TUNGGU LAH KU DAN JAGA HATIMU

TUNGGU LAH KU DAN JAGA HATIMU
Ajakan Sofiana


__ADS_3

Setelah acara reuni selesai,mereka berfoto bersama. Hani sudah bersiap kembali ke kota Solo.


" Hani!" panggil Sofiana,Amanda, dan beberapa kawan Hani yang lain.


" Mau kemana?"


" Pulang!" jawab Hani singkat.


" Ayolah kita foto - foto dulu." kata Rosita sambil menggandeng Hani lalu berfoto bersama.


" Kita di atas panggung yuk!" ajak Amanda. Lalu mereka bergerak ke atas panggung sekadar mengambil beberapa foto.


" Senyum Han!" teriak Sofiana.


" Cukup ya! Aku harus pulang." kata Hani sambil menjabat tangan kawan - kawannya.


" Kamu tidak beli oleh - oleh dulu Han? Biar aku yang traktir." kata Sofiana.


" Sebagai ungkapan permintaan maaf ku dulu." sahut Sofiana. Hani tersenyum mendengar ucapan Sofiana.


" Kamu tidak pernah bersalah padaku Sofi!" kata Hani sambil merangkul pundak Sofiana.


" Semua itu per buatan kami Han?" sambung Amanda.


" Yang mana?"


" Akulah yang membocorkan semua aktifitas mu kepada Agus, Rohani, dan juga Abang itu yang di organisasi Islam." terang Amanda.


" Tujuannya, supaya mereka semua menjauhimu dan membencimu."


" Bang Monas?"


" Iya itu kelakuanku, dan foto kamu dengan Bg Monas itu aku ambil dan aku kirim ke Rohani. Demikian juga kedekatan kamu dengan Rohani aku sampaikan ke Agus juga Abang itu."


" Oh! Tapi sudahlah! Semua sudah terjadi! Kita tidak perlu membahas itu bukan?"


" Tapi aku merasa bersalah, dengan kelakuanku kamu di benci mereka semua."


" Tidak apa - apa! Mereka berhak membenci aku, tetapi aku berusaha tidak membenci mereka karena semua hak Meraka untuk membenci ataupun menyukaiku."


" Terimakasih Hani, maafkan aku" kata Amanda sambil merangkul Hani.


" Ya sudah, aku harus buru - buru pulang keburu malam"


" Masih sore ini Han." sahut Rohani,Arjuna,Slamet dan yang lain.


" Kita foto dulu semua." teriak Agus sambil mengumpulkan kawan - kawan yang lain.


Mereka bersama berkumpul bersatu membuat ikatan yang kuat alumni kampus yang bersaudara.


" Hani!" panggil Agus.


" Iya!" sahut Hani sambil menoleh ke belakang.


" Pulang bareng yuk!" ajak Agus.


" Aku kan bawa mobil."


" Iya, aku di belakang mu."


" Oh!"

__ADS_1


" Hani, kita mampir dulu ke rumahku." kata Sofiana yang rumahnya memang di Semarang.


" Hem, kapan- kapan saja Sofi." kata Hani.


" Kapan lagi?" sahut Sofiana.


" Kalau begitu, kita cari oleh - oleh dulu untuk keluarga mu. Anggap saja menebus kesalahanku dulu." sambung Sofiana.


" Terapi!"


" Sebentar saja kok, tidak lama!" kata Sofiana sambil menarik tangan Hani.


" Kita satu mobil dulu, mobilmu biar di tinggal di parkiran sini Han." kata Amanda.


" Aku boleh ikut tidak?" tanya Agus.


" Hah?" Sofiana terkejut dan tidak bisa menyembunyikan perasaan suka nya.


" Boleh saja!" jawab Sofiana.


" Tetapi aku bawa mobil sendiri saja lah Sof, sekalian pulang saja." kata Hani.


" Bagaimana ini?"


" Ya Sudahlah! Yang penting kita ngopi - ngopi sebentar." kata Sofiana.


" Aku ikut!" teriak Rohani yang mendengar pembicaraan Sofiana.


" Tambah personil Nic!" sahut Amanda.


"Santai saja,biar aku yang traktir." kata Rohani.


" Baiklah!" kata Sofiana.


" Mau di Kafe mana?" tanya Rohani.


" Di simpang lima saja, sekalian beli oleh - oleh untuk Hani." kata Sofiana.Agus dan Rohani yang mendengar itu jadi melihat wajah Hani secara bersamaan.


" Ayok!"


Mereka akhirnya meninggal kan hotel itu dengan mengendarai mobil masing-masing ke tujuan tempat yang sama.


