
Di rumah Monas. Ridwan,Nuria dan Monas sedang duduk di ruang tengah. Mereka melepaskan kepenatan karena seharian padat aktivitasnya. Monas sambil makanan siap saji yang dibelinya waktu perjalanan ke rumah. Ida menghampiri dan bergabung diantara mereka.
" Bang! Tadi ada dua mahasiswa perempuan datang kemari mencari Abang. Kata nya dari pulang KKN langsung kemari, dengan membawa tas trevel." cerita Ida sambil meletakkan kopi buatan nya.
" Hah? Mahasiswa?" tanya Monas lebih ditujukan untuk dirinya sendiri.
" Iya! Tadi Ida suruh tunggu Abang tapi tidak mau. Katanya besok saja kemari lagi" cerita Ida.
" Kata nya mau menginap di sekitar sini." sambung Ida.
" Hah?" sahut Monas kaget dan memandang Ridwan.
" Bagaimana ciri - ciri orang itu?" tanya Ridwan.
" Satu pakai jilbab Pasmina dan satu lagi berambut pendek. Tinggi badan nya dan berkulit putih bersih. Seperti nya yang berjilbab sedang hamil." cerita Ida.
Ridwan dan Monas saling berpandangan. Mereka menduga dengan orang yang sama.
" Ida permisi tidur dulu bang." kata Ida akhirnya.
" Sudah makan belum mbk?" tanya Nuria.
" Sudah! Terimakasih." jawab Ida sambil masuk ke kamar.
"Hani!" kata Monas pelan. Aku telephon Hani dulu." kata Monas sambil mencari nomer kontak istri nya itu.
" Assalammualaikum."
" Waalaikum salam!" jawab Hani di seberang.
" Adek lagi dimana?" tanya Monas menyelidik.
" Lagi tiduran di kamar." jawab Hani.
" Di mana?" tanya Monas panik.
" Di Solo lah bang! Ke mana lagi ibu - ibu bunting ini." jawab Hani.
" Oh! Syukurlah." sahut Monas lega.
" Adek sudah makan?" tanya Monas akhirnya.
__ADS_1
" Sudah sayangkuh!" jawab Hani dengan suara manja.
" Makan apa tadi?" tanya Monas.
" Makan bakso!" jawab Hani.
" Oh!" Monas tersenyum.
" Dek?"
"Hem?"
" Abang selalu menyayangi adek, dan itu tidak akan pernah berubah." kata Monas dengan suara bergetar.
" Iya adek tahu. Abang kenapa sayang?" tanya Hani.
" Tidak apa - apa. Abang tidak ingin kehilangan adek."
" Oh! Kenapa Abang menangis?" tanya Hani.
" Tidak! Abang hanya kangen. Beberapa bulan ini jadwal sangat padat. Minggu depan insyaallah Abang pulang dek."
" Dek?"
" Hem?"
" Adek bayi nya sehat?"
" Alhamdulillah. Dia mulai aktif nendang - nendang perut bunda nya."
" Oh kangen! Ingin mengusap nya.
" Dek?"
" Hem?"
" Dek?"
" Kenapa diam saja?"
" Adek ngantuk bang!"
__ADS_1
" Oh ya ampun! Abang minta maaf ganggu istri Abang mau istirahat ya."
" Ya sudah besok Abang telepon lagi."
" Iya bang!" kata Hani.
"Eh bang!"
" Iya?"
" Hani sayang Abang baik dulu maupun sekarang dan itu tidak akan pernah berubah."
" Iya Abang juga"
Panggilan keluar itu terputus. Kini Monas sedih,rasanya ingin pulang.
" Bagaimana Nas?" tanya Ridwan.
" Hani di Solo kok." jawab Monas.
" Tapi ciri - ciri nya jelas - jelas Hani dan Arifah. Mana ada mahasiswa mu datang kemari untuk konsultasi."
" Itu benar sekali Ridwan. Aku sebenarnya curiga."
" Kita memastikan penginapan di sekitar sini saja. Ada Mbk Hani atau tidak?" sahut Nuria.
" Betul juga yah!" kata Ridwan.
" Aku benar- benar takut." kata Monas.
" Kalau benar - benar Hani yang datang kemari. Kenapa Hani Santai saja. Lagi pula suara nya seperti tidak terjadi apa - apa."
" Ridwan! Minggu ini aku pulang ke Solo dulu." kata Monas.
" Tidak bisa Nas! Satu bulan ini kamu tidak bisa pulang karena jadwal mu padat. Bulan berikutnya baru kamu bisa pulang."
" Ya Allah."
" Semoga Istri dan anakku baik - baik saja."
" Amin." sahut Nuria dan Ridwan.
__ADS_1