
Setelah menjalani proses operasi,kini Hani sudah dipindahkan di ruang inap.
Arifah masih setia menunggu. Bg Monas,duduk di bangku depan di luar kamar bersama Ridwan.
" Jadi itu cewek Lo yang di foto itu?" tanya Ridwan menyelidik.
" Iya, cukup lama tidak bertemu. Aku pikir,Tuhan tidak akan mempertemukan dia lagi disini" jawab Monas sambil tersenyum.
" Yah, ini kesempatan kamu memperbaiki semuanya Nas, kalau memang kamu meyakini perasaan mu kepadanya"
" Bang!" kata Arifah yang tiba - tiba datang mendekati mereka berdua.
" Iya Fa, ada apa?" sahut Monas
" Bisa gantiin jaga Hani tidak? aku mau pulang sebentar ganti baju,ambil baju ganti untuk Hani dan sekalian membelikan bubur"
Kata Arifah.
" Oh biar aku saja yang antar!" sahut Ridwan.
" Tapi apakah tidak merepotkan kalian? kalian kapan balik Jakarta?" tanya Arifah.
" Tidak apa,nanti bisa diatur semuanya" sahut Monas.
" Ridwan! tapi kamu tidak apa- apa mengantar Arifah?"
" Tidak apa- apa, tenang saja Nas!"
" Besok pagi bukannya kamu mengisi seminar di Hotel itu kan?"
" Iya masih bisa diatur waktunya" sahut Ridwan kepada Monas.
" Ya sudah, kami pergi dulu Nas!"
" Makasih ya Bg, titip Hani sebentar!" sambung Arifah sambil melambaikan tangannya.
Bg Monas masuk kedalam bilik kamar dan mendudukkan pantatnya dikursi plastik disamping Hani yang berbaring di tempat tidur pasien. Bg Monas menyentuh tangan Hani dan menggenggamnya perlahan.
" Hani!" ucapnya lirih sambil meletakkan punggung tangan itu dipipi lalu mengecupnya pelan.
__ADS_1
Tanpa ia sadari,butiran air mata menetes di pelupuk matanya. Sambil tersenyum melihat wajah ayu dihadapannya.
" Hani,aku datang!" kata Monas pelan.
" Heemm" sahut Hani lirih.
Matanya masih terpejam,rasanya masih berat membuka mata. Mungkin pengaruh obat bius masih ada.
Cukup lama Monas duduk menunggu disamping tempat tidur itu,sampai tertidur pun genggaman tangan itu masih tidak terlepas.
Hani terbangun dan membuka matanya. Dilihatnya seorang pemuda yang ia kenal akrap dimasa kuliahnya. Hani berusaha mengusap kepala pemuda itu,tetapi tangannya masih dalam genggaman pemuda itu.
" Abang!" kata Hani pelan.
" Hahh?" sahut Monas terkejut dan terbangun.
Hani tersenyum melihat ekspresi Bg Monas.
" Iya dek? kenapa dek?"
" Haus!" sahut Hani pelan.
" Terimakasih bg" kata Hani sambil tersenyum.
Monas membalas senyum itu.
" Bagaimana kabar Abang selama ini, sepertinya Abang sudah sukses" tanya Hani
" Amin,semua karena doa adek" sahut Bg Monas asal.
" Doa yang mana? saya tidak pernah mendoakan Abang"
" Abang sekarang di Jakarta dek, ngajar disana"
" Di mana?"
" Di kampus Jakarta dek!"
" Oh syukurlah!" sahut Hani pelan.
" Lalu?" tanya Hani
__ADS_1
" Iya,Abang menetap disana sekarang"
" Dapat istri sana?" tanya Hani menyelidik.
" Hehehe" Bg Monas terkekeh.
" Tiara?bagaimana kabar mbk Tiara?"
" hehehehe,.. sudah..sudah kenapa tanya itu sic dek?" Bg Monas terkekeh dan merasa geli.
Hani terdiam melihat ekspresi dari Monas.
" Saya kan cuma tanya,kenapa diketawain?"
" Sudah, makan dulu sedikit - sedikit" sahut Bg Monas sambil menyuapi Hani pelan- pelan dan sedikit menaikkan tempat tidurnya agar bisa menyanggah punggung dan kepala Hani.
" Di Jakarta enak gak Bg?" tanya Hani bersemangat.
" Enak!"
" Syukurlah!" sahut Hani tersenyum.
" Sudah dapat momongan bg?" tanya Hani lagi. Spontan Bg Monas terkekeh lagi.
" Cowok apa cewek anak Abang?"
"Kalau cewek pasti cantik!" sambung Hani dengan mata berbinar.
" Adek, sudah punya suami dan anak?" tanya balik Bg Monas yang pura - pura tidak tahu.
" Sudah!" jawab Hani singkat. Dan lagi- lagi membuat Bg Monas terpingkal- pingkal.
" Saya dari dulu suka anak cewek bg" sambung Hani dengan senyum yang dipaksa.
" Ya, semoga kelak kita bisa berjodoh dan dapat anak cewek seperti yang adek inginkan" sahut Bg Monas sambil tersenyum lalu memberanikan diri mengecup kening Hani dengan kasih. Hani terdiam dan melongo.
" Hahhh???"
" I Miss you Hani!" kata Bg Monas pelan sambil memegang erat genggam tangan Hani.
Hani hanya diam, masih dengan tanda tanya dan kebingungan.
__ADS_1