
Hani berbaring di atas kasur empuk kamar Monas. Matanya masih berat untuk membuka mata. Hani meng kucek matanya pelan. Sontak Hani terkejut, melihat seorang pemuda duduk di kursi sofa panjang sebelah tempat tidur nya. Siapa lagi kalau tidak suaminya yaitu Monas.
" Eh Abang? sudah lama datang." tanya Hani sambil menjabat erat tangan suaminya itu dan menciumnya.
Tidak ada reaksi dan kata - kata yang terucap dari mulut suaminya itu. Dia diam tidak ada pergerakan.
Hani mulai memberanikan diri mendekati suaminya yang masih duduk di sofa panjang itu. Hani tahu ada yang tidak beres dengan hubungan mereka.
" Yang pertama,aku minta maaf bang, jika kedatangan ku di Jakarta ini tidak ada pemberitahuan kepada abang."
" Yang kedua, aku pun juga minta maaf lahir batin dengan semua kesalahan yang ku sengaja maupun tidak aku sengaja."
" Yang ketiga, aku masih meminta maaf semua sikap atau perbuatan yang tidak berkenan di hati Abang." ucap Hani dengan suara bergetar.
" Yang ke empat, aku masih meminta maaf lahir batin semua keadaan yang buruk ini."
" Yang ke lima, aku mewakili keluarga ku jika ada kesalahan dan kekurangan mohon maaf lahir batin." sambung Hani yang tidak bisa membendung air mata karena kesedihannya.
__ADS_1
" Terakhir, ....untuk acara kita...akan di lanjutkan atau..." ucapan Hani terputus. Tidak sanggup untuk melanjutkan nya.
" Tetapi bisa kah Abang memberi tahu, apa kesalahanku? Mungkin saja aku bisa memperbaiki semua kesalahanku." lanjut Hani dengan isak tangis nya.
Baru sekali ini. Hani merasakan sesak yang luar biasa. Kepedihan di diamkan suaminya selama tiga Minggu menjadi luka yang sangat dalam. Kalau saja bisa memilih, lebih baik di tikam dengan belati di banding di diamkan suaminya selam ini. Apalagi sebentar lagi acara pernikahan sesungguhnya akan dijadwalkan.
Apa semua nya akan berakhir seperti ini? Tanpa jelas duduk persoalannya? Hani mengusap air matanya dengan kasar.
Pemuda yang ada di samping nya masih terdiam. Tidak ada reaksi dan pergerakan.
" Abang! Bicara lah! Bila perlu maki - maki saja aku."
Hani kini memilih diam. Menikmati air mata yang menetes di matanya.
" Bukankah Abang yang mengijinkanku untuk menghadiri acara reuni itu?" kata Hani mencoba menebak - nebak kesalahan nya.
Monas mulai bereaksi. Matanya mulai melotot.
__ADS_1
" Aku tidak pernah mengkhianati Abang." sambung Hani dengan suara bergetar.
" Aku tidak pernah menjalin hubungan dengan pria mana pun selain Abang."
" Lalu apa kesalahanku, abang mendiamkan aku selama ini."
"Ini sangat menyakitkan bagi ku,yang sudah menjadi istri sah Abang walaupun... masih siri." kata Hani bergetar.
Hani memberanikan diri mengambil tangan Monas dan memukul - mukul kan ke pipi Hani sendiri. Cukup lama telapak tangan itu menampar dengan kuat pipi kanan dan kiri Hani.
" Cukup!" sahut Monas sambil menarik tangannya.
Hani menangis tersedu - sedu. Kalau saja masih berpacaran, Hani tidak akan melakukan tindakan bodoh yang menyakiti dirinya sendiri seperti itu. Tetapi dia sudah menjadi istri Monas. Bagi nya dia harus berjuang dan memperbaiki hubungan ini.
" Sudah berdiri lah." kata Monas sambil mengangkat pundak Hani yang duduk di bawah, tempat Monas duduk.
Monas membenamkan kepala Hani di dadanya. Monas meneteskan air matanya. Dia sadar telah menyakiti hati istrinya dengan sikap diamnya.
__ADS_1
" Maaf kan Abang, Abang minta maaf." kata Monas dengan suara bergetar menahan kesedihannya melihat istrinya yang terisak-isak.
Kecemburuan nya telah membutakan matanya. Akal nya jadi tidak sehat. Gengsinya bagai gunung es. Akhirnya bisa terpadamkan oleh air mata Hani. Air mata istri yang tulus untuk meminta maaf walau tidak melakukan kesalahan.