TUNGGU LAH KU DAN JAGA HATIMU

TUNGGU LAH KU DAN JAGA HATIMU
Naik Kereta Api


__ADS_3

Hari Jumat itu Hani dan Arifah sudah dalam perjalanan menuju Jakarta. Dengan menempuh perjalanan kurang lebih 9 jam dari Solo karena Hani ingin naik kereta api senja utama.



Di dalam kereta api, Hani dan Arifah asyik ngobrol membahas hal - hal yang tidak penting. Mereka adalah sahabat karib yang tidak terpisah kan.


" Kamu pernah jumpa dengan pacar Ridwan Han?"


" Sudah! Orang nya pendiam. Jadi takut kalau aku bercanda yang kelewat dengan nya. Bawaannya serius orangnya." cerita Hani.


" Pasti cantik aku yah?" sahut Arifah kepedean.


" Memang benar! Kamu lebih cantik." kata Hani.


" Hehehe. Ah pasti cantik dia, karena Ridwan memilihnya di banding aku yang di tinggalkan begitu saja." kata Arifah sambil melihat pemandangan luar dari balik jendela.


"Tuh kan? Jangan berkecil hati dong! Mungkin saja Ridwan masih buta, jadi tidak bisa melihat baik dan cantiknya kamu Fa."


" Ah Hani. Kamu hanya menghibur ku saja. Mau makan gak?" tanya Arifah.


"Pesen bakso di restorasi saja!" kata Hani.


" Minum apa?" tanya Arifah.


" Teh manis panas."jawab Hani.


" Bakso satu, nasi goreng satu, teh manis panas satu dan es teh satu." kata Arifah kepada petugas kereta bagian restorasi.


" Jangan tidur dulu! Belum makan ini." kata Arifah.


" Bentar saja." kata Hani.


" Bagaimana bang Ridwan sekarang yah? Tambah gemuk atau kurus?"


" Terakhir ketemu di acara resepsi pernikahan ku ya Fa?"


" Iya betul."

__ADS_1


" Rasanya canggung kalau jumpa karena hubungan kami renggang dan putus begitu saja. Tidak ada kata - kata."


" Ridwan nanti akan menyesal meninggalkan kamu begitu saja." sahut Hani.


" Kurasa karena ada yang baru dan dekat, jadi yang jauh di lupakan." kata Arifah.


" Ya sudahlah! Ayo makan dulu." kata Hani akhirnya setelah makanan dan minuman yang mereka pesan sudah datang.



Naik kereta api memang mengasyikkan. Selain bersih dan aman, ada pelayanan di restorasi nya yang menyediakan makanan dan minuman.


Hani dan Arifah memilih kelas bisnis yang tempat duduknya dua - dua.


Mereka menikmati perjalanan dari Solo ke Jakarta dengan kereta api. Selama hampir sembilan jam akhirnya mereka tiba di Jakarta. Sampailah di stasiun pemberhentian terakhir.


Hani dan Arifah berjalan ke luar stasiun dan mulai mencari taksi menuju rumah Monas.


Akhirnya mereka sampai di rumah Monas setelah beberapa menit perjalanan dengan taksi tersebut.


Arifah mulai mengetuk pintu rumah Monas di serta i ucapan salam. Tidak berapa lama kemudian,seorang wanita dengan pakaian muslimah dan berparas cantik membuka pintu itu.


" Eh maaf! Ini benar rumah Pak Monas?" tanya Arifah karena takut kalau dia salah rumah.


" Benar! Silahkan masuk!" kata wanita itu.


Hani dan Arifah terbengong dan penuh tanda tanya. Hani dan Arifah mulai mendudukkan pantatnya di kursi sofa ruang tamu.


Mata Hani melihat foto besar terpampang di dinding. Foto wanita itu bersama Monas.


Hani mulai mengatur emosi dan nafasnya.


Hani menarik nafas panjang. Arifah yang berada di sampingnya memahami kondisi Hani saat ini. Di pegang nya tangan Hani agar tenang dengan keadaan yang belum bisa di mengerti oleh Hani.


" Suamiku masih kerja, sebentar lagi pasti pulang." kata Ida sambil tersenyum.


Hani terdiam mendengar perkataan wanita itu. Arifah yang di sampingnya tidak melepas genggaman tangan Hani.

__ADS_1


" Hem, kalau boleh saya tahu. Mbk - mbk ini dari mana? Dan tujuannya apa mencari suami saya? Apalagi mbk membawa tas yang besar, seperti datang dari luar kota." kata Ida menyelidik.


" Oh! Kami mahasiswa habis pulang KKN, anak didik dari Pak Monas." jawab Hani.


" Hem Maaf ibu namanya siapa ya? Setahu saya istri pak Monas ada di luar kota ya." kata Arifah menyelidik.


"Nama saya Ibu Ida. Saya istri ke dua dari Pak Monas. Istri pertama Pak Monas ada di Kota Solo. Saya baru menikah dengan Pak Monas dua bulan ini secara nikah siri di pesantren." cerita Ida dengan bangga.


" Rumah adik - adik ini dimana ya? Nanti tidur di mana? Soalnya sebelah kamar kami, di tempati oleh kawannya Pak Monas."


" Oh! Jangan kwatir Bu Ida. Nanti kami bermalam di penginapan saja." sahut Hani.


" Hem boleh saya ke belakang sebentar Bu Ida?" tanya Hani.


" Boleh! Silahkan! Lurus saja kamar mandi nya ada di belakang." kata Ida.


Hani mulai melangkahkan kaki nya ke kamar mandi. Sambil melihat - lihat perubahan tata letak rumah Monas. Apalagi foto Hani dan Monas sudah tidak terpampang lagi di dinding.


Di belakang dekat dapur, Hani menemukan foto lama dirinya dengan Monas di masa kuliah berada di sudut ruangan. Foto itu dibiarkan di bawah dan tidak di pasang di dinding.


Hani terdiam dan kembali ke ruang tengah.


" Ibu Ida, kami permisi pulang. Mungkin lain kali kami janjian dulu jika ingin menjumpai pak dosen." Kata Hani setelah duduk di kursinya.


Hani dan Arifah bangkit dari tempat duduknya. Mereka permisi dengan Istri ke dua Monas itu.


" Sebenarnya sebentar lagi suami saya datang." kata Ida.


" Tidak apa - apa Bu Ida! Besok kami bisa menjumpai nya di tempat seminar." sahut Arifah sambil menjinjing tas trevel Hani.


Arifah dan Hani berjalan meninggalkan rumah itu. Rumah yang bagi Hani banyak kenangan bersama Monas.


Hani terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa. Hati nya sakit, dadanya terasa sesak.


Mereka berjalan cukup jauh dari rumah itu sambil menunggu mobil grab datang.


Inilah yang di dapat Hani ke Jakarta. Keinginan memberikan surprise kepada suaminya jadi kacau. Seperti halnya kacau pikirannya menghadapi kenyataan pahit yang tidak di duganya.

__ADS_1


__ADS_2