TUNGGU LAH KU DAN JAGA HATIMU

TUNGGU LAH KU DAN JAGA HATIMU
Syukur


__ADS_3

Fajar sudah menyingsing, setelah menjalankan ibadah sholat bersama dengan Monas,Hani mulai mengemasi barang-barang. Di lihatnya,suami tercinta masih dengan hafalannya melantunkan ayat-ayat. Sesekali melirik Hani yang sibuk beberes. Pagi ini, mereka akan kembali ke Solo bersama Mas Joko,Arifah,Ridwan.


Hani mendekati Monas yang masih mengaji dengan lancarnya. Mata nya masih mengantuk. Disandarkan kepala Hani di pangkuan Monas. Sambil mendengarkan Monas mengaji, Hani pun semakin lelap dalam tidurnya. Cukup lama suara ayat suci terdengar dari mulut Monas,kira - kira satu juz panjangnya baru Monas menyudahi bacaan nya.


" Maha Benar Allah dari segala firman Nya."


Hani masih nyenyak di pangkuan Monas. Monas tersenyum lalu mengangkat kepalanya dan kembali mengangkat tubuhnya di atas tempat tidur. Setelah memindahkannya di tempat tidur Hani terbangun.


" Eh??"


" Sudah bangun yah?" tanya Monas.


" Arifah sudah siap - siap belum ya?" tanya Hani sambil mengambil ponselnya dan menghubungi nya.


Monas tersenyum menatap Hani tak berkedip lalu melangkah keluar kamar. Tidak berapa lama kemudian, kembali dengan membawa secangkir teh manis panas di tangannya.


" Dek, duduk kemari!" kata Monas sambil melambaikan tangannya.


" Lagi siap - siap Arifah."kata Hani sambil duduk disamping suaminya.


" Minum teh nya!" kata Monas sambil menyodorkan secangkir teh itu ke Hani.


" Hemm, nikmat!" sahut Hani sambil meminum teh itu.


Monas tersenyum memandangi istrinya.

__ADS_1


" Kasihan tidak ada yang menemani." sambung Hani.


" Hah?"


" Sebentar yah!" kata Monas sambil melangkah keluar dari kamarnya.


Tidak berapa lama,masuk kembali dengan membawa kue bolu yang sudah di potong.


" Ini abang cari kan kawannya." kata Monas sambil mengambil satu potong kue bolu itu dan menyuapkan ke mulut Hani.


Hani menggigit sedikit kue bolu itu lalu mengunyah nya.


" Manis banget!" sahut Hani sambil mengambil tissue di atas meja.


" Abang pasti selalu merindukan tempat ini yah?" tanya Hani sambil menyuapi kue bolu itu ke mulut suaminya.


" Santri santriwati, tidak ada liburnya?"


" Ada, beberapa dari mereka lebih suka tinggal disini sampai lebaran tiba."


" Oh! Abang mulai belajar menghafal Al-Qur'an dari umur berapa?"


" Hem dari umur tiga tahun."


" Wow!"

__ADS_1


" Perbedaan yang mencolok antara Abang dengan Adek."


" Soal?"


" Lingkungan dan latar belakang keluarga." jawab Hani sambil menatap langit-langit kamar itu.


" Kita semua sama dek,kita sekarang sudah dipersatukan, segala kekurangan kita ditutupi dengan kelebihan. Saling melengkapi satu sama lain."


" Kekurangan adek lebih menonjol di banding kelebihannya." kata Hani merendah.


" Jangan merendah." sahut Monas.


" Waktu pertama masuk ke pesantren ini, rasanya aku seperti sangat kecil sekali."


" Perbedaan kita seperti bumi dan langit." sambung Hani.


" Hani sayang, kamu adalah istriku dan akan tetap menjadi istriku sampai kapanpun itu, kita sudah ditakdirkan berjodoh walaupun sudah bertahun - tahun terpisah jarak dan waktu tetapi kita kembali dipertemukan lagi dan menjadi satu saat ini."


" Ini salah satu bukti, tidak ada yang tidak mungkin,kalau sudah jodoh akan di satukan lagi."


Hani menatap lembut Monas. Dibelainya rambut Monas yang hitam. Senyumnya menghangatkan jiwa yang resah. Kata - kata nya mendamaikan jiwa.


" Aku sangat bersyukur menjadi istrimu,bang!"


" Aku pun demikian, aku beruntung memilikimu sebagai seorang istri yang di pilihkan oleh Tuhan."

__ADS_1


Monas tersenyum dan membelai kepala Hani dengan lembut.


__ADS_2