TUNGGU LAH KU DAN JAGA HATIMU

TUNGGU LAH KU DAN JAGA HATIMU
Pilu


__ADS_3

Hani dan Arifah sudah berada di dalam mobil grab. Hani masih terdiam, tidak berkata - kata. Arifah masih menggenggam tangan Hani yang mulai dingin. Sesekali telapak tangan itu di usap oleh Arifah. Ibu hamil itu tampak sock dengan apa yang telah ia lihat di rumah Monas. Rumah yang menyimpan kenangan manis bersama suaminya ketika masih berstatus nikah siri dengan Monas.


" Kita turun di mana Han?" tanya Arifah.


" Cari penginapan dekat stasiun atau dekat sini saja tidak apa - apa." jawab Hani berusaha tegar dan semangat.


" Turun penginapan dekat sini saja Pak." kata Arifah kepada sopir grab.


" Baik bu!" jawab sopir itu sambil menjalankan mobilnya.


" Losmen gak papa ya Bu!" tanya sopir itu.


" Iya pak!" jawab Arifah.


" Di depan itu ada Bu. Disana saja gak papa?" tanya sopir itu.


" Iya pak. Turun saja di sana." jawab Arifah.


Tidak berapa lama kemudian. Mobil itu berhenti di depan penginapan yang tidak terlalu megah dan mewah.


Hani dan Arifah turun dari mobil itu dan membayar tarif nya ke sopir itu.


" Ayo Han. Kamu tidak perlu berpikir macam - macam. Pikirkan saja bayi di dalam perutmu. Oke?" kata Arifah memberi semangat Hani.

__ADS_1


" Iya Arifah. Terimakasih kamu selalu menemani ku." kata Hani.


" Iya. Semangat!" sahut Arifah.


Setelah cek in, mereka di antar oleh petugas penginapan itu di kamar sesuai nomer kamarnya.


Di dalam kamar Hani membaringkan tubuhnya. Arifah di dekatnya membalur kakinya dengan minyak kayu putih.


" Hani." panggil Arifah.


" Kamu kalau mau menangis, menangis lah! Jangan di tahan ya." kata Arifah.


" Iya Fa! Aku tidak pernah terpikir kalau suamiku akan menikah lagi." kata Hani dengan suara bergetar.


" Mungkin saja, Abang tidak terlalu membutuhkan aku di sisinya." kata Hani akhirnya dan air matanya mulai meluap membasahi pipinya.


" Hani!" panggil Arifah pelan. Arifah ikut menangis dengan situasi ini.


Tangisan Hani pecah bersama hatinya yang hancur berkeping - keping.


Segenap rasaku jiwaku, hanya untuk engkau. Kita pun ber akad mengurai ikrar saling setia. Dan kini ada dia, mungkin Tuhan menguji aku. Namun bagaimana bila ikhlas tak hadir di hatiku.


Bersama denganmu ku yakin engkau hanya untukku. Ku tak meminta cinta berlebih hanya ingin sakinah. Namun mengapa dia kau undang ke istana kita. Perih hati ini pudar harap mawadah bersamamu.

__ADS_1


Merelakan cinta untuk di bagi. Tak semua hati siap berbagi. Mungkin bisa saja hanya bilang Tuhan yang mau. Akulah sayap mu yang kau butuhkan untuk nanti terbang ke surga dia. Namun bukan ini, surga yang ku rindukan. (Surga Yang Tak Di Rindukan by Krisdayanti)


" Hani!" panggil Arifah.


" Makan yuk sayang!"


" Kamu harus makan,untuk anakmu yang masih di dalam perut."


Hani menganggukkan kepala pelan. Di makanlah makanan yang ada di sendok dari suapan Arifah. Mata nya masih kosong menatap langit - langit kamar penginapan itu. Air mata Hani masih jatuh tak terkontrol lagi.


" Kita pulang besok Fa!" kata Hani kemudian.


" Apa tidak lebih baik kamu menjumpai Monas dulu." kata Arifah.


" Di sini aku sudah tidak di butuhkan lagi Fa. Ada Ida yang mendampingi dan melayaninya setiap hari." kata Hani pelan.


" Hani!" sebut Arifah pelan.


" Aku pulang, dan pura - pura tidak tahu akan situasi ini. Biar aku bisa memaafkan dan memaklumi situasi ini. Aku yang jauh tidak bisa menjadi istri yang baik. Tidak bisa melayani dia setiap hari." kata Hani dengan lemah.


" Hani!" panggil Arifah pelan.


" Sudahlah! Aku harus semangat! Aku harus kuat! Aku akan menjadi Hani yang dulu. Mandiri lagi!" kata Hani memberi semangat sendiri.

__ADS_1


Arifah memeluk sahabatnya itu sambil terisak-isak.


__ADS_2