TUNGGU LAH KU DAN JAGA HATIMU

TUNGGU LAH KU DAN JAGA HATIMU
Terjebak Hujan


__ADS_3

Waktu azan magrib sudah berkumandang, setelah mandi,Hani menunaikan sholat magrib di kamarnya. Seusai salam, Hani wiridan sebentar dan berlanjut membaca Al Qur'an.


Ayat demi ayat Hani lantunkan dengan merdu. Ia berusaha khusuk dan khidmat walau pikirannya masih teringat,ada bg Monas yang masih menunggunya di luar teras depan.


Cuaca malam di gunung Pati,malam ini dingin. Langit nampak gelap tidak berbintang. Mungkin saja akan segera turun hujan di kawasan itu.


Hani meletakkan Al Qur'an yang ia baca, di rak buku- buku nya. Hani mulai melanjutkan lagi tugasnya yang belum selesai. Matanya melihat jam di dinding lagi. Jarum jam menunjukkan pukul setengah delapan. Perutnya sudah mulai protes ingin diisi. Lapar pun ia tahan, supaya tidak berjumpa dengan. Bg Monas.


Tiba tiba pintu kamarnya diketuk seseorang,dan suara itu sudah familiar baginya. Dia adalah ibu kost nya.


" Mbk Hani, ada yang mencari mbk Hani diluar." kata ibu kost.


" Iya Bu." sahut Hani sambil membuka pintu kamarnya.


" Iya Bu!"


" Itu ada kawan mbk Hani diluar, ibu baru tahu kalau dia nyari mbk Hani,cepetan ditemui,sebentar lagi turun hujan,kasihan kalau nanti kejebak hujan disini."


" Iya Bu,trimakasih Bu."


" Ya sudah, ibu kembali kedepan dulu mbk Hani."


" Iya Bu."


Ibu kost melangkah pergi,kembali ke rumahnya,yang letaknya berdampingan dengan kamar kamar yang di sewa kan.


Tiba-tiba mbk Atik datang menghampiri Hani.


" Dek, belum ditemui juga?" kata Mbk Atik tiba- tiba dan masuk ke kamar Hani yang pintunya belum Hani tutup.


"Hehe jawab Hani sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


" Ya ampun dek, tega sekali dek dek,sudah berjam jam lho dek." sahut Mbk Atik.


Tiba- tiba kilat menyambar dan beberapa air rintik hujan mulai turun. Hujan itupun akhirnya turun dan jatuh dikawasan Sekaran,Ungaran Gunungpati.


Mbk Atik memelototi Hani, yang tidak bergerak untuk menjumpai orang yang mencarinya.


" Kalau sudah seperti ini,gimana coba? sudah hujan,dia sendirian lho dek, belum lagi diteras kena air hujan."


" Gimana donk mbk?"

__ADS_1


" Adek, tega banget!"


" Tolong mbk Atik saja...yang jumpai."


" Eh...kamu stress ya dek? Urusan nya apa coba dengan mbk,sana keluar!"


kata Mbk Atik sambil mendorong tubuh Hani dari belakang ke arah teras luar.


Mbk Atik membuka pintu ke arah teras, mengintip keberadaan pemuda yang menunggu Hani. Dia masih duduk dikursi kayu panjang yang slalu diletakkan diteras depan.


" Bagaimana mbk?"tanya Hani yang belum ingin mengintip


" Kamu lihat sendiri dek!"


Hani mengintip keluar. Dia mendapati bg Monas masih duduk di kursi sambil mengusap usap kedua tangannya agar tidak kedinginan. Hani kembali masuk agar tidak terlihat oleh Bg Monas.


" Kamu ngapain dek? sudahlah temui lah kawan adek itu!"


"Aku takut mbk."


" Takut kenapa?"


" Tadi sudah terlanjur bohong, kalau Hani gak ada di kost."


Hani menarik nafas panjang,hatinya ciut untuk menghadapi bg Monas. Hani sudah iba,melihat Bg Monas yang duduk sendirian diteras itu tetapi dilain sisi ia ingin semua diakhiri.


" Ayo dek!"


" Iya...iya mbk." kata Hani sambil pelan pelan membuka pintu keluar menuju teras depan.


Hani melangkah keluar,dan duduk mendekati bg Monas dengan pelan pelan.


Hani terdiam. Bg Monas pun ikut membisu,sambil tetap mengusap usapkan ke dua telapak tangannya.


Ditatapnya wajah Bg Monas itu diam diam. Mungkin dia marah,atau kecewa dengan sikap Hani. Atau sebenarnya Bg Monas sudah mau pergi dari tempat duduknya tetapi karena terjebak hujan,dia tidak bisa pergi meninggalkan tempat itu.


" Bg." Hani memberanikan diri memulai pembicaraan.


" Iya" sahut bg Monas. pandangannya menatap ranting ranting pohon yang terkena air hujan.


" Dari mana dek?" kata bg Monas pura pura gak tahu.

__ADS_1


Hani mencuri pandang wajah pemuda disampingnya. Tatapannya masih. kedepan,melihat rintik rintikan air hujan yang turun deras. Rasanya ini membuat getir dada Hani. Kalau boleh memilih, lebih baik ditusuk dengan belati dibanding situasi yang kaku seperti ini.


Tiba- tiba suara petir dan kilat menyambar di langit. Hani spontan menjerit dan memeluk pemuda yang ada di sampingnya.


" Awwww....astagfirullah!!!" jerit Hani.


" Ahhhh." Hani menutupi kedua telinganya dengan kedua tangannya.


" Ma..maaf bg." kata Hani sambil sedikit bergeser dari tempat duduknya.


Kini giliran bg Monas menatap wajah Hani yang sedang ketakutan. Bg Monas menggeser tempat duduknya lebih dekat dengan Hani dan merengkuh badannya.


" Kenapa? tidak ingin jumpa dengan Abang?" kata Bg Monas lirih di samping telinga Hani


Hani masih gemetaran,karena rasa takutnya belum hilang.


" Ma...maaf bg." sahut Hani


" Ya sudahlah, adek masuk ke dalam,diluar dingin dan petir menyambar nyambar gini."


" Lalu? Abang gimana?"


" Abang mau balik dulu." kata Bg Monas sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Nanti saja bg,hujannya masih deras."


" Sudah berjumpa dengan adek, itu sudah cukup buat Abang."


" Hemm gak papa,Abang sudah biasa hujan - hujanan."


" Tapi ini,hujannya pakai petir segala."


"Iyaa, gak papa." kata Bg Monas sambil melangkah menuju parkiran tetapi sebelum itu Hani mencegahnya dengan menarik tangan bg Monas.


" Duduklah dulu bg,tunggu sampai reda." kata Hani sambil memegang tangan Bg Monas.


Bg Monas menatap wajah Hani dan kembali duduk di kursi kayunya.


" Kamu mengkwatirkan abang,dek? atau ingin berlama lama dengan Abang?"


Hani diam seribu bahasa. Bg Monas memandangi kembali wajah Hani disampingnya dan merapatkan duduknya lebih dekat sisi Hani lalu merengkuhnya kembali.

__ADS_1


" Jangan membohongi perasaan adek sendiri." bisik Bg Monas ditelinga Hani dan Hani memilih diam,menunduk dengan apa yang sudah ia lakukan kepada pemuda ini.


__ADS_2