TUNGGU LAH KU DAN JAGA HATIMU

TUNGGU LAH KU DAN JAGA HATIMU
Kembali Ke Jakarta


__ADS_3

Malam keberangkatan Monas tiba. Di rumah Hani, sudah berkumpul Arifah dan Ridwan. Tas trevel Ridwan dan Monas sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil Monas.


Hani terdiam tidak berbicara. Ada raut kesedihan dari wajahnya. Mungkin saja Hani belum rela untuk melepas kepergian Monas ke Jakarta. Tentu saja, karena mereka baru menjadi suami istri yang sah menurut agama. Di saat geloranya membara dan menggebu mereka harus berpisah demi kerjaan dan tugas masing - masing.


Di dalam kamar,Monas memberikan kartu ATM kepada Hani padahal Hani juga memiliki ATM sendiri.


"Abang saja yang simpan, adek sudah punya kok." kata Hani sambil mengembalikan kartu debit itu.


" Abang sudah menjadi suamimu dek, sedikit atau banyak Abang harus menafkahi adek. Adek yang lebih tahu apa saja yang akan di perlukan untuk hantaran pernikahan bulan depan. Barang - barang sesuaikan dengan keinginan dan selera adek saja, supaya bisa di pakai nantinya oleh adek."


" Beli saja yang mahal dan bermerek." sambung Monas sambil tersenyum.


" Aidah! Sombong sekali suamiku ini."


" Hahahaha." Monas tertawa.


" Jangan manyun gitu dong! kalau berat ikut saja ke Jakarta sama Abang." sahut Monas sambil memeluk istrinya.


" Minggu ini, ayah dan ibu datang."


" Baiklah! Oh iya, kapan reunian kampus nya?"


" Hari Sabtu ini." jawab Hani singkat.


" Dimana mau di buat?"


" Di Semarang." jawab Hani singkat.

__ADS_1


" Kalau Arifah tidak sibuk, ajaklah dia." kata Monas sambil membelai rambut Hani.


" Baiklah."


" Dek??"


" Hem?"


" Abang pasti akan selalu rindu."


" Adek juga."


" I love you." kata Monas sambil mengecup dahi Hani lalu turun ke bawah bibir nya.


" I love you to."


Di luar Ridwan sudah menunggu di dalam mobil. Arifah masih setia menemani Ridwan di sana.


Monas masuk ke dalam mobil setelah bersalaman dengan istrinya dan Arifah.


Akhirnya mobil itu bergerak meninggalkan rumah yang asri dan rindang milik Hani. Senyum Hani sedikit di paksakan untuk melepas kepergian suaminya. Tidak ada se perih ini, ketika perjumpaan di akhiri perpisahan. Walaupun semua hanya sementara tapi sangat menyakitkan.


Jarak yang memisahkan ini, bagi Hani masih belum terbiasa. Keadaan sepi akan di lalui lagi tanpa Monas di sisinya. Mungkin saja sama yang dirasakan oleh Monas. Berjauhan dengan belahan jiwanya akan berat langkahnya.


Jika jarak yang membuat kita satu. Satukanlah kami dalam kasihMu. Jika jauh membuat kita merinduimu. Dekatkanlah kami dalam ikatan suci itu. Jika hasrat jiwa tak terbendung. Lampiaskan semua dalam CintaMu yang sejati. Agar kita selalu dalam lindungan Ilahi. Sampai kita di satukan lagi dalam Rumah tangga yang indah ini.


Tanpa sadar, Hani menetes kan air mata. Air Matanya bening di usapnya perlahan.

__ADS_1


" Aku pasti akan selalu merindukanmu Bang!"gumam Hani


" Kamu yang selalu tersenyum."


" Hai!" teriak Arifah yang mengagetkan Hani.


" Sudah jangan sedih! Anggap saja masih pacaran lagi. Sekarang kita mulai berpikir untuk pernikahan mu bulan depan."


" Kita?"


" Iya, karena aku sahabatmu, aku juga ikut bertanggung jawab atas kesuksesan acara pernikahan mu nanti."


" Terimakasih banyak Arifah! Kamu memang sahabat ku yang terbaik." kata Hani sambil memeluk Arifah.


" Fa! Hari Sabtu pagi ada acara tidak?" tanya Hani pelan.


" Hari Sabtu aku sudah ada jadwal, rapat pleno hahaha." jawab Arifah sambil tertawa.


" Kenapa? mau mengajak aku ke Semarang ya?" tebak Arifah.


" Iya betul."jawab Hani singkat.


" Maaf! aku gak bisa Han."


" Iya Tidak apa - apa."


" Hati - hati jumpa dengan mantan - mantanmu di sana." kata Arifah sambil tertawa.

__ADS_1


" Iya." jawab Hani serius.


__ADS_2