Hani mulai malas mengikuti mereka. Pikirannya sempat nakal dan ingin membelokkan arah mobilnya. Tetapi di belakang Hani ada mobil Fortuner yang selalu berjalan pelan mengiringi Hani.


" Aidah! tidak bisa lari gue." gumam Hani sambil menyetir mobilnya.


" Gila! Masih di belakang saja mobil itu."


Akhirnya, Hani mulai memutar arah setelah mobil Fortuner yang di belakang Hani berhenti di lampu merah.


" Eh syukurlah!" Tidak kelihatan lagi mobil itu.


Hani mulai mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju jalan lintas ke arah Solo.


Alunan musik di mobil kembali di hidupkan. Hani tersenyum penuh kemenangan. Setelah dipikir aman,Hani mulai mengurangi kecepatannya. Tiba - tiba dari samping kanan ada mobil mulai mendahului nya dan memotong jalannya. Hani menge rem mendadak, jantungnya berdetak kencang.


" Sial! hampir saja gue nabrak." kata Hani yang mulai mengambil nafas panjang.


Seseorang keluar dari mobil itu dan mendekati mobil Hani yang tiba-tiba berhenti.


" Astagfirullah, Agus lagi!" kata Hani sambil mengepalkan tangannya.

__ADS_1


" Mati gue,ketahuan kabur!" gumam Hani sambil membuka kaca mobilnya.


" Buka pintunya!" kata Agus dengan ketus.


" Eh?" Hani membuka pintu mobilnya dan Agus dengan sengaja duduk di samping Hani.


" Mau kabur non?" tanya Agus sambil tersenyum.


" Eh?" Hani terdiam tidak punya alasan lagi. Agus keluar dari mobil Hani dan membuka pintu dekat stir.


" Biar aku yang nyetir!" kata Agus sambil mendudukkan pantatnya di jok yang Hani duduki. Spontan saja Hani menggeser duduknya di samping stir.


Hani diam tidak bisa berkutik. Akhirnya mobil Hani di kendalikan oleh Agus sedangkan mobil Agus di jalankan oleh Slamet yang masih di dalam mobil Fortuner itu.


" Sudah berapa lama nyetir mobil sendiri?" tanya Agus sambil tersenyum.


" Sehari!" jawab Hani singkat dan berbau emosi.


" Kamu yang salah, mereka cuma mengajak kumpul bareng karena sudah lama tidak bertemu. Permintaan sesederhana ini pun,tidak kamu penuhi. Ingin kabur saja." kata Agus terkesan memarahi Hani.


" Kamu cuma marah denganku" sambung Agus.


Hani terdiam tidak berbicara dan mobil jazz itu sudah tiba di simpang lima Semarang.


" Kamu tahu tidak, di tempat ini kita sering jalan - jalan." cerita Agus yang mengingat masa - masa waktu dia dekat dengan Hani.


" Aku sudah lupa!" kata Hani.


" Biar aku yang ingatkan kembali." sahut Agus sambil tersenyum.


Akhirnya mobil itu berhenti di parkiran kafe yang di tentukan Sofiana.


" Hani!" panggil Agus dan dengan cepat menarik tangan Hani.


" Aku mencintaimu!" kata Agus dengan tatapan mata yang serius.


" Agus! Tolong hargailah aku. Aku sudah menikah."


" Asal kamu tahu, aku tidak akan percaya sebelum aku berjumpa dengan suami mu yang kamu bilang."


" Kamu gila." kata Hani pelan.


" Memang aku gila! Dan tergila- gila dengan mu dari dulu."


" Agus, itu sudah tidak mungkin lagi. Kita sekarang sudah berbeda dengan yang dulu. Kamu jangan selalu memaksa kan kehendak mu."


" Memaksa kan kehendak?"


" Penyesalan ku dulu hanyalah kenapa aku menjauhi mu dan membencimu. Padahal aku tahu, itu sangat menyakiti diriku sendiri."


" Sekali lagi,aku ingin memperbaiki semuanya lalu menikahi mu. Dan kita akan menjadi suami istri." kata Agus yang tidak melepas tangan Hani.


Hani berusaha menarik tangannya tetapi Agus kembali menggenggam nya kuat.


" Kamu menyakitiku Gus. Tolong lepaskan tanganku. Maaf sekali lagi, aku tidak bisa denganmu lagi Gus. Aku sudah menikah dengan bang Monas. Kalau kamu tidak percaya bisa aku telpon kan untukmu." kata Hani berusaha menjelaskan dengan pelan.


" Aku tidak percaya."


" Terserah! Tapi tolong lepaskan tanganku. Kita masuk ke dalam. Sofiana dan yang lain sudah menunggu."


Akhirnya Agus melepaskan genggamannya dan keluar dari mobil jazz Hani.

__ADS_1


__ADS_2