menjadi banci karena sistem sekolah tersebut.
Bahkan Tanaka pun tidak mengetahui sistem kerja disekolah ini, karena Tanaka tidak punya pilihan lain langsung saja ia mulai berjalan mendekati gerbang itu dengan nada malasnya sambil menguap.
"Hoaamm.. kehidupan normal.. sampai jumpa.."
Ketika Tanaka akan sampai di Asrama Aichi ia dapat melihat ada seseorang yang sedang berdiri tepat didepan gerbang masuk Asrama saat ini.
Sedangkan pria itu yang saat sedang ini mulai menoleh kearah Tanaka karena merasakan kehadirannya.
Langsung saja mereka berdua mulai menatap satu sama lain dan mengeluarkan 1 patah kata yang sama.
"Ahh.."
"Ahh.."
***
Gedung Utama, Ruang Rapat.
Saat ini terlihat ada 6 gadis sedang berkumpul ada membawa pedang mereka masing masing ada yang tidak.
Tentu mereka berlima adalah 5 pedang tertinggi di Asrama Aichi, tentu mereka berlima adalah orang yang bertanggung jawab untuk melindungi para wanita diasrama ini.
Dan yang satunya lagi merupakan 1 murid pindahan yang sudah beberapa minggu ini disini tanpa membawa senjata seperti mereka berlima.
Terlihat kalau mereka semua saat ini sedang mengadakan rapat untuk murid baru dan juga 2 murid pertukaran dari sekolah lain untuk melakukan pembiasaan diri diluar asrama mereka.
"Oya.. tumben sekali permaisuri sekolah datang kemari" ucap seorang gadis berambut putih yang dikepang sambil memegang katana ditangannya.
Gadis itu adalah Tsukuyo Inaba, ia merupakan salah satu 5 pedang tertinggi disekolah ini ia juga salah satu gadis terkuat disekolah itu meskipun ia tidak bisa melihat atau buta.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan ?" tanya seorang gadis dengan topeng Oni berwarna putih hanya di bagian matanya saja, dia bernama Onigawara Rin.
"Apa ? aku cuma mendengar nama laki laki yang menarik dan hanya ingin memperingatkan kalian saja" sahut gadis yang memiliki mata tajam dan rambut hitam panjang hingga lutut, Sang Permaisuri, Kirukiru Amou.
"Bisakah kau berhenti bertingkah seperti atasan kami ? sungguh memuakkan" ujar gadis berambut bor sambil membawa rapier miliknya.
gadis itu tidak lain ialah Kikakujo Mary merupakan gadis yang pernah diselamatkan oleh Tanaka dipantai sebelumnya.
"Tapi kau bicara seolah pernah bertarung melawan Nomura, ya ?" lanjut gadis berambut pirang poni pendek dengan seekor beruang dibelakangnya.
Gadis itu bernama Hanasaka Warabi dan beruangnya Kyobo, sedangkan Amo yang mendengar ini mulai menoleh kearah Warabi dengan tatapan nostalgianya.
__ADS_1
"Benar.."
"Hmm.. kalau begitu, Kirukiru-Chan yang mau melakukannya" ucap gadis berambut hijau daun panjang dengan aksen bicaranya yang sedikit lambat, ia adalah Tamaba Satori.
"Tidak.. lelaki itu akan masuk ke kelasku, aku akan mengurusnya sendiri" ujar Rin dengan tegas.
"Akan aku kalahkan lelaki itu.. lalu kau dengan sikap angkuhmu itu" lanjut Rin sambil menatap Amo dengan tajam.
"Hahaha.. setidaknya hati hatilah dengan peluru sihirnya" balas Amo dengan angkuh dan segera pergi dari sana sambil tertawa pada Rin.
Tentu Rin yang mendengar ini merasa kesal dengan sikapnya Amo begitu juga dengan Mary, namun sebelum mereka pergi tiba tiba saja Kyobo berteriak membuat pandangan mereka teralihkan kepadanya.
"Gawrr" geram Kyobo yang mau mengatakan sesuatu pada Warabi.
"Ha ? murid pertukaran ?" tanya Warabi dengan bingung.
Sedangkan Onigawara dan Mary yang mendengar ini mulai terkejut karena mereka lupa memberitahukan topik ini pada yang lainnya.
"Ahh.. benar, ini soal pertukaran murid dari sekolah lain" sahut Rin yang baru mengingat topik tersebut.
"Sekolah lain ? apa kepala sekolah yang menyarankan ide ini ?" tanya Mary dengan bingung.
"Hmm.. itu benar, dan kalau tidak salah ia akan kesini setel-"
Tok !! Tok !!
Tentu mereka yang mendengar ini mulai menoleh kearah pintu yang diketuk sebelumnya, Rin yang mendengar ini segera menyuruhnya masuk.
"Silahkan masuk.."
"Kalau begitu permisi.."
Terlihat ditangannya ia membawa sebuah katana yaitu Chokuto atau lebih simpelnya sebuah tongkat pedang yang memiliki sarung dan pegangan pedangya berwarna hitam tanpa tsuba sama sekali.
"Maaf semuanya aku tadi ada urusan dengan kepala sekolah terlebih da-"
"A.. Asuna-Chan !?" teriak Mary yang ketika melihat siapa murid pertukaran yang dimaksud itu dan mulai berdiri dari kursinya.
"Mary-Chan !?"
***
Disisi lain saat ini terlihat kalau Tanaka saat ini sedang berjalan bersama dengan pria yang ia temui didepan gerbang sebelumnya.
