
Hani masih duduk di kursi sofa. Matanya masih bengkak karena terlalu banyak air mata nya yang keluar. Pipi kanan dan kiri nya masih merona merah karena tamparan nya sendiri. Mata nya sayu untuk melihat Monas yang masih menjalankan sholat. Entah sholat apa yang di kerjakan Monas. Berkali - kali dan cukup banyak reka'at yang di kerjakan.
Sudah hampir tiga puluh kali salam, Monas masih terus mengerjakan sholat tanpa berhenti. Sampai akhirnya, Monas duduk diam dan meneteskan air mata. setelah nya kembali di membaca hafalannya sampai satu juz. Tangan Monas melambai ke arah Hani. Mengisyaratkan supaya Hani mendekat ke tempatnya duduk beribadah. Hani mengikuti perintah suaminya itu mendekat dan membaringkan kepalanya di pangkuan suaminya itu.
Monas masih dengan hafalannya sedang kan Hani mulai tertidur di pangkuan suaminya. Ayat - ayat suci yang membuat tenang bagi orang yang mendengarnya. Menjadikan tentram dan damai hati yang sedang resah.
Akhirnya Monas menyudahi hafalannya.
Maha Benar Allah Dengan Segala FirmanNya.
Monas tersenyum dan membelai rambut Hani yang tanpa kerudung. Hani terbangun dan duduk di dekat suaminya. Menjabat tangannya dan menciumnya.
" Abang."
" Iya sayang."
" Banyak sekali reka'at yang di kerjakan, sholat apa bang?"
" Sholat taubat 100 reka'at." jawab Monas.
Hani terdiam menatap suaminya dengan penuh tanya.
" Abang telah menyakiti istri Abang, sampai tangisan nya terisak - Isak dari hatinya yang paling dalam."
" Abang telah menzolimi istri Abang sendiri."
" Abang tidak perlu melakukan itu, Abang tidak salah." kata Hani pelan. Kembali Monas membelai kepala istrinya.
" Abang minta maaf,ya sayang."
kata Monas dan Hani membenamkan kepalanya di dada suaminya.
" Duduklah, biar Abang kompres mata dan pipi adek." kata Monas sambil mengusap pipi Hani yang memerah.
Monas mengambil air es dan mulai mengkompres nya dengan handuk kecil. Hani terdiam melihat Monas yang serius mengusap dengan lembut pipi kanan kiri Hani.
" Seharusnya kamu tidak melakukan tindakan konyol seperti itu." kata Monas yang iba melihat pipi Hani yang sedikit bengkak.
" Ini tidaklah sakit. Yang membuat sakit, Abang diam, dan mendiamkan adek selama ini."
" Oh? Abang minta maaf."
" Adek, kurusan!" sambung Monas.
" Tiga Minggu itu, cukup untuk membuat selera makan jadi berkurang."kata Hani.
" Astagfirullah, Abang telah menganiaya istri Abang sendiri."
__ADS_1
" Jadi?" tanya Hani.
" Jadi apa?" tanya Monas.
" Masalahnya apa?" tanya Hani.
" Sudahlah! Tidak perlu di bahas lagi. Abang yang salah."
" Adek sudah makan?"
" Menurut Abang?"
" Iya maaf! Mau makan apa, biar selera."
" Terserah Abang saja."
" Ketoprak, sate kambing, capcay, biar Abang pesankan semua itu."
" Dek?"
" Iya?"
" Abang sampai belum fitting baju untuk nikah an kita."
" Adek pikir, Abang sudah tidak ingin menikah dengan Hani."
" Nanti kita cari di Jakarta saja setelan jas dan kebaya untuk adek."
" Tidak perlu bang, semua sudah siap di Solo."
" Tidak apa - apa. Kita cari untuk kenangan terindah kita. Kita foto pra wedding di sini yuk!"
" Hah?"
" Tidak perlu bang, uang Abang entar habis loh!"
" Uang abang masih banyak, dan tidak habis - habis kok."
" Ais mulai sombong nya." kata Hani sambil tersenyum.
" Alhamdulillah, bisa melihat istri tercintaku kembali tersenyum.
" Abang!"
" Iya, sayang!"
" Nuria itu siapa?"
__ADS_1
" Eh? Coba tebak menurut adek siapa?"
" Bukan penggemar Abang kan?"
" Bukan!"
" Ridwan, Arifah?"
" Mereka sudah tidak berhubungan lagi."
" Seperti yang adek prediksi kan waktu di air terjun itu."
" Manusia diberi beberapa pilihan, tinggal memilih yang mana? Usaha manusia itu sendiri sebagai penentu tujuannya."
"Iya betul, kalau adek tidak datang ke Jakarta? Kemungkinan terburuk pasti terjadi."
" Apa itu?" tanya Monas.
" Abang lebih paham, apa jawabannya."
" Lalu?"
" Lalu? Suatu saat Abang akan menyesal karena telah mensia - sia kan adek."
" Karena adek, sudah terlambat dua Minggu."
" Hah?"
" Alhamdulillah!"
" Adek hamil?" tanya Monas dan Hani hanya mengangguk kan kepalanya.
" Alhamdulillah ya Allah."
" Adek, ayo kita cari makan!"
" Gak mau!"
" Kenapa?"
" Ini mata adek masih bengkak."
" Biar Ridwan sama Nuria saja yang keluar untuk beli makanan."
" Ketoprak, sate kambing, capcay, iga bakar."
" Sekalian restoran nya bawa kemari."
__ADS_1
" Hehehe, Abang bahagia." kata Monas sambil mengusap perut Hani pelan.