
Siang itu akhirnya Monas dan Hani terbang ke kota Solo. Dari bandara Jakarta menuju bandara daerah istimewa Yogyakarta. Setelah sampai di daerah Yogyakarta mereka naik trevel ke kota Solo.
" Mau jalan - jalan ke kota Yogyakarta dulu tidak?" tanya Monas kepada Hani yang melihat kota Yogyakarta yang lagi padat dengan kunjungan wisatawan.
" Langsung pulang saja bang!" jawab Hani yang mulai merasa lemas badannya.
Monas mengusap telapak tangan Hani yang dingin agar lebih hangat.
" Minum madu dulu yah, biar tambah tenaga." kata Monas sambil memberikan botol kecil yang berisi madu. Hani meminum nya langsung dari botol itu karena masih di dalam mobil trevel.
" Mau mencari oleh - oleh khas Jogja tidak pak?" tawar sopir trevel itu.
" Boleh pak!" jawab Monas.
" Mampir sebentar tidak apa - apa kan sayang!"
" Iya gak papa."
" Minggu - Minggu ini pasti keluarga adek sudah mulai berdatangan mempersiapkan semuanya."
" Iya!"kata Hani singkat.
" Karena akad nikah nya Sabtu pagi, keluarga Abang datang nya jumat sore saja ya dek."
" Iya tidak apa - apa. Nanti keluarga Abang biar istirahat di rumah kita saja." kata Hani.
" Abah dan Ummi pasti sudah mencari penginapan untuk keluarga kami dek."
" Oh kenapa begitu?"
" Mungkin saja tidak ingin terlalu merepotkan dari keluarga di sini."
" Oh ho. Iyalah keluarga besar dan terpandang pasti dana nya berlebih - lebih." sahut Hani sambil tersenyum. Monas mencubit pipi Hani.
" Jangan begitu dong! Kita sama - sama manusia. Harta yang diberikan oleh kita adalah titipan dari Tuhan."
" Baik pak dosen!" sahut Hani dan akhirnya pipi chubby Hani kena cubitan lagi oleh suaminya.
Mobil trevel tiba - tiba berhenti di depan toko oleh-oleh khas Jogja.
Monas dan Hani turun dari mobil itu dan mengambil beberapa cemilan dan makanan khas kota ini. Tidak berapa lama mereka kembali masuk dalam mobil dan melanjutkan kembali perjalanan ke kota Solo.
" Bang!"
" Iya!"
" Mira - Mira nanti Nuria ikut datang ke Solo tidak?
" Kira - kira sayang.."
" Hehehe."
" Tidak tahu juga dek!"
" Adek tidak sampai hati kalau nanti Arifah melihat mereka berdua datang di sini. kata Hani.
" Hem, nanti coba Abang bilang sama Ridwan soal ini."
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam dari Jogjakarta ke Solo, akhirnya mereka tiba di kota Solo dan sampai di depan rumah.
" Terimakasih kasih banyak pak!" kata Monas sambil memberikan uang kertas lembaran warna merah itu kepada sopir travel.
Monas dan Hani segera masuk ke dalam rumah.
" Mobil jazz ini sudah berapa hari tidak di panas i dek? kata Monas sambil menunjuk mobil Hani yang di selimuti.
" Dia pasti kepanasan bang,karena di selimuti terus padahal cuaca lagi panas - panas nya."
" Hehe. Bisa aja istri ku ini." sahut Monas sambil mencolek pinggang Hani.
" Masih kepingin nasi kucing tidak dek?" tanya Monas.
" Hah?"
__ADS_1
" Nanti malam biar Abang belikan."
" Boleh! Tahu bacem, sate telor puyuh, sate jeroan, jangan lupa hehe."
" Gerobaknya tidak sekalian?"
" Tidak perlu, Abang mau jualan siomai?"
" Jualan angkringan dek!"
" Iya. Maksud adek seperti itu."
" Lama - lama nakal banget istri Abang ini." kata Monas sambil memeluk Hani dari belakang.
" Arifah masih sering kemari dek?"
" Tentu saja! Dia terlibat dalam acara besok itu bang. Jadi usahakan Ridwan jangan mengajak Nuria deh."
" Oh..begono!"
" Begitu bang!"
" Hehe."
" Abang mau makan lagi?"
" Hadeuh. Bukannya tadi kita sudah makan."
" Mana tahu lapar lagi hehe."
" Mau di buatkan kopi gak?"
" Boleh. Kasih krim ya sayang."
" Beres!"
" Dek Abang di teras yah!" kata Monas setelah melepas kemeja dan celana panjang nya menjadi kaos casual dan celana joger.
Hani di dapur membuat kopi untuk suaminya. dan membuka satu bungkus cemilan dan di masukkan di toples kaca.
Hani mulai bergidik dan takut untuk keluar.
" Duduklah dulu Gus!" kata Monas sambil menggeser kursi rotan agar lebih dekat di posisi Agus yang berdiri.
" Hani punya ku bang, baik dulu maupun sekarang." kata Agus dengan suara bergetar.
Monas tersenyum dan mulai memahami. Bahwasanya Agus sangat berambisi untuk mendapatkan Hani.
" Lalu apa langkah dan sikap mu, kalau kamu mengakui Hani adalah punya mu baik dulu mau pun sekarang." kata Monas berusaha bijaksana.
" Aku...aku.." Kata Agus terbata - bata.
" Kamu tanya sendiri dengan orang nya mau sama kamu apa tidak?" kata Monas percaya diri.
" Aku selalu terlambat!" kata Agus pelan.
" Sudahlah! Santai saja bro! Kamu mau kopi? Biar aku yang buatkan." Kata Monas sambil melangkah masuk ke dalam.
" Dek?"
" Maaf! kopi nya jadi dingin." kata Hani sambil memberikan secangkir kopi untuk Monas.
" Kamu dari tadi berdiri di sini yah?" tanya Monas sambil tersenyum.
" Adek takut!" kata Hani pelan.
" Takut kenapa?"
" Abang cemburu, marah dan mendiamkan adek lagi." kata Hani sambil menunduk.
" Hehe." Monas tersenyum dan merangkul istrinya.
" Tidak apa - apa. Agus cuma perlu waktu untuk meng ikhlas kan adek bersama Abang."
__ADS_1
" Biar Abang buat kan kopi untuk Agus. Kopi Buat an adek khusus untuk Abang saja.
Monas membuat kopi di dapur. Setelah kopi itu di buat, Monas kembali keluar teras.
" Adek di sini saja." kata Monas.
Akhirnya Hani duduk di ruang tengah sambil makan cemilan oleh - oleh dari Jogjakarta.
" Ini kopi nya Gus!" kata Monas sambil meletakkan kopi nya di atas meja.
" Hani di mana bang?" tanya Agus.
" Ada di dalam. Dia lagi ngidam." kata Monas sambil tersenyum.
Hani yang mendengar dari dalam ikut tersenyum.
" Oh."
" Dia sudah menjadi istri ku Gus. Satu bulan yang lalu kami menikah secara agama di Pesantren keluarga."
" Besok Sabtu baru akad nikah dan resepsi nya."
" Iya bang! Selamat ya bang! Jaga Hani baik - baik. Jangan sia - sia kan Hani." kata Agus dengan suara bergetar.
" Iya itu pasti."
" Maaf, waktu malam itu! Aku sangat emosional."
" Iya aku tahu. Tetapi karena malam itu, aku cemburu. Selamat ya, kamu telah berhasil membuat hubungan kami jadi renggang saat itu." kata Monas dengan nada menyindir.
" Maaf bang. Semua kesalahanku. Aku minta maaf!"
" Iya sudah lah. Semua sudah berlalu."
Hani yang di dalam mendengarkan percakapan mereka.
" Jadi? Semua karena ini? Abang marah besar. Intinya Cemburu? hihihi."
" Tapi serem! Abang kalau marah." gumam Hani.
Di luar teras. Agus sambil merokok dan meminum kopi buatan bang Monas.
" Besok aku boleh ke sini bang?" tanya Agus.
" Besok pagi aku sudah kembali ke Jakarta Gus. Datanglah kemari hari Senin setelah acara pernikahan kami.
" Baiklah!"
" Kalau begitu aku permisi pulang ya bang."
" Oke. Hati - hati di jalan ya Gus."
Hani keluar menuju teras, mendekati Monas yang lagi menikmati secangkir kopi buatan Hani.
" Heem." Hani ber dehem. Monas tersenyum melihat Hani yang menggoda.
" Kenapa? Tidak pernah lihat orang ganteng yah?" kata Monas sambil tersenyum.
" Jadi?? Cerita nya kemarin itu cemburu yah?" goda Hani.
" Enggak!"
" Bener? Ya sudah kalau tidak cemburu." kata Hani tertawa sambil masuk ke dalam. Monas dengan cepat menarik lengan Hani hingga jatuh terduduk di pangkuan nya.
" Kenapa orang jelek seperti kamu ini, bikin orang jadi tergila - gila sih?" kata Monas sambil mengusap perut Hani.
" Tapi kemarin ada orang bilang, adek cantik lho. Kenapa sekarang berubah menjadi jelek?"
" Mungkin kemarin, orang itu khilaf."
" Hehehe."
" Tidak apa - apa jelek. Yang penting Abang tetap sayang sama Adek."
__ADS_1
" Iya, Abang Selalu sayang dengan adek." kata Monas sambil mendekap tubuh Hani di pangkuan nya.