TUNGGU LAH KU DAN JAGA HATIMU

TUNGGU LAH KU DAN JAGA HATIMU
Ke Air Terjun


__ADS_3

Pagi itu Ridwan, Arifah, Hani dan Monas menempuh perjalanan ke Karanganyar dengan tujuan wisata Tawang Mangu atau air terjun grojogan Sewu.


Seperti biasa, Ridwan yang mengendalikan mobil itu. Disampingnya, Monas sibuk dengan ponselnya. Melihat layar di benda pipih itu.


" Ridwan! Kita besok malam berangkat ke Jakarta, tidak apa - apa kan?" kata Monas.


" Sebenarnya hari Senin pagi aku harus sampai di Jakarta Nas."


" Rencana naik pesawat, tapi kalau harus naik mobil lagi tidak bakalan terkejar." sahut Ridwan.


" Jadi bagaimana?" tanya Monas.


" Demi kamu, jadwal hari Senin aku serahkan ke asistenku lagi."


" Terimakasih,kamu memang saudara ku yang paling pengertian." kata Monas sambil tersenyum.


" Hani, kamu siap di tinggal suami mu kerja di Jakarta?" tanya Ridwan sambil tersenyum.


Monas tersenyum sambil menengok ke belakang.


" Dek??" panggil Monas.


" Hah??" sahut Hani sambil tersenyum dan memainkan ponsel yang ada di tangannya.


" Mau ikut di Jakarta?" tanya Monas. Hani membalas jawaban Monas tersenyum saja.


" Kerja baik - baik di Jakarta, biar acara pernikahan kalian mewah dan megah." kata Arifah.


" Benar gak Han?" tanya Arifah sambil menarik hidung Hani.


" Yang penting, Abang sehat wal Afiat itu sudah cukup." jawab Hani.


" Asik! istri yang baik." sahut Ridwan.


" Kamu nengok kebelakang terus Nas, pindah sana!" kata Ridwan.


" Fa! kamu depan saja dek!" sambung Ridwan sambil menepikan mobilnya. Arifah turun dari mobil itu dan menyuruh Monas ke belakang.


Setelah bertukar tempat duduk, Ridwan kembali menjalankan mobilnya. Monas tersenyum dan menggenggam tangan Hani erat.


Adegan tadi pagi masih membekas dan hangat - hangat nya di kepala mereka berdua. Seperti sepasang kekasih yang di mabuk asmara.


" Benar kan, apa kataku?" kata Ridwan sambil menengok Hani dan Monas melalui kaca spion.


" Hehehe, kamu mau bang?" tanya Arifah.


" Kita kawin saja Fa!" kata Ridwan sambil tersenyum.


" Kawin atau nikah?" tanya Arifah.


" Dua- duanya." jawab Ridwan singkat.


Arifah menengok kebelakang dan tersenyum.


" Berapa jam jarak tempuh dari sini ke Tawang Mangu Han?" tanya Ridwan.


" Kurang lebih satu jam bg."

__ADS_1


" Oke kita ikuti saja jalur geogle Maps saja yah." kata Ridwan.


" Petunjuk nya kurang sepuluh menit lagi sampai."


" Kalian sudah pernah kemari?" tanya Ridwan.


" Sudah dong!" jawab Arifah sambil menyandarkan kepalanya ke kursi.


" Nah, sebentar lagi sampai!"


" Alhamdulillah." sahut Hani Sambil menyandarkan kepalanya ke pundak suaminya.


" Eh kita beli sate kelinci yuk!" teriak Arifah sambil menunjuk warung kecil yang menjual sate kelinci.


" Nanti di dalam saja, sayangkuh." kata Ridwan. Hani dan Monas tersenyum mendengarnya.


" Kita parkir di mana dek?" tanya Ridwan sambil melihat Arifah.


" Dekat pintu masuk saja, itu ada tempat parkir mobil." jawab Arifah sambil menunjukkan tempat.


" Alhamdulillah, sampai!" kata Hani pelan.


" Abang sudah memenuhi janjinya." sahut Monas sambil tersenyum menatap Hani.


" Terimakasih, suamiku!" kata Hani berbisik.


Monas tersenyum dan keluar dari mobil itu sedangkan Hani mengikuti nya dengan tas selempang kecilnya.


" Abang, tas ransel kita." kata Hani.


" Oh, biar Abang ambilkan." kata Monas sambil kembali ke mobil dan mengambil tas yang sudah disiapkan Hani tadi pagi.


Disekelilingnya masih banyak pohon - pohon besar disepanjang jalur menuju air terjun.



" Subhanallah, Maha Suci Allah." ucap Hani pelan.


Monas tersenyum sambil menggandeng tangan Hani. Ridwan dan Arifah sudah berjalan cukup jauh dengan mereka.


" Seperti nya ada yang kurang."


" Apa bang?" tanya Hani.


" Anak-anak kita."


" Aidah!"


" Kalau kita kemari lagi, harus bawa anak - anak ya,sayang."


" Teruskan menghayal nya!" sahut Hani sambil mencubit Monas.


" Orang itu dimana?" tanya Hani sambil menengok ke kanan-kiri.


" Itu mereka!" sahut Monas.


" Ke warung sate kelinci."

__ADS_1


" Adek mau?" tanya Monas.


" Bagaimana rasanya?" tanya Hani.


" Sama saja kayak daging ayam tapi ini lebih lembut" jawab Monas.


" Ke sana yuk!" ajak Hani sambil menarik tangan nya yang di genggam Monas.


Hani berjalan mendekati Ridwan dan Arifah yang sudah duduk menunggu sate kelinci yang dipesan nya.


" Sudah aku pesan kan untuk kalian." teriak Arifah.


Hani dan Monas duduk diantara mereka.


" Keren pemandangan nya."


" Ayok, ku foto kalian!" kata Arifah. Hani tersenyum sambil menarik tangan Monas untuk mengambil pemandangan indah itu.


" Bang! ganti pose dong!" teriak Arifah lagi.


" Abang di belakang memeluk Hani, nah betul seperti itu."


Cekrek... cekrek...cekrek.


" Cukup!" kata Hani lalu kembali ke warung sate kelinci. Monas tersenyum melihat keceriaan istrinya hari ini.


Sepanjang hari mereka menghabiskan waktu di tempat itu. Mengambil beberapa gambar di pemandangan sekitar air terjun itu.


" Sudah sore!" kata Hani.


" Pulang yuk!" sahut Monas.


" Arifah! Mau pulang tidak?" teriak Hani ke Arifah yang masih main - main dengan Ridwan di sekitar air terjun.


" Menurut adek, mereka akan berjodoh tidak?" tanya Monas sambil menatap wajah cantiknya Hani.


" Mau jawaban jujur, atau jawaban menghibur?" jawab Hani serius.


" Lho kok?" Monas mulai serius dan penuh tanda tanya.


" Jawaban jujur saja." kata Monas akhir nya.


" Mereka tidak ber jodoh!" kata Hani serius.


" Untuk jawab an menghibur, semoga mereka akan berjodoh."


Monas tersenyum, tetapi senyuman nya masih mengandung tanda tanya untuk Hani. Hani tersenyum lagi.


" Bisa di jelaskan?" kata Monas.


" Tidak!" jawab Hani singkat.


" Kenapa?"


" Karena hanya mereka lah yang bisa merubahnya."


" Hidup ini pilihan. Manusia memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, demikian juga mereka."

__ADS_1


" Demikian juga Abang, memilihmu menjadi istri Abang." sahut Monas sambil menggenggam tangan Hani erat.


__ADS_2