"Hee.. jadi kau murid pertukaran dari sekolah lain kahh.." ucap pria itu dengan santainya.
"Ahh.. tapi aku masih tidak menyangka kalau kau sebenarnya adalah murid baru disini, Nomura.." balas Tanaka sambil menguap.
"Yahh.. banyak hal yang terjadi disekolahku sebelumnya, makanya aku berharap kalau aku bisa bebas disekolah ini" ujar Nomura sambil mengangkat kedua bahunya.
"Hee.. sepertinya kau dan aku memiliki pemikiran yang sama soal kebebasan ini.." balas Tanaka dengan nada lesu.
Nomura yang mendengar ini mulai menoleh kearah Tanaka sambil berjalan disebelahnya, merasa kalau Tanaka ditatap langsung saja ia melanjutkan perkataannya.
"Kau tahu.. aku benar benar mengharapkan sebuah kebebasan agar aku bisa tidur dengan nyenyak tanpa diganggu oleh siapa pun.." lanjut Tanaka dengan nada lesu.
"Ahh.. kau benar.. kita benar benar mi-" sahut Nomura yang tiba tiba berhenti bicara padanya.
__ADS_1
"Hmm.. ada apa Nomu- Ehh.." ujar Tanaka yang terkejut dengan apa yang ada didepannya.
Terlihat kalau murid perempuan saat ini sedang membawa tongkat besi polisi dipinggang mereka.
Saat ini para gadis sedang melihat mereka berdua dengan tatapan tajam sambil menahan rok mereka agar ****** ***** mereka tidak diintip oleh Tanaka dan Nomura.
"Oii.. oii.. kau pasti bercanda bukan ?" gumam Tanaka yang melihat para gadis saat ini.
"Tidak aku rasa ini benar benar sesuai dengan apa yang kita lihat saat ini, apalagi mereka semua membawa senjata dipinggang mereka" balas Nomura yang alis matanya berkedut ketika melihat ini.
"Jadi ini nyata kahh.." gumam Tanaka dengan nada lelah ketika melihat ini.
Ketika mereka berdua sedang berbicara sambil melihat para gadis bersenjata ini tiba tiba saja seseorang yang memiliki tubuh besar dengan make up diwajahnya sedang berjalan kearah mereka berdua.
"Hei kalian berdua !!"
Tanaka dan Nomura yang mendengar ini langsung saja menoleh kearah suara itu dan melihat orang tersebut, tentu mereka yang melihat ini terkejut bukan main.
"Ba.. Banci.." ucap Tanaka dan Nomura secara bersamaan ketika melihat penampilannya apalagi tubuhnya yang besar itu.
"Bukan banci.. hanya memakai make up, dan lagi kalian berdua murid baru yahh.. " sahut pria itu yang mulai mendekatkan dirinya Tanaka dan Nomura saat ini.
Sedangkan mereka yang ditatap oleh pria mulai menatap dia dengan aneh, bahkan Tanaka harus mundur beberapa langkah darinya.
Tentu pria itu yang melihat tatapan mereka mulai angkat bicara.
"Kenapa dengan mata kalian itu ?"
"Tidak.. aku masih tidak menyangka kalau patung budha bisa berjalan ke sekolah ini" ujar Nomura yang mencoba untuk bercanda padanya, namun justru pria itu malah mendekatkan wajahnya pada Nomura.
"ADA KOK !! DIDALAM KUIL SANA !!" pria itu yang membalas perkataannya Nomura sambil menunjuk gedung yang ada disebelah kanannya.
"Hoamm.. bisa kita percepat kawan.. masih ada sesuatu yang penting disini" kata Tanaka yang tiba tiba berbicara pada mereka berdua sambil menguap dan mulai menunjuk kearah para banci disekolah ini.
Tentu Nomura yang melihat ini semakin terkejut dan langsung saja mulai mengatakan sesuatu pada pria yang ada didepannya hingga membuatnya kesal.
"Kalau begitu Budha-Ku-"
"MASKODERA !! MASKODERA KUSUO !!"
***
Beberapa menit telah berlalu setelah mereka bertiga ditaman sebelumnya, saat ini terlihat Tanaka dan Nomura mulai keluar dari ruang guru setelah melakukan perbincangan dengan guru disana.
"Yahh.. aku tidak menyangka kalau kita berakhir sekelas, Tanaka.." ucap Nomura yang keluar bersama Tanaka saat ini.
"Ahh.. sepertinya kita akan sekelas, kalau begitu mohon kerjasamanya, kawan.." sahut Tanaka sambil memberikan tos kepal tangannya padanya.
"Tentu saja.. kawan.." balas Nomura yang mulai melakukan tos pada Tanaka sambil tersenyum ketika mendengar ini.
Tanaka yang mendengar ini tersenyum dan mulai berjalan bersama dengan Nomura, tepat ketika mereka berjalan menuju kelas mereka di kelas 2 - 13 langsung saja Nomura mulai membuka pintu kelasnya.
Ketika ia sedang membuka pintunya terlihat beberapa gadis sedang berkumpul didepan pintu kelas sambil menatap tajam kearah Tanaka dan Nomura.
"A.. Apa apaan ini !?" ucap Nomura yang terkejut ketika melihat ini, sedangkan Tanaka sudah mengangkat kedua tangannya dengan lesu.
"Aku rasa kita mulai terkenal disini.. kawan.. "
__ADS_1
"Oii.. kau bercanda bukan ?"