
Air hujan jatuh dari atas. Berkali - kali jatuh tanpa menyerah. Membasahi tanah kering kerontang. Jiwa yang kekeringan karena dahaga,butuh curahan kasih sejati. Cinta yang abadi hanya terberi oleh KasihNya. Kasih yang tiada batas pada makhlukNya. Tanpa pilih - pilih dan tanpa pilih kasih.
Perjalanan yang panjang,akan dilalui oleh manusia dengan segala keluh kesah nya. Hati meronta,jika tanpa ada dasar keimanan. Hati tiada pernah puas,tanpa dasar rasa syukur tentang semua yang diperoleh nya. Manusia tidak akan pernah puas,jika menurutkan segala ambisi dan hasrat nya. Sebuah renungan kecil untuk jiwa - jiwa resah tanpa pegangan.
( Kembali ke Cerita yah! hehe just kidding guys)
Hani dan Monas menempuh perjalanan Jakarta - Rembang sudah hampir 8 jam. Itu artinya sebentar lagi sudah dekat dengan rumah dan kampung halaman Monas. Selama perjalanan,mereka lalui dengan santai dan penuh canda. Biasalah, dekat dengan kekasih pujaan semua akan terasa indah.
" Masih jauh bg?" tanya Hani sambil menyandarkan kepalanya di jok kursi depan samping Monas yang lagi menyetir.
" Ini sudah mau masuk kampung Abang." jawab Monas sambil menurunkan kecepatan mengemudi nya.
" Di kampung abang, sudah ada listriknya?" tanya Hani sambil tersenyum.
" Belum masuk listrik, mandinya di sungai, puas!" sahut Monas
" Hahahaha." Hani terkekeh.
" Adik abang namanya siapa?" tanya Hani.
" Namanya Mira." jawab Monas singkat.
" Mira? mira - mira kurang berapa menit lagi sampai ke rumah?" tanya Hani berusaha membuat Monas tertawa.
" Kira - kira, sayang! bukan Mira - Mira."
" Iya maksud adek juga gitu bg."
" Ini sudah deket rumah." kata Monas sambil menepikan mobilnya.
" Kenapa berhenti bg?" tanya Hani.
Monas tersenyum dan menggeser duduknya mendekati Hani. Dengan nekat dan keberaniannya mencium Hani dengan tiba - tiba. Ciuman itu begitu lama,sampai seluruh badan Hani bergetar hebat. Jantungnya sudah mulai tidak beraturan. Nafasnya memburu tanpa mampu mengambil ruang udara.
" Abang!" kata Hani pelan. Monas tersenyum penuh kemenangan.
Akhirnya Monas melepas pelukan nya. Di tariknya nafas pelan - pelan,mengontrol hasratnya yang mulai tak terkendalikan.
" Huuff, nanti kalau sudah di dalam, Abang gak punya kesempatan lagi." kata Monas sambil mengatur nafas nya yang masih tak beraturan.
" Kenapa diam?" tanya Monas sambil melirik Hani yang mukanya merah merona.
" Kayaknya memang kita harus nikah secepatnya."sahut Hani pelan.
" Alhamdulillah, itu yang Abang harapkan." Kata Monas sambil menjalankan mobilnya.
Setelah beberapa menit kemudian, mereka sampai di sebuah gerbang yang tinggi dan besar dengan bertuliskan Pondok Pesantren Nurul Huda.
" Ini rumah kami dek." kata Monas sambil menghentikan mobilnya Di depan gerbang.
" Kenapa dek?"
" Hah?"
Hani tertegun dengan bangunan sebesar itu. Dia tidak akan pernah menyangka,keluarga Monas adalah keluarga yang religius dan memang lahir di lingkungan agamis. Pantas saja,Monas dengan mudahnya melafalkan ayat - ayat Alquran lancar dengan hafalannya. Hati Hani menciut. Dia mulai merasa tidak pantas masuk ke keluarga Monas. Tentu saja, Hani lahir di lingkungan orang biasa, yang mencari kebenaran dan ilmu agama bukan di lingkungan pondokan.
" Kenapa dek?" tanya Monas tersenyum.
" Gak papa!"
__ADS_1
" Jangan takut, abah dan ummi orangnya baik kok." kata Monas sambil menjalankan mobilnya masuk ke gerbang itu setelah dibuka kan oleh seorang santri.
" Assalammualaikum mas Monas!"
" Waalaikum salam, terimakasih banyak yah." jawab Monas yang membuka sedikit kaca mobilnya.
" Parkir di samping saja mas!"
" Siap!" jawab Monas singkat.
Hani terdiam seribu bahasa.
Monas tersenyum dan melirik Hani yang mulai diam tidak banyak bicara.
" Gugup yah?"tanya Monas dan Hani menganggukkan kepalanya pelan.
" hehe Bu guru bisa gugup juga yah?" ledek Monas.
" Mau jumpa dengan Camer soalnya." jawab Hani asal.
Monas menghentikan mobilnya di parkiran mobil. Di parkiran itu ada beberapa mobil yang terparkir di situ,salah satunya Fortuner dan kijang Innova.
" Hem, pantas saja, S2 dan S3 nya lancar." gumam Hani.
" Kenapa dek?"
" Enggak ada!"
" Jadi paham kan, kenapa dulu abang menjauh dari adek?"
" Iya, Abang gak mau pacaran dulu." jawab Hani menebak.
" Kira - kira seperti itu."
" Assalammualaikum Mas!" sapa santri itu sambil menjabat tangan Monas lalu menciumnya.
" Wa Alaikum salam!" jawab Monas sambil keluar dari mobil.
" Barang - barangnya biar kami yang bawa mas." kata santri itu.
" Mbk!" sapa santriwati itu sambil menjabat tangan Hani lalu menciumnya,belum sempat dicium Hani dengan cepat menarik tangannya. Hani belum bisa menerima penghormatan seperti itu. Apalagi ia merasa bukan siapa - siapa sebagai manusia.
" Mari mbk,tas nya saya bawa kan."
" Oh, terimakasih ,tapi biar saya sendiri saja." kata Hani sambil melirik Monas.
" Gak papa dek,biar adek santri ini yang meletakkan tas adek di kamar Mira."
" Abah dan Ummi di rumah belakang Mas!" kata santri itu sambil berjalan dibelakang mengikuti Monas dan Hani.
" Sejuk nya!" kata Monas pelan.
" Sudah berapa lama gak pulang Bg?" tanya Hani pelan lebih tepatnya berbisik agar tidak terdengar oleh santri itu.
"Hem.. enam bulan." jawab Monas singkat.
" Assalammualaikum, Abah Ummi." sapa Monas ketika sudah sampai di rumah utama dan melihat Abah dan Ummi nya duduk di teras.
" Waalaikum salam." jawab Abah dan Ummi bersamaan. Monas dan Hani menjabat tangan abah dan ummi secara bergantian.
__ADS_1
" Sehat Mas?" tanya ummi sambil mengelus kepala Monas.
" Sehat ummi!"
" Duduk dulu sini nak,!"
Monas dan Hani duduk di teras bersama ummi dan Abah.
" Siapa namanya nak."tanya ummi kepada Hani.
" Hani, Mi!" jawab Monas singkat.
" Mas, ummi kan tidak bertanya dengan Mas!" sahut Ummi lembut.
" Hehehe...anak ummi sudah besar sekarang lho Mi." sahut Abah sambil tersenyum.
" Hani, asal nya dari mana?" tanya ummi.
" Saya Solo,Mi!" jawab Hani singkat.
" Oh...wong jowo juga to?" sahut Abah sambil tersenyum melirik Monas.
" Kenal Monas dimana, nak?" tanya Abah akhirnya.
" Di organisasi Islam,dulu waktu kuliah di Semarang." jawab Hani.
" Hani kuliah di Semarang juga Bah, di keguruan."
" Oh! lama juga ya!" sahut Abah manggut - manggut.
" Lama apa nya Bah?" tanya Monas.
" Lama kenalan nya." jawab Abah singkat.
" Kalian sudah makan belum?" tanya ummi.
" Ini diminum dulu nak!" sambung ummi sambil menyodorkan cangkir teh yang baru di antar oleh santriwati.
" Gak usah di tanya makan atau belum Mi, kita ajak makan bersama dulu, mereka habis perjalanan jauh juga." kata Abah.
" Halo Mas ku yang ganteng! apa khabarnya!" teriak Mira yang datang tiba - tiba tanpa ucapan salam.
" Ya Allah, ini anak gadis Abah selalu seperti ini, datang gak kasih salam main nyelonong saja."sahut ummi sambil menjewer Mira.
"Aduh Mi,..eh ini calon ipar yah?" tanya Mira asal sambil menjabat tangan Hani.
" Mbk, kok mau sama Mas Monas sih, orang malas mandi gitu Lo."
" Mira,kamu belum salaman dengan Mas sudah gangguin saja."kata ummi.
" Iya, Mas bawa oleh - oleh gak Mas? tanya Mira sambil bersalaman dengan Monas dan mencium pipi kanan dan kirinya.
" Jangan kwatir!"kata Monas.
" Jangan kwatir apa Mas?"
" Jangan kwatir pasti bawa dong!" sahut Monas.
" Mbk Hani, nanti tidur di kamar Mira saja ya?" kata Mira dan Hani hanya tersenyum saja.
__ADS_1
" Sudah disiapkan makanan nya, ayo kita makan saja dulu, baru kalian bersih - bersih mandi." ajak Abah.
" Iya Abah!" jawab Monas dan Hani serentak.