
Pagi sudah mengintip dibalik gelap,fajar telah tiba dan matahari sudah mulai bertugas menerangi gelap.
Mereka masih diruangan itu,Hani terjaga dan sedikit tidak percaya ada ditempat itu. Dilihatnya tubuh laki laki tinggi besar dan berkulit putih sedang tidur meringkuk di bawah yang beralaskan karpet. Hani bangkit dari tempat duduknya dan mendekati tubuh itu yang selimutnya tersingkap dan berusaha Hani rapikan agar tidak kedinginan.
" Kalau tidur seperti ini,seperti anak bayi yang tak berdosa." pikir Hani sambil mengelus dan mengusap rambut di kepala pemuda itu.
" Sudah bangun dek?"
Hani terkejut,tiba tiba bg Monas membuka matanya dan mengambil tangannya yang dipakai untuk mengusap kepalanya. Diciumnya tangan itu dan tidak juga dilepaskan.
Hani menarik tangannya dan berusaha bangkit lagi ke tempat tidurnya. Monas ikut bangkit dan berpindah tempat mendekati Hani ditempat tidur. Hani sedikit melotot tapi Monas cuek saja dan kembali tidur lagi di spring bed itu.
" Sudah pagi bg!"
" Hemm,masih ngantuk dek!"
" Bg!"
" Heem!" kata Monas sambil merubah posisi tidurnya menghadap kearah Hani.
" Baju kita kan masih di laundry,sayang!"
Hani terdiam,ia teringat saat ini tidak memiliki baju ganti demikian juga bg Monas. Akhirnya Hani pasrah menunggu jam sepuluh tiba sesuai janji bapak pelayan itu.
Pikiran Hani agak resah,diambilnya ponsel yang ada ditas nya yang ia matikan dari kencan tadi malam. Dihidupkannya ponsel itu dan dilihatnya layar ponsel itu. Disana banyak sekali pesan masuk di Wa dan ada beberapa pesan nomer yang belum ke save.
__ADS_1
17.50. 0853 7896 xxx
"Asskum apakah ini no Hani?"
17.51. 0853 7896 xxx
"Hani, Rohani kecelakaan!"
17.52 0853 7896 xxx
"Sekarang di rumah sakit."
06.00 Hani
"Maaf ini dengan siapa? Dirumah sakit mana?"
.....
" Huammmm, dek...kenapa dek?" tanya Monas dengan suara serak sambil memeluk badan langsing Hani.
Hani diam, menikmati pelukan hangat didalam tubuh kekarnya bg Monas. Seketika kedamaian dan ketenangan yang muncul di sana.
" Kenapa,sayang?" tanya Monas lagi yang berbicara lebih dekat di belakang telinga Hani.
Hani bergidik,merinding,aliran hangat itu kembali menjalar di seluruh pori - pori nya. Jiwa kewanitaannya bergelora. Hani berbalik,merubah posisinya menghadap ke bg Monas dan kembali Abang itu memeluk tubuh Hani semakin erat.
" Ada apa sayang?" tanya Monas sambil memegang kedua pipi chubby Hani.
Tidak ada jawaban Hani disana, Hani hanya terdiam dan memejamkan matanya. Kesempatan itu menjadikan Monas semakin berhasrat untuk mengecup bibir merah Hani berlahan. Cukup lama bibir mereka menyatu,Hani pun menyambutnya dan membalas ciuman itu. Untuk sementara Hani melupakan rasa sedih,rasa bersalahnya terhadap Rohani dan menikmati setiap sentuhan sentuhan indah dari tangan tangan nakal Monas.
__ADS_1
" Sudah sering ciuman seperti ini?" Tanya Hani pelan.
Yang ditanya malah tersenyum dan makin memburu ciumannya ke bibir seksi Hani.
Hani mendorong tubuh bg Monas agar tidak kebablasan. Monas tersenyum simpul,dan kembali memejamkan matanya antara masih ngantuk atau ingin menikmati semua yang sudah ia lakukan bersama Hani.
" Abang bahagia!"
" Kenapa?"
" Bisa mengambil ciuman pertama Hani hehehe."
"Huh!" Hani menoel lagi pinggang Monas.
" Jujur, ini pertama kali Abang ciuman dengan cewek yaitu sama Adek."
" Enggak percaya!"
"Kok gak percaya sama Abang sic."
"Abang tuh, seperti sudah mahir dengan itu."
"Hehehe...namanya dengan orang yang disukai,hasrat itu pasti timbul."
Hani diam,menatap wajah ganteng Abang itu bahkan terlalu ganteng saat bangun tidur itu. Tangannya mengusap wajah laki laki kekar itu. Monas terpejam berusaha menikmati sentuhan tangan Hani.
" Lapar gak?"
" Lapar sic?"
__ADS_1
" Mau keluar dengan pakaian seperti ini? ogah ya." kata Hani.
" Hemm, nanti kita pesen pelayan biar menghantarkan breakfast nya ke kamar."