
Monas dan Hani sedang duduk di sofa. Bercerita tentang aktivitas mereka selama tiga bulan terakhir ini. Kerjaan Monas yang padat dan cerita tentang Ridwan bersama Nuria. Cerita itu hanya berkisar itu, tetapi tidak tentang Ida yang pernah di nikahi nya secara agama.
Sedang Hani bercerita tentang rutinitasnya dalam mengajar, tentang sahabat nya Arifah, keluarganya, tetapi tidak tentang perjalanan nya ke Jakarta sampai tahu ada wanita lain di rumah Monas yang mengaku istri Monas.
" Adek?" panggil Monas sambil merubah posisi nya menjadi tidur di pangkuan istrinya itu.
" Hem? Kira - kira selain Hani ada wanita lain tidak di kehidupan Abang?" tanya Hani sambil membelai rambut Monas.
" Hah? Mana ada? Tapi untuk saat ini belum ada." sahut Monas sambil tertawa.
" Masak belum ada yang lain?" tanya Hani berusaha memancing Monas.
" Tidak ada sayang!" sahut Monas akhir nya.
" Baiklah! Hani mau cerita sedikit."
" Tentang apa itu?" tanya Monas.
" Satu bulan yang lalu, sebelum tanggal ulang tahun Abang, Hani ke Jakarta bersama Arifah." cerita Hani untuk mengawali semua permasalahan di hatinya.
" Hah? Astagfirullah!" Monas terkejut.
" Jadi? Itu kalian yang datang?" sambung Monas sambil merubah posisinya kembali duduk tegak menatap istrinya.
" Iya betul! Itu kami." jawab Hani singkat.
" Tetapi malam itu, waktu Abang menelphon adek, bilang di Solo." cerita Monas.
" Iya! Adek bohong."
" Kalau begitu biar Abang yang lebih dahulu cerita." sahut Monas Akhirnya.
Hani menatap suaminya itu dengan seksama.
" Abang tidak ingin mendengar cerita Hani selanjutnya?" tanya Hani.
" Tidak! Abang sudah tahu duduk permasalahannya. Biar Abang saja yang cerita dari awal soal ini." kata Monas serius.
__ADS_1
" Berawal mula dari Abah menelphon abang,saat itu untuk pulang ke Rembang. Abah terikat perjanjian perjodohan dengan pak kyai Kudus. Jika anak mereka laki - laki dan perempuan, mereka akan di jodohkan dalam sebuah pernikahan. Akhirnya, Hari Jumat pagi itulah Abang dan Ida di nikahkan secara agama."
" Jujur selama tiga bulan, demi Tuhan! Abang tidak pernah menyentuh Ida. Sebelum kedatangan Ida di Jakarta, Abang meminta Ridwan untuk kembali ke rumah,supaya abang bisa menjaga jarak dengan Ida di rumah itu."
Hani diam mendengarkan Monas yang bercerita.
" Sebelum Abang ke Solo. Akhirnya Ida meminta di talak. Pagi itu, Ridwan dan juga Nuria lah yang menjadi saksi Kalau kami sudah cerai secara agama. Dan pagi itulah, Ida pamit pulang kampung."
" Demi Tuhan! Abang tidak pernah berniat menyakiti adek. Tiga bulan itu, Abang dengan Ridwan memang benar - benar padat jadwalnya."
" Lalu bagaimana dengan foto - foto kita? Abang biarkan tergantikan dengan yang lain." sahut Hani.
" Soal itu Abang minta maaf Hani."
" Lalu bagaimana reaksi Abah soal perceraian itu?" tanya Hani.
" Sampai saat ini, Abah belum ada menghubungi Abang." jawab Monas.
" Jadi, malam itu adek dan Arifah menginap di mana?" tanya Monas sambil merengkuh tubuh Hani.
" Di penginapan tidak jauh dari rumah Abang." jawab Hani.
" Sudahlah! Semua sudah berlalu. Besok kita hadapi sikap Abah dengan masalah ini." kata Monas Akhirnya.
"Tiga bulan ini, adek pasti tersiksa batin yah?" kata Monas Akhirnya.
Hani hanya menggelengkan kepalanya.
" Adek tidak perlu berbohong lagi. Abang paham apa yang adek rasakan. Abang pun juga merasa selalu gelisah dalam tidur Abang."
" Dek?"
" Hem?"
" Lalu, hadiah apa yang akan adek berikan untuk Abang di ultah malam itu?"
" Ada di kamar! Di laci bawah lemari kayu." jawab Hani.
__ADS_1
" Oh! Biar Abang ambil." sahut Monas sambil melangkah masuk ke kamar.
Tidak berapa lama, Monas keluar dengan membawa kotak kecil yang masih terbungkus rapi.
" Abang buka ya?" tanya Monas. Hani hanya mengangguk kan kepala.
" Kira - kira apa yah, hadiah dari istriku." kata Monas sambil membuka bingkisan kecil itu.
" Wow! Jam Tangan yah! Keren bagus,Abang suka. Terimakasih sayang!" kata Monas sambil mencium pipi kira dan kanan Hani.
" Jadi sholat taubat yang Abang lakukan kemarin?"
" Hehe. Iya Abang sangat merasa bersalah dengan semua nya." jawab Monas.
" Jadi? Siang ini kita keluar nyari makan mau?" tanya Monas.
" Enggak! Besok saja! Lagi malas gerak." jawab Hani.
" Adek! Abang kangen!"
" Iya! Adek juga!"
" Maafkan Abang untuk semua ini."
" Iya! Adek juga meminta maaf!"
" Lalu?"
" Lalu? Kita sholat taubat dahulu." kata Hani.
" Setelah itu?" tanya Monas.
" Kita ngopi - ngopi dahulu" jawab Hani.
" Setelah itu?" tanya Monas sambil mendekati Hani. Lebih dekat...satu...dua..tiga...empat
...Eh? ada bulu mata masuk di dalam mata Hani.
__ADS_1
" Hehehe."
" Ya sudah! kita keluar cari makan!" Kata Hani akhirnya.