
Malam semakin larut. Ridwan dan Nuria sudah tertidur di kamarnya masing - masing. Demikian juga Monas, sudah berbaring di ruangan tengah dengan beralaskan karpet bulu yang halus. Ida pun juga sudah di dalam kamarnya.
Di ruangan tengah itu, walaupun Monas sudah berbaring dan memejamkan matanya, pikirannya masih kemana - mana. Kegelisahan yang menghinggapi nya membuat Monas masih terjaga. Akhirnya Monas kembali duduk di kursi sofa di depan televisi. Tidak berapa lama, Ida istri ke duanya datang menghampiri.
" Abang! Belum tidur?" kata Ida sambil duduk di samping Monas.
" Belum Ida. Mungkin Abang kecapekan jadi tidak bisa tidur." jawab Monas.
" Ida bisa memijat Abang, kalau Abang mau." kata Ida sambil berusaha memegang tangan Monas.
Tangan itu di tarik Monas dan Ida kembali diam melihat reaksi suaminya yang masih kaku terhadap dirinya. Padahal sudah tiga bulan dari pernikahan mereka, Monas belum menyentuh Ida.
" Abang! Ida adalah istri Abang. Ida siap melayani abang karena kita sudah halal." kata Ida sambil menundukkan kepalanya.
" Maafkan Abang Ida. Abang tidak bisa karena Abang tidak menginginkan pernikahan ini." kata Monas sambil menatap wanita di dekat nya itu.
" Tetapi kita sudah menjadi pasangan suami istri yang sah secara agama. Abang sebagai suami harus memberi nafkah lahir maupun batin kepada Ida." kata Ida sambil menatap wajah suaminya itu. Monas terkejut dengan perkataan wanita yang ada di sampingnya.
" Abang tidak mencintai mu Ida! Abang mencinta Hani istri Abang yang sesungguhnya." kata Monas.
" Hukum agama telah jelas. Dan abang lebih paham akan hal itu. Jikalau Abang tidak memenuhi kewajiban Abang sebagai suami,
dan istri Abang tidak ridlo....itu akan...." kata Ida dan kata - kata itu tidak di lanjutkan nya.
" Sekali lagi Abang minta maaf Ida. Abang tidak bisa menjadi suamimu yang baik. Semuanya bukanlah kemauan abang. Menikahi mu dengan cara seperti ini." kata Monas.
" Sudah tiga bulan, Abang tidak mau menyentuhku. Sedangkan aku sebagai wanita menginginkan nya." kata Ida.
Kembali Monas terkejut dengan ucapan Ida. Ida berani melontarkan kalimat demi kalimat tentang posisi nya sebagai istrinya. Ida menuntut hak nya sebagai seorang istri.
" Maaf Ida! Abang tidak bisa! Jangan paksa Abang dengan menerima mu seutuhnya.
" Abang!" panggil Ida sambil merengkuh tubuh Monas lebih dekat dengan nya.
Ida mencoba mendekatkan wajahnya ke wajah suami di hadapan nya. Satu, dua,tiga,empat..dan Ida mencoba menyentuh bibir Monas dengan bibir nya. Tiba - tiba Monas mendorong kuat tubuh Ida yang memeluknya.
" Maaf Ida! Abang tidak bisa!" kata Monas dengan suara keras.
__ADS_1
Ida menangis dan berlari masuk ke dalam kamar nya. Monas menyandarkan kepalanya di kursi. Pikirannya sudah mulai kacau. Wajah Hani memenuhi pikirannya. Monas tidak bisa mengkhianati istrinya yang sedang hamil enam bulan itu.
Sudah tiga bulan, Monas tidak pernah berkunjung dirumah istrinya di Solo. Dan sudah sebulan ini, Hani tidak pernah menghubungi dirinya kalau Monas yang lebih dahulu menghubungi nya. Setelah kedatangan Hani bersama Arifah di Jakarta. Hani tidak pernah menghubungi suaminya terlebih dahulu. Alasan yang klise,tidak ingin mengganggu aktivitas suaminya.
Minggu ini, Monas berencana pulang ke Solo. Rencana yang matang sudah di persiapkan untuk hari Jumat keberangkatan nya.
Pikiran Monas masih tidak menentu. Di ambil nya air wudlu untuk mengerjakan sholat malam dan mengulang hafalannya satu juz Al Qur'an.
Sampai akhirnya, setelah sholat subuh, Monas mulai membaringkan tubuhnya kembali ke karpet berbulu.
------------------------------------------------------
Pagi itu tiba. Ida sudah bersiap - siap dengan tas trevel nya. Dan membangunkan suaminya yang masih tertidur pulas.
" Bang! Abang!" panggil Ida.
" Hem?" jawab Monas dengan malas.
" Ida pamit pulang kampung!" kata Ida kepada Monas.
Monas bangun dan duduk. Di tatapnya wanita di hadapan nya sedang menangis.
" Ada apa?"
" Ida menyerah!" kata Ida dengan Isak tangisnya.
" Ida menyerah. Ida tidak sanggup menjalani pernikahan seperti ini. Abang tidak menghendaki Ida sebagai istri." sambung Ida dengan tersedu - sedu.
" Maafkan Abang Ida! Abang sungguh - sungguh tidak bisa! Maaf!" kata Monas pelan.
" Baiklah! Ceraikan Ida! Dan biarkan Ida pulang dan menjelaskan ke Abah bahwa sesungguhnya Abang tidak menghendaki Ida."
" Ida! Abang minta maaf!"
" Iya bang! Ida juga bisa memahami Abang. Ida tidak sanggup mempertahankan pernikahan siri ini. Biarlah Ida pulang!"
" Tetapi bagaimana nanti reaksi pak kyai dan Abah soal ini?" kata Monas akhirnya.
__ADS_1
" Biar Ida yang menjelaskan ini semua." kata Ida pelan tangisannya sudah reda. Ida sudah tenang dengan keputusan nya.
" Ucapkan talak pada Ida! Supaya kita gugur menjadi pasangan suami istri secara agama. Ida sudah ikhlas." sambung Ida.
" Bang! Ucapkan bang!"
" Baik..baik" sahut Monas sambil berlalu ke belakang untuk mencuci muka dan mengambil air wudlu.
" Ucapkan Bang! Biar Ida cepat meninggalkan rumah Abang." kata Ida dengan tegas.
" Hai Ida Nur Askia binti Muhammad Idris, mulai hari ini kamu bukan istriku lagi dan ku pulangkan kamu ke orang tuamu!
Aku talak kamu! Talak! Talak Talak!" kata Monas tegas.
Suara nya terdengar sampai kamar Ridwan dan Nuria. Mereka berdua diam - diam memperhatikan percakapan antara Monas dan Ida.
" Kemari lah bang Ridwan dan Mbk Nuria. Kalian berdua akan menjadi saksi bahwasanya antara aku dengan Bang Monas bukanlah lagi suami istri." kata Ida dengan suara keras.
Ridwan dan Nuria keluar dan mendekat diantara Monas dan Ida.
" Terimakasih Ida! Untuk keputusan mu yang sangat bijaksana." kata Ridwan sambil menjabat tangan Ida.
" Maaf kan kami Ida! Kami kurang baik dan ramah terhadap mu selama di rumah ini." sahut Nuria.
" Aku tahu dan paham. Aku juga minta maaf bersikeras untuk menjadi istri dari Bang Monas. Padahal aku tahu,Bang Monas tidak mencintaiku." kata Ida.
" Maaf untuk semua kesalahanku." kata Ida akhirnya.
" Iya!" kata Monas akhirnya.
" Kamu mau pulang naik apa? Biar Abang antar!" kata Ridwan sambil mengambil kunci mobilnya.
" Naik bis bang!" jawab Ridwan akhirnya.
" Biar aku ikut mengantar juga." sahut Nuria.
Akhirnya Ida meninggalkan rumah itu dengan hati lega. Ridwan dan Nuria ikut mengantar kepergian Ida kembali ke kampung halamannya.
__ADS_1
Monas merasa lega, tetapi belum cukup tenang karena dirinya belum berjumpa dengan istri tercintanya. Hani!
" Hani! Abang merindukan mu." gumam Monas pelan.