TUNGGU LAH KU DAN JAGA HATIMU

TUNGGU LAH KU DAN JAGA HATIMU
Pamit


__ADS_3

" Bu, ini teh nya!" Kata Pak Mat sambil menyerahkan segelas teh panas melalui kaca mobil yang dibuka Hani.


" Terimakasih Pak Mat! Oh iya pak, ehm orang yang nyariin saya laki - laki atau perempuan?"


" Laki - laki Bu!"


" Oh, bisa minta tolong di kasih teh panas dan Snack di kantin dulu bisa pak Mat'?"


" Bisa Bu!"


" Terimakasih kasih banyak Pa Mat, ini untuk bapak!" kata Hani sambil memberikan uang kertas seratus ribuan.


" Ini apa Bu? gak usah Bu Hani." sahut Pak Mat' sambil mengembalikan uang kertas ratusan itu.


" Tidak apa - apa Pak Mat, untuk jajan anak Pak Mat."


" Oh, kalau begitu terimakasih banyak Bu Hani."


" Iya Pak Mat', sama - sama."


Pak Mat langsung berlari kecil ke kantin dan tidak lama kemudian ke kantor menemui tamu yang mencari Hani.


" Pak, ini di minum dulu dan dimakan jajanan nya." kata Pak Mat' sambil meletakkan segelas teh manis panas dan beberapa gorengan.


" Oh iya pak! terimakasih banyak pak!"


" Eh..Hem, Bu Hani nya di mana ya pak,kalau boleh saya tahu?" tanya Pemuda itu dengan hati - hati.


" Bu Hani yah? itu masih di parkiran, di dalam mobilnya."


" Masih di dalam mobil ya." sahut Monas.


" Kelihatannya Bu Hani, kurang enak badan pak, tadi beliau minta teh manis panas juga." sahut Pak Mat' pelan.


" Oh, biar saya ke sana saja pak." kata Pemuda itu sambil bangkit dari tempatnya duduk.


" Tapi...tapi pak."


" Jangan kwatir, saya tidak akan bilang kalau bapak yang memberi tahu keberadaan Bu Hani."


" Baiklah kalau begitu."


" Di sana pak tempat parkiran nya." sambung Pak Mat sambil menunjuk ke arah parkiran.


" Terimakasih banyak pak."


" Iya Pak,sama - sama." sahut Pemuda itu sambil melangkah menuju tempat yang ditunjukkan oleh Pak Mat.


" Masih belum sehat pun,masih memaksakan diri untuk berangkat mengajar." gumam Pemuda itu.


" Selamat Pagi!" kata pemuda itu sambil membuka pintu mobil di samping stir lalu mendudukkan pantatnya di jok.


" Terkejut yah?" kata pemuda itu sambil tersenyum.


" Enggak! biasa saja!" kata Hani sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


" Belum makan yah?"


" Sudah!" jawab Hani sambil mengambil gelas yang berisi teh tadi dan meminumnya.


" Pulang saja yuk, kalau masih gak enak badan." kata Pemuda itu sambil bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah stir yang joknya diduduki Hani.


" Geser,biar Abang yang nyetir!" kata pemuda itu dengan mendudukkan paksa di jok yang Hani duduki.


" Apa - apa an sic, gak mau pulang!" rengek Hani


" Adek kan masih sakit,sayang! nurut dikit kenapa?" kata Pemuda itu dengan pelan.


" Tapi!"


" Gak usah tapi..tapi" kata Pemuda itu sambil menghidupkan mobil jazz Hani.


" Baik...baik! tapi ngasih tugas ini dulu ke guru piket" sahut Hani sambil mengeluarkan kertas tugas yang sudah disiapkan tadi malam untuk anak - anak didiknya.


" Hah??" Pemuda itu terkejut


" Ya ampun! sudah di planning rupanya?" kata pemuda itu sambil mengambil kertas tugas di tangan Hani.


" Biar Abang berikan ke petugas piket, adek disini saja!" sahut Pemuda itu sambil melangkah ke pintu masuk tempat petugas piket duduk disana.


Tidak berapa lama kemudian, pemuda itu kembali dan duduk di tempat stir. Pemuda itu menjalankan mobil jazz itu perlahan-lahan.


" Kanan atau kiri dek?" tanya pemuda itu.


" Kiri!"jawab Hani singkat.


"Nah itu ada yang jual! gak usah turun! biar Abang belikan dulu." kata pemuda itu sambil keluar dari mobilnya menuju tukang bubur ayam.


Tidak lama kemudian,pemuda itu kembali dengan tas plastik di tangannya.


"Mau beli apa lagi?" tanya pemuda itu.


" Gak ada!"


" Mampir dulu yah,beli cemilan." kata pemuda itu dan kembali berbelanja di minimarket dan kembali dengan tas go green di tangannya.


" Ini kanan atau kiri?"


" Lurus saja!"


" hehehe."


" Kenapa tertawa?"


" Abang nanyak kanan atau kiri tapi jawabannya lurus saja."


" ini kemana lagi?" tanya pemuda itu.


" Rumah no 7,rumah kayu!" jawab Hani.


" Wow..!!!" sahut pemuda itu.

__ADS_1


" Kenapa?"


" Impiannya terwujud ya!" sahut Pemuda itu sambil menatap bangunan kayu yang minimalis itu.


" Abang boleh masuk tidak?"


" Silahkan!" jawab Hani sambil keluar dari mobilnya.


" Pelan - pelan dek!" sahut pemuda itu sambil menuntun Hani dan tangan satunya memegang tas belanjaan.


" Keren! adem rumahnya." kata Pemuda itu sambil melihat pemandangan dari atas tempatnya berdiri.


" Duduk bg!"


" Kirain gak diijinkan untuk duduk." sahut pemuda itu sambil duduk di kursi kayu.


" Abang kenapa belum pulang ke Jakarta?" tanya Hani pelan.


" Jumpai adek dulu!" jawab Pemuda itu sambil menatap Hani.


" Ini buburnya di makan dulu." kata pemuda itu sambil menyuapi Hani.


" Saya bisa sendiri,bg." kata Hani.


" Ayo dimakan,mumpung Abang masih baik Lo!" kata pemuda itu sambil mendekatkan sendok plastik yang berisi bubur itu ke mulut Hani. Hani akhirnya membuka mulutnya.


" Ingat gak dek, dulu Abang sering menyuapi makan adek." kata pemuda itu sambil berusaha mengingat ingat kenangan dulu.


" Dimana? kapan?" tanya Hani.


" Abang dilupakan begitu saja!" sahut pemuda itu pelan.


Hani menatap wajah pemuda itu di depannya.


" Nanti malam Abang kembali di Jakarta,dek!"


" Iya bg, hati - hati di jalan, semoga selamat sampai tujuan."


" Lalu?"


" Semoga Abang sukses dan bahagia selalu."


" Lalu?"


" Sehat sentosa."


" Hahahaha."


" Lalu?"


" Abang mau doa apa?"


" Abang ingin kita bersama lagi."


" Abang masih boleh tidak menyayangi adek?"

__ADS_1


Hani hanya diam membisu dan memilih makan bubur yang di depannya.


__ADS_2