
Rencana yang sudah di niatkan oleh seseorang harus di serta kan niat yang baik. Rencana itu akan berjalan mulus,jika manusia itu sungguh - sungguh ingin menunaikan. Demikian juga hari ini, Monas dan Hani telah memenuhi semua rencana yang di buat tadi malam. Seperti halnya mencari jas dan kebaya untuk acara nikahan mereka, foto pra wedding, sampai memastikan kehamilan Hani di klinik.
Malam ini Hani duduk di sofa ruang tengah. Di sana sedang berkumpul Ridwan, Nuria dan juga Monas. Hani mengikuti pembicaraan mereka dengan seksama. Menjadi pendengar setia dan tidak ikut rempong dalam obrolan mereka. Cukup diam dan ikut menyimak saja.
Rasa kantuknya sudah mulai menjalar. Hani permisi untuk masuk ke kamar terlebih dahulu. Kaki nya sudah mulai pegal karena seharian padat aktivitasnya. Monas hanya tersenyum, melihat istri nya masuk kamar.
" Kamu senyum - senyum saja Nas? Kode yah?" kata Ridwan sambil tertawa menggoda.
" Makanya kamu cepat menikah." sahut Monas dan berlalu masuk ke kamar.
Di dalam kamar Hani sudah berbaring di atas kasur Springbed nya. Selimutnya tersingkap hingga kaki nya yang panjang terlihat jelas. Monas mulai mengambil minyak zaitun dan memijatnya pelan - pelan. Seharian jalan - jalan pasti akan terasa pegal.
" Bang!" panggil Hani pelan.
" Iya sayang!" jawab Monas sambil memijat telapak kaki nya.
" Cukup bang! Nanti Abang capek."
Monas hanya tersenyum dengan pandangan penuh kasih sayang
__ADS_1
" Bang?"
" Hem?"
" Besok adek kembali ke Solo yah?" kata Hani sambil duduk dengan kaki tetap lurus.
" Abang antar!"
" Tidak usah bg. Abang harus mengkondisikan kerjaan di sini dulu bukan? Undangan untuk kawan - kawan Abang yang di Jakarta sudah adek bawakan."
" Bukan nya Abang nanti pulang ke Rembang dulu. Berangkat ke Solo dengan rombongan keluarga di Rembang."
" Biar tidak bolak - balik."
" Ngantar Adek saja, sehari langsung kembali lagi ke Jakarta."
" Berat di ongkos bang." kata Hani.
"Tidak apa - apa. Uang bisa di cari."
__ADS_1
" Usaha kan dapat tiket siang, bisa kan bang?"
" Bisa! Biar Abang juga tidak meninggalkan kerjaan Abang. Sebentar lagi Abang juga ambil cuti."
" Iya tidak jadi masalah. Untuk undangan biar Ridwan yang membagikan nya."kata Monas sambil memijat kaki Hani.
" Cukup Bang! Sudah enakan kaki nya kok." Kata Hani sambil memegang tangan Monas.
Monas tersenyum dan membaringkan tubuh nya di samping istrinya.
" Ya sudah, kita istirahat. Besok siang berangkat ke Solo." kata Monas sambil memeluk istrinya.
Monas dan Hani mulai tertidur. Mengistirahatkan segala jasmani dan rohani nya. Menyerahkan segala hidup dan matinya kepada Sang Pemilik ruh. Kehidupan ini memang sementara. Tokoh - tokoh dalam pewayangan akan di mainkan oleh dalang nya. Demikian juga manusia. Dia akan hidup atau mati sudah di tentukan oleh Pencipta nya.
Tuhan yang menciptakan alam beserta seluruh isinya. Dia lah yang mengatur semua, baik malaikat - malaikat Nya yang memiliki tugas masing - masing.
Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, manusia punya pedoman. Masa dulu,masa sekarang, dan masa lampau akan menjadi cerita sejarah. Cerita yang akan menjadi contoh tauladan yang baik, jika memang itu tentang kebaikan dan kebenaran. Demikian juga cerita kejahatan dan keburukan,akan menjadi contoh manusia supaya menghindarinya.
Perumpamaan - perumpamaan di dunia ini sudah banyak di contohkan oleh cerita - cerita sejarah. Supaya manusia lebih baik dari sebelum - sebelumnya.
__ADS_1
Renungan agar kita mawas diri.