
Kembali ku disini lagi,
berteman sepi dan tak henti.
Percuma ku cinta
Percuma ku sayang
Sepantasnya memang kau kubuang
Diam dan teruslah diam
Hadapi semua kemungkinan.
Kabut malam pun yang kian kelam
Bersama Mega dibalik awan.
Melayang hati melayang menembus mega- Mega.
Melayang hati melayang hilangkan berbagai duka
Hani melototi foto lama yang masih tersimpan di galerinya. Iya,foto berdua dengan Bg Monas waktu di kafe Gunungpati 5 tahun yang lalu. Kenangan yang manis saat berdua dengan Bg Monas.
Kau hadir kembali....
Hati kecil ku tahu dirimu dalam rindu....
Katakanlah bila kau dambakan aku disini...
Nyata dalam mimpimu...
Di saat mimpimu....
Dulu hatiku pilu.....
Kudengar semua sendu...
Biarkanlah hari ini sendunya kurasakan....
Mungkin esok ceria....
__ADS_1
Pernah kau bayangkan perasaan sepi....
Ditengah terik keramaian kota....
Kabarkan tepian jalan cinta...
Gelap gulita.....
Jika diam bimbang...
Gelisah melanda....
Kenyataan pernah menimpa.....
Aku yang pernah kagum....
Memberi salam pada mu....
Sejahtera selalu.....
Jantung Hani berdetak kencang, nafas nya semakin tidak beraturan. Ia ingin menumpahkan tangis itu,menikmati setiap butiran lembut yang mengalir deras di kelopak matanya tetapi semua tertahan di kerongkongannya. Akhirnya ia terbaring lemas dan tak sadarkan diri.
Arifah yang di sampingnya mulai mengoles minyak kayu putih di hidung,perut dan kakinya yang dingin. Arifah bingung dan menghubungi Ina adek nya Hani. Akhirnya karena panik, Arifah membawa Hani ke rumah sakit Solo Baru
" Jangan kwatir mbk, kawan mbk sudah lebih baik,tapi ada sedikit masalah di usus buntu nya kata dokter itu menjelaskan.
" Lalu dokter?"
" Secepatnya harus ada tindakan operasi,mohon tandatangan dari keluarga yang bersangkutan" jelas dokter itu.
Tiba-tiba ponsel Arifah berbunyi,panggilan masuk dari nomer yang tak dikenal.
"Halo!"
" Halo! ini aku Monas Fa!" kata orang yang menelpon itu.
" Alhamdulillah, kamu telepon diwaktu yang tepat."
" Kenapa rupanya? kamu panik gitu?"
" Kami di rumah sakit Solo Baru, Abang cepatlah kemari!"
__ADS_1
" Siapa yang sakit?" tanya Bg Monas.
" Hani! Harus secepatnya menandatangi kontrak operasi, aku bingung Nic bg."
" Operasi apa Fa? "
" Usus buntu!"
" Keluarganya dimana?"
" Hani kan dirumah sendiri, semua saudaranya tinggal diluar kota."
" Ya sudah aku kesana Fa, minta tolong kirimkan GPS nya, kamu tanda Tangani saja kontrak operasinya, selebihnya biar aku yang urus."
" Oke...oke!"
Arifah mengirimkan lokasi GPS nya ke Bg Monas. Arifah sedikit lega karena ada yang ikut bertanggungjawab dengan situasi ini. Kekwatiran nya karena saudara - saudara nya jauh takut jika dia mengambil keputusan sendiri.
Tidak berapa lama Ponsel Arifah berbunyi lagi.
" Halo! kami sudah didepan Fa!"
" Ya sudah biar aku yang jemput Abang."
" Oke, thanks."
Arifah berjalan cepat untuk menjemput Bg Monas dan ia dapati Bg Monas dengan seorang kawannya telah menunggu didepan.
" Abang!" panggil Arifah lalu menjabat tangan Bg Monas dengan kawanya.
"Hani sudah masuk ruang operasi." sambung Arifah sambil menatap pemuda di hadapannya.
"Semoga operasi nya lancar! Ayo kita masuk Fa!"
" Eh iya! Amin, ayo bg!"
" Tadi, aku menemukan Hani pingsan di kamarnya bg, karena panik gak sadar - sadar akhirnya aku bawa saja kemari."
" Hani!" gumam Monas lirih..
" Ayo Ridwan! " panggil Monas pada teman disampingnya.
__ADS_1
" Oh nama nya Ridwan?" sahut Arifah.
" Iya sampai lupa memperkenalkan diri." sahut Ridwan sambil mengulurkan tangannya.