TUNGGU LAH KU DAN JAGA HATIMU

TUNGGU LAH KU DAN JAGA HATIMU
Perjumpaan Dengan Sang Mantan


__ADS_3

Di atas panggung sedang ada pertunjukan teater yang di mainkan anak - anak jurusan seni. Penonton cukup antusias menikmati setiap adegan yang di perankan oleh pemainnya. Anak - anak teater ini, memang sudah jago dalam memainkan perannya. Ekspresi dan bodylinguistik sudah di dalami dalam memainkan peran dalam teater ini. Hani masih berdiri di samping panggung. Menyaksikan gerak - gerik tokohnya. Mata nya fokus menatap orang - orang yang berunjuk gigi di atas panggung.


" Hani!" tiba - tiba suara seseorang memanggil nya dari arah samping.


Sontak Hani terkejut dan hampir meloncat karena spontan.


" Eh? Astagfirullah!" kata Hani dengan berteriak.


Pemuda itu tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada Hani. Hani menyambut uluran tangan pemuda itu dan menjabatnya erat.


" Bagaimana kabarnya Hani, sudah lama kita tidak pernah bertemu." kata pemuda itu.


" Baik, Alhamdulillah!" jawab Hani sambil tersenyum.


" Oh iya, saya permisi kembali ke tempat duduk saya." kata Hani sambil melangkah kan kakinya menuju tempat duduknya semula. Tetapi sebelum langkah itu terlalu jauh, pemuda itu mencekal lengan Hani sampai kembali di posisi semula.


" Ehh??" Hani terkejut bukan main dan matanya melotot.


" Maaf." kata pemuda itu sambil melepaskan tangannya.


" Hani, disini dulu sebentar! Aku ingin bicara banyak hal denganmu." kata pemuda itu sambil mengambilkan kursi lipat di sudut ruangan kepanitiaan.


" Baiklah! Terimakasih untuk kursinya." kata Hani sambil mendudukkan pantatnya.


Pemuda itu tersenyum dan menatap wajah Hani yang cantik dengan polesan tipisnya.


" Jangan terlalu sungkan. Kamu masih tetap seperti dulu, cantik dan segar." kata pemuda itu sambil melihat Hani dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Hani yang di lihat pemuda itu jadi risih dan mulai menggeser tempat duduknya agar lebih jauh dengan pemuda itu.


" Sudah hampir enam tahun kita tidak pernah bertemu, kamu pasti sudah sukses bukan?" tanya pemuda itu.


" Aku masih seperti dulu, Hani yang biasa dan tidak menonjol kan prestasi."


" Kamu tinggal di mana sekarang?" tanya pemuda itu sambil menggeser tempat duduknya agar lebih dekat dan mudah terdengar suara nya. Karena pertunjukan di atas panggung sedang hebohnya.


" Aku masih tinggal di Solo" jawab Hani singkat sambil menyaksikan adegan di atas panggung.


" Aku sekarang mengajar di universitas negeri di Solo."


" Ini sangat kebetulan sekali. Aku bisa bermain di rumah mu kan Han?" tanya pemuda itu tanpa berkedip melihat wajah Hani yang ayu.


" Silahkan dengan tangan terbuka tetapi kalau berkunjung ke rumah, tunggu sampai suamiku pulang ke rumah." jawab Hani.


" Hahahaha, kamu selalu membohongi dirimu sendiri Han." kata pemuda itu sambil tertawa.


" Kamu menertawakan ku karena aku sudah menikah?" tanya Hani yang matanya membulat.


" Bukan..bukan itu! Kamu belum menikah tetapi bilang sudah punya suami. Apa itu namanya kalau kamu membohongi diri mu sendiri?"


" Aku memang sudah menikah!" sahut Hani."


" Mana buktinya?"


" Ini!" jawab Hani singkat sambil menunjuk kan cincin dijari nya.


Pemuda itu tersenyum.


" Semua bisa beli barang itu Han." kata pemuda itu sambil mengamati jari tangan Hani yang ada cincinnya.


" Lalu?"


" Aku belum menikah Han. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku dulu."


" Kenapa belum menikah?" tanya Hani Sambil senyum dipaksakan.


" Karena aku masih kepikiran kamu." jawab pemuda itu. Bagi Hani itu adalah jawaban yang terlalu mengada-ada.


" Hahaha." Hani tertawa.


" Kenapa kamu menertawakan ku?"


" Tidak ada alasan lain yang lebih tepat?"


" Kamu tidak percaya? Aku dari dulu menyukaimu Han."

__ADS_1


" Menyukai ku?"


" Iya benar!" jawab pemuda itu dengan tegas dan menatap Hani lebih dekat.


" Di dunia ini, organ tubuh bagian mulut yang tidak bertulang adalah lidah. Dia bisa memutar balikkan kata - kata dan membuat alibi - alibi."


" Hani!"


" Maaf, Saya boleh kembali ke tempat duduk saya semula? Seperti nya pertunjukan teater itu lebih menarik di banding duduk ngobrol di sini." kata Hani sambil berdiri dan melangkah menuju kursi nya semula.


Pemuda itu tidak lain adalah Agus. Kawan dekatnya dulu dan sempat menjadi orang spesial bagi Hani.


Sebelum sampai di tempat duduknya. Hani melewati Sofiana dan Amanda.


" Hani! Duduk sini saja!" panggil Sofiana sambil menarik kursi kosong di dekatnya.


" Ayolah! Kita lama tidak bertemu." sahut Amanda sambil memegang bahu Hani dan mendudukkan nya.


" Bagaimana kabar mu Han?"


" Seperti yang kalian lihat." jawab Hani sambil tersenyum.


" Kamu ngajar di mana Han?" tanya Amanda.


" Ngajar di sekolah swasta di Solo." jawab Hani.


" Kami di Semarang Han"


" Syukurlah, kita semua sukses." kata Hani.


" Agus dan Rohani sudah menjadi dosen di kampus terkembang." terang Sofiana.


" Aku tidak pernah menjalin hubungan asmara dengan Agus, kedekatanku kami dulu hanya untuk membuat kamu cemburu saja Han." jelas Sofiana serius.


" Walaupun aku menyayangi Agus, tetapi Agus tidak pernah punya rasa dengan ku. Dia hanya menyukaimu Han." sambung Sofiana dengan mata berkaca.


" Sudahlah itu masa lalu, lagi pula aku sudah menikah." kata Hani smbil mengelus bahu Sofiana.


"Kamu selalu bohong Han." kata Sofiana.


" Hah?" Hani terkejut dan memilih diam.


" Eh?Mulai ngantuk! Nanti acara sampai jam berapa sih?" tanya Hani.


" Sampai sore Han. Setelah ini acara makan siang,sholat, istirahat dan akan dilanjutkan lagi jam 13.30." terang Sofiana dan Amanda menganggukkan kepalanya.


"Oh, eh aku boleh nyari kopi dulu?" tanya Hani sambil berdiri meninggalkan tempat duduk itu.


Hani melangkah mendekati meja yang berderet yang menyajikan Snack dan aneka minuman. Hani mulai mencari meja yang menyiapkan beraneka jenis kopi.


" Kopi nya masih mbk?" tanya Hani kepada petugas yang menjaga makanan dan minuman itu.


" Kopi hitam atau capuccino?" tanya petugas itu sambil tersenyum.


" Capuccino" jawab seorang pemuda dari arah belakang Hani.


" Hah?" Hani terkejut dan mulai cepat - cepat ingin meninggalkan tempat itu.


Hani melangkah kan kakinya dan kembali ke tempat duduknya semula.


" Han!" pemuda itu memanggil.


" Hah?" Hani menengok ke arah pemuda itu.


" Nanti aku antar kopi nya." kata pemuda itu sambil tersenyum.


Hani kembali melangkah kan kakinya menuju kursi itu dan berusaha merilekskan pikirannya. Hani mulai menarik nafas panjang.


Di dunia ini, yang tidak bisa di percaya adalah alasan. Karena alasan adalah suatu kata - kata yang di buat - buat karena suatu keadaan. Dan yang bisa di percaya adalah sikap seseorang itu sendiri,karena itu sudah mewakili keadaan dan perasaan orang tersebut.


" Ini kopinya!" kata pemuda itu sambil meletakkan satu cangkir kopi di atas meja untuk Hani sedangkan secangkir lagi dia minumnya.


" Aku masih tahu kesukaan kopi mu Han!" kata pemuda itu.


" Lalu?"

__ADS_1


" Itu salah satu bukti kalau aku masih selalu mengingat mu."


" Haha." Hani tertawa dengan perkataan pemuda itu.


"Aku masih single Han". kata pemuda itu serius.


" Aku sudah menikah." kata Hani singkat


" Hahahaha, sampai kapan kamu selalu berusaha menjauhi aku."


" Hah?" Hani terkejut dan tiba - tiba ponselnya bergetar. Panggilan masuk dari suaminya.


Hani menjawab panggilan itu tanpa mempedulikan pemuda yang ada di samping nya.


" Assalammualaikum!" kata Hani memberi salam.


" Wa Alaikum salam! Sudah makan dek?"


" Seperti nya sebentar lagi bang."


" Jangan lupa makan ya sayang"


kata Monas dari seberang sana.


" Iya,Abang juga yah!" kata Hani.


" Bagaimana seminar nya?"


" Ini lagi istirahat. Di lanjutkan lagi satu jam dari sekarang."


" Oh!"


" Dek, jangan minum kopi dulu."


" Hehe."


" Tuh kan, lagi minum kopi nih." tebak Monas.


" Dikit saja kok". kata Hani pelan.


" Jaga kesehatan dong sayang, bentar lagi kita buat acara besar - besar an."


" Iya sayang." kata Hani pelan.


" Masih ramai ya dek?"


" Iya, acara belum selesai."


" Dek, hari Jumat Abang ke Solo. Nanti sampaikan ke ayah ibu."


" Oke."


" Ya sudah,Abang mau sholat dulu."


" Eh dek!"


" Iya bang!"


" I miss you."


" I miss you to." jawab Hani pelan.


Hani menutup panggilan masuk itu. Pemuda itu melihat Hani penuh tanda tanya.


" Dia suamiku!" kata Hani singkat.


" Hahahaha, aku tidak mudah percaya Han. Kamu bohong! Kamu belum menikah, tapi bilang punya suami."


" Ya sudah kalau tidak percaya." kata Hani sambil meninggalkan tempat duduk nya.


Acara sudah di hentikan sementara waktu untuk makan siang, sholat dan istirahat. Setelah mengambil hidangan secukupnya Hani kembali duduk di tempatnya. Pemuda itu masih membuntuti Hani.


" Selera mu dari dulu tetap sama ya Han." kata pemuda itu sambil melihat menu apa saja yang di ambil Hani di dalam piringnya.


" Selera masih sama! Yang berubah adalah status ku sekarang Pak prof Rohani safarrudin.mhum."

__ADS_1


" Hah? Aku tidak percaya!" kata Rohani tegas.


Tidak berapa lama Amanda dan Sofiana bergabung di kursi duduk dekat Hani dan Rohani.


__ADS